• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Menjemput Semangat Bersama Komunitas (1)

bukabareng-jakartaOleh Aulia Fitri

Jelang siang waktu itu Jakarta masih padat, terik matahari pun masih terasa saat menginjak kaki di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng saat bergegas menunaikan hajat silaturrahmi dengan anak-anak muda di Jambo Kupi Pasar Minggu, bilangan Jakarta Selatan. Jam 14.30 WIB, Selasa (23/7/2013) perjalanan pun berlanjut, berharap bisa datang tepat waktu dan ternyata takdir jalanan Jakarta mengatakan lain.

Sebuah pesan singkat pun muncul di hape, “kak Aida sudah menuju ke Jambo Kupi”.

“Ah, jangan-jangan orang yang diundang bakal lebih awal sampai ke TKP nih,” gumam saya dalam hati sembari menunggu angkot bersegera ke Jambo Kupi, pukul 16.15 WIB. Jalanan sore Jakarta memang sudah bisa ditebak, apalagi di bulan puasa dan aktivitas perkantoran sore hari mulai usai yang namanya macet itu, kompleks sudah.

Ada boh rom-rom, putu, timphan dan beberapa penganan lainnya sudah tertata rapi di meja dalam ruangan kecil itu, wajah-wajah familiar pun terlihat diantara beberapa orang yang sudah menunggu. Rasanya sudah bisa menebak,  sosok wanita dibalik balutan jilbab itu adalah kak Aida, seorang penulis novel yang sudah beberapa waktu lalu kenal di Twitter.

Sekitar 7 buku berderet di atas meja, ternyata itu semua karya seorang wanita Aceh yang telah 6 tahun lalu hijrah ke Jakarta. Luar biasa! Disaat menunggu anak-anak muda lainnya, saya pun bertanya-tanya seputar perjalanannya di Jakarta terlebih mengenai novel Sunset in Weh Island yang beberapa waktu lalu sempat di review di situs ini.

Raut-raut kecintaan kak Aida terhadap Aceh terlihat dari latar novel tersebut, bagaimana tidak novel dengan latar pulau paling ujung Sumatera (Sabang) setebal 200 halaman lebih yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka ini bisa diselesaikan dalam waktu 3 minggu. Walaupun novel tersebut bergenre untuk remaja, memang tidak salah juga dibaca oleh orang-orang dewasa.

“Emang Sabang itu di Aceh, ada ya tempat seindah ini mba,” cerita kak Aida disaat mendapatkan respon dari teman-temannya yang habis membaca novel tersebut. Saya pun berpikir, rasanya kak Aida telah membuat terobosan baru. Dimana lewat karyanya berhasil membawa dan mengenalkan Aceh lewat novel sebagai bentuk positif apalagi semangat ini persis dengan tagar #positifkanAceh yang sering dikenalkan oleh @iloveaceh.

Memang tidak semua respon dari novel itu positif, tapi niat untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada Aceh itu penting. “Kita sudah cukup melihat Aceh dengan masa kelam, konflik, dan lainnya. Tapi mengenalkan dan membawa Aceh lebih baik untuk perubahan tentu tanggung jawab kita,” sebutnya sembari menjawab pertanyaan dari teman-teman saat berdiskusi tentang novel Sunset in Weh Island yang telah dibaca oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Jerman.

Ada yang menarik memang, karena buka puasa #ATwitLovers di Jakarta ini tidak saja dihadiri oleh anak-anak muda asal Aceh, ada juga dari Makassar bahkan dari Jawa Barat yang begitu tertarik mengenal Aceh. “Aku jujur tertarik dengan semangat #positifkanAceh, terlebih seperti yang kak Aida lakukan dan aku juga mengenal Aceh lewat semangat heroik pahlawan-pahlawannya itu,” sebut Cenning yang sudah pernah bertandang ke Aceh beberapa kali.

Lain lagi dengan Anastasya, wanita asal Sunda ini juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui tentang perlawanan Cut Nyak Dhien yang hingga akhir hayat diasingkan ke Sumedang oleh Belanda. “Saya sempat heran kenapa bisa Cut Nyak Dhien dari Aceh bisa sampai dibawa ke Sumedang,” tanyanya kepada kami yang sedang sibuk berbagi kisah-kisah Aceh terdahulu.

Kesempatan saya hadir di Jakarta beberapa hari silam itu memang sebuah hal yang begitu berarti, dimana banyak sekali ide-ide dan semangat anak-anak muda di luar yang ingin membangun Aceh lewat berbagai karya positif dan mereka pun telah bergerak. Dikesempatan itu pula saya bertemu dengan Fadhlan, pemuda asal Aceh yang kini sedang memperdalam ilmunya dibagian seni rupa disalah satu perguruan tinggi di Solo.

“Kita masih perlu apresiasi anak-anak muda di Aceh untuk menghargai karya-karya seniman lokal, baik mereka itu seniman musik tradisional, modern, bahkan seni rupa. Karena dari merekalah Aceh bisa dikenal di luar, coba bayangkan bagaimana seni tutur ala PMTOH begitu banyak dikenal orang di luar Aceh, bagaimana anak-anak hip hop di Aceh mampu mengenalkan tari seudati dan saman dengan kolaborasinya, itu semata-mata mereka berkarya dengan membawa nama Aceh,” ujar Fadlan yang juga aktif di Aceh dalam sebuah wadah Jaringan Aneuk Rupa Aceh (JAROE) yang beberapa karya mereka sempat dipamerkan di acara Piasan Seni Banda Aceh tahun lalu.

Dan akhirnya saya pun menyadari, berbuat dengan penuh semangat itu memang tidak ada akhir. Selagi masih bisa berbuat, lakukanlah. Kadang itu semua tidak bisa dilakukan sendiri, komunitas bisa jadi bagian yang tak terpisahkan untuk mewujudkan harapan-harapan kecil menjadi kenyataan, karena sebuah kebanggaan dan kepuasan itu tidak lahir dengan sendirinya melainkan makna kebersamaan yang selalu kita gerakkan dalam membangun Aceh dengan daya dan kreativitas dari anak muda untuk Nanggroe. (bersambung)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie