• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Sekilas Kisah Jejak Kuliner Nusantara di Aceh

kari-kambingOleh Budi Suwarna dan Aryo Wisanggeni G*

Di balik sepiring hidangan terekam serangkaian jejak kisah, mulai dari perdagangan, migrasi manusia, penaklukan, hingga peperangan. Jelajah Kuliner Nusantara 2013 mencoba merangkai penggalan-penggalan kisah di Nusantara lewat kekayaan kulinernya.

Dua puluh piring masakan disajikan di meja makan Rumah Makan Delima Baru, Aceh Besar. Ada kari itik, sie reboh, eungkot paya (semacam kari ikan air tawar), sup kambing, ikan keumamah (sejenis ikan kering), ayam tangkap, dan lainnya. Aroma rempah langsung melayang ke udara dan menggedor nafsu makan siapa saja yang menghirupnya.

Kari itik yang diletakkan di tengah meja menarik perhatian. Kuahnya yang coklat kemerahan menjanjikan kelezatan. Pedas dan hangatnya rempah terasa di setiap lelehan kuah. Dalam sekejap, sepiring kari itik itu tandas.

Di sebelah kari itik ada sie reboh atau daging asam yang dimasak dengan kuah blangong. Itu juga semacam kari. Masakan itu tidak menggunakan santan, tetapi kelapa gongseng yang gurih dan kelapa kukur. Seperti kari itik, kuah blangong yang merah dan berlemak itu kaya rasa rempah yang berpadu dengan gurih dan asam sie reboh. Siang itu, kami benar-benar berpesta dengan 20 piring masakan Aceh yang mewah.

Dua puluh piring masakan bisa berarti dua puluh cerita. Kari itik dan kuah blangong yang dihidangkan rumah makan itu segera mengingatkan kita pada jejak panjang India di Nusantara. Lewat persentuhan dengan orang India-lah bumbu kari merembes ke Nusantara, lantas menjadi bagian kuliner kita.

Ian Burnet dalam Spice Island (2011) menyebutkan, pada periode 50 SM-96 SM, para pelaut India, khususnya dari kawasan Tamil, berlayar ke Timur untuk mencari produk-produk penting, seperti emas, batu permata, gaharu, kayu manis, merica, cengkeh, lada, tanduk badak, dan gading gajah, untuk diperdagangkan di Pelabuhan Alexandria, Mesir. Dari situ, rempah menyebar ke Jazirah Arab dan Eropa, terutama Romawi.

Dalam pelayarannya ke Timur, pelaut India mendarat di pantai-pantai tidak dikenal di Asia Tenggara, termasuk Sumatera bagian utara. Mereka menembus hutan untuk bertemu penduduk yang menetap di dataran tinggi dan merayu agar penduduk mau menjual produk yang mereka cari. Proses itu memerlukan waktu bertahun-tahun. Selama periode itu, mereka dipaksa menetap di delta-delta subur yang mereka masuki dan kawin dengan gadis setempat (Bernard Philippe Groslier, 2011).

Semua itu menghasilkan peleburan total sehingga kebudayaan India, termasuk tradisi kulinernya, tertanam di Semenanjung Melayu dan juga di Pulau Sumatera, termasuk Aceh. Dari situ, antara lain, lahir kari dalam bentuk dan citarasa baru yang berbeda dengan kari di negeri asalnya.

Imperialisme

Karena letak Nusantara berada di jalur perdagangan dunia, khazanah kuliner Nusantara juga dipengaruhi kebudayaan asing seperti China, Arab, dan belakangan Eropa. Selain perdagangan, penjajahan juga merembeskan banyak pengaruh pada khazanah kuliner dunia. Felipe Fernandez-Armesto dalam History of Food bahkan berani mengatakan, ”Tidak ada sumber lain yang bisa memengaruhi makanan lebih kuat daripada imperialisme.”

Kaum lelaki memasak kari kambing untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (10/2/2013). (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Imperialisme telah mendorong orang-orang Barat untuk datang ke negeri-negeri yang menjadi sumber komoditas penting, termasuk rempah di Nusantara. Imperialisme juga mendorong migrasi manusia lewat perbudakan dan perburuhan. Dari situlah tradisi kuliner menyebar dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, proses di atas tidak selalu satu arah. Penjajah tidak hanya memengaruhi khazanah kuliner di negeri jajahannya, tetapi juga sebaliknya. Rempah-rempah yang dibawa para penjajah dari daerah jajahan di Timur memberikan rasa tajam sekaligus aroma harum pada kuliner mereka yang hambar. Bahkan, Belanda mengadopsi secara utuh beberapa kuliner Nusantara dan menamainya dengan rijsttafel.

Selain pengaruh dari luar, tentu saja khazanah kuliner juga dipengaruhi kondisi lokal, mulai dari lingkungan, sistem kepercayaan, budaya, ekonomi, hingga politik. Penny van Esterik dalam Food Culture in Southeast Asia menjelaskan berbagai kontras yang membentuk masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yakni pesisir-pedalaman, dataran tinggi-dataran rendah, makan nasi-makan umbi, sawah-ladang, dan istana-desa. Kontras-kontras itu membentuk budaya makan yang berbeda.

Hal itu sekaligus juga menegaskan bahwa makanan adalah produk kebudayaan. Makanan dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan sebab makanan berjalan seiring-sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia mulai zaman ketika manusia belum mengenal api hingga ketika manusia gandrung memasak dengan teknik molekuler seperti sekarang.[]

*Wartawan Kompas meliput ekstensif untuk menggali narasi kuliner Nusantara

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie