• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Sport Peace Training GFP-Indonesia: Estafetkan Perdamaian Melalui Olahraga

@RomaMeukeutopTak terbayangkan rasanya ketika saya menerima e-mail “Ramadhan, anda  LULUS seleksi untuk mengikuti the Generations For Peace – Indonesia “Sport For Peace Training” di Jakarta”.  Saya terpilih sebagai Peace Delegates dari Aceh untuk menimba ilmu seputar perdamaian oleh Generation For Peace – Indonesia yang diselenggarakan beberapa waktu lalu di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta.

SPT adalah sebuah training of trainer pemuda dan pemudi dari berbagai provinsi di Indonesia seperti untuk dibekali ilmu perdamaian dan konflik dengan menggunakan media olahraga. Program ini diinisiasikan oleh Generation For Peace, lembaga non profit yang digagas oleh Pangeran Yordania melalui pioners yang telah melahirkan pemuda-pemudi tangguh di berbagai negara-negara di dunia terutama di daerah konflik untuk pembangunan keberlanjutan perdamaian dan juga transformasi konflik. Dengan dukungan teman-teman yang luar biasa dari Organisasi The Leader dan @iloveaceh  sayapun bertolak ke Jakarta.

Hari pertama materi dimulai dengan peace building dan conflict analisys, beberapa partisipan berbagi cerita mengenai konflik-konflik yang ada di daerah masing-masing mulai dari konflik nyata antara RI dan GAM yang terjadi di Aceh sampai dengan tradisi tawuran yang kerap kali melanda Makassar. Lalu materi dilanjutkan dengan Understanding Your Community, yaitu bagaimana mengerti tentang kita dan teman-teman di organisasi serta peran yang bisa kita lakukan. Tak kalah menarik yaitu materi Volunteer as Agent of Change, dimana kita diajarkan keuntungan dari menjadi relawan, bagaimana merekrut relawan sesuai dengan program dan juga bagaimana tetap menjaga hubungan dengannya. Lalu bergegas ke lapangan olahraga melakukan beberapa jenis olahraga yang telah di-desain khusus yang bertujuan untuk lebih toleransi terhadap wanita dan juga penyandang disabilitas serta pengidap penyakit langka. Ternyata perdamaian tak sesempit yang saya pikirkan selama ini dan lalu muncul pertanyaan mengapa olahraga bisa dijadikan sebagai sarana perdamaian? Nah, ternyata olahraga mempunyai nilai-nilai yang sama dalam menjembatani perdamaian seperti saling memahami dan toleransi.

Hari kedua para peserta dituntut untuk mencoba memahami materi Peace Building Process dan bagaimana belajar melobi partner program nantinya dalam Advocacy in Programmes and Partnertship. Lalu materi dilanjutkan dengan How Peace Build Your Community serta bagaimana membuat program yang melibatkan anak-anak dalam materi Priciples of Working with Children. Dan seperti biasa kami lanjutkan materi di lapangan yaitu lari estafet dan bermain bola kaki yang komposisinya telah diatur 50:50 antara laki-laki dan perempuan, ini bermaksud untuk melibatkan perempuan dalam setiap olahraga dan juga mendobrak dominasi yang selama ini melekat pada laki-laki.

Hari ketiga, setiap kelompok harus mempresentasikan progam-program yang telah dibuat sebelumnya yang telah direpresentatifkan dalam poster-poster provokatif, beragam program perdamaian ditawarkan oleh teman-teman, dan sungguh luar biasa ide-ide dari pemuda dan pemudi dari  penjuru nusantara. Lalu materi dilanjutkan dengan Media and Communication, yaitu bagaimana mem-publish berita dengan Rp. 0, teknik mengambil foto yang baik, membuat release berita serta teknik dan  sikap kita ketika diwawancarai seorang reporter.

Selanjutnya partisipan dikelompokkan menurut daerah masing-masing, saya, Alhadi, Alfi dan Yana yang berasal dari Aceh memetakan sebuah post project untuk berbagi pengalaman melalu framework yang sebelumnya telah dilatih oleh Pioners. “tak perlu membuat program yang besar, program kecil saja namun suistanable lebih bermanfaat” sebuah kalimat yang saya tangkap dari Kak Merlinta, PIC program ini yang ternyata orang Aceh juga.

Lalu sampai di Stadion Universitas Negeri Jakarta seperti biasa kami akan melakukan beberapa teknik olahraga yang setiap kelompok siapkan untuk dilakukan oleh kelompok lainnya, dan ternyata kami kedatangan Founder Matahari Foundation,  yaitu sebuah yayasan sosial peduli yang pada anak-anak jalanan dan anak-anak yang kurang beruntung lainnya.

Selanjutnya ternyata kami dikejutkan lagi oleh panitia dengan kehadiran 20an anak-anak binaan Mahatahari Foundation. Training ini tak sekedar memahami konsep secara teoritis, namun menuntut suatu hal yang praktis. Setiap kelompok harus mempraktekan peace sport kepada anak-anak. Dan disini teman-teman mulai memutar otak, kembali mengkonstruksi peace sport-nya sesuai dengan karakter anak-anak. Tak perlu lama, setiap kelompok mampu membangun sebuah olahraga perdamaian yang luar biasa yang sehingga tidak peace sportnya tidak hanya sebagai edukasi namun juga hiburan.

Tak terasa sudah 3 hari kami menimba ilmu dengan orang-orang yang luar biasa. Merupakan suatu pengalaman yang luar biasa untuk saya sebagai pemuda yang merasakan konflik selama 30 tahun di Aceh. Ini tentunya menjadi spirit dan inspirasi tersendiri bagi saya untuk membangun perdamaian mulai dari saya sendiri dan lingkungan saya. Saya berharap agar program ini tetap dilanjutkan setiap tahunnya sebagai bahan penerang bagi pemuda dan pemudi terutama di daerah konflik untuk mampu melanjutkan perdamaian melalui media olahraga. Generation For Peace Indonesia, Pass it on!!!

Penulis @Rmadhn

  • Share on Tumblr

Share This Post

Recent Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie