• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Surat Terbuka untuk Kapolda Aceh dari rakan @Ardika_LH

Salah satu rakan dari #ATwitLovers per tanggal 18 Februari mengirim surel ke @iloveaceh terkait #suarawarga yang dirasakan saat melintas jalan nasional Langsa menuju Medan dalam kesehariannya sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Medan.

Pemilik akun @Ardika_LH mengeluh soal pungutan liar yang dilakukan oleh oknum Satuan Lalu Lintas di Polres Aceh Tamiang. Berikut surat terbuka tersebut kami sajikan tanpa ada penyuntingan:

Kepada Yth Kapolda Aceh
Di tempat

Bapak Kapolda yang terhormat, saya adalah warga Kota Langsa yang saat ini sedang menempuh studi di salah satu perguruan tinggi swasta di kota medan. Dalam keseharian saya sebagai mahasiswa, saya sering berpergian dari Medan menuju Langsa atau sebaliknya dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Sebagai warga Aceh dan juga sebagai pengendara saya ingin menginformasikan tentang adanya pungutan liar yang dilakukan oknum anggota satuan lalu lintas Polres Tamiang dengan dalih biaya pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG bagi pengendara kendaraan bermotor yang melintas di wilayah hukum Polda Aceh.

KRONOLOGIS KEJADIAN

Senin, 15 Februari 2016 sekira pukul 11.30 WIB saya mengendarai kendaraan merk Avanza dengan nomer polisi BK 1455 QF dari Langsa menuju Medan melintas di depan kantor Satuan Lalu lintas Polres Aceh Tamiang yang sedang melaksanakan razia. Saat tengah melintas saya diberhentikan oleh seorang petugas yg tidak saya ketahui nama dan pangkat karena petugas tersebut menggunakan rompi sehingga menutupi nama dan pangkatnya. Petugas tersebut menanyakan kelengkapan surat-surat berupa SIM dan STNK, karena merasa surat-surat kendaraan yang saya gunakan lengkap maka saya berikan saja SIM berikut STNK dari kendaraan. Kemudian petugas tersebut bertanya tentang alamat dan saya langsung jawab Langsa. Petugas tersebut langsung mengatakan “ayo pak masuk dulu ke kantor untuk pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG.” Karena ketidaktahuan saya mengenai maksud dan fungsi surat tersebut saya menjawab “oke pak silahkan”.

Saya mematikan mesin kendaraan dan mengikuti petugas yang memberhentikan saya. Saya diarahkan untuk memasuki kantor Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Tamiang. Saya memasuki ruangan yang tidak ketahui pasti ruangan apa namun sebelum masuk keruangan tersebut saya sempat melihat di ruangan sebelah tertulis KANIT LAKA. Diruangan yg saya masuki ada dua orang polisi, seorang berpakaian polisi dengan nama SYAHRIAL dan berpangkat bripka sedang mengetik dikomputer. Sedangkan seorang lagi menggunakan celana polisi dengan menggunakan kaus. Diluar ruangan ada beberapa orangan yang belakangan saya ketahui adalah pengemudi truk gandeng yang bernasib sama dengan saya namun mereka lebih dahulu diberhentiakan sebelum saya. Saya sempat melihat petugas Bripka Syahrial sedang memberikan sebuah SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG dan mengatakan “lima puluh ribu” si pengemudi truk kemudian mengeluarkan uang dan setelah ia hitung jumlah uangnya hanya Rp 48.000 terdiri dari empat embar uang pecahan Rp 10.000 dan empat lembar uang pecahan Rp 2.000 “kurang dua ribu boleh pak” kata si pengemudi truk gandeng “Ya udahlah gak apa” jawab Bripka Syahrial.
Setelah si pengemudi truk gandeng keluar dan Bripka Syahrial pun keluar karena di panggil seseorang untuk mengurus siswa SEBA. Petugas berkaus kemudian menggantikan dan mengetik di komputer yang sebelumnya digunakan Bripka Syahrial. Surat saya selesai dan Bripka Syahrial masuk kembali ke ruangan dan mengatakan “lima puluh ribu”. Karena merasa heran saya sempat bertanya tentang uang tersebut dan dijawab Bripka Syahrial “kalo mau tau tanya aja sama kasat (lantas)”
Saya menunggu yg dimaksud kasat (lantas) tersebut sekitar 15 menit namun yg bersangkutan tidak kunjung terlihat. Kemudian saya keluar dan sempat bertanya kepada beberapa polisi yang sedang berada dihalaman kantor Satuan Lalu Lintas tentang biaya itu dan saya mendapatkan jawaban bahwa untuk negosiasi silahkan langsung kepada petugas yang membuat surat. Setelah kembali keruangan itu saya sempat beradu argumen dengan Bripka Syahrial tentang biaya tersebut namun petugas bernama Bripka Syahrial tersebut tetap menyuruh saya menunggu kasat (lantas) atau kanit.

Karena lelah berdebat dengan Bripka Syahrial saya pun menyerahkan kunci kendaraan yang saya gunakan kepada petugas tersebut dan keluar dari kantor Satuan Lalu Lintas menuju warung yg berjarak sekitar lima puluh meter dari kantor.

Saya sempat berbicara dengan pemilik warung sembari menunggu teman yang saya hubungi untuk meminjam uang karena saya bersikeras tidak mau memberi uang kepada oknum tersebut. Belakangan saya ketahui bahwa pemilik warung tersebut adalah mantan anggota salah satu LSM dan anak dari pensiunan polisi. Dari pembicaraan tersebut saya dapat simpulkan bahwa kegiatan pungli berkedok biaya pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG tersebut telah berlangsung beberapa bulan. Teman saya sampai bersama istrinya dan saya kemudian masuk kedalam halaman kantor dan kami bertiga menemui Bripka Syahrial dan istri teman saya menyarankan saya mengalah karena dia beranggapan kita tidak akan menang bila berurusan dengan polisi. Istri teman saya itu menyerahkan uang kepada Bripka syahrial senilai Rp 50.000.

Hal yang sangat saya sesalkan adalah adanya pungli yang merusak citra Polri khususnya Polda Aceh oleh oknum yg bertugas di Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Tamiang. Dalam hal ini adalah Bripka Syahrial yg menurut pengakuanya melalui pesan (bukti SMS terlampir) singkat setelah saya infokan bahwa atas kejadian pungli ini saya akan membuat surat terbuka kepada Bapak Irjen pol Husein Hamidi selaku Kapolda Aceh. Saya mendapat balasan bahwa intinya kutipan tersebut berdasarkan perintah Kasat Lantas. Ditambah lagi tempat kejadian pungli berada di dalam kantor Satuan Lalu Lintas dan saat kejadian banyak siswa SEBA yang magang di satuan Lalu Lintas. Apakah kejadian ini tidak berdampak buruk nantinya bagi siswa SEBA yang mungkin saja aka meniru cara seniornya melakukan pungli. Mungkin bagi sebagian orang uang senilai Rp 50.000 tersebut bukanlah nilai yang besar namun bagi saya yang sedang menempuh studi diluar kota dan bagi para pengemudi yang mencari nafkah dari jalanan Aceh atau pedagang keliling uang senilai itu sangat berarti. Saya pribadi tidak merasa keberatan dengan UU No.2 Tahun 2002, UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 71 tentang Pemilik Kendaraan Bermotor wajib melaporkan kepada Kepolisian Negara Republik Indonsia dan Surat Telegram Kapolda Aceh Nomor ST / 469 / VI / 2015 tanggal 08 juni 2015 tentang pendataan terhadap kendaraan non BL yg beroperasi di wilayah Aceh. Saya sangat mendukung telegram bapak diatas guna pendataan dan pencegahan tindak kriminal bermotor di wilayah hukum Polda Aceh namun biaya yang katanya untuk pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG oleh sekelintir oknum tersebut sangat memberatkan kami sebagai pengguna jalan. Besar harapan saya bapak dapat mempertimbangkan surat terbuka saya ini sebagai bagian dari bahan evaluasi terhadap kinerja sekelompok oknum petugas Satlantas Polres Aceh tamiang yang terlibat kegiatan pungli ini. Berikut saya lampirkan selembar SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG bernomor SK / 6723 / II / 2016 / Lantas. Salam hormat

Besar harapan, semoga surat terbuka ini menjadi informasi yang berguna bagi jajaran Polda Aceh dan tentunya ada jalan keluar terbaik. (ed)

Surat Terbuka Kepada Kapolda Aceh

  • Share on Tumblr

Share This Post

Recent Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie