Cut Nyak Meutia dan Gelar Pahlawan Nasional

CUT Nyak Meutia lahir di 15 Februari 1870 di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara.

Ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Foto juga diabadikan dalam pecahan uang kertas Rp 1.000 pada tahun 2016.

Gelar pahlawan dianugerahkan atas jasanya mengangkat senjata melawan Belanda pada tahun 1900-an. Atas jasanya pula, Cut Meutia yang gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng, pelosok Pirak Timu, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1910.

Lokasi makam Cut Meutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara, harus melewati sungai dan naik turun bukit.

Tidak banyak orang yang tahu keberadaan makam tersebut. Makam yang sudah dipugar sejak tahun 2012 lalu ini harus ditempuh dengan kesiapan fisik yang kuat dan sanggup berjalan kaki 4-5 jam menuju lokasi dari lewat Cot Girek atau Alue Bungkoh.

Dalam komplek makam tersebut, selain makam Cut Meutia juga terdapat makam Teuku Seupot Mata serta sebuah bale (balai) besar.

Lokasi makam

Tembok pagar yang dipugar sejak 2012 tertulis lokasi makam. Foto Andri Munzir

Perjuangan Cut Nyak Meutia¹

Tahun 1901 adalah awal pergerakan, dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku Chik Tunong.

Mereka memakai taktik gerilya dan spionase dengan menggunakan untuk prajurit memata-matai gerak-gerik pasukan lawan terutama rencana-rencana patroli dan pencegatan.

Taktik spionase dilakukan oleh penduduk kampung yang dengan keluguannya selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui.

Terdapat banyak perlawanan yang dilakuakn oleh Chik Tunong beserta cut meutia dari Bulan Juni 1902, Bulan Agustus November 1902 perlawanan yang sengit banyak merugikan pasukan belanda.

Selanjutnya tanggal 9 Januari 1903, Sultan bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda. Atas dasar itu, Cut Nyak Meutia bersama suami pun turun gunung pada tanggal 5 Oktober 1903. Atas persetujuan komandan datasemen Belanda di Lhokseumawe, HNA Swart, Teuku Tunong dan Cut Meutia dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.

Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad dan Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon pada tanggal 26 Januari 1905.

Peristiwa ini diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Belanda.

Di dalam penyelidikan Belanda, didapat bahwa Teuku Chik Tunong terlibat dalam pembunuhan itu. Maka dari itu, Teuku ditangkap dan dihukum gantung. Namun pada akhirnya berubah menjadi hukum tembak mati.

Pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai lhoksuemawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong. Sebelum dihukum mati, Teuku Tunong mewasiatkan agar Pang Nanggroe yang merupakan sahabat perjuangannya untuk menikahi Cut Nyak Meutia serta menjaga anak-anaknya.

Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Cut Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. Dan dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan memindahkan markas basis perjuangan ke Buket Bruek Ja.

Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Penyerangan Cut Meutia dan Pang Nanggroe dimulai dari hulu Kreueng Jambo Ayee, sebuah tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang sangat banyak tempat persembunyian. Pasukan muslimin melakukan penyerangan ke bivak-bivak Belanda dimana banyak pejuang muslim yang ditahan.

Pada tanggal 6 Mei 1907, pasukan Pang Nanggroe melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak yang mengawal para pekerja kereta api.

Dari hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka. Bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi.

Pada tanggal 15 Juni 1907, pasukan Pang Nanggroe menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan dan 8 orang luka-luka.

Taktik penyerangan Cut Meutia yang lain pula adalah jebakan yang dirancang dengan penyebaran kabar bahwa adanya acara kenduri di sebuah rumah dengan mengundang pasukan Belanda.

Rumah tersebut telah diberikan jebakan berupa makanan yang lezat, padahal pondasi rumah itu telah diakali dengan potongan bambu sehingga mudah diruntuhkan.

Pada saat pasukan Belanda berada di dalam rumah tersebut, rumah diruntuhkan dan pasukan Cut Meutia menyerang secara membabibuta.

Penyerangan pasukan Cut Meutia juga terjadi pada rel kereta api sebagai usaha untuk memutuskan jalur distribusi logistik dan jalur kereta apinya.

Di pertengahan tahun 1909 sampai Agustus 1910 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan telah mengetahui pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe dan Cut Nyak Meutia.

Beberapa penyerangan dilakukan, namun pasukan Cut Meutia yang selalu berpindah tempat membuat Belanda susah untuk menangkapnya. Beberapa penyerangan dilakukan di daerah Jambo aye, Peutoe, Bukit Hague, Paya Surien dan Matang Raya.

Namun pada tanggal 25 September 1910, saat terjadi penyerangan di daerah Paya Cicem, Pang Nanggroe terkena tembakan Belanda sehingga meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada anaknya Teuku Raja Sabi untuk mengambil rencong dan pengikat kepala ayahnya dan menjaga ibundanya Cut Nyak Meutia. Makam Pang Nanggroe terletak di samping Mesjid Lhoksukon.

Kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata.

Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat.

Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belantaraa yang sangat banyak.

Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.

Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga.

Cut Meutia dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.

¹Dikutip dari Biografi Cut Meutia, LPPKS Kemdikbud

Hari Ini dan Enam Tahun yang Lalu | #6thiloveaceh

Hari ini dan enam tahun yang lalu. Lahirnya I Love Aceh berawal dari melihat banyaknya jumlah pengguna Twitter yang semakin aktif di Aceh. Dengan berbagai macam latar belakang profesi serta frekuensi umur yang berbeda-beda, mulai dari pelajar, anak-anak muda sampai orang-orang tua.

Tepatnya tanggal 23 Februari 2010 (8 Rabiul Awwal 1431 H), I Love Aceh terbentuk dengan konsep yang sangat sederhana, mengawali update status tentang #Aceh, menyapa orang-orang Aceh lewat tweets dan pada akhirnya akun @iloveaceh digunakan sebagai akun publik, yakni bagian dari penyebaran informasi dari followers dan untuk followers atau lebih dikenal dengan #ATwitLovers (Aceh Twit Lovers).

Transformasi dari I Love Aceh terus berlanjut dan terus memantapkan satu visi, yakni menjadikan komunitas @iloveaceh sebagai bagian dari wadah informasi di Aceh pada khususnya dan masyarakat luar pada umumnya.23 Februari 2010 – 23 Februari 2016. #6thiloveaceh

***

Segenap keluarga besar ILATeam Management dan Pengelola Komunitas @iloveaceh mengucapkan banyak terima kasih atas peran rakan-rakan #ATwitLovers yang dari awal hingga saat ini masih terus memberikan sumbangsih dalam berbagi kebaikan, mengingat di saat kealpaan dan setia dalam setiap semangat perubahan.

From social media to social movement, semangat sejati yang hadir terus mewarnai dari Aceh ‘ban sigom donya’ untuk semua. (ed)

// Krue seumangat…
Sabah beuluah keu rakan ngon syedara
Seubab digata, geutanyoe lahee u donya
Awai dile keugura-gura, teuma jinoe ka meupat cara
ILA kana bak susial media, mari tajaga sama-sama. //

Hari ini dan enam tahun yang lalu_akustik

Dari Musibah Hingga Hari Kepedulian

Pagi itu hujan belum juga reda. Rintik-rintiknya masih berjatuhan membasahi bumi. Sembari menunggu, saya telah menghabiskan sepiring nasi dan segelas teh hangat. Jarum jam terus saja berputar, namun tanda-tanda hujan akan reda belum tampak.

Namun di halaman depan masjid kebanggan orang Aceh, Masjid Raya Baiturrahman ratusan anak-anak muda yang sudah lengkap dengan atributnya masing-masing telah berkumpul. Informasi itu saya dapat dari grup WhatsApp komunitas yang saya geluti. Mereka telah bersiap-siap untuk ikut membuat sebuah sejarah baru bagi Aceh.

Sejak malam, Sabtu (20/12/2014) kota Banda Aceh memang terus menerus diguyur hujan, bahkan diseluruh penjuru Aceh hujan tanpa henti-hentinya berjatuhan. Tak ayal hal itu menyebabkan puluhan daerah di Aceh terserang banjir. Hingga pagi pun datang, hujan masih enggan untuk berhenti.

Tepat pukul setengah delapan pagi, saya membulatkan niat menerobos hujan yang belum ada tanda-tandanya untuk pergi dari langit kota ini. Dengan mengendarai sepeda motor, saya menelusuri jalanan yang terlihat kosong. Tidak seperti biasanya, dipagi Minggu begini, biasanya jalanan kota ramai diisi oleh masyarakat yang berolahraga sepeda, lari, atau sekedar berjalan kaki sambil menghirup udara pagi yang segar. Namun kali ini pemandangan itu tidak tampak, jalanan sepi. Ini sudah tentu penyebabnya hujan, gumam saya dalam hati.

Saya terus mengendarai motor, menerobos hujan yang makin saja deras. Pakaian yang saya kenakan kian basah, juga sepatu. Akhirnya saya memutuskan berhenti disebuah halte, tidak beberapa jauh dari pusat kantor Pemerintah Aceh.

Dihalte tersebut, Beberapa orang pengguna jalan juga sedang berteduh untuk menghindari hujan yang makin deras. pagi itu, harapan saya untuk bisa cepat bergabung dengan anak-anak muda yang hendak membuat sejarah baru bagi Aceh, terhenti sebab hujan.

“Tapi tak mengapa, hujan itu rahmat yang diturunkan oleh sang pencipta bagi daerah Serambi Mekkah ini,” cetus saya dalam hati coba menghibur diri.

Beberapa menit kemudian, hujan sedikit mulai mereda. Saya tak pikir panjang lagi. Saya hidupkan motor lalu tancap gas menuju Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi saksi bisu atas musibah yang melanda daerah ini pasca-satu dekade silam. Niat saya sudah amat kuat untu menerobos hujan, tak peduli pakaian basah. Dari pada menunggu hujan benar-benar reda, bisa saja itu bakalan lama, sudah pasti nanti saya akan tertinggal dari sejarah yang akan tercipta. Saya teruskan saja menarik gas motor hingga akhirnya sampai juga di halaman depan masjid kebanggaan rakyat Aceh tersebut. Tentu dalam keadaan pakaian basah.

Disana tampak seratusan lebih anak-anak muda telah berhadir lengkap dengan atribut masing-masing. Ada teman-teman dari pelbagai komunitas fansclub di Aceh, komunitas fotografi, Palang Merah Remaja, Seniman dan Musisi Aceh, Tarung Derajat, RAPI Aceh, Duta Wisata, Duta Mahasiswa, Radio di Aceh, Media Lokal di Aceh, Relawan Air Putih, Komunitas Comics, dan juga teman-teman yang datang secara personal. Mereka berkumpul demi satu tujuan, satu semangat, satu harapan agar tepat ditanggal 26 Desember, dunia mengakui dan menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Kepedulian Dunia atau Care Day.

IMG_5299

Demi tujuan itulah yang membuat kami dari lintas komunitas di Aceh berkumpul untuk melakukan sebuah aksi longmarch dari halaman Masjid Raya Biturrahman melintasi jalan protokol dan berakhir di monumen Aceh Thanks To The World, Blang Padang.

Hujan masih enggan untuk benar-benar rehat. Beberapa ruas jalan protokol tampak digenangi oleh air. Burung-burung yang bersarang di menara Masjid Raya beterbangan dilangit, bersahut-sahutan seakan bahagia menikmati hujan yang tak kunjung reda.

Saya memakirkan motor tepat dihalaman masjid. Kemudian dengan sedikit berlari-lari kecil, saya mengejar barisan teman-teman lintas komunitas yang sudah lebih dulu berjalan melakukan longmarch. Untungnya, barisan tersebut belum cukup jauh berjalan.

IMG_5296

Dalam rintik hujan pagi itu, terlihat semangat yang besar dari teman-teman lintas komunitas untuk melakukan pawai mengelilingi kota. Tak ada satu pun yang menghiraukan hujan, kami rela berbasah-basahan, berjalan kaki beberapa kilometer demi satu tujuan menjadikan tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia. Itu saja.

Satu Dekade yang Lalu

Musibah gempa dan tsunami yang melanda daerah kami 10 tahun silam telah membuka mata dunia terhadap Aceh. Gempa yang merobohkan istana-istana gubuk yang kami tinggali, gelombang air laut dengan ketinggian mencapai 35 meter yang menggulung sanak keluarga kami, telah membuat dunia benar-benar berduka atas musibah tersebut. Triliunan rupiah bantuan dari masyarakat dunia coba membantu Aceh, ratusan ribu relawan berdatangan untuk membasuh luka rakyat Aceh, namun itu semua tentu tidak serta merta bisa menghapus luka yang teramat dalam disanubari kami. Luka yang terpatri hingga hari ini. Luka yang sangat kami nikmati.

Sebagaimana orang yang kehilangan seseorang yang ia cintai, seseorang yang ia sayangi, walaupun beragam rupa coba digantikan, tetap tak akan sama. Tak akan bisa hati berdamai dengan sesuatu yang bukan aslinya. Kenangan dengan sanak saudara yang kami cintai, tak akan bisa tergantikan dengan kemegahan Aceh hari ini. Gedung-gedung yang baru, jalan-jalan yang mulus, rumah yang baru, jembatan yang kokoh, sekolah yang megah, semua itu tak bisa menghilangkan ingatan kami kepada sanak saudara yang telah pergi. Hilang tak tahu dimana pusaranya, tenggelam dalam pekatnya gelombang pada Minggu 26 Desember 2004 silam.

Pun sebagaimana kata pepatah “sedalam apapun coba kau tenggelamkan kenangan, ia pasti akan timbul kepermukaan jua”. demikian jugalah yang kami rasakan. Walaupun Aceh hari ini tidak seperti 10 tahun yang lalu, saat orang-orang yang kami cintai masih ada, kenangan bersama mereka 10 tahun yang lalu itu tidaklah pernah akan surut.

IMG_5321

Puing-puing kenangan dengan orang-orang yang terkasih, masih tertanam rapi dihati rakyat Aceh. Tak terkecuali saya, pada Minggu pagi yang cerah itu gempa dan gelombang tsunami telah membuat abang sepupu yang sangat saya sayangi, hilang tersapu oleh gelombang maha dasyat itu. tak hanya beliau, ratusan saudara saya hilang bagai ditelan bumi. Ingatan tentang mereka sampai hari ini masih membekas dalam hati ini. Tak akan terhapus sampai kapanpun.

Cetuskan Hari Kepedulian

Berangkat dari niat tak ingin melupakan kenangan itulah, lintas komunitas di Aceh coba memprakarsai lahirnya hari Kepedulian Dunia. Kami tak ingin generasi Aceh, 40 atau 50 tahun nantinya akan lupa dengan musibah yang pernah merenggut ratusan ribu nyawa, yang membuat ratusan ribu anak-anak menjadi yatim piatu, yang membuat ayah kehilangan anaknya, anak kehilangan ibu bapaknya, saudara kehilangan saudaranya, para korban tsunami yang hingga hari ini menderita sakit jiwa, negara-negara yang datang mengulurkan tangannya untuk membantu Aceh, para relawan dari seluruh penjuru dunia yang datang membantu tanpa melihat apa dan siapa, hilang begitu saja diingatan anak cucu kami nantinya.

Kami sungguh tak ingin semua itu terjadi. Sepahit apapun kenangan, ia tetaplah kenangan. Karena sebelum kenangan yang pahit itu datang, ada kenangan manis yang terlebih dahulu pernah singgah.

Berjalan kaki beberapa kilometer tanpa memperdulikan hujan yang terus saja membasahi bumi, kami akhirnya sampai di museum tsunami. Disana, para teman-teman lintas komunitas berhenti sejenak di gedung yang menyimpan ribuan memori tentang tsunami. Salah satu gedung termegah di Aceh tersebut, kami membubuhkan tanda tangan disebuah spanduk sebagai bentuk dukungan ditetapkannya tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia. Rencananya, spanduk tanda tangan sebagai bentuk dukungan itu nantinya akan dipajang pada saat upacara peringatan mengenang 10 tahun tsunami yang dihadiri oleh banyak tamu-tamu penting.

IMG_5412

Aksi ini memang sangat sederhana. Tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan aksi dari belahan bumi lainya yang meminta hal serupa. Namun, niat yang benar-benar tulus dan harapan yang benar-benar besar agar generasi Aceh yang akan datang, maupun anak-anak Indonesia umumnya dan bahkan anak-anak dari negara lain keseluruhannya, tidaklah lupa bahwa dulu pada tanggal 26 Desember pernah terjadi musibah dimuka bumi ini. Musibah ie beuna (sebutan orang Aceh terhadap tsunami) yang pernah meluluh lantakkan Aceh dan negara-negara lainnya di Asia.

Dukungan penetapan tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia pun mengalir deras. Bak air tsunami yang datangnya amat kencang, seperti itulah teman-teman dari daerah lain di seluruh Indonesia mengucurkan dukungan mereka terhadap wacana ini. Mereka mengirimkan ucapan dukungan dan semangat kepada rakyat Aceh lewat berbagai akun sosial media. Bahkan, tanpa pernah mengira sebelumnya, anak-anak muda dari berbagai lintas negara pun juga melakukan hal serupa.

Lewat tagar #2612CareDay, mereka mengirim beberapa ucapan untuk mendukung sekaligus mengucapkan kata-kata penyemangat bagi rakyat Aceh melalui media sosial. Sungguh, saya orang yang paling sulit untuk menangis, namun atas apa yang dilakukan oleh teman-teman diseluruh daerah di Indonesia dan teman-teman lintas negara tersebut, mampu membuat saya meneteskan air mata terharu. Terima kasih banyak teman-teman.

IMG-20141218-WA007

Hari ini boleh saja orang lain melihat Aceh dan mengatakan Aceh telah benar-benar pulih dari musibah yang amat kelam tersebut. Hal demikian tentu didasari atas penglihatan geliat pembangunan dan ekonomi rakyat Aceh yang kian tumbuh. Itu memang benar. Tapi, dalam hati kami rakyat Aceh masih membekas kesedihan yang teramat dalam. Kesedihan yang sengaja kami simpan untuk mengenang sanak keluarga kami yang telah pergi lebih dahulu. Kesedihan yang tak akan pernah padam, dari hari kehari coba terus kami nikmati. Kesedihan yang kami rawat sebagai kenangan agar dimasa yang akan datang menjadi cerita yang tak akan lagi menimbulkan kepahitan. Agar generasi yang terus datang bersiap siaga dari pengalaman generasi yang pernah merasakan dahsyatnya musibah itu.

Dalam aksi tersebut tak luput pula teman-teman lintas komunitas mengucapkan miliaran terima kasih kepada negara-negara dan relawan yang telah membasuh luka derita rakyat Aceh. Puluhan bendera dari negara yang pernah mengulurkan bantuannya terhadap Aceh, ikut dikibarkan oleh teman-teman lintas komunitas tepat di monumen “Aceh Thanks To The World”.

IMG_5482

 

 

Penulis adalah Alfath Asmunda (@alfaaaath). Tulisan ini pernah dimuat di blog penaalfath.wordpress.com

9 Insan Peduli Sejarah dan Budaya Aceh, Sabet Penghargaan #BandaAcehHeritageAwards

BmJ-_ItCAAA01PN.jpg largeDalam rangka memperingati HUT kota Banda Aceh ke-809 tahun 2014, wali kota Banda Aceh dan Kadisbudpar Provinsi Aceh memberikan penghargaan kepada insan-insan tokoh masyarakat dan komunitas yang telah merawat serta ikut turun tangan peduli pada sejarah Aceh, terutama sejarah Banda Aceh yang dulunya disebut Kutaradja.

Malam penganugrahan #BandaAcehHeritageAwards yang diselenggarakan di Amel Convention Hall, Sabtu (27/4/2014) berlangsung meriah.

Ada sembilan kategori yang mendapatkan penghargaan #BandaAcehHeritageAwards ini, diantaranya :

  1. Kategori pelestari sejarah dan budaya Aceh diberikan kepada, Perpusatakaan & Museum Yayasan Pendidikan Prof. Ali Hasjmy
  2. Kategori Arsiparis sejarah Aceh diberikan kepada, Teuku Ali Basyah Tatsya
  3. Kategori penyelamat warisan dan budaya Aceh diberikan kepada, H. Harun Keuchik Leumik
  4. Kategori penulis dan peneliti sejarah Aceh diberikan kepada, Rusdi Sufi
  5. Kategori pelestari manuskrip kuno Aceh diberikan kepada, Tarmizi Abdul Hamid
  6. Kategori pengkaji tulisan kuno diberikan kepada, Taqiyuddin Muhammad
  7. Kategori penggiat muda dan pelestari sejarah Aceh diberikan kepada, Reza Fahlevi (Kadisbudpar Prov Aceh)
  8. Kategori komunitas peduli sejarah Aceh diberikan kepada, MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah)
  9. Kategori pelestari sejarah Gampong Pande diberikan kepada, Adian Yahya SE. Ak

Sementara itu diacara penghargaan kepada insan-insan yang peduli pada sejarah Aceh ini, turut pula diberikan penghargaan special #BandaAcehHeritageAwards kepada Ir. Mawardy, M. Eng, Sc wali kota Banda Aceh yang belum saja habis masa jabatannya telah terlebih dahulu meninggalkan warga serta kota yang telah susah payah ia bangun, untuk berpulang kepangkuan Allah SWT. Disamping itu penghargaan special #BandaAcehHeritageAwards juga dibawa pulang oleh Plh walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE.

Dalam kata-kata sambutannya Plh wali kota Banda Aceh mengajak seluruh elemen masyarakat ikut melestarikan sejarah serta budaya Aceh yang sarat akan ajaran Islamnya.

“Ketika kita menghargai sejarah, inilah indikator sebuah kemajuan peradaban bangsa,” ucap Illiza Sa’aduddin Djamal dalam sambutan pidatonya di acara #BandaAcehHeritageAwards yang baru pertama sekali digelar ini. (alf)

Cut Nyak Dien, Menit-Menit Mutiara dalam Sejarah Indonesia

Ilustrasi Cut Nyak Dien melakukan perlawan dengan rencongHari ini, tepat 105 tahun wafatnya pahlawan wanita asal Aceh Tjut Nyak Dhien (Cut Nyak Dien). Wanita kelahiran Lampadang Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1848 adalah salah satu keturunan bangsawan (Uleebalang wilayah VI Mukim Aceh Besar) dari Ayahnya yang bernama Teuku Nanta Seutia bin Datuk Makhudum Sati perantau dari Minangkabau.

Dalam sebuah kronologi sejarah tercatat bahwa Cut Nyak Dien tutup usia pada saat berumur sekitar 60 tahun atau bertepatan dengan tanggal 6 November 1908. Beliau dimakamkan secara hormat di komplek pemakaman bangsawan pangeran Sumedang, Jawa Barat pada sebuah bukit kecil bernama Gunung Puyuh yang tidak begitu jauh dari ibukota Kabupaten Sumedang.

Tidak hanya itu, beberapa fakta sejarah juga menyebutkan bahwa sebelum Cut Nyak Dhien diungsikan dari kaki gunung Meulaboh (Beutong Ateuh – Nagan Raya), kemudian Banda Aceh, dan Sumedang, beliau juga sempat ditempatkan di Bogor tahun 1900-an. Disitu pula beliau, sempat mengajar warga mengaji di salah satu wilayah di Jalan Ardio. Tepatnya di Gang 3, rumah ke tiga sebelah kanan jika masuk menelusuri jalan gang tersebut.

Berikut ini adalah sebuah tulisan penuh renungan dari Kafil Yamin, seorang penulis sekaligus pegiat lingkungan dan konservasi alam yang dapat ditelusuri diblog-pedepokan-nya yang beralamat kafilyamin.wordpress.com. Judul asli dari tulisan ini adalah “Menit-menit mutiara dalam sejarah Indonesia” dan selamat membaca.

Ada saat-saat singkat yang sangat bermakna dalam sejarah Indonesia. Mungkin hanya beberapa menit. Saya akan menuliskannya satu persatu. Di mulai dengan kisah di bawah ini:

Nenek renta itu terpojok sudah. Di kedalaman hutan Meulaboh, Aceh, yang berundak dengan semak dan akar-akar melintang. Hujan cukup deras. Kepungan tentara Belanda dari semua arah semakin mendekat. Bersamanya, hanya 5-6 pejuang tersisa, termasuk anaknya, Cut Gambang. Hari itu tanggal 7 November 1905.

Sejak 5 tahun terakhir, hidup berpindah dari satu pojok hutan ke pojok yang lain, pandangan matanya kian rabun. Dan encok makin hari makin menghambat geraknya. Makanan semakin kurang, obat tidak ada. Tapi ia harus terus bergerak dalam perlawanan gerilya terhadap ‘kaum penjarah yang tak tahu malu’ – Belanda.

Salah seorang sandaran kekuatan utamanya, Teuku Umar, belum lama ini syahid kena pelor Belanda. Ketika tentara-tentaranya membawa jasad suaminya itu ke hadapannya, Cut Nyak Dhien, si perempuan tua itu, menatap jasad tak bernyawa itu dengan nanar. Cut Gambang, putri semata wayang, tak kuasa menahan sedih dan pedih, ia merangkul jasad sang ayahanda dengan isak tangis pilu.

Mata nanar perempuan tua itu tiba-tiba berubah tajam. Ia menarik Cut Gambang yang tengah dirundung sedih itu dan menamparnya – plak!: “Dengar!” Bentaknya, “Sebagai perempuan Aceh, jangan meneteskan air mata atas orang yang syahid!” Namun setelah itu Cut Nya segera merangkul sang putri.

Para pasukan hanya berdiri menatap pertunjukkan ketegaran baja wanita ini.

Dan kini, jumlah pasukannya tinggal beberapa. Sebagian syahid, sebagian tak tahan menanggung kesukaran hidup bergerilya sedemikian lama. Tapi tekad dan semangat Cut Nya tak seujung rambut pun terkurangi dengan berkurangnya pasukan. Bahkan rabun dan encoknya tak juga menyurutkan semangatnya yang entah terbuat dari apa.

Hujan tetap deras dan langkah tentara-tentara Belanda makin terdengar mendekat. Mungkin sudah dalam jarak puluhan meter. Dan langkah-langkah itu terdengar dari semua arah, menuju tempatnya, di bawah rimbunan semak hutan Beutong Le Sageu (Lhee Sagoe).

Sejurus kemudian, bahana teriakan perang terdengar dari jarak itu. Teriakan perang 5-6 tentaranya yang masih tersisa. Lalu bunyi rentetan senapan dan jerit kematian memenuhi udara. Satu suara jeritan ia kenali benar: itulah jeritan Pang Karim, salah seorang panglimanya yang telah bersumpah untuk melindungi dirinya sampai mati. Ia memenuhi sumpahnya – mati sebagai pejuang terakhir dan satu-satunya yang bertempur di samping dirinya.

Tjut Gambang, sang putri, berhasil lolos dari kepungan.

Setelah teriakan kematian Pang Karim, tentara Belanda kini berjajar di hadapan, di samping, dan di belakangnya. Ia pun melihat orang yang dikenalnya di antara kafir-kafir Belanda itu, yakni Pang Laot Ali – panglima utamanya sendiri. Bara di dadanya menyala: panglima kepercayaannya kini berpihak kepada musuh — dalam keadaan seperti ini; ketika ia tinggal sendiri, terpojok, terkepung.

Kapten Belanda Veltman dan para serdadunya berdiri di hadapan Tjut Nya, yang tengah duduk sambil berdzikir. Agak lama mereka berdiri terpana, tanpa suara, hanya memandang pejuang wanita itu. Mungkin mencoba mengerti bagaimana perempuan udzur ini bisa menggelorakan perlawanan gigih selama 25 tahun? Perlawanan yang menelan banyak korban, termasuk para perwira Belanda? Perlawanan yang menimbulkan kekisruhan besar di kalangan mereka?Tanpa persenjatan yang layak? Dengan kekurangan makanan? Tanpa tempat berteduh yang memadai? Dari dalam hutan?

Veltman dan dua ajudannya mendekat, berjongkok dengan khidmat, menyapa Tjut Nya dengan santun: “Tjut Nya, maafkan saya. Saya kapten Veltman. Saya melaksanakan tugas sebagai serdadu. Saya ditugaskan untuk membawamu..”

Beberapa serdadu Belanda menyiapkan tandu untuk membawa nenek yang tampak sudah begitu lemah itu. Valtmen terus membujuk, sementara Tjut Nya tak henti-hentinya menggumamkan dzikir. Veltman merasa bujukannya tak didengar, ia lantas memberi isyarat kepada Pang Laot Ali untuk membantu. Pang Laot Ali menghampiri, ikut membujuk: “Tjut Nya, ini demi kesehatanmu. Aku lakukan ini demi kesehatanmu. Mereka berjanji akan merawatmu dengan baik. Jangan salah mengerti…”

Belum selesai kalimat Pang Laot Ali, Tjut Nya menarik rencong dari balik kainnya dan menebaskan ke tubuh Pang Laot. “Pengkhianat!” teriak Tjut Nya. Keributan terjadi. Para serdadu Belanda segera melerai. Pang Laot Ali terluka. Tjut Nya masih mencoba menyabetkan rencongnya ke arah Valtmen dan serdadu-serdadu di sekitarnya, namun badannya terlalu lemah. Para serdadu berhasil meredam amukannya.

“Pang Laot! Kau aib buat kami!” teriak Tjut Nya lagi. “Ya Allah ya Tuhan. Inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir.”

Cucu angkatnya selama di hutan mendekat dan memeluk Tjut Nya. Tjut Nya memeluknya pula erat, berkata di telinga anak lelaki itu: “Jangan pernah engkau khianati negeri ini, Nak…”

Setelah beberapa saat, Tjut Nya lalu ditandu oleh para serdadu Belanda, menuju Banda Aceh.

***

Tjut Nya’ Dhien adalah seorang putri bangsawan Aceh. Selain kaya, ia dan keluarganya juga berkuasa. Dia hidup berkecukupan. Kehadiran Belanda di tanah Aceh pun tidak mengganggu kehormatan dan kekuasaannya.

Tapi dia melihat masyarakatnya menderita oleh penindasan pemerintahan Belanda. Dan ia memilih meninggalkan harta dan kekuasaan pribadinya untuk membela rakyatnya. Akibatnya, Belanda pun menganggapnya musuh. Tjut Nya memang menempatkan dirinya setegas-tegasnya sebagai musuh Belanda. Apa boleh buat, suami pertamanya, Ibrahim Lamnga, tewas di tangan Belanda.

Lalu ia membawa pasukannya hijrah ke hutan untuk perang gerilya melawan Belanda. Dengan dukungan rakyat, pasukannya cukup besar, akomodasi tak kurang. Tambah kuat setelah Teuku Umar bersanding dengannya sebagai suami.

Tapi Teuku Umar pun syahid. Setelah itu ia memimpin sendiri peperangan. Dengan pasang surut, sampai kepada menit-menit yang tergambarkan di atas – selama lebih dari 25 tahun.

***

Menyimak kisah dia, sungguh saya merasa kerdil. Dalam logika alam pikiran sekarang, dalam ‘akal sehat’ zaman ini, sikap Tjut Nya itu terdengar sangat-sangat utopis. Mungkin orang akan mengatakannya bodoh. “Makan tuh martabat. Kalau tak ada harta, emang bisa beli beras, rumah, mobil, pake martabat?” Mungkin begitu ungkapan orang zaman sekarang tentang heroisme, keteguhan pendirian, harga diri, kedaulatan diri, martabat.

Namun, sungguh, sesinis-sinisnya orang; serasional-rasionalnya orang sekarang, tak bisa saya membayangkan, ya, sekedar membayangkan hidup tanpa pendirian tertentu, keyakinan tertentu, tanpa kesetiaan kepada sesuatu, yang saya pegang erat sepenuh hati.

Tjutnya, dan pribadi-pribadi agung lain, tak merasa hidup kalau sekedar untuk kenyang dan senang. Ada hal-hal yang diagungkan dan disetia-i dalam hidup. Dan yang diagungkan dan disetiai itu pastilah yang melebihi dirinya. Dengan nilai itulah hidup manusia menjadi bermakna.

Kesetiaan kepada keyakinan. Kesetiaan kepada kebenaran. Kesetiaan kepada sesama. Kesetiaan kepada tanah air. Terlalu usangkah kata-kata ini? Apa yang engkau rasakan bila engkau mengorbankan segala sesuatu, termasuk nyawamu, sebagai wujud kesetiaanmu kepada sesuatu yang engkau yakini benar? Bukankah engkau merasakan makna hidup? Kepuasan jiwa? Dan setelah ini engkau rasakan, bukankah uang, mobil, rumah, menjadi tampak sepele? Sesepele-sepelenya?

Mungkin, bila orang zaman sekarang menyaksikan peristiwa di atas, akan berujar: “Kasihan ya. Hidup sakit-sakitan. Di buang. Dikhianati orang-orang sendiri. Buat apa sih nyengsara diri?”

Saya tak hendak menanggapi ungkapan seperti ini. Saya hanya menunjukkan fakta saja: Nama Tjut Nya tertulis dengan tinta emas dalam buku sejarah. Bahkan sejarah dunia. Namanya terus menerus mengilhami banyak manusia dalam keteguhan dan hasrat akan kehormatan diri, kedaulatan negeri; lukisan wajahnya seakan tak terhindarkan mata; ia ada di dinding ruang kelas sekolah, di galeri seni, di musium, di buku-buku, di lembar uang.

Apakah tidak terwariskan padamu, sedikit saja, ya, setetes kecil saja, kesetiaan kepada tanah air? Kepada bangsa? Kesetiaan kepada kehormatan diri? Tak usah dengan mengorban seluruh hidup dan harta seperti dia, cukup dengan kerja sungguh-sungguh untuk kebaikan dan kemaslahatan sesama; menjaga dengan sungguh-sungguh anugrah Tuhan yang maha pengasih berupa kekayaan alam yang berlimpah ini. Cukup dengan tidak mengkhianati sesamamu. Bangsamu.

Antara Tjut Nya dan kita tidak dipisahkan oleh jenis spesies atau planet. Dia dan kita masih berada dalam satu spesies yang disebut manusia, masih dalam udara yang sama, makanan dan minuman yang sama, bahkan satu rumpun. Jadi, sikap, pendirian dan alam pikiran Tjut Nya bisa kita miliki juga. Atau kita menganggapnya tak mungkin, tak masuk akal, karena akal kita memang sudah begitu kerdilnya?

Cut Nyak Dien (Foto Kredit COLLECTIE TROPENMUSEUM)

Perpustakaan Kuno Tanoh Abee

Dayah Tanoh AbeePerpustakaan Tanoh Abee yang terdapat di Desa Tanoh Abee, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. Menurut hasil penelitian Arkeologi Islam Indonesia, perpustakaan tersebut merupakan satu-satunya perpustakaan Islam tertua di Nusantara, bahkan termasuk perpustakaan Islam yang paling tua di Asia Tenggara.

Keberadaan perpustakaan Tanoh Abee ini tak terlepas dari sejarah pendirian sebuah pesantren (dayah) yang dibangun oleh ulama asal negeri Baghdad, bernama Fairus Al-Baghdady yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).

Fairus hijrah ke Aceh waktu itu bersama 7 saudaranya. Empat orang, termasuk Fairus menetap di wilayah Aceh Besar. Tiga saudara lainnya menyebar ke Pidie dan Aceh Utara.

Diperkirakan Fairus Al-Baghdady inilah sebagai ulama yang mula-mula membangun pesantren (dayah) tersebut, yang kemudian dikenal dengan pesantren Tanoh Aceh sebagai cikal-bakal dari perpustakaan kuno Tanoh Abee sekarang ini.

Karena di dalam pesantren tersebut tersimpan ribuan kitab tulisan tangan karya para ulama Aceh terdahulu.

Pewaris

Perpustakaan yang terletak di kaki gunung Seulawah yang berjarak sekitar 42 km ke arah Timur Kota Banda Aceh, atau sekitar 7 km ke pedalaman sebelah Utara ibukota Kecamatan Seulimum ini, dikelola secara turun temurun sejak 600 tahun lalu.

Mulai dari pendirinya Syeh Fairus Al-Baghdady pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, diteruskan oleh seorang anaknya bernama Syeh Nayan. Kemudian Syeh Nayan ini mewariskan kembali perpustakaan tersebut sekaligus pesantrennya bernama Syeh Abdul Hafidh.

Selanjutnya beralih ke tangan Syeh Abdurrahim, yang menurut catatan sejarah, Syeh Abdurrahim termasuk pewaris pesantren Tanoh Abee yang sangat banyak mengumpulkan naskah-naskah kuno untuk menjadi koleksi perpustakaan.

Dari Syeh Abdurrahim perpustakaan dan pesantren ini diwarisi oleh Syeh Muhammad Saleh. Diteruskan oleh anaknya Syeh Abdul Wahab. Kemudian Syeh Muhammad Sa’id.

Dari Muhammad Sa’id pesantren ini diurus oleh Teungku Muhammad Ali, hingga kemudian jatuh kepada pewaris terakhir sekarang ini, yaitu Al-Fairusy, sebagai pewaris urutan ke-9.

Disalin

Dari pewaris terakhir inilah penulis memperoleh sejumlah keterangan tentang sejarah dan keberadaan perpustakaan kuno Tanoh Abee.

Dari 9 orang keturunan yang mewariskan perpustakaan ini, yang menonjol kemajuannya adalah pada masa kepemimpinan Syeh Abdul Wahab (pewaris ke-6).

Syeh Abdul Wahab inilah yang kemudian dikenal sebagai ulama besar yang berpengaruh di Aceh dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee.

Ketika pesantren Tanoh Abee berada di bawah kepemimpinannya, hampir seluruh perhatian Syeh Abdul Wahab dicurahkan untuk memajukan perpustakaan. Ia sangat berminat agar perpustakaan pesantren Tanoh Abee menjadi sebuah perpustakaan Islam terbesar di Nusantara, dan bahkan dapat menjadi perpustakaan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Untuk mengujudkan cita-cita itu, Syeh Abdul Wahab menyalin ribuan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawi dari berbagai ilmu pengetahuan untuk menjadi perbendaharaan perpustakaan Tanoh Abee.

Hal yang menyedihkan ketika ulama Nuruddin Ar-Raniry memusnahkan kitab-kitab karya ulama Sufi terbesar di Aceh, yaitu Syeh Hamzah Fansuri, karena ajarannya dianggap “sesat” oleh Nuruddin Ar-Raniry.

Orang memperkirakan dengan kejadian itu semua kitab Hamzah Fansuri telah habis dibakar saat itu. Ternyata sebahagian besar kitab-kitab dari karya Hamzah Fansuri yang ditulis tangan masih sempat diselamatkan di perpustakaan Tanoh Abee hingga sekarang ini.

Sejumlah naskah kuno, kitab hasil karangan para ulama Aceh terdahulu, hingga akhir abad ke-18 diperkirakan sekitar 10.000 buah naskah (tulis tangan) tersimpan di perpustakaan ini. Namun dalam perjalanan waktu naskah-naskah tersebut banyak yang lapuk dan rusak akibat tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya.

Selain itu, naskah-naskah tersebut juga banyak yang dimusnahkan dan dicuri oleh Belanda ketika mereka masuk ke Tanoh Abee waktu itu.

Kini menurut cerita Tgk. M. Dahlan Al Fairusy selaku pimpinan pesantren sekaligus pengelola perpustakaan kuno Tanoh Abee ini, jumlah kitab yang masih tersisa di perpustakaan ini sekitar 3.000 naskah lagi. Sebagian disimpan di pesantren dan sebagian lagi tersimpan di rumah Tgk. Dahlan agar tidak sampai hilang.***

Catatan dari Tgk H Harun Keuchik Leumiek, pernah dimuat pada Harian Analisa, 22 Juli (Julai) 2002.