• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

PIK Ransel Hibur Anak-anak Korban Gempa

DSCF9445Sekitar 250 anak korban gempa Aceh Tengah berkumpul di Masjid Sementara yang terletak di tempat pengungsian Lukup Sabun-Tengah dan Lukup Sabun-Bawah, Kabupaten AcehTengah, selama dua hari, 27-28 Juli 2013, larut dalam canda dan tawa dalam kegiatan trauma healing yang digelar Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Rumah Anak Sehat dan Selamat (Ransel).
Kegiatan yang mengusung  tema “We Care, We Do,We Get”  ini juga berkerjasama dengan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Aceh, dan Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) Bungong Jeumpa yang difasilitasi oleh Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BkkbN) Provinsi Aceh.
“Kegiatan pertama kali yang diusung PIK-Ransel ini dipusatkan di dua titik yang masing-masing titik terdiri dari tiga desa,” ujar Ketua Panitia kegiatan yang juga Duta Mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) BkkbN Aceh 2013, Pinka Satria Aqsa.
Pinka menjelaskan, perempuan dan anak merupakan kelompok yang rentan terhadap bencana.  Untuk itu, pasca bencana gempa bumi pada 2 Juli lalu yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah, bukan hanya penanganan dalam masa tanggap darurat. Tetapi juga perlu penanganan psikososial yang  perlu dilakukan secara khusus.
“Penanganan pasca bencana harusnya difokuskan pada pemulihan trauma. Kemudian ditambah dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat  yang diharapkan dapat membantu meringankan beban setelah mengalami musibah tersebut,” sebut Pinka.
Pada trauma healing tersebut, sekitar 250 anak usia 2-12 tahun tidak saja terlibat  berbagai game-game menarik yang dipandu motivator Zarkasi Yusren dan Rahmat Nazillah. Mereka juga mengikuti lomba mewarnai gambar dengan hadiah yang menarik.
“Kami ingin membuat anak-anak di sini ceria. Mereka terhibur dan kita berharap anak-anak Gayo ini bisa sedikit melupakan rasa takut mereka terhadap bencana yang menimpa  orangtua mereka,” sambung Rahmat yang didampingi Zarkasi.
Dari amatan media ini ratusan anak di Kamp Pengungsian Pos 1 Lukup Sabun-Tengah, setelah mengikuti lomba mengambar, larut dalam canda dan tawa saat menonton film kartun berjudul Madagaskar 3. Mereka juga mampu menceritakan kembali kecerian di dalam film kartun yang mereka tonton di depan ratusan anak-anak lainnya.
Di akhir kegiatan psikososial tersebut ditutup dengan serah terima bantuan yang dihimpun organisasi ini selama beberapa pekan terakhir. (Rilis)
  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie