• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

#SuaraWarga | Mencari Kejelasan Soal Parkir di Museum Tsunami

Parkir area depan Museum Tsunami-AcehMenyoal parkir kendaraan di Museum Tsunami Aceh bukan lagi isu baru, sejak beberapa tahun belakangan tetap saja berbagai keluhan datang, terlebih lewat jejaring sosial Twitter baru-baru ini yang diterima oleh @iloveaceh.

“Kata juru parkir dpn Museum Tsunami “klw parkir tmpt wisata, roda 2 Rp2000/motor”. Tdk ada karcis resmi dr pemda,” sebut @zulkabar dalam mentionnya kepada @iloveaceh, Kamis (6/2/2014) lalu.

Jika menarik ulur, di tahun 2012 hal serupa juga sempat terjadi. Dimana pengunjung museum tsunami Aceh juga mengeluhkan mahalnya bea parkir yang melonjak 100 % dari ketentuan Pemerintah Kota Banda Aceh. Pengelola parkir mengutip Rp 2.000/sepeda motor. Padahal pada tahun 2012 bea tarif parkir di badan jalan masih berlaku Rp 500/sepeda motor dan Rp 1.000/mobil.

Area parkir dalam Museum Tsunami / foto darirantau.blogspot.comPada tahun 2013, Dishubkominfo Kota Banda Aceh juga telah mengenakan tarif baru, yakni terhitung mulai 1 Maret 2013 Qanun Kota Banda Aceh Nomor 4 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum. Adapun tarif baru tersebut adalah sebagaia berikut:

  • Kendaraan roda 2 dan roda 3 dikenakan tarif sebesar Rp1.000;
  • Untuk kendaraan roda 4 dikenakan tarif Rp2.000; dan
  • Kendaraan roda 6 dikenakan tarif sebesar Rp 6.000.

Berdasarkan hal inilah, @iloveaceh kembali menaikkan #suarawarga sebagai bentuk penjaringan pendapat warga di linimasa dari sejumlah pengunjung yang pernah bertandang ke lokasi wisata ini untuk mencarikan solusi yang nantinya bisa diambil kebijakan baik itu oleh manajemen museum, dinas terkait, serta warga setempat yang disebut-sebut sebagai pengelola parkir area luar.

Apa Kata #ATwitLovers

Selama 1 kali 60 menit, @iloveaceh berhasil menjaring beragam pendapat. Tidak lepas dari itu semua, pendapat yang masuk dalam #suarawarga juga bisa mewakili beberapa pendapat umum lainnya soal tanggung jawab dari petugas atau juru parkir serta keberadaan area parkir yang dikelola secara terpisah antara pihak manajemen museum dan warga setempat.

Menanggapi hal tersebut dan sejumlah #suarawarga, pihak Museum Tsunami lewat akun resmi juga kembali memberikan klarifikasi pada Jum’at (7/3/2014). Berikut petikannya:

Dari klarifikasi di atas juga bisa kita ambil kesimpulan bahwa, uang retribusi parkir juga ditampung oleh pihak Pemkot Banda Aceh. Namun, upaya penjelasan informasi kepada masyarakat atau pengunjung di Museum Tsunami ada baiknya juga disampaikan dalam bentuk tertulis seperti pencantuman plang retribusi di depan area luar atau dalam museum.

Kita juga mengharapkan persoalan yang sama tidak bermunculan lagi ke depan dan menjadi bahan pertimbangan dari pihak-pihak yang telah disebutkan di atas tadi (Manajemen Museum Tsunami, Pemkot Banda Aceh, warga setempat) untuk melakukan rembuk alias menggelar diskusi dalam mencari solusi alternatif lainnya. Sehingga kesadaran masyarakat untuk berkunjung ke tempat wisata seperti Museum Tsunami juga akan lebih meningkat kedepan dengan adanya upaya dari pihak pengelola sendiri dalam menjaga kenyamanan pengunjung. (ed)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie