• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Menjemput Semangat Bersama Komunitas (2)

bukabareng12Oleh Aulia Fitri

Setelah melewati hari-hari indah di Jakarta bersama teman-teman komunitas, perjalanan sederhana ini pun berlanjut ke kota raja-raja, Banda Aceh. Masih dalam ritual sama, berkumpul, bercerita, melanjutkan apa-apa yang bisa digerakkan bersama. Momen Ramadhan setahun sekali memang menjadi waktu yang indah untuk bersilaturrahmi, agenda buka puasa bersama menjadi salah satu titik temu pegiat komunitas bersama anak-anak muda Banda Aceh.

Lalu lintas sore itu memang begitu padat, wajar saja setelah adzan Ashar suasana jalan di Aceh pada umumnya akan sedikit padat dari hari biasanya. Sabtu (27/7/2013) menjadi hari penantian bersama bagi teman-teman lintas komunitas di Banda Aceh untuk berkumpul di sebuah warkop Grand Aceh Kupi (New Rex Cafe) Batoh, Banda Aceh.

Sesi-sesi perkenalan kecil pun terjadi, mulai dari Orang Tua Asuh Penyu (OTAP) Aceh yang disampaikan oleh Ferzya secara sekilas. Komunitas yang dibentuk secara sukarela oleh berbagai kalangan ini pun begitu antusias terhadap populasi penyu di Aceh terlebih telur-telur penyu yang sering dikonsumsi bahkan hingga dalam perdagangan.

Uniknya, teman-teman OTAP Aceh bisa membuat solusi kreatif dengan cara menjadi orang tua asuh yang bekerjasama dengan petugas salah satu penangkaran penyu yang berada di Lampuuk, Aceh Besar.

“Siapa saja boleh jadi orang tua asuh penyu, modal kita bisa dengan membeli telur penyu sampai dengan investasi untuk merawatnya,” ujar si pemilik akun @ferzyaya.

Perkenalan pun terus berlanjut, dari satu komunitas ke komunitas lainnya. Tidak ketinggalan blogger pun ikut memperkenalkan diri secara personal. Ari Murdiyanto atau dikenal dengan @buzzerbeezz pun berbagi kisah singkatnya hingga jatuh cinta dengan Aceh, berkat hobi menulis di blog hingga gowes (trekking) dengan teman-temannya, anak muda asal Jawa Tengah ini pun sempat menjadi juara utama di lomba National Geographic Indonesia, keren tak!

Semangat mas Ari ini tentu patut ditiru, dimana tanah dipijak disitu pula langit dijunjung.

Tidak ketinggalan sesi hiburan juga muncul disela-sela sharing, Zarial Akbar alias Gegem tampil ke depan membuat suasana kocak. Kepopuleran Stand Up Comedy yang sedang ngetren saat ini pun bukan soal hiburan sebelah mata, Gegem yang ditemani Kassa Adhica selaku punggawa @StandUpIndoBNA juga berbagi kisah mereka dalam menyampaikan pesan-pesan lewat aksi “ngestand” alias berdiri.

“Ada banyak hal yang bisa kita sampaikan lewat jadi seorang komik, mulai dari semangat anak muda, hingga kritikan dalam membangun sesuatu yang lebih positif,” begitulah kira-kira pesan yang disampaikan Kassa saat sesi tanya jawab.

Waktu terus berlalu, suara riuh jalan pun begitu terasa. Namun, suasana akrab masih saja menyelimuti pertemuan sekitar 50 orang anak muda ini.

#BukaBarengILA Lintas Komunitas Banda Aceh / @iloveacehAda juga Teuku Farhan yang mewakili dari komunitas Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT) Indonesia berbagi ide-ide menarik seputar kegiatan-kegiatan MIT yang terus menyentuh dan bersosialisasi dengan masyarakat, terjun ke sekolah-sekolah, hingga membuat berbagai program edukasi untuk memelekkan teknologi warga di Banda Aceh dan sekitar.

“Hampir dari setiap komunitas yang ada di Aceh, kita bisa saling berkolaborasi dengan semangat yang saling sinergi. Contoh mudahnya seperti membaca buku-buku karya penulis di Aceh lalu mereview dan menulis di blog dan masih banyak cara-cara lain tentunya,” ujar Teuku Farhan yang kini juga dipercayakan sebagai koordinator MIT.

Masih begitu banyak kisah lainnya, seperti dari komunitas Banda Aceh Membaca yang terilhami dari pendirinya (Muhib) yang malas membaca, malah membuat gebrakan harus giat membaca. Ada juga dari Backpacker Aceh, jiwa petualang dengan sejuta kisah lika-liku menyusuri tempat-tempat yang tidak pernah dilalui orang berhasil mereka angkat ke permukaan (lewat media blog) yang tentunya sangat membantu dalam promosi wisata, tidak hanya itu tentu bisa membangkitkan perekonomian kampung setempat jika dikelola dengan baik.

Menarik, energik, itulah kata-kata yang bisa dilukiskan. Semangat #positifkanAceh memang begitu jelas terlihat, tidak saja omong kosong yang di-cet-langet-kan, melainkan bukti-bukti yang terus digarap. Terlebih dengan kehadiran komunitas Blogger Aceh, yang sudah lama saya geluti juga telah membawa dampak dimana sudut nanggroe ini kami raba dengan peninggalan-peninggalan yang ada.

Citra Rahman misalnya, blogger sekaligus backpacker ini tidak pernah surut semangat untuk menjangkau tempat-tempat menarik yang didatanginya dengan menulis di blog. Hasilnya pun mampu membuat dirinya pergi ke Malaysia, jalan-jalan di beberapa kota Indonesia dengan fasilitas gratis.

Kini, kehadiran akun publik selain @iloveaceh pun menggeliat bak jamur di musim hujan. Akun @iloveacehjaya dengan segelintir orang-orang yang peduli dengan kabupatennya ini menjadi bagian yang tak terpisahkan juga turut serta berbagi informasi. “Kita tahu di Lamno, Calang, dan beberapa daerah lainnya di Aceh Jaya penuh potensi, kita bisa mulai dari sosial media karena itu kami buat akun ini,” sebut Munizar salah satu adminya.

Foto bersama #BukaBarengILA Lintas Komunitas / @iloveacehYang tidak ketinggalan juga kehadiran komunitas Couchsurfing Aceh yang telah mendunia, dengan membawakan konsep jejaring sosial, anak-anak muda ini saling menghubungkan pertemanan antar sesama traveler atau wisatawan di seluruh dunia. Saling terhubung satu sama lain dengan mengenalkan sembari memberikan kemudahaan dalam bentuk hospitality, mereka ini juga membantu mengenalkan Aceh pada dunia, hal yang senada ini pula dilakukan oleh teman-teman Aceh Adventure dengan memberikan akses terbaru kalau Aceh tidak saja terkenal dengan keindahan pantai atau laut, tapi juga alam dan panorama yang begitu penuh tantangan untuk bisa dijelajahi.

Sekali lagi, mungkin tidak semua kisah teman-teman komunitas ini bisa saya tuliskan dengan baik disini. Tapi, dari sekian cerita singkat pertama hingga kedua ini, saya pun merenung kembali semangat bersama komunitas yang telah dilalui saat momen Ramadhan bukanlah awal atau pun akhir, melainkan proses untuk bisa terus terbina dengan berbagai cara, inovasi, kreativitas, bahkan hingga semangat yang bisa ditularkan kepada lainnya tidak saja di Banda Aceh, semoga saja tercipta kolaborasi di Aceh pada umumnya.

Sampai jumpa dilain kesempatan, menjemput semangat bersama teman-teman komunitas akan tetap kita lanjutkan. Untuk setiap generasi pasti ada masanya, semoga saja masa-masa muda bisa terus menghasilkan karya dengan kecintaian dan hasil nyata. Terima kasih untuk hari-hari indahnya. (selesai)

*Empunya blog OWL dan pelaku di akun @hack87

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie