• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Dari Musibah Hingga Hari Kepedulian

Pagi itu hujan belum juga reda. Rintik-rintiknya masih berjatuhan membasahi bumi. Sembari menunggu, saya telah menghabiskan sepiring nasi dan segelas teh hangat. Jarum jam terus saja berputar, namun tanda-tanda hujan akan reda belum tampak.

Namun di halaman depan masjid kebanggan orang Aceh, Masjid Raya Baiturrahman ratusan anak-anak muda yang sudah lengkap dengan atributnya masing-masing telah berkumpul. Informasi itu saya dapat dari grup WhatsApp komunitas yang saya geluti. Mereka telah bersiap-siap untuk ikut membuat sebuah sejarah baru bagi Aceh.

Sejak malam, Sabtu (20/12/2014) kota Banda Aceh memang terus menerus diguyur hujan, bahkan diseluruh penjuru Aceh hujan tanpa henti-hentinya berjatuhan. Tak ayal hal itu menyebabkan puluhan daerah di Aceh terserang banjir. Hingga pagi pun datang, hujan masih enggan untuk berhenti.

Tepat pukul setengah delapan pagi, saya membulatkan niat menerobos hujan yang belum ada tanda-tandanya untuk pergi dari langit kota ini. Dengan mengendarai sepeda motor, saya menelusuri jalanan yang terlihat kosong. Tidak seperti biasanya, dipagi Minggu begini, biasanya jalanan kota ramai diisi oleh masyarakat yang berolahraga sepeda, lari, atau sekedar berjalan kaki sambil menghirup udara pagi yang segar. Namun kali ini pemandangan itu tidak tampak, jalanan sepi. Ini sudah tentu penyebabnya hujan, gumam saya dalam hati.

Saya terus mengendarai motor, menerobos hujan yang makin saja deras. Pakaian yang saya kenakan kian basah, juga sepatu. Akhirnya saya memutuskan berhenti disebuah halte, tidak beberapa jauh dari pusat kantor Pemerintah Aceh.

Dihalte tersebut, Beberapa orang pengguna jalan juga sedang berteduh untuk menghindari hujan yang makin deras. pagi itu, harapan saya untuk bisa cepat bergabung dengan anak-anak muda yang hendak membuat sejarah baru bagi Aceh, terhenti sebab hujan.

“Tapi tak mengapa, hujan itu rahmat yang diturunkan oleh sang pencipta bagi daerah Serambi Mekkah ini,” cetus saya dalam hati coba menghibur diri.

Beberapa menit kemudian, hujan sedikit mulai mereda. Saya tak pikir panjang lagi. Saya hidupkan motor lalu tancap gas menuju Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi saksi bisu atas musibah yang melanda daerah ini pasca-satu dekade silam. Niat saya sudah amat kuat untu menerobos hujan, tak peduli pakaian basah. Dari pada menunggu hujan benar-benar reda, bisa saja itu bakalan lama, sudah pasti nanti saya akan tertinggal dari sejarah yang akan tercipta. Saya teruskan saja menarik gas motor hingga akhirnya sampai juga di halaman depan masjid kebanggaan rakyat Aceh tersebut. Tentu dalam keadaan pakaian basah.

Disana tampak seratusan lebih anak-anak muda telah berhadir lengkap dengan atribut masing-masing. Ada teman-teman dari pelbagai komunitas fansclub di Aceh, komunitas fotografi, Palang Merah Remaja, Seniman dan Musisi Aceh, Tarung Derajat, RAPI Aceh, Duta Wisata, Duta Mahasiswa, Radio di Aceh, Media Lokal di Aceh, Relawan Air Putih, Komunitas Comics, dan juga teman-teman yang datang secara personal. Mereka berkumpul demi satu tujuan, satu semangat, satu harapan agar tepat ditanggal 26 Desember, dunia mengakui dan menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Kepedulian Dunia atau Care Day.

IMG_5299

Demi tujuan itulah yang membuat kami dari lintas komunitas di Aceh berkumpul untuk melakukan sebuah aksi longmarch dari halaman Masjid Raya Biturrahman melintasi jalan protokol dan berakhir di monumen Aceh Thanks To The World, Blang Padang.

Hujan masih enggan untuk benar-benar rehat. Beberapa ruas jalan protokol tampak digenangi oleh air. Burung-burung yang bersarang di menara Masjid Raya beterbangan dilangit, bersahut-sahutan seakan bahagia menikmati hujan yang tak kunjung reda.

Saya memakirkan motor tepat dihalaman masjid. Kemudian dengan sedikit berlari-lari kecil, saya mengejar barisan teman-teman lintas komunitas yang sudah lebih dulu berjalan melakukan longmarch. Untungnya, barisan tersebut belum cukup jauh berjalan.

IMG_5296

Dalam rintik hujan pagi itu, terlihat semangat yang besar dari teman-teman lintas komunitas untuk melakukan pawai mengelilingi kota. Tak ada satu pun yang menghiraukan hujan, kami rela berbasah-basahan, berjalan kaki beberapa kilometer demi satu tujuan menjadikan tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia. Itu saja.

Satu Dekade yang Lalu

Musibah gempa dan tsunami yang melanda daerah kami 10 tahun silam telah membuka mata dunia terhadap Aceh. Gempa yang merobohkan istana-istana gubuk yang kami tinggali, gelombang air laut dengan ketinggian mencapai 35 meter yang menggulung sanak keluarga kami, telah membuat dunia benar-benar berduka atas musibah tersebut. Triliunan rupiah bantuan dari masyarakat dunia coba membantu Aceh, ratusan ribu relawan berdatangan untuk membasuh luka rakyat Aceh, namun itu semua tentu tidak serta merta bisa menghapus luka yang teramat dalam disanubari kami. Luka yang terpatri hingga hari ini. Luka yang sangat kami nikmati.

Sebagaimana orang yang kehilangan seseorang yang ia cintai, seseorang yang ia sayangi, walaupun beragam rupa coba digantikan, tetap tak akan sama. Tak akan bisa hati berdamai dengan sesuatu yang bukan aslinya. Kenangan dengan sanak saudara yang kami cintai, tak akan bisa tergantikan dengan kemegahan Aceh hari ini. Gedung-gedung yang baru, jalan-jalan yang mulus, rumah yang baru, jembatan yang kokoh, sekolah yang megah, semua itu tak bisa menghilangkan ingatan kami kepada sanak saudara yang telah pergi. Hilang tak tahu dimana pusaranya, tenggelam dalam pekatnya gelombang pada Minggu 26 Desember 2004 silam.

Pun sebagaimana kata pepatah “sedalam apapun coba kau tenggelamkan kenangan, ia pasti akan timbul kepermukaan jua”. demikian jugalah yang kami rasakan. Walaupun Aceh hari ini tidak seperti 10 tahun yang lalu, saat orang-orang yang kami cintai masih ada, kenangan bersama mereka 10 tahun yang lalu itu tidaklah pernah akan surut.

IMG_5321

Puing-puing kenangan dengan orang-orang yang terkasih, masih tertanam rapi dihati rakyat Aceh. Tak terkecuali saya, pada Minggu pagi yang cerah itu gempa dan gelombang tsunami telah membuat abang sepupu yang sangat saya sayangi, hilang tersapu oleh gelombang maha dasyat itu. tak hanya beliau, ratusan saudara saya hilang bagai ditelan bumi. Ingatan tentang mereka sampai hari ini masih membekas dalam hati ini. Tak akan terhapus sampai kapanpun.

Cetuskan Hari Kepedulian

Berangkat dari niat tak ingin melupakan kenangan itulah, lintas komunitas di Aceh coba memprakarsai lahirnya hari Kepedulian Dunia. Kami tak ingin generasi Aceh, 40 atau 50 tahun nantinya akan lupa dengan musibah yang pernah merenggut ratusan ribu nyawa, yang membuat ratusan ribu anak-anak menjadi yatim piatu, yang membuat ayah kehilangan anaknya, anak kehilangan ibu bapaknya, saudara kehilangan saudaranya, para korban tsunami yang hingga hari ini menderita sakit jiwa, negara-negara yang datang mengulurkan tangannya untuk membantu Aceh, para relawan dari seluruh penjuru dunia yang datang membantu tanpa melihat apa dan siapa, hilang begitu saja diingatan anak cucu kami nantinya.

Kami sungguh tak ingin semua itu terjadi. Sepahit apapun kenangan, ia tetaplah kenangan. Karena sebelum kenangan yang pahit itu datang, ada kenangan manis yang terlebih dahulu pernah singgah.

Berjalan kaki beberapa kilometer tanpa memperdulikan hujan yang terus saja membasahi bumi, kami akhirnya sampai di museum tsunami. Disana, para teman-teman lintas komunitas berhenti sejenak di gedung yang menyimpan ribuan memori tentang tsunami. Salah satu gedung termegah di Aceh tersebut, kami membubuhkan tanda tangan disebuah spanduk sebagai bentuk dukungan ditetapkannya tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia. Rencananya, spanduk tanda tangan sebagai bentuk dukungan itu nantinya akan dipajang pada saat upacara peringatan mengenang 10 tahun tsunami yang dihadiri oleh banyak tamu-tamu penting.

IMG_5412

Aksi ini memang sangat sederhana. Tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan aksi dari belahan bumi lainya yang meminta hal serupa. Namun, niat yang benar-benar tulus dan harapan yang benar-benar besar agar generasi Aceh yang akan datang, maupun anak-anak Indonesia umumnya dan bahkan anak-anak dari negara lain keseluruhannya, tidaklah lupa bahwa dulu pada tanggal 26 Desember pernah terjadi musibah dimuka bumi ini. Musibah ie beuna (sebutan orang Aceh terhadap tsunami) yang pernah meluluh lantakkan Aceh dan negara-negara lainnya di Asia.

Dukungan penetapan tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia pun mengalir deras. Bak air tsunami yang datangnya amat kencang, seperti itulah teman-teman dari daerah lain di seluruh Indonesia mengucurkan dukungan mereka terhadap wacana ini. Mereka mengirimkan ucapan dukungan dan semangat kepada rakyat Aceh lewat berbagai akun sosial media. Bahkan, tanpa pernah mengira sebelumnya, anak-anak muda dari berbagai lintas negara pun juga melakukan hal serupa.

Lewat tagar #2612CareDay, mereka mengirim beberapa ucapan untuk mendukung sekaligus mengucapkan kata-kata penyemangat bagi rakyat Aceh melalui media sosial. Sungguh, saya orang yang paling sulit untuk menangis, namun atas apa yang dilakukan oleh teman-teman diseluruh daerah di Indonesia dan teman-teman lintas negara tersebut, mampu membuat saya meneteskan air mata terharu. Terima kasih banyak teman-teman.

IMG-20141218-WA007

Hari ini boleh saja orang lain melihat Aceh dan mengatakan Aceh telah benar-benar pulih dari musibah yang amat kelam tersebut. Hal demikian tentu didasari atas penglihatan geliat pembangunan dan ekonomi rakyat Aceh yang kian tumbuh. Itu memang benar. Tapi, dalam hati kami rakyat Aceh masih membekas kesedihan yang teramat dalam. Kesedihan yang sengaja kami simpan untuk mengenang sanak keluarga kami yang telah pergi lebih dahulu. Kesedihan yang tak akan pernah padam, dari hari kehari coba terus kami nikmati. Kesedihan yang kami rawat sebagai kenangan agar dimasa yang akan datang menjadi cerita yang tak akan lagi menimbulkan kepahitan. Agar generasi yang terus datang bersiap siaga dari pengalaman generasi yang pernah merasakan dahsyatnya musibah itu.

Dalam aksi tersebut tak luput pula teman-teman lintas komunitas mengucapkan miliaran terima kasih kepada negara-negara dan relawan yang telah membasuh luka derita rakyat Aceh. Puluhan bendera dari negara yang pernah mengulurkan bantuannya terhadap Aceh, ikut dikibarkan oleh teman-teman lintas komunitas tepat di monumen “Aceh Thanks To The World”.

IMG_5482

 

 

Penulis adalah Alfath Asmunda (@alfaaaath). Tulisan ini pernah dimuat di blog penaalfath.wordpress.com

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie