• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Ada Pertunjukan Sandiwara “Rumah Boneka” di Banda Aceh

Institut Ungu dan Pentas Indonesia, bekerja sama dengan Komunitas Tikar Pandan, dan didukung oleh Kedutaan Besar Norwegia akan menggelar pertunjukan sandiwara “Rumah Boneka” di Aceh. Pertunjukan ini akan dilaksanakan pada Jumat dan Sabtu (30-31 Agustus 2013), dan dimulai pada pukul 20:00 WIB di Gedung PMI Sultan II Selim, Banda Aceh.

“Rumah Boneka” merupakan terjemahan dari karya salah satu dramawan Norwegia, Henrik Ibsen, yang berjudul asli ”A Doll’s House” dan diterjemahkan oleh Faiza Mardzoeki. Faiza juga bertindak sebagai penulis naskah dan produser pertunjukan ini. Naskah Ibsen tersebut diadaptasi oleh Faiza ke dalam konteks Indonesia dengan latar peristiwa Jakarta kontemporer. Pertunjukan ini sebelumnya telah dimainkan di antaranya di Timor Leste, Jakarta, dan Bandung.

Naskah ini aslinya ditulis pada tahun 1879 dan hingga kini merupakan drama Ibsen yang sangat terkenal di seluruh dunia dan masih terus dipentaskan di berbagai negara. Ibsen, oleh bangsa Norwegia, dijadikan simbol kebanggaan nasional dan terus dipromosikan hingga sekarang. Karya dramawan paling berpengaruh di Norwegia ini paling sering dipentaskan setelah drama-drama Shakespeare. Pemerintah Norwegia mendukung penciptaan ruang pergaulan kreatif di seluruh dunia melalui Ibsen. Rumah Boneka ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai drama feminis pertama di dunia.

Produksi dan Aktor yang Terlibat di Sandiwara Rumah Boneka

Sandiwara Rumah Boneka ini disutradarai oleh Wawan Sofwan, seorang aktor dan sutradara teater, sebelumya bertindak sebagai sutradara teater Nyai Ontosoroh. Sandiwara ini didukung oleh seniman dari Jakarta, Bandung, New York, dan Aceh.

Para aktor yang akan memainkan sandiwara Rumah Boneka ini adalah Heliana Sinaga (aktor teater, aktif di kelompok Mainteater Bandung sebagai wakil direktur); Ayu Diah Pasha (bintang sinetron dan sudah terlibat di berbagai produksi film dan teater); Ayez Kassar (aktor lulusan IKJ, aktif di teater dan film); Teuku Rifnu Wikana (aktor film dan teater antara lain film Darah Garuda dan Laskar Pelangi); Willem Bevers (aktor teater, antara lain main di teater Nyai Ontosoroh) dan Pipien Putri (penari dan koreografer lulusan IKJ). Untuk pementasan di Aceh juga melibatkan dua aktor cilik Aceh yaitu Nahla Azayaka Rivadsyaharani dan Sultan Pasha. Musik untuk sandiwara ini digarap oleh Marcello Pellitteri, yang dikenal sebagai drummer, musisi Jazz, arranger, komponis, dan produser yang telah banyak bekerjasama dengan musisi kelas dunia. Ia seorang pengajar dan profesor di Berklee College of Music, Boston, dan tinggal di New York.

Fauzan Santa, Manajer Produksi Rumah Boneka di Aceh, mengatakan bahwa sandiwara yang digarap dengan pendekatan realisme dan sangat peduli pada detail keaktoran dan dialog ini mengusung tema perjuangan perempuan untuk menemukan diri dan posisi di tengah ruang publik, di antara tuga-tugas sakral bersama keluarga. Ada sekian hal menarik yang perlu terus dipertanyakan secara kritis untuk terbukanya ruang ekspresi perempuan secara rasional dan kultural. Untuk Aceh, tema-tema semisal itu sangat penting sebagai pengingat abadi bahwa apa yang dalam sejarah sosial politik Aceh sudah sedemikian jauh diramaikan oleh perempuan-perempuan luar biasa, tidak perlu kembali surut menyusut ke zaman “gelap”.

Sinopsis Sandiwara Rumah Boneka

Cerita sandiwara Rumah Boneka sangat relevan dengan masyarakat Indonesia. Sandiwara tiga babak ini mengangkat cerita keluarga kelas menengah di Jakarta saat ini. Tentang sepasang suami istri yang harus bertarung mempertanyakan kembali nilai-nilai perkawinan dan keadaan keluarganya. Rumah Boneka juga mengajak kita memikirkan kembali tentang moral, agama, dan masyarakatnya yang dipenuhi mental korup dan kemunafikan.

Berkisah tentang Nora yang semasa gadis adalah seorang penari balet, tapi saat menikah dan punya anak, ia harus berhenti menari dan menyerahkan waktunya untuk mengurus anak dan suami, Tommy Herlambang. Ketika suaminya terkena kanker, terpaksa harus berobat ke Singapura dan membutuhkan biaya sangat mahal. Padahal saat itu karier suaminya tidak memungkinkan untuk mendapatkan biaya pengobatan. Demi menyelamatkan suaminya, terpaksa ia berutang kepada Togar, teman suaminya masa kuliah, tanpa sepengetahuan siapa pun. Untuk bisa menyicil utang, diam-diam Nora bekerja di multilevel marketing menjual barang-barang ke teman-temannya. Setelah sembuh, karier suaminya naik. Ia diangkat sebagai direktur Bank Rekayasa Dana. Namun saat itulah justru utang Nora terbongkar yang memicu pertengkaran di antara mereka. Suaminya menuduh Nora berkhianat, sedangkan Nora melakukan semua karena cinta. Dari sini berbagai soal tentang nilai, relasi, dan keputusan personal dipertanyakan.

Harga karcisnya pertunjukan sandiwara ini sebesar Rp15.000 per lembar dan dapat dibeli di loket karcis yaitu di OZ Radio (081360909150) dan Kedai Buku Dokarim (08983895543). (rilis)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie