April, Pendaftaran Duta Wisata Banda Aceh Dimulai

Agam Inong Banda Aceh 2013Perkembangan pariwisata di Kota Banda Aceh sekarang ini menunjukkan adanya kemajuan yang sangat signifikan, yang ditandai dengan adanya lokasi-lokasi wisata unggulan seperti Museum Tsunami, Kapal Apung, PLTD Apung, Pelabuhan Ulee Lheue, dan lain-lain.

Upaya perkembangan pada sektor pariwisata di Kota Banda Aceh ini tentu dibantu oleh tingkat kepedulian masyarakat setempat untuk ikut serta dalam menjaga kelestarian yang dilakukan secara intensif, terarah, dan menarik.

Agam Inong adalah sebutan untuk Duta Wisata Kota Banda Aceh yang mana Agam Inong ini merupkan sebutan dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Aceh kepada seseorang, agam yang berarti lelaki sedangkan inong yang berarti perempuan.

Nantinya, Agam Inong tersebut bertugas sebagai Duta Wisata Kota Banda Aceh yang diharapkan bisa mempromosikan serta memperkenal beragam obyek pariwisata yang ada di Kota Banda Aceh baik pada tingkat lokal, nasional, bahkan internasional.

Untuk itulah, April ini pendaftaran Duta Wisata Kota Banda Aceh tahun 2013 akan segera dihelat dan terbuka kesempatan bagi generasi muda untuk ikut serta berpartisipasi dalam melestarikan dan meningkatkan sektor pariwisata untuk kemajuan Kota Banda Aceh. Diharapkan juga dengan kegiatan ini, bisa meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian budaya dan alam sebagai sarana obyek wisata.

Sementara itu untuk malam puncak akan berlangsung 23-27 April 2013 di Balai Kota Banda Aceh. Sedangkan proses pendaftaran bisa langsung ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh yang akan dimulai dari tanggal 1-22 April 2013 pada jam kerja 08.00 WIB s/d 15.00 WIB. Ayo, tunggu apalagi untuk raih kesempatan dan jadilah bagian dari Agam Inong Banda Aceh 2013.***

Sekilas Kisah Jejak Kuliner Nusantara di Aceh

kari-kambingOleh Budi Suwarna dan Aryo Wisanggeni G*

Di balik sepiring hidangan terekam serangkaian jejak kisah, mulai dari perdagangan, migrasi manusia, penaklukan, hingga peperangan. Jelajah Kuliner Nusantara 2013 mencoba merangkai penggalan-penggalan kisah di Nusantara lewat kekayaan kulinernya.

Dua puluh piring masakan disajikan di meja makan Rumah Makan Delima Baru, Aceh Besar. Ada kari itik, sie reboh, eungkot paya (semacam kari ikan air tawar), sup kambing, ikan keumamah (sejenis ikan kering), ayam tangkap, dan lainnya. Aroma rempah langsung melayang ke udara dan menggedor nafsu makan siapa saja yang menghirupnya.

Kari itik yang diletakkan di tengah meja menarik perhatian. Kuahnya yang coklat kemerahan menjanjikan kelezatan. Pedas dan hangatnya rempah terasa di setiap lelehan kuah. Dalam sekejap, sepiring kari itik itu tandas.

Di sebelah kari itik ada sie reboh atau daging asam yang dimasak dengan kuah blangong. Itu juga semacam kari. Masakan itu tidak menggunakan santan, tetapi kelapa gongseng yang gurih dan kelapa kukur. Seperti kari itik, kuah blangong yang merah dan berlemak itu kaya rasa rempah yang berpadu dengan gurih dan asam sie reboh. Siang itu, kami benar-benar berpesta dengan 20 piring masakan Aceh yang mewah.

Dua puluh piring masakan bisa berarti dua puluh cerita. Kari itik dan kuah blangong yang dihidangkan rumah makan itu segera mengingatkan kita pada jejak panjang India di Nusantara. Lewat persentuhan dengan orang India-lah bumbu kari merembes ke Nusantara, lantas menjadi bagian kuliner kita.

Ian Burnet dalam Spice Island (2011) menyebutkan, pada periode 50 SM-96 SM, para pelaut India, khususnya dari kawasan Tamil, berlayar ke Timur untuk mencari produk-produk penting, seperti emas, batu permata, gaharu, kayu manis, merica, cengkeh, lada, tanduk badak, dan gading gajah, untuk diperdagangkan di Pelabuhan Alexandria, Mesir. Dari situ, rempah menyebar ke Jazirah Arab dan Eropa, terutama Romawi.

Dalam pelayarannya ke Timur, pelaut India mendarat di pantai-pantai tidak dikenal di Asia Tenggara, termasuk Sumatera bagian utara. Mereka menembus hutan untuk bertemu penduduk yang menetap di dataran tinggi dan merayu agar penduduk mau menjual produk yang mereka cari. Proses itu memerlukan waktu bertahun-tahun. Selama periode itu, mereka dipaksa menetap di delta-delta subur yang mereka masuki dan kawin dengan gadis setempat (Bernard Philippe Groslier, 2011).

Semua itu menghasilkan peleburan total sehingga kebudayaan India, termasuk tradisi kulinernya, tertanam di Semenanjung Melayu dan juga di Pulau Sumatera, termasuk Aceh. Dari situ, antara lain, lahir kari dalam bentuk dan citarasa baru yang berbeda dengan kari di negeri asalnya.

Imperialisme

Karena letak Nusantara berada di jalur perdagangan dunia, khazanah kuliner Nusantara juga dipengaruhi kebudayaan asing seperti China, Arab, dan belakangan Eropa. Selain perdagangan, penjajahan juga merembeskan banyak pengaruh pada khazanah kuliner dunia. Felipe Fernandez-Armesto dalam History of Food bahkan berani mengatakan, ”Tidak ada sumber lain yang bisa memengaruhi makanan lebih kuat daripada imperialisme.”

Kaum lelaki memasak kari kambing untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (10/2/2013). (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Imperialisme telah mendorong orang-orang Barat untuk datang ke negeri-negeri yang menjadi sumber komoditas penting, termasuk rempah di Nusantara. Imperialisme juga mendorong migrasi manusia lewat perbudakan dan perburuhan. Dari situlah tradisi kuliner menyebar dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, proses di atas tidak selalu satu arah. Penjajah tidak hanya memengaruhi khazanah kuliner di negeri jajahannya, tetapi juga sebaliknya. Rempah-rempah yang dibawa para penjajah dari daerah jajahan di Timur memberikan rasa tajam sekaligus aroma harum pada kuliner mereka yang hambar. Bahkan, Belanda mengadopsi secara utuh beberapa kuliner Nusantara dan menamainya dengan rijsttafel.

Selain pengaruh dari luar, tentu saja khazanah kuliner juga dipengaruhi kondisi lokal, mulai dari lingkungan, sistem kepercayaan, budaya, ekonomi, hingga politik. Penny van Esterik dalam Food Culture in Southeast Asia menjelaskan berbagai kontras yang membentuk masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yakni pesisir-pedalaman, dataran tinggi-dataran rendah, makan nasi-makan umbi, sawah-ladang, dan istana-desa. Kontras-kontras itu membentuk budaya makan yang berbeda.

Hal itu sekaligus juga menegaskan bahwa makanan adalah produk kebudayaan. Makanan dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan sebab makanan berjalan seiring-sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia mulai zaman ketika manusia belum mengenal api hingga ketika manusia gandrung memasak dengan teknik molekuler seperti sekarang.[]

*Wartawan Kompas meliput ekstensif untuk menggali narasi kuliner Nusantara

Yuk, Hadir di Malam Puncak Penganugerahan Duta Mahasiswa GenRe Aceh 2013

Duta Mahasiswa GenRe 2013Rasa-rasanya waktu berjalan begitu cepat, ajang pemilihan Duta Mahasiswa GenRe Aceh 2013 pun semakin dekat. Setelah diumumkan beberapa waktu lalu 30 finalis Dumas Aceh 2013, maka akhir Maret ini mereka akan dipilih oleh para dewan juri untuk keluar sebagai juara yang nantinya mewakili Aceh ke tingkat nasional.

Salah satu panitia pemilihan Dumas 2012, Rahmat Nazil menyebutkan seluruh finalis yang terpilih nantinya akan ikut pada malam puncak serta akan melakukan persentasi di hadapan dewan juri.

“Acara puncak Dumas 2013 nanti akan diadakan pada tanggal 30 Maret ini, mulai dari siang dan berlanjut pada malam puncak yang berpusat di Gedung Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim Banda Aceh,” katanya kepada ILA, Kamis (28/3) siang.

Lebih lanjut Rahmat yang juga Duta Mahasiswa GenRe 2012 ini juga mengatakan, acara yang dimotori oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ini terbuka untuk masyarakat umum bagi yang ingin datang dan menyaksikan langsung pada siang hari pukul 14.00 WIB untuk sesi persentasi ke-30 finalis Dumas 2013.

Sementara itu pada malam puncak penganugerahan Duta Mahasiswa GenRe Aceh 2013 akan berlangsung malam pukul 20.00 WIB. Buat para finalis tetap semangat ya, dan tunjukkan semangat mu untuk jadi yang terbaik serta bisa #positifkanAceh kedepan.***


Jika butuh informasi lebih lanjut bisa menghubungi Zarkasy (085277442555) & Keumala Fadhiela (085362727877).

Social Calendar @doliveus Karya Aneuk Nanggroe

Penampakan Dolive dengan ID @iloveacehMenjamurnya jejaring sosial tidak membuat peluang untuk berkreasi menurun, adanya inovasi dan kreatifitas baru tentu menjadi peluang untuk bisa dimanfaatkan oleh netizen.

The Social Calendar yang beralamat di Dolive.us mungkin bisa jadi buktinya, founder jejaring sosial tersebut Asrianda Syah Putra (@Asrianda_SP) yang juga anak Aceh ini menyebutkan, kini sudah saat kita mensosialisasikan kalender event kita untuk diketahui oleh umum.

“Sekaranglah saatnya untuk mensosialisasikan kalender anda. Get Yourself Signed Up & Share Your Calendar“, kata alumni Universitas Bina Nusantara saat bincang-bincang singkat dengan ILA, Senin (25/3).

Situs yang digawangi Asrianda bersama teman-temannya ini yang berbasis kalender merupakan salah satu startup asli buatan Indonesia yang membantu pengguna dalam mensosialisasikan aktivitas lewat kalender, sehingga semua orang bisa melihat dan membagikannya.

Karena rasa penasaran, ILA pun mencoba untuk menggunakan fasilitas yang ditawarkan Dolive ini. Tidak susah, hanya dengan mengarahkan pada tanggal yang diinginkan kita sudah bisa menambahkan daftar agenda, selain itu juga bisa membagikannya kepada orang lain. Terlebih saat ini pun ILA sering bekerjasama dengan berbagai event dari media partner tentu menjadi peluang tersendiri mempublikasi acara lebih luas, penasaran dengan social calendar ini? Coba saja di dolive.us atau follow akun mereka @doliveus.***

Dolive iloveaceh

30 Finalis Duta Mahasiswa GenRe Aceh 2013

Inilah top 30 besar finalis laki-laki dan perempuan peserta Pemilihan Duta Mahasiswa Genre Aceh 2013

NO

NAMA

T/T.LAHIR

ASAL FAKULTAS

1

Ahmad FirdausKrueng Geukueh, 16  Mei 1994Fisip, Unsyiah

2

Ahmad Husnul HuluqBlitar, 8 September 1991Kedokteran, Unsyiah

3

Aulia RahmanBanda Aceh, 28 Mei 1993Fisip, Iskandar Muda

4

IhcwanAceh Tengah, 24 April 1994FE,  Unsyiah

5

M. Al-FadhilSamalanga, 19 September 1993FKIP, USM

6

M. Rahmatul QadhriBanda Aceh, 1 April 1992Fisip, Unsyiah

7

MahzarAceh,1 Nov 1992Tarbiyah, STAIN Malikussaleh

8

Maireza Rizki PutraBanda Aceh, 18 Mei 1991Keperawatan, Cut Nyak Dhien

9

Muhammad FuadiGampoeng Teungoh, 22 Des 1992Tarbiyah, STAIN Malikussaleh

10

Nabil CartynLhokseumawe, 21 April 1993Fisip, Unsyiah

11

Novian AuliaLhokseumawe, 29 Nov 1994Tarbiyah, STAIN Malikussaleh

12

Pinka Satria AqsaLhoksemawe,17 Agust 1995T.Arsitektur, Unsyiah

13

Putra Risky Youlan RadhiantoBanda Aceh, 13 April 1993Fisip, Unsyiah

14

RahmanPanton Pawoh, 14 Sept 1991Ekonomi, Unv Muhammadiyah

15

ZulfahmiMeunasah Tutong, 6 Jan 1993Fisip, Unsyiah

NO

NAMA

T/T.LAHIR

ASAL FAKULTAS

1

Alaina Sahisti HandayaniBanda Aceh/ 07 Juli 1994Tehnik/Unsyiah

2

Cut Ruhul MuthmainnahBanda Aceh, 06 Maret 1995Tarbiyah IAIN

3

DarashynnyBanda Aceh/ 13 Januari 1993Dakwah/IAIN

4

Eva NandawatiAceh Besar, 18 Maret 1993Kedokteran Unsyiah

5

Husna DewiAceh Utara, 12 Des 1992STAIN Malikussaleh

6

MaulidiaSigli/ 19 Agustus 1993Fisip/ Unsyiah

7

Mia Rizky SafitriSigli/31 Mei 1994Ekonomi/Unsyiah

8

Mutia BalkisLangsa/ 18 Des 1994Fkip Geo/Unsyiah

9

Nazran NailufarBanda Aceh,17 Des 1993Kedokteran Unsyiah

10

Pocut Shalihah Finzia P.LBanda Aceh/ 18 Des 1993Fisip/ Unsyiah

11

Putri MaisarahBanda Aceh/14 April 1994Ekonomi/Unsyiah

12

Suci Fajar RiskyLangsa/ 9 Januari 1993fkip geo/Unsyiah

13

Syarifah FitriandaSigli/ 15 april 1992Kedokteran Unsyiah

14

Winda UlfaBanda Aceh/ 02 Nov 1994Fisip/Unsyiah

15

Wulan MaulijaBanda Aceh/ 7 Nov 1993Fisip/ Unsyiah

Note : Peserta TOP 15 akan memasuki tahap pembekalan dan penjurian tahap lanjut

Persyaratan:

  • 1. Registrasi Ulang
    • a. SMS ke no. 085362727877 dengan format Nama,Umur,Fakultas,Universitas,riwayat alergi. Paling lambat tanggal 26 Maret 2013
    • b. Membawa foto 3×4 warna dan close up ukuran post card (untuk yang belum menyerahkan)
  • 2. Peserta wajib mengikuti Technical Meeting pada tanggal 27 Maret 2013 pukul 08.00 – selesai bertempat di Balai PIKMA PUAN Universitas Muhammadiyah Aceh, di Banda Aceh.
  • 3. Peralatan dan Perlengkapan yang harus dipersiapkan untuk Karantina:
    • a. Perlengkapan mandi
    • b. Obat-obatan pribadi
  • 4. Peralatan dan Perlengkapan yang harus dipersiapkan untuk penjurian:
    • a. Kemeja Putih
    • b. Celana kain hitam (laki-laki) / Rok kain hitam (perempuan)
    • c. Sepatu Pantofel atau Sepatu Hitam (laki-laki) / High heels (perempuan)
    • d. Dasi dan Jas dan sebagainya/aksesoris (Tidak diwajibkan)
  • 5. Peralatan dan Perlengkapan yang harus dipersiapkan untuk malam puncak:
    • a. Baju batik
    • b. Celana kain (laki-laki) / Rok kain (perempuan)

Jika butuh informasi lebih lanjut bisa menghubungi Zarkasy (085277442555) & Keumala Fadhiela (085362727877).

#Twitter7 | Video Perjalanan 7 Tahun Twitter

Siapa sangka kicauan ala Twitter yang digagas oleh Jack Dorsey bersama rakan-rakannya ini telah berusia tujuh tahun, tepat Kamis (21/3) lalu.

Sejak diluncurkan 21 Maret 2006 lalu, situs mikrobloging ini terus menjadi incaran pengguna dunia maya dan tentunya juga bagi Komunitas @iloveaceh yang lahir sejak 3 tahun lalu.

“Just setting up my twttr,” begitulah kicau Dorsey saat itu. Kini dengan popularitasnya, Twitter memiliki lebih dari 500 juta pengguna terdaftar dengan 340 juta tweet harian. Dengan berkantor pusat di San Francisco, Amerika Serikat (AS), Twitter juga telah banyak berbuat dan berinovasi di dunia.

Kisah perjalanan #Twitter7 –tagar mereka memperingati ulang tahun ke tujuh– ini diilustrasikan dalam sebuah video yang menceritakan bagaimana Dorsey memulai debut Twitter. Tidak ada kata terlambat, selamat ulang tahun Twitter! dari Aceh, Indonesia.***