• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Lintas Komunitas, Gelar Diskusi Bioskop Untuk Banda Aceh

IMG_6967Para muda-mudi kota Banda Aceh dan anak-anak muda yang tergabung dalam lintas komunitas, menggelar diskusi terbuka tentang “Bioskop Untuk Banda Aceh” atau yang dikenal lewa tagar #BioskopuntukBNA, Sabtu (12/7/2014) sore di 3 in 1 coffee shop.

Diskusi yang bertujuan untuk mengajak berdiskusi ringan antar sesama anak-anak muda di Banda Aceh yang berkeinginan kota dengan jargon Madani-nya ini memiliki sebuah bioskop yang sesuai dengan kearifan lokal daerah.

Acara yang berlangsung santai tersebut banyak didatangi oleh anak-anak muda yang ingin menyampaikan pendapat serta masukannya terhadap bioskop yang bagaimana yang di butuhkan oleh ibu kota propinsi Aceh ini.

Diskusi yang di pandu oleh Danurfan ini berlangsung alot. Banyak pro-kontra dalam mencari konsep bioskop yang cocok dengan kearifan lokal daerah.

“Bioskop memang sudah sepatutnya kita butuhkan. Ini sebagai wadah untuk sineas-sineas lokal unjuk bakat. Selama ini orang-orang yang berbakat di bidang perfilman tidak tertampung hasil-hasil karyanya. Kita pun juga kebingungan jika hendak menikmati film-film karya anak bangsa yang bagus, musti ke Medan atau ke daerah lain yang memiliki bioskop. Bayangkan ini, betapa kita harus menghambur-hamburkan uang sebanyak itu hanya untuk menonton film di kota lain,” sebut Rahmat, selaku pemuda Banda Aceh.

Rahmat melanjutkan, “Dengan adanya bioskop di Banda Aceh, tentu ekonomi masyarakat kita juga akan ikut terbantu. Pun adrenalin sineas-sineas Aceh akan semakin terpacu untuk menghasilkan kreatifitas yang lebih bagus lagi. Dan kita-kita ini sebagai masyarakat pasti akan mendapatkan akses pengetahuan yang layak dan bagus dari sebuah film.” tutupnya.

Di samping itu, peserta dari diskusi bioskop untuk Banda Aceh yang lain juga memberikan pendapatnya.

Muhadzier, salah satu peserta diskusi dari Komunitas Forum Sastra Kedai Kopi mengatakan, “selama ini bioskop selalu dikonotatifkan sebagai tempat untuk berbuat maksiat. Terlalu sempit jika memiliki pandangan yang demikian. toh lihat pejabat-pejabat kita yang memberikan izin usaha karokean, caffee-caffee yang berlampu remang-remang, kenapa ini boleh? jika bioskop tidak boleh ada, harusnya yang tadi-tadi itu juga tidak boleh ada,” cetusnya.

“Kita duduk di sini bukan untuk membanding-bandingkan kenapa ini boleh, kenapa itu tidak. Kita duduk di sini untuk mencari solusi bioskop yang seharusnya tepat untuk daerah kita yang mengusung syariat islam ini. Bisa sajakan nantinya dibuat bioskop dengan konsep syar’i, penonton laki-laki dan perempuannya di pisah, kamera cctv berada di sudut-sudut ruangan, lampu bioskop yang tidak terlalu gelap, bisa sajakan? ini cuma masalah regulasi yang jelas dari pihak-pihak terkait secara lebih baik. Dan kemudian tinggal di atur dengan konsep kearifan budaya dan nilai-nilai agama yang mayoritas masyarakat di sini anut. Jika Aceh bisa menghadirkan bioskop dengan konsep begini, saya yakin Aceh akan terus menjadi kiblat untuk daerah lain dan bahkan dunia, untuk melihat bagaimana syariat islam itu tidak mengukung ide-ide untuk terus berkreatifitas,” Lanjut Maop sapaanya di Twitter.

Sementara itu koordinator acara diskusi “Bioskop Untuk Banda Aceh”, Fairuz Humam mengatakan, “kita sudah menampung seluruh pendapat dari kawan-kawan yang telah berpartisipasi hadir di diskusi ini, dan juga teman-teman yang menyampaikan pendapatnya di sosial media atau Twitter. Kita harap kawan-kawan semua terus mengkampanyekan gerakan kolektif ini untuk mengahadirkan bioskop di Banda Aceh. Kita tidak hanya sampai di sini, seluruh pendapat, masukan, dari teman-teman semua akan coba kita advokasikan dengan pihak Walikota. Kedepan kita berharap ada diskusi publik yang lebih luas lagi dengan menghadirkan Walikota, MPU, Dinas SI,  dan masyarakat luas,” tutupnya.

Acara diskusi biokop untuk Banda Aceh melahirkan beberapa butir pendapat serta masukan. Nantinya pendapat dan masukan dari anak-anak muda kota Banda Aceh serta lintas komunitas ini akan diadvokasi lebih lanjut ke Walikota untuk dibicarakan dalam forum mendatang. Acara diskusi ini di tutup dengan buka puasa bersama. (alf)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie