• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Berkah Peringatan Tsunami Bagi Penjaja Kue Khas Aceh

Kak Pina sedang menunggu pelanggan untuk membeli dagangan jajanan khas Aceh miliknya dilintasan jalan Meulaboh-Banda Aceh.

Kak Peni sedang menunggu pelanggan untuk membeli dagangan jajanan khas Aceh miliknya dilintasan jalan Meulaboh-Banda Aceh, Sabtu (6/12/2014). (Foto: Alfath Asmunda/ iloveaceh.org)

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh 10 tahun silam menyimpan banyak kenangan dan keberkahan tersendiri bagi penjaja kue tradisional khas Aceh.

Para penjual jajanan khas tradisional yang berlokasi di pinggiran jalan lintas Meulaboh – Banda Aceh, tepatnya di Desa Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar mendapat berkah dari momen peringatan tsunami yang selalu diperingati oleh segenap lapisan masyarakat di Aceh.

Sebut saja kak Peni, seorang perempuan penjaja kue tradisional khas Aceh,  mengaku saat memasuki bulan Desember, kue jajanannya laku keras. Hal tersebut dikarenakan bertepatan dengan peringatan tsunami yang selalu menarik banyak pengunjung untuk berhadir dibumi Serambi Mekkah.

Tak hanya dari lokal, pengunjung dari mancanegara pun cukup ramai berdatangan ke Aceh saat peringatan Tsunami tiba. Hal ini seperti dituturkan kak Peni kepada iloveaceh.org, Sabtu (6/12/2014).

“Kalau sudah bulan Desember, biasanya dagangan kami banyak dibeli oleh turis. Apalagi kalau mau dekat-dekat tanggal terjadinya gempa dan tsunami, alhamdulillah dagangan kami banyak laku,” katanya.

Ia menambahkan, jajanan khas Aceh yang dijualnya banyak dibeli oleh pelancong lokal maupun mancanegara, seperti dari Amerika, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Prancis, dan banyak negara lainnya.

“Peringatan tsunami tahun lalu, kue-kue yang saya jual ini banyak dibeli oleh turis. Mereka banyak membeli kue semacam keukarah, kue seupet, dodoi (dodol). Kalau turis dari Malaysia, Singapura, dan Brunei, mereka suka sekali dengan kue meusekat,” tambahnya.

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 silam, tinggal hitungan hari untuk genap satu dekade. Sementara banyak harapan untuk hidup lebih memadai bagi sebagaian masyarakat Aceh masih belum terpenuhi akibat terhimpit beban ekonomi.

Kak Pina berharap, dengan usahanya menjaja kue tradisional Aceh, kehidupannya bisa semakin terus membaik. Ia pun tak patah semangat untuk terus mencari rezeki.

“Mencari rezeki itu bisa dimana saja. Yang paling penting dengan niat yang baik. Masyarakat Aceh harus bangkit, jangan hanya tergantung dengan bantuan orang lain. Kita harus mandiri dengan mencari rezeki yang halal,” tutup perempuan yang mengaku sudah berjualan kue tradisional Aceh selama tiga tahun tersebut. (alf)

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie