• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Riwayat Buloh Seuma dan Madu yang Akan Dipatenkan

Buloh Seuma, salah satu daerah terpencil yang berada di bibir pantai Samudera Hindia dan berbatasan langsung dengan kawasan ekosistem Leuser itu memiliki luas 30.600 hektar dan dihuni oleh 834 penduduk dalam tiga desa; Gampong Raket, Kuta Padang dan Teungoh. Desa yang berjarak sekitar 38 kilometer dari pusat Kecamatan Trumon, Aceh Selatan itu merupakan penghasil madu murni.

Wakil Bupati Aceh Selatan Karmansyah di Meulaboh mengemukakan untuk mematenkan madu asli Buloh Seuma tersebut akan terjaga kelestariannya dan menjadi bisnis masyarakat.

“Pemkab akan mematenkan madu asli Buloh Seuma, karena kualitas madu kita sudah teruji dan terbukti asli,” kata Karmansyah, Rabu (23/11/2013).

Sementara itu seperti dilansir Antara, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya juga sudah melakukan survei dan membuat kawasan hutan yang tidak boleh dirusak dan dijadikan khusus sebagai lokasi produksi madu alami.

Karmansyah juga mengemukakan pihaknya sudah membuat “reusam gampong” (aturan desa) yang tidak boleh dilanggar siapapun, apalagi hutan tersebut dialih fungsikan menjadi perkebunan.

Dia mengemukakan saat ini madu asli Buloh Seuma masih dikelola secara tradisional. “Tidak dibentuk seperti industri karantina, lebah-lebah hinggap dan pergi, namun kehidupannya tetap berada di kawasan hutan Buloh Seuma,” katanya.

Keindahana alam di Buloh Seuma / Foto @mirroreye

Riwayat Buloh Seuma kadang masih jauh dari kemerdekaan, seperti dalam persoalan peningkatan jalan yang menjadi polemik berkepanjangan sehingga masyarakat belum dapat menikmati artinya sebuah kemerdekaan. Padahal kita tahu madu yang dihasilkan dari daerah hutan disana telah menjadi bagian dari madu alami yang terkenal di nusantara.

Sebagai sentra produksi madu alam dengan kualitas terbaik di Aceh, madu-madu yang ada disini pun masih dikelola secara tradisional dan menjadi satu sumber penghidupan masyarakat Buloh Seuma, sehingga menjadi sebuah nilai kearifan yang diyakini masyarakat setempat dimana hidup adalah ketergantungan dengan alam sekitar.

Masyarakat Buloh Seuma pun tetap mempertahankan hubungan interaksi tersebut dengan alam, sampai-sampai eksistensi dengan unsur-unsur alam yang menghidupkan mereka menjadi sebuah interaksi yang terus dipertahankan dan dijaga sampai dengan saat sekarang ini. Ketergantungan dan hubungan simbiosis ini menjadikan keharusan bagi masyarakat untuk tetap memelihara kondisi hutan agar tidak berubah bentuk.

Uniknya, perlakuan yang dilakukan masyarakat terhadap pohon sejenis rubek atau pulai (Alstonia scularis) yang ada lebah madu, yakni dengan membersihkan lingkaran pohon tersebut dengan radius 15 m dalam keadaan bersih, sementara hutan diluar radius tersebut tetap dipertahankan keberadaannya. Hal ini telah membuktikan bahwa masyarakat menjaga kondisi hutan tetap lestari.

Data pada tahun 2009, ada 200 tegakan rubek atau pulai yang telah dikelola dan memproduksi madu alam, maka proyeksi sederhananya secara ekonomi, jumlah rubek/pulai yang dikelola sebanyak 200 batang bisa dilakukan 2 kali panen dalam setahun. Untuk setiap panen menghasilkan 24 jerigen/batang, dimana per jerigen terisi 30 liter. Pada waktu itu harga per liter sekitar Rp 40.000,-.

Jika dikali-kali secara matematis maka menghasilkan 200 x 2 x 24 x 30 = 288.000 = 288 ton dan dikonversikan dalam bentuk uang 288.000 x 40.000,- = Rp. 11.520.000.000/tahun. Bisa dibayangkan bagaimana perputaran uang dari hasil madu alam ini, apakah masyarakat tega merusak hutan? Tentu tidak mungkin. Masyarakat pasti akan menjaga kelangsungan hutan di wilayah Buloh Seuma agar keangsungan produksi madu alaminya dapat terjamin kelangsungannya.

Semoga saja reusam yang ada pada masyarakat setempat bisa terus dipertahankan dan besar harapan sentuhan teknologi yang tentunya ramah lingkungan bisa terus diaplikasikan, apalagi kelak madu disana akan dipatenkan. (dbs/ed)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie