Aceh Lon Sayang in Style of Keroncong

Bagi Anda penikmati lagu keroncong mungkin sudah tidak asing lagi dengan La Paloma, ya grup musik orkes keroncong asal Padang ini sudah terkenal luas seantero nusantara dan pernah menyempatkan diri untuk roadshow ke Aceh beberapa tahun lalu.

Grup musik yang dirintis dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Sumatera Barat tersebut juga pernah membawakan lagu Aceh Lon Sayang dengan begitu apik.

Namun, yang tak kalah menarik, lagu legend karya dari T. Djohan dan Anzib Lamnyong ini juga dicoba aransemen ulang oleh musisi sekaligus YouTuber asal Aceh, Tereza.

“Ini tantangan bagi saya untuk menyanyikan lagu Aceh dengan logak yang meudok, konsepnya ini memang in style of Keroncong,” ujar Tereza disela-sela membuat video klip beberapa waktu lalu.

Tereza berharap, dengan lagu Aceh Lon Sayang ini bisa kembali membangkitkan semangatnya untuk berkarya dan tentunya menjadi motivasi bagi musisi muda di Aceh untuk terus produktif. (ed)

Teuku Reza Fahlevi

Duo @AurezMusic Rilis Single Perdana “Diriku Mewarnai Harimu”

Aurez - Dirimu Mewarnai HarikuSejak terbentuk Oktober 2014 silam, duo pendatang baru dibelantika musik Indonesia, Auwi dan Tereza (Aurez) untuk pertama kalinya meluncurkan single perdana yang berjudul Dirimu Mewarnai Hariku, Kamis (19/3/2015).

Single yang bergenre romancoustic ini, menurut Auwi –sapaan akrab Alwi Hidayat Ilyas– diharapkan mampu menambah khasanah dan warna baru bagi penikmat musik akustik di Indonesia.

“Kita nyebutnya Romancoustic (romantic acoustic), karena liriknya masih bertema kasmaran. Saya pribadi seneng nyanyiin lagu dengan konsep dan tema yang fresh kayak gini, walaupun agak berlawanan dengan konsep solo saya sendiri yang agak nge-pop,” pungkas Auwi.

Proses penggarapan single yang diproduseri langsung oleh ILAProduciton dibawah naungan ILATeam Management ini, menurut pengakuan Tereza berjalan unik dan penuh perjuangan.

“Lagu ini terbilang cukup unik bagi kami, karena kami buat sehari sebelum Aurez resmi dibentuk. Sedangkan untuk proses penggarapannya memakan waktu sekitar satu bulan, karena kita kan beda kota, jadi untuk mendiskusikan konsepnya agak sedikit terhambat,” ujar Tereza pemilik nama lengkap Teuku Reza Fahlevi.

Ditanyai soal kisah dibalik munculnya lagu ini, Tereza mengisahkan tentang sosok seorang lelaki yang sedang kasmaran, dimana wanita idamannya selalu membayangi hari-hari lelaki tersebut dan sebagian ceritanya adalah kisah nyata.

“Dari kisah nyata, sedikit sih iya, tapi inspirasi untuk lagu ini sendiri sebenarnya dari orang-orang sekeliling juga. Kita coba tuang ke dalam lagu, biar jadi motivasi tersendiri bagi para pendengar,” ungkap Tereza.

Disamping kesibukan masing-masing personel Aurez sebagai penyanyi solo, mereka terbilang cukup serius menjalani grup duo ini, terlihat dari perjuangan mereka yang kini terpisah jarak antara Lhokseumawe – Banda Aceh, kemantapan untuk menggarap single ini pun akhirnya selesai.

Single perdana “Dirimu Mewarnai Hariku” yang dibantu oleh Galih Gautama (Landdeep) sebagai Audio Director sudah bisa dinikmati media sosial musik, soundcloud.com.

Tak hanya itu, duo Aurez juga memberikan akses gratis bagi penggemarnya yang ingin mengunduh lagi tersebut di laman http://bit.ly/DirimuMewarnaiHariku. (ed)

@AuwiHidayat Keluarkan Single Terbaru “Dilema”

Personil dari duo Aurez, Alwi Hidayat Ilyas kembali meliris single terbarunya diawal bulan Februari lalu yang berjudul “Dilema”.

Auwi, saapaan akrab anak muda kelahiran 6 Juni ini begitu antusias atas karya terbarunya tersebut. “Ini memang single pertama Auwi diawal tahun ini, semoga bisa betah ditelinga pendengar semua,” sebutnya kepada @iloveaceh, Sabtu (7/2/2015).

Ditanya soal inspirasi dari lagu yang dikarangnya sendiri ini, Auwi menyebutkan ada kesan tersendiri yang tak bisa dilupakan.

“Lagu ini menceritakan tentang kekaguman seseorang laki-laki kepada wanita idamannya. Tapi, dilain sisi laki-laki ini merasa tak pantas untuk wanita itu, jadilah sebuah dilema,” sebut mahasiswa Teknik Informatik dari Universitas Malikussaleh.

Setelah dirilis ke publik, lagu berdurasi 5 menit bergenre pop ini nantinya juga akan dilaunching kepada pendengar secara live. Tidak hanya itu, Auwi juga membocorkan soal single ini yang akan mengisi salah satu list dari album yang sedang dipersiapkannya.

“Kebetulan lagu ini memang sudah Auwi persiapkan untuk album “Perasaan” yang saat ini masih dalam proses, mohon doanya ya dan semoga bisa diterima oleh penikmat musik di Aceh dan juga nasional,” tuturnya. (ed)

@AurezMusic Luncurkan Instrumental “Aceh Lon Sayang”

Hadir ditengah-tengah belantika musik dengan format duo grup, ternyata mampu membuat dua musisi muda berbakat asal Aceh ini bisa diterima kehadirannya.

Sejak terbentuk dan mulai sering tampil dari panggung ke panggung, membuat Auwi Hidayat dan Teuku Reza Fahlevi kini semakin menyatu lewat duo grup yang mereka beri nama Aurez.

Diakhir tahun 2014 lalu, Aurez membuat satu gebrakan baru dengan meluncurkan instrumental “Aceh Lon Sayang” yang khusus diputar pada puncak peringatan 10 tahun tsunami.

Musik instrumental Aceh Lon Sayang tersebut dirampungkan oleh Aurez dalam tampo 10 hari. Dari penuturan mereka, penggarapan musik instrumental tersebut tidak banyak mengalami kendala.

“Awalnya sempat kesulitan juga karena baru kali ini dapat pengalaman membuat musik instrumental. Apalagi yang digarap ini musik Aceh yang sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat. Kalau ditanya kesulitannya, paling intensitas untuk bertemu saja, berhubung Auwi sama saya kan rumahnya agak jauh,” sebut Reza.

Tak Pesimis untuk Berkarya

Untuk menggarap instrumental ini Reza dan Auwi menggunakan beberapa alat musik, diantaranya gitar, piano, dan orkestra. Penggabungan tiga alat musik ini untuk menambah nuansa berbeda dari instrumental “Aceh Lon Sayang”.

Dua musisi berkacamata ini mengakui, tidak mudah memang untuk membuat banyak orang menyukai musik bernuansa akustik dan orkestra, terlebih bagi musisi yang belum cukup terkenal. Namun mereka tak pesimis dengan karya yang sudah berhasil dirampungkan ini.

“Musik instrumental belum cukup banyak penikmatnya di Aceh. Tapi dengan hadirnya musik instrumental Aceh Lon Sayang yang kami garap dengan perpaduan musik akustik dan orkestra ini, semoga bisa diterima masyarakat. Musik ini kan sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat,” tambah Auwi.

Untuk menggarap instrumental ini Reza dan Auwi menggunakan beberapa alat musik, diantaranya gitar, piano, dan orkestra. Penggabungan tiga alat musik ini untuk menambah nuansa berbeda dari instrumental Aceh lon Sayang.

“Kami coba mengkolaborasikan musik akustik dan musik orkestra. Inginnya agar instrumental ini terdengar lebih mewah,” tambah Reza.

Disamping itu Manajer Aurez, Dara Elvia RS mengatakan musik instrumental yang telah berhasil digarap ini tujuan awalnya adalah untuk mengasah kemampuan merek berkarya dan bertepatan juga dengan momen peringatan 10 tahun tsunami Aceh.

“Ini bentuk kecintaan Aurez kepada Aceh. Musik instrumental ini juga sempat diperdengarkan versi full kepada sejumlah tamu-tamu dari berbagai negara yang hadir pada hari peringatan 10 tahun tsunami di Banda Aceh,” katanya.

Sepaham dengan dua musisi yang dimanajerinya, Darapun mengakui untuk saat ini musik instrumental memang belum begitu familiar ditengah-tengah masyarakat Aceh. Namun ia tetap menamkankan rasa percaya diri kepada Aurez untuk merampungkan project ini. (ed/alf)

Piasan Pasee Hibur Penonton di TARASA

seudati

foto by: ILACrew

Para seniman yang berasal dari Pesisir Utara Aceh, menyuguhkan tarian nan memukau di panggung Taman Ratu Safiatuddin (TARASA) pada, Sabtu (16/11/2014) malam.

Acara yang bertajuk “Piasan Pasee” ini dimeriahkan oleh Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireun, dan Kota Lhokseumawe.

Kota Lhokseumawe, sebagai mana kabupaten ini terkenal dengan pencetak seniman-seniman yang memiliki banyak kreatifitas, tampil diawal acara dengan menyuguhkan teater rakyat yang berjudul “Teungku Tapa”. Tak mau ketinggalan, Kabupaten Bireun juga menarik perhatian penonton dengan tarian gerakan yang dinamis dan heroik yaitu tari Seudati. Disamping itu juga ada tarian Rampoe dan Rabbani Wehed yang disuguhkan ke penonton dari sanggar Meuligoe Jeumpa. Aceh Utara juga menyuguhkan penampilan kesenian Aceh yang tak kalah memukau, kabupaten penghasil gas bumi terbesar di Aceh ini menampilkan pertunjukan Sandiwara yang dulu sangat terkenal di kabupaten tersebut.

Lewat perhelatan kesenian yang rutin sebulan sekali diadakan ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, Reza Fahlevi berharap panggung TARASA menjadi tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat.

“Taman Ratu Safiatuddin ini tak boleh sepi dari kegiatan kesenian. Kita terus galakkan agar TARASA ini tetap hidup dengan penampilan-penampilan kesenian Aceh,” sebut Reza.

joni

foto by: ILACrew

Piasan Pasee di panggung TARASA ini juga menghadirkan beberapa artis Aceh. Salah satunya Eumpang Breuh, film komedi Aceh yang para pemainnya sudah cukup terkenal dikalangan masyarakat Aceh ini juga memberikan hiburan kepada penonton. Bang Joni, Mando Gapi, Bang Taleb, para pemain film Eumpang Breuh ini membuat penonton tertawa lewat aksi-aksi lucu mereka di atas panggung. Tak hanya Eumpang Breuh, Amoeba Band juga turut menghibur penonton dengan lantunan musik yang mereka mainkan. (alf)

Kenang #10thnTsunami, @Albert_Jester Keluarkan Single “Wahee Poma”

Albert  Jester (Ist)Albert  Jester (Ist)Bencana gempa dan musibah tsunami yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004 silam menjadi kisah yang tak terlupakan bagi salah satu rakan @iloveaceh yang juga seorang seniman asal Kota Juang, Bireuen.

Albert yang sering disapa Bang Min, kepada @iloveaceh, Sabtu (15/11/2014) mengatakan lagu yang dibuatnya berjudul “Wahee Poma (Wahai Ibu)” ini terinspirasinya dari kejadian tsunami yang menimpa salah satu keluarganya.

“Lagu ini mengisahkan tentang tragedi tsunami yang menimpa seorang ibu kebetulan ibu itu cecek (bibi, -red) saya sendiri. Mayat anaknya tidak tahu dimana jasadnya hingga sekarang,” jelasnya.

Kisah pilu dan duka kejadian tsunami yang telah berlalu satu dekade tersebut memang masih terus dikenang oleh masyarakat Aceh, termasuk Albert yang meluapkan ekspresi atas kenangannya itu lewat bait-bait yang dikemas dengan aliran rock-reggae.

Dalam lagu yang berbahasa Aceh ini, Albert memberikan pesan-pesan tersendiri lewat vokal yang khasnya itu bagi siapa saja agar mengikhlaskan apa yang telah berlalu, termasuk kehilangan orang-orang yang dicintai. Seperti yang terungkap dalam bait pembuka, “wahee poma bek lee neu pikee / hareuta jinoe nyang ka hana lee / puelom hareuta yang that tasayang / sidroe boh hatee jinoe ka hana lee”.

Penasaran bagaimana ungkapan hati Albert untuk seorang poma (ibu), berikut lagunya yang bisa didengarkan langsung serta diunduh juga dari Soundcloud. (ed)