• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Dara Mameh, Fenomena Unik Ramadhan di Aceh

Sore itu cuaca tampak cerah di atas kota tua ini. Jarum jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Saya lagi malas-malasan di dalam kamar, sambil membuka laptop berselancar di dunia maya. Buka twitter, mondar-mandir di linimasa (timeline) orang-orang yang saya anggap isi TL-nya bagus. Berharap mendapatkan informasi.

Tiba-tiba perhatian saya tertuju pada akun @iloveaceh, sebuah akun publik yang mengabarkan segala hal tentang Aceh. Sore itu, admin akun ini sedang mengajak para followersnya memposting gambar tentang usaha-usaha kecil yang digeluti followers, kala di bulan ramadhan seperti ini. Kebanyakan dari mereka memposting gambar makanan. bukan, bukan untuk di makan siang hari. ini di jual sore hari sebagai teman buka puasa, atau tak asing lagi kita dengar saat ini yang sering di sebut takjil.

“Nih min, usaha saya di seputaran jalan Daud Beureueh. Mampir ya min, kuenya enak-enak. Hehehe,” kicau salah satu akun yang mention ke @iloveaceh.

Sejurus kemudian akun itu saya telusuri. Avatar Twitter-nya gambar seorang wanita muda, cantik. Lalu gumam saya dalam hati, “Apa iya, cewek secantik ini mau jualan kue di pinggir-pinggir jalan?”

Rasa penasaran saya semakin menjadi-jadi. Saya ambil BlackBerry, lalu saya hubungi seorang teman. “Bro, sore ini ada kemana? Kita ambil-ambil foto yuk, foto cewek-cewek yang jualan takjil. Hehehe,” ajak saya lewat BBM.

Beberapa menit kemudian, BBM saya di-read. Masuk balasan, “yang benar aja? Ambil foto atau mau cuci mata kau? Ingat puasa bro,” celetuk kawan saya itu dengan seenaknya.

Saya berusaha meyakinkannya dengan sepenuh hati. Saya jelaskan maksud saya kenapa hendak memfoto. Saya katakan padanya “Ini fenomena yang aneh bro, tiap tahun sekali. Kenapa cewek-cewek itu mau jualan di pinggir-pinggir jalan, coba? Jangan-jangan ini ada konspirasi ekonomi tingkat ASEAN bro. hahaha,” saya mencoba menarik simpatinya dengan sedikit menggoda ia untuk tertawa.

Tak lama kemudian ia membalas, “hahahaha, baiklah bro. aku mau ikut. Tapi nanti gratiskan aku satu sup buah ya? Yang murah-murah saja, hehehe.” Dasar kau teman, harus saja ada imbalannya. Celetukku, membalas bbm-nya.

Jam lima sore kami sudah berada di jalanan. Dengan mengendarai sepeda motor Supra 125 butut milikku, dan sebuah kamera pinjaman pada seorang teman, kami mulai mengitari jalanan kota tua yang baru-baru ini genap berumur 809 tahun, Banda Aceh. Kami celingak-celinguk memandang kiri kanan. Di pinggir-pinggir jalan banyak orang jualan penganan berbuka puasa, dari makanan yang tradisional hingga makanan modern yang penuh corak warna dan rasa.

Pertama-tama kami menelusuri jalanan Lampineung. menemukan banyak pedagang takjil dari yang muda hingga yang tua. Disini saya menemukan seorang perempuan yang kira-kira berumur 23 tahun. Dia berjualan air tebu.

Suasana Ramadhan di Aceh / ILA“Beli bang? Ini air tebu higenis. Cara buatnya memakai sarung tangan,” ia mencoba menggodaku untuk membeli. Saya tersenyum sembari melempari kalimat, “Saya cuma mau ambil foto kakak aja, boleh ya? Nanti kapan-kapan baru saya beli air tebu hegenisnya.” Ia mengizinkan, namun agak sedikit malu-malu.

Sambil tertunduk untuk membenarkan letak senyumnya, seketika itu saya langsung menjepret beberapa gambar.

“Abang-abang ini dari mana?” tanyanya perlahan. “Kami dari rumah kak. Cuma pengen foto-foto aja. Soalnya ramadhan di Aceh itu unik. Sayang kalau nggak di foto,” jawab saya dengan seloroh.

Kemudian kami meminta terima kasih, karena ia sudah mengizinkan kami mengambil beberapa foto dirinya serta dagangannya. Lalu pamit pergi. Kami melanjutkan perjalanan ke jalan Lampriet. Di sana juga banyak penjual aneka macam takjil. Dari kue kering sampai kue basah. Ada di jual disana.

Di Lampriet saya bertemu dengan Danya. Ia adalah siswa di salah satu SMK di Banda Aceh. Bersama teman-teman sebayanya, Danya berjualan kue buatan ibu mereka masing-masing dan kue titipin dari orang lain. Lewat beberapa meter di depan rumah sakit umum Zainal Abidin, Danya dan teman-temannya membuka lapak jualan.

“Disini itu rame bang. Besar kemungkinan untuk dagangan kita laku. Kami menjual kue buatan ibu masing-masing dan juga kue titipan dari orang lain. Nanti tinggal bagi hasil deh,”  sebut Danya, ketika saya tanya kenapa dia dan teman-temannya memilih jualan di situ dan berasal dari mana kue jualannya ini.

Suasana Ramadhan di Aceh / ILA

Gadis berbaju pink itu juga menambahkan, “Kami mau jualan begini untuk mengisi waktu luang aja bang. Walaupun jualan, tapi bisa sambil main-main gitu. Seru juga ternyata,” katanya.

Setelah meminta kesediaan mereka untuk di foto, saya pamit.

Lewat beberapa meter di tempat Danya dan teman-temannya berjualan, saya melihat lagi ada beberapa orang anak muda sedang menjajakan es buah. Uniknya, mereka berjualan dengan memanfaatkan bak mobil belakang yang di sulap untuk menempelkan banner produksi dagangan milik mereka.

“Abang-abang ini datangnya telat kali. Padahal tadi dagangan kami masih banyak. Kan pas kali kalau di foto,” ungkap Dita dengan sedikit melempar senyum.

Dita ini mahasiswi ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Ia dan teman-temannya berjualan sejak pukul empat sore, setiap hari selama Ramadhan. Berbekal satu buah meja, dan bak mobil untuk menempeli banner dagangan, mereka mulai menjajakan es buah dagangan mereka kepada pembeli.

Suasana Ramadhan di Aceh / ILA

“Sejak kapan sih, kepikiran untuk jualan gini?” tanya saya.

“Sebenarnya udah lama niat pengen jualan takjil di bulan Ramadhan, tapi baru tahun ini kesampaian,” ujar Dita santai.

Setelah meminta kesediannya untuk difoto, saya menyampaikan pamitan kembali.

Lalu ia seloroh berucap, “Besok datang lagi ya bang, pas dagangan kami masih banyak,” sambil melepas gelak tawanya.

Kami melanjutkan perjalanan menuju ke jalan Daud Beureueh, tepat di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Di sana pun saya banyak menemui dara-dara berparas cantik berjualan takjil. Ada yang berjualan di dalam mobil, ada juga yang menggelar tenda di pinggir-pinggir badan jalan.

Seperti beberapa perempuan yang berjualan di dalam tenda yang saya jumpai ini. Mereka ini adalah mahasiswi dan masih satu sanak famili.

Suasana Ramadhan di Aceh / ILA“Kami ini masih satu keluarga. Satu teman permaianan juga. Sering nongkrong-nongkrong bareng. Jualan takjil gini sambil untuk nunggu waktu berbuka puas aja. hasilnya lumayanlah, bisa nambah-nambah uang jajan bang,” sebut perempuan berjilbab hitam di foto, sambil melemper senyum.

Lalu saya bertanya “mulai dari jam berapa kakak-kakak ini jualan? Dan sampai jam berapa nanti tutupnya?”

Sambil tetap tersenyum, dia berkata.

“Biasanya kami buka dari jam setengah lima sore bang. Dan tutupnya sampai orang-orang sudah berbuka puasa. Biasanya abis-abis maghrib, itu kami udah beres-beres untuk pulang,” jawabnya.

Sedikit informasi untukmu teman. Sebenarnya ini pendapat pribadiku. Kau boleh percaya atau tidak, namun aku selalu melakukannya. Begini teman, Kalau sedang berbicara dengan perempuan Aceh yang baru kalian kenal, dan kau melihat dari wajahnya bahwa kalian seumuran, hendaklah tetap memanggilnya “kakak”. Sekalipun nantinya setelah bercakap-cakap panjang lebar ternyata kau lebih tua. Sebab, perempuan Aceh akan merasa dihargai kala di panggil kakak. Pun demikian, rasa saling terbuka untuk berbicara semakin nyaman jadinya, dan perempuan Aceh tidak melihat Anda sebagai orang yang harus di takuti. Seperti kata seorang bijak, “hargai pertemuan itu terlebih dahulu dengan sopan santun.”

Saya berjalan lagi kedepan. Melihat-lihat jajanan berbuka puasa yang di jual di pinggir jalan ini. Tiba-tiba perhatian saya tertuju pada gerobak berwarna pink. Unik nih, gumam saya dalam hati.

Suasana Ramadhan di Aceh / ILASaya mempercepat langkah untuk menghampirinya.

“Wah, minuman yang sehat nih, yogurt,” sapa saya mengawali pembicaraan.

“Iya bang, sehat ini. Beli bang? Untuk berbuka nanti,” balasnya sedikit agak merayu.

“Nggak usahlah. Kapan-kapan aja saya beli. Tapi saya pengen fotoin kakak boleh? Untuk dokumentasi aja sih,” timpal saya sedikit memohon.

“Aduh, malu bang. Tapi yaudah deh, silahkan fotoin. Ada syaratnya tapi, nanti bilang sama teman-temannya ya untuk beli minuman sehat ini,” sebutnya sambil melempar tawa.

Saya pun ikut tertawa sambil berkata, beres!

Setelah mendapatkan fotonya, saya izin untuk pergi. Berjalan lagi kedepan, pandangan saya tertuju pada seorang perempuan dengan seorang adiknya sedang memperbaiki letak daganggan mereka.

“Kak, saya boleh fotoin kakak berserta takjil yang kakak jual ini, ndak?” tanya saya, membuka pembicaraan.

“Untuk apa?” jawabnya singkat.

Suasana Ramadhan di Aceh / ILA“Untuk koleksi pribadi kak. Saya janji nggak akan jual foto kakak ke majalah kuliner deh,” sambung saya agak sedikit bercanda.

Lalu iya tersenyum dan mengizinkan saya untuk memfoto.

“Kak, makasih ya atas kesediaannya untuk saya foto,” kata saya sambil tersenyum.

“Sama-sama. Terima kasih juga sudah mau memfoto saya. Ingat ya, jangan di jual fotonya ke majalah kuliner,” katanya sambil melempar tawa.

“Hahahaha…, beres kak! Terima kasih ya. Saya pamit kak,” sambung saya, dan berlalu pergi.

Saya menghidupkan motor yang terparkir di pinggir jalan, dan melaju menuju bundaran Simpang Lima. Sejenak kami terhenti disana, dihentikan oleh lampu merah.

“Kemana lagi kita?” tanya teman yang mengawani saya dalam perjalanan mengambil foto tersebut.

“Kita ke daerah Taman Makam Pahlawan,” jawabku.

Seketika kami sudah sampai di jalan Taman Makam Pahlawan. Memakirkan motor tepat di depanya. Kami berjalan-jalan menelusuri puluhan pedagang yang berjualan di sana.

Di sini beragam takjil dan kuliner khas Aceh banyak di jual. Seperti perempuan yang saya jumpai ini. Ia mejajakan beragam macam kuliner khas Aceh.

Suasana Ramadhan di Aceh / ILA“Itu oen peugaga bang. Murah meriah kok, cuma lima ribu saja,” ia memulai berbicara ketika saya melihat-lihat dagangannya.

“Iya kak. Saya Cuma pengin lihat-lihat aja,” jawab saya dengan sedikit senyum.

Kamu tahu oen peugaga itu apa? Nih, saya kasih sedikit info dari apa yang saya tahu tentang kuliner Aceh yang unik itu.

Oen peugaga adalah jenis dedaunan. banyak tumbuh di halaman-halaman rumah orang Aceh. Cara membuatnya cukup simple. Tinggal mengiris kecil-kecil oen peugaga tersebut, lalu menambahkan bawang merah, cabai hijau, batang sereh, jeruk nipis, kelapa parut, dan belimbing secukupnya. pun kalau ada udang segar, bisa juga untuk di campur, bakal jauh lebih enak. kemudian, semua campuran itu diulek. Jadilah ia sambai oen peugaga.

Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Semua tempat di belahan bumi ini menyimpan hal-hal yang unik kala bulan suci ini datang. Pun rezeki juga tak pandang-pandang bulu untuk menghampiri. Tak peduli berparas cantik, juga tak peduli berwajah kurang cantik, ia akan datang kepada siapa saja yang mau berusaha. Seperti perempuan-perempuan yang saya jumpai ini, mereka terlihat tak mengedepankan malu yang besar kala menjajakan makanan di pinggir jalan seperti ini.

Mereka berusaha, bersungguh-sungguh mengumpulkan rupiah, dan memiliki paras cantik, tentulah ini suatu bentuk yang patut di syukuri sebagai “modal” agar dagangan bisa laris manis setiap hari. Itulah dia kisah dara-dara mameh yang saya temui kala Ramadhan di Aceh. Tertarik? Yuk berkunjung ke Aceh saat bulan puasa, atau cek saja di tagar #RamadhandiAceh. (@alfaaaath)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie