• Salah satu ikon Aceh, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh
  • Taman Kuliner Ulee LheuePusat jajanan dan wisata di Taman Kuliner Ulee Lheue Banda Aceh
  • Kuala BubonJembatan Kuala Bubon Aceh Barat menjadi salah satu daya tarik wisata
  • Sate MatangSalah satu kuliner "Sate Matang" yang berasal dari Matangglumpangdua, Bireuen
  • Tari SeudatiTari Seudati yang merupakan tarian yang begitu populer di Aceh
Slider 11 Slider 22 Slider 33 Slider 44 Slider 55
NSP Single Prang Sabi - Niken

Hasil Polling: Harapan untuk Perfilman Aceh

Tepat pada tanggal 30 Maret lalu, di Indonesia diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN). Menariknya, perfilman di Aceh justru sedang tumbuh dengan tren yang positif apapun jenis dan kalangan yang ada saat ini.

Dengan momen tersebut, Komunitas @iloveaceh lewat akun Twitter juga menggelar polling sederhana, dimana berhasil mengumpulkan 147 suara dengan pertanyaan simpel, yakni harapan untuk perfilman Aceh.

Dari hasil polling tersebut, ada empat opsi jawabanyan yang diberikan. Dan hasilnya adalah bioskop masih mendominasi untuk segera hadir di Aceh.

Tapi jauh sebelumnya, sejumlah komentar juga bermunculan soal perfilman di Aceh ini, beberapa netizen menyebutkan keseriusaan penikmat film di Aceh malah tidak sebanding dengan permintaan. Pasalnya, dalam rangka HFN ke-66 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) juga melakukan roadshow ke Banda Aceh selama 2 hari Senin dan Selasa (21-22/3/2016), namun antusias yang datang dalam acara tersebut, hanya hitungan jari tangan dan kaki.

“Aceh Ngak Butuh Bioskop, roadshow Hari Film Nasional kemarin, ngak ada penonton,” ujar pemilik akun @azirmaop.

Posisi PHR Tergeser

73 persen memilih “Mesti Ada Bioskop” disusul dengan 15 persen pilihan “Lestarikan Sineas Muda”. Sebenarnya dua jawaban ini memang beberapa tahun ini cukup santer di Aceh, isu yang bergelinding menjadi begitu kuat disaat muncul isu #BioskopuntukBNA yang begitu tenar 2014 silam. Sebelumnya juga, geliat sineas muda di Aceh juga perlahan tumbuh di medio 2012, berbagai komunitas film yang berdiri secara indie mulai menunjukkan bakat mereka.

Seiring bermunculannya komunitas yang dengan genre film (dokumenter) ini, kerap kali kompetisi perfilman nasional juga mulai menyasar ke Aceh, baik itu berupa roadshow, diskusi film serta penanyangan film itu sendiri yang akhirnya sineas muda dari kategori siswa dan mahasiswa hingga masyarakat umum.

Bisa dibilang, netizen yang memilih sineas muda tentunya punya alasan kuat tersendiri, selain peluang juga ada prestise yang banyak orang luar belum tahu akan kebolehan anak-anak muda Aceh dalam perfilman. Siapa tahun 5 atau 10 tahun kedepan, akan muncul sineas muda Aceh yang akan menjajal karyanya ke layar lebar nasional. Tapi lagi-lagi, jika karya mereka (sineas muda Aceh) tembus layar lebar nasional, apa mungkin mereka tetap hanya bisa menonton di Aceh lewat layar tancap yang berhasil mengumpul 7 persen suara.

Layar tancap misbar (gerimis bubar) memang sudah tidak sepopuler dulu lagi di Aceh, jika dirunut lagi layar tancap sempat populer dan menunjukkan keeksisannya di era 90-an. Jika ditanya sekarang, generasi yang lahir 90-an tentu tidak tahu lagi bagaimana keseruan layar tancap saat diputar di tanah lapangan atau diemperan terminal pada malam hari, pastinya seru.

Uniknya, salah satu perhelatan seni di Banda Aceh pada tahu 2013 sempat mengangkat kembali soal layar tancap misbar yang waktu itu digawangi oleh rekan-rekan Komunitas Tikar Pandan. Sayangnya, di perhelatan seni tahunan tersebut agenda layar tancap tidak lagi mendapat porsi untuk pengunjung.

Dan hasil polling terakhir yang kini sudah hilang rimbanya adalah Punya Panggung Hiburan alias Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yang mencapai masa kejayaan di era 80-an. Yang memilih jawaban ini hanya 5 persen, yang artinya mungkin banyak dari netizen mengira panggung hiburan lebih ke konsep show atau konser.

Padahal, seperti mengutip penjelasan seniman senior Aceh Razuardi Ibrahim, keberadaan PHR dan bioskop tempo dulu tidak terpisahkan.

Pada awal tahun 1970, bioskop di Banda Aceh hanya 2 buah yakni, Bioskop Merpati dan Garuda. Pada tahun 1980-an bertambah satu lagi dengan Bioskop Gajah, disamping maraknya bioskop yang digolongkan sebagai Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yakni PHR Puda, PHR Simpang Surabaya dan PHR Urni. Di Bireuen bioskop yang populer yakni Bioskop Dewi dan Bioskop Gajah, berikut beberapa PHR yakni, PHR Suka Senang, PHR Matangglumpangdua dan PHR Ayeu Mata di Kutablang.

“Film yang diminati waktu itu, 1970-an, untuk film silat yang dibintangi Wang Yu, David Chiang, Lo Lieh, dan beberapa yang lain. Untuk film India bintang film yang paling diminati masyarakat yakni Dharmendra, Rajesh Khana, Raj Kapor, Jetendra, Sanyai, Dev Anand dan beberapa yang lain. Sementara film Indonesia yang diminati masyarakat sejenis film drama dengan lima bintang terkenal seperti, Yatti Octavia, Yenny rachman, Dorris Callebout, Roy Martin dan Robby Sugara,” demikian jelas Essex, panggilan panggung Lazuardi.

Sekali lagi, selamat Hari Film Nasional. Film Indonesia adalah kita, kita dimana punya karya dan wadah untuk mengapresiasikannya. Semoga!

Hasil Polling-Harapan untuk Perfilman Aceh

Dirangkum dan disaji ulang oleh Aulia Fitri

  • Share on Tumblr

Share This Post

Related Articles

© 2016 I Love Aceh. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Powered by WordPress · Designed by Theme Junkie