• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Perjalanan Batik Aceh

Batik AcehBatik Aceh mulai mucul tahun 1980-an saat itu provinsi dipimpin Ibrahim Hasan.

“Gubernur Ibrahim Hasan menantang pengusaha, siapa yang berani memproduksi batik yang memiliki khas Aceh,” kata Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh Ir Netty Muharni MURP mengenang “kelahiran” Batik Aceh.

Gubernur Ibrahim Hasan pada waktu itu menilai, Aceh sangat kaya dengan motif. Jadi tidak ada salahnya motif tersebut dijadikan bahan untuk membuat batik.

“Seorang pengusaha konveksi Zaini Azis bersedia menerima tantangan Gubernur Ibrahim Hasan untuk memproduksi batik, yang dikenal dengan ‘Batik Zean’,” kata Netty yang juga Kepala Bidang Promosi pada Badan Investasi dan Promosi Aceh.

Keberadaan batik Aceh tidak bertahan lama, yang ditandai dengan semakin menurunnya produksi, dan akhirnya perusahaan tersebut “mati suri”. “Jadi, pada tahun 90-an sampai 2000, tidak ada produksi batik Aceh,” ujarnya.

Di saat perusahaan “mati suri”, namun minat masyarakat Aceh untuk menggunakan batik masih tetap ada, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut pihak Batik Zean mendatangkan dari Jawa dengan tetap menggunakan motif Aceh.

Kemudian, pada saat Aceh dipimpin Gubernur Abdullah Puteh, mulai tahun 2000, Ketua Dekranas Ny Marlinda mulai merintis kembali batik Aceh, namun hanya sebatas motif.

Pada masa itu, Marlinda yang juga istri Gubernur Abdullah Puteh sangat berjasa mengangkat motif-motif Aceh yang sering dilihat pada kerajinan bordir, menjadi batik, kata Netty.

Mulai saat itulah, batik Aceh mulai dikenal lagi dengan berbagai motif, namun semuanya dicetak di Jawa, ujarnya.

Motif batik Aceh yang muncul pada saat itu motif Gayo, pintu Aceh, rencong (senjata khas Aceh), dan meuketop (topi tradisional Aceh).

Selanjutnya, perkembangan batik Aceh terus meningkat seiring dengan perjalanan waktu.

Setelah musibah tsunami dan gempa bumi pada 24 Desember 2004, batik Aceh tetap berkembang, meskipun pada saat itu industri kecil menengah di daerah itu sempat “mati”.

Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias juga berjasa besar mengangkat kembali batik Aceh yang bekerjasama dengan Dekranasda.

Dekranasda Aceh yang pada saat itu ketuanya Ny Darliza Mustafa Abubakar, membuka kelomok usaha batik dengan merekrut sebanyak 30 orang yang memiliki keahlian dasar mendisain motif-motif Aceh.

“Memang untuk mengangkat kembali batik Aceh merupakan kerja besar pada waktu itu, karena orang Aceh tidak memiliki keahlian dasar batik, sehingga 30 orang tersebut benar-benar dilatih agar mereka bisa menjadi ahli,” katanya.

Pada pelatihan selama tiga bulan, peserta yang dilatih ahli batik di Pulau Jawa diinapkan, sehingga mereka tidak saja menjadi ahli, tapi juga menjadi pengusaha, katanya.

“Jadi, kita buat perjanjian, setelah mengikuti pelatihan, mereka harus membentuk koperasi,” ujarnya.

Pelatihan tersebut ternyata tidak sia-sia, harapan mengangkat kembali batik Aceh menjadi kenyataan.

Setelah pada tahap-I berupa pelatihan pada 2006, kemudian tahap-II 2006 hingga 2007, maka selanjutnya adalah tahap uji coba produksi.

Netty mengakui pada tahap tersebut selama setahun memang hasilnya tidak langsung bagus, karena masih perlu penyesuaian.

“Pada saat tahap produksi, bagus tidak bagus hasilnya, Dekranasda Aceh tetap membeli, sehingga mereka tetap bersemangat untuk berkarya yang terbaik,” katanya.

Pada tahun kedua proses produksi, hasilnya sudah mulai bagus dan mereka membentuk koperasi yang diberi nama “Koperasi Aceh Baru”.

Dengan koperasi itu menjadi cikal bakal munculnya “Balai Rumah Batik” yang merupakan industri batik tenun khusus motif Aceh.

Untuk industri terpadu dan memudahkan bahan baku, Dekranasda Aceh juga membangun industri tenun bukan mesin.

“Kami sengaja membuat tenun dengan ATBM, karena nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan tenun ATM,” ujarnya.

Menurut Netty, harga kain batik motif Aceh antara Rp250.000 hingga Rp1 juta dan tergantung dari jenis kainnya.

Balai Rumah Batik rata-rata bisa memproduksi 200 potong bakal kain baju setiap bulan.

Ia mengatakan, terdapat beberapa jenis kain yang banyak diminati warga di provinsi paling ujung barat sumatera yakni berbahan katon morry, doby, piscos, sutra super, sutra timbul, sutra ATM dan sutra ATBM. “Kalau motif batiknya yang paling diminati rencong, pintu Aceh dan Gayo,” katanya lagi.

Netty menyebutkan pihaknya memiliki lebih 100 cetakan batik bermotif Aceh.

Ia juga mengatakan batik Aceh memiliki motif yang menggunakan unsur alam dan budaya serta perpaduan warna yang menonjol seperti merah, hijau, kuning serta merah muda.

Motif yang digunakan pada batik Aceh juga mengandung makna falsafah hidup masyarakat Aceh.

Netty menyatakan, program Dekranasda Aceh ke depan Rumah Batik Aceh itu akan direnovasi lebih baik lagi, sehingga menjadi objek wisata dan pusat pendidikan serta pelatihan.

“Jadi, anak-anak Aceh yang memiliki bakat disainer, bisa belajar di balai tersebut, disamping untuk melestarikan batik Aceh,” katanya. (Heru Dwi S/Antara)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie