• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Kotak Hitam Perdamaian Aceh Angkat Tema “Menonton untuk Mengingat”

Kotak Hitam Perdamaian AcehPada tanggal 15 Agustus tahun ini, masyarakat Aceh kembali memperingati penandatangan nota kesepakatan MoU Helsinki, yang menjadi penanda berakhirnya konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia (RI).

Usia Perdamaian Aceh masih sangat muda dan seperti yang dapat dibaca di beragam media, ada banyak percikan yang sewaktu-waktu bisa kembali memantik konflik. Selama ini, peringatan Perdamaian Aceh yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Aceh berisi kegiatan do’a bersama, pelepasan merpati, dan rangkaian seremonial yang dihadiri oleh para pejabat terkait.

Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, gerakan kolektif #BioskopuntukBNA akan mengangkat sebuah acara dalam rangka memperingati perdamaian Aceh lewat agenda Kotak Hitam Banda Aceh yang akan mengangkat tema “Menonton untuk Mengingat” .

Koordinator Lapangan, Mifta Sugesty dalam rilisnya menyebutkan, pengambilan nama kotak hitam sangat erat hubungannnya dalam melakukan penyelamatan perdamaian yang telah ada.

“Kotak Hitam di dalam dunia penerbangan merupakan suatu alat yang dapat merekam segala kejadian di dalam kokpit, sehingga ketika terjadi kecelakaan, kotak hitam ini dapat menguak penyebab terjadinya kecelakaan dan langkah yang diambil pilot dalam melakukan penyelamatan. Berangkat dari cita-cita yang serupa, kami ingin mengajak masyarakat untuk napak tilas proses perdamaian lewat film nasional dan internasional pilihan melalui acara “Kotak Hitam Perdamaian Aceh” pada tanggal 14 – 15 Agustus 2014.” terangnya.

Mifta juga menyebutkan, beberapa film yang akan diputar juga telah dipilih yang sesuai dengan tema dan terbuka gratis bagi umum. “Film yang dipilih menjadi tiga tahapan, yakni yang mampu menjelaskan proses transisi menuju perdamaian. Tiga kategori tersebut adalah: Konflik, Negosiasi, dan Pasca Konflik. Semua film akan tayang secara gratis dan tidak ada biaya bagi penonton.” jelasnya..

Selain sebagai gerakan kolektif dari #BioskopuntukBNA, pihak panitia berharap melalui kegiatan bisa mengajukan semacam ‘bioskop darurat’ di tengah-tengah ruang publik untuk mendukung adanya bioskop untuk Banda Aceh yang sesuai dengan nilai sosial budaya.

“Pasca gempa-tsunami, tidak ada satu bioskop pun yang tersisa di Banda Aceh. Layaknya pustaka, kami percaya bioskop harusnya ada untuk membuka akses terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang layak dimiliki masyarakat,” tambahnya.

Kegiatan yang diselenggarakan dengan bekerjasama dengan Cinema Poetica serta Panitia Peringatan Perdamaian dari Pemerintah Provinsi Aceh ini, selain memutarkan film juga akan diadakan diskusi bersama pemantik yang telah ditentukan. (ed)


14 Agustus Tema : KonflikModerator : Liza Cici Dayani 15 Agustus Tema : NegosiasiModerator : Liza Cici Dayani 16 Agustus Tema : PerdamaianModerator : Liza Cici Dayani
Waktu : 16.30- 18.30Film 1 : Five Broken CamerasWaktu : 16.30- 18.30Film 1 : Tjoet Nya’ Dhien

(Dalam Konfirmasi)

Waktu : 16.30- 18.30Film 1 : One Day After Peace
Waktu : 20.00- 21.30Film 2 : Serial Jalan Pedang Episode Republik Maluku SelatanWaktu : 20.00- 22.00Film 2 : No Man’s LandWaktu : 20.00- 22.00Film 2 : Cahaya dari Timur – Beta

 

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie