@HimageoUnsyiah dan Lintas Komunitas Gelar Konser Amal

Penampilan Rafly di konser malam Amal di Yellow Cafe / @antoniogayoBencara banjir yang terjadi di Aceh Barat Selatan, mengundang rasa prihatin dan peduli banyak komunitas di Aceh untuk menggelar konser malam amal di Yellow Café, Rabu (29/5/2013) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Geografi Unsyiah.

Acara yang akan dimulai sekitar pukul 20.30 WIB tersebut menampilkan sejumlah talentan ternama Aceh. Seperti Aditya Magician, @Rahmat_H2B dari SUC Banda Aceh, Sanggar Seni Tari, dan tentunya penampilan special dari Rafly ‘Kande’ feat Din Sajak. Serta juga dihadiri oleh Duta Mahasiswa, Duta Bahasa, Duta Kapal Apung, Putri Pariwisata, Putri Citra, Putri Indonesia dan Putroe Bungong.

Rafly ‘Kande’ dan Aditya Magician juga turut menyampaikan pesan kepada pengunjung yang memadati konser malam amal di Yellow Cofee. Seperti Aditya Magician, lewat penampilan ekstrimnya berpesan bahwa kita bukanlah manusia yang paling kuat saat ini. “Bukan kita manusia paling kuat saat ini, tapi merekalah saudara kita di sana yang paling kuat saat ini menghadapi cobaan dari Allah,” sebutnya.

Acara yang bertemakan “1 Tangan Merangkul Sejuta Tangis” ini dibuka oleh penampilan dari siswa SMP 1 Banda Aceh, dan juga kata -kata sambutan dari ketua panitia acara dan pembantu Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Konser amal yang dihadiri berbagai komunitas ini berakhir pukul 23.30 WIB, yang ditutup oleh penampilan akustik dari Rakicoustic dan Stand Up Comedy. (ed/mag)

Mahyun dan Riski Safria Nanda, Duta Wisata Lhokseumawe 2013

Duta Wisata Lhokseumawe 2013 / @reandpalepi

Duta Wisata Lhokseumawe 2013 / @reandpalepi

Mahyun dan Riski Safria Nanda akhirnya terpilih menjadi Agam Inong Duta Wisata Kota Lhokseumawe 2013 yang berlangsung di gedung Hasbi Ash Siddiqie Mon Geudong, Lhokseumawe, Minggu, (26/5). Agam Mahyun dan Inong Riski Safria NandaHari berhasil menyisihkan 62 peserta lainnya, yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa. (ed)

“Nyoe Aceh” Cara Kreatif Kenalkan Aceh

Ada banyak cara mengenalkan Aceh, bukan hanya sebatas melihat Aceh yang bergerak mundur dari peradabannya yang diakibatkan oleh manusia-manusia di dalamnya. Ada banyak aspek-aspek kehidupan yang kini sedang dialami oleh Aceh, seperti ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Aspek-aspek kehidupan tersebut jika terus dibiarkan berada dalam kekacauan maka akan berujung pada bencana kemanusiaan yaitu hilangnya jati diri Aceh.

“Nyoe Aceh” (Inilah Aceh) begitulah nama proyek non-profit yang sedang dikembangkan oleh rakan-rakan di Bandung. Salah satu anggota tim “Nyoe Aceh” dari Universitas Institue Teknologi Bandung, Andhy Pusvita Sari menyebutkan proyek pembuatan video ini dilakukan untuk merekam peradaban Aceh di masa lalu dan masa kini yang akan menggugah rasa setiap manusia.

“Kami mahasiswa perantauan Aceh di Bandung dan simpatisannya menginisiasikan proyek pengerjaan video “Nyoe Aceh” dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih baik tentang Aceh, baik itu sejarah, budaya, alam, dll kepada masyarakat luas. Sehingga kita dapat berpikir dan melakukan hal-hal konkret untuk memajukan Aceh,” ujarnya.

Pembuatan video ini direncanakan akan berlangsung 27 Juli hinggai 7 Agustus 2013, sedangkan finalnya akan dipublish sekitar bulan September 2013.

Andhy juga menyebutkan, pembuatan video tentang Aceh juga akan diiringi oleh berbagai musik, narasi, dan wawancara dengan para tokoh, serta mengajak para audiens untuk berpikir dan mencari solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi Aceh. “Ajakan ini diharapkan dapat menjadi inisiasi bagi generasi muda dalam melakukan pergerakan untuk membangun Aceh menjadi lebih baik,” sebutnya.

Tim “Nyoe Aceh” juga mengajak Anda untuk ikut serta dalam mendukung pembuata video ini dengan cara membantu dengan seadanya. Proyek penggalangan dana secara swadaya  pun digalang lewat situs wujudkan.com dengan nama “Nyoe Aceh!”. Anda juga bisa melihat perkembangan kegiatan tim ini di Facebook Nyoe Aceh atau follow di Twitter @NyoeAceh. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi  Andhy di nomor kontak 085714203209. Ayo bantu dan #positifkanAceh rakan. (ed)

Yuk, Nonton Bareng Final UCL BVB Dortmund vs Bayern München

UCL FinalFinal UEFA Champions League (UCL) akan segera dimulai, tak kalah menarik kali ini kita juga mengajak rakan #ATwitLovers di Banda Aceh untuk nonton bareng (nonbar) nih antara BVB Dortmund dan Bayern München. Hanya dengan tiket masuk Rp 20.000, rakan bisa mendapatkan nasi ayam steak, ice tea, serta ada doorprize dari quiz berhadiah dan tidak ketinggalan bakal ada Parade Music yang pastinya lebih seru dan dijamin hilang rasa ngantuk.

Acara nonton bareng Final UCL ini dijadwalkan pada hari Minggu (26/5), pukul 00.00 WIB dengan yang bertempat di Banda Steak, Jalan Daud Beureu’eh, Jambo Tapee.

Tapi bagi yang sudah mendapatkan tiket untuk nonton bareng tenang aja rakan, mau datang sewaktu kickoff juga tidak apa-apa, karena panitia acara sudah pasti telah menyiapkan tempat duduk. Nah, bagi rakan yang berminat untuk bergabung, bisa langsung mendapatkan tiketnya di Banda Steak dan SMEA Kupi, Lampineung.

Ayo buruan gabung rakan, karena tiketnya terbatas jadi bisa juga pesan ke nomor 0813 6169 6969 (Riski Y) atau 0852 2181 1314 (Jack). Kapan lagikan bisa nonton bareng bersama rakan-rakan #ATwitLovers di Banda Aceh lainnya? (ed/mag)

Tradisi Kopi dan Konservasi

970051_375960225857538_1662989282_nTradisi minum kopi memang sudah mengakar di sebagian warga Indonesia, tak terkecuali di daerah Aceh yang terkenal dengan kopinya. Kopi Aceh adalah salah satu kopi paling populer di negeri kita Indonesia dan Dunia, untuk itu sudah menjadi hal lumrah kalau kopi dijadikan minuman khas di Aceh.

Kopi Arabika adalah salah satu kopi yang dikenal berasal dari Aceh, kopi ini merupakan jenis Arabika kopi terbanyak yang dikembangkan oleh para petani kopi di dataran tinggi Gayo – Aceh, dan hasil produksinya adalah yang terbesar di Asia untuk jenis arabika. Kopi Gayo Aceh juga memiliki citarasa yang khas dan sudah diakui oleh pakar uji citarasa (cupper) kopi dunia.

Salah satu jenis Kopi Arabika Gayo yang sudah dikenal oleh masyarakat luas adalah Leuser Coffee yang merupakan sebuah hadiah untuk setiap penikmat kopi arabika Gayo (Aceh).

Sejarah perkembangan

“Leuser Coffee terbentuk atas inisiatif isu lingkungan dengan melihat kondisi perambahan hutan yang terjadi di Aceh. Ini dikarenakan hasil hutan bukanlah hanya kayu semata namun  juga dapat dimanfaatkan untuk hasil sumber daya alam lainnnya. Salah satunya dengan memfokuskan masyarakat pinggiran hutan untuk berkomitmen agar tetap menjaga kelestarian alam dengan bertani kopi. Nama Leuser sendiri diangkat dari sebuah nama Taman Nasional Gunung Leuser yang berada di propinsi Aceh” Ujar Gem pemilik Leuser Coffee.

Proses Pengolahan Kopi

Proses pengolahan Leuser Coffee ini dimulai dengan memilih biji merah,  kemudian dilakukan penyortiran cherry dan di permentasi selama 12 jam dalam bentuk gabah. Setelah itu, biji kopi ini dijemur pada para-para (Jaring) sehingga kualitas kopi tidak terkontaminasi dengan benda disekitarnya. Untuk mendapat hasil kopi yang berkualitas, Gem harus sangat teliti untuk menjaga kadar air hingga 14%.

Selanjutnya, Leuser Coffee ini di roasting pada level medium dan disesuaikan dengan selera permintaan para pemesan seperti medium to dark yang biasanya di olah untuk menu espresso di cafe cafe, serta tersedia dalam pilihan green bean premium jika buyer (pembeli) yang menginginkan green bean (biji hijau) nya saja.

Positifnya, selain ikut memberikan premium fee kepada petani kopi, Leuser Coffee juga turut membantu kelestarian hutan-lingkungan Aceh melalui penanaman pohon dan kampanye sadar lingkungan. Untuk setiap pembelian 1 Pack Leuser Coffee, anda sudah berkontribusi sebesar Rp.1000,- untuk pelestarian hutan-lingkungan Aceh dan Rp.1000,- untuk petani kopi sebagai premium fee.

Track Record

Tidak hanya berkembang di Aceh, perkembangan Leuser Coffee juga sudah menjangkau beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Bogor, Jogja, Bali dan beberapa kawasan sekitarnya. Selain itu, Leuser Coffee juga sudah pernah di order oleh pembeli yang berasal dari Thailand, Malaysia, Singapore, Vietnam, dan Amerika. Selanjutnya menurut gem, awal bulan depan (Juni) akan ada buyer yang berasal dari Turki yang ingin membawa Leuser Coffee untuk tester. Dalam tahun ini, Leuser Coffee juga akan diikutsertakan dalam Festival Food and Coffee 2013 yang akan diadakan di Banda Aceh.

Untuk  mendapatkannya, pembeli cukup merogoh kocek Rp.30.000 per 100 gramnya. Leuser Coffee bisa didapatkan secara langsung dengan menghubungi lewat nomor 085277747888 Danurfan (Gem). (zdayat)

944102_375962212524006_1580035005_n

Petani Kopi di daerah dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

945381_375961689190725_999461658_n

Biji kopi yang telah melewati proses roasting level medium.

376933_375954902524737_670435503_n

Leuser Coffee dalam kemasan 100 gram.

Penanaman pohon di sekolah pada hari bumi 22 april 2013, hasil dari kontribusi 1000 Rupiah dan dana hibah lingkungan lainnya bersama @tropicalsociety.

Penanaman pohon di sekolah pada hari bumi 22 april 2013, hasil dari kontribusi 1000 Rupiah dan dana hibah lingkungan lainnya bersama @tropicalsociety.

Indahnya Berbagi bersama Komunitas di ABFI 2013

ABFI pada sesi Seminar / @hack87

ABFI di hari pertama sesi seminar / @hack87

Oleh Aulia Fitri

Beberapa waktu lalu ASEAN Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013 baru saja berlalu, tepatnya 10-12 Mei di kota Solo, Surakarta, Jawa Tengah. Lebih dari 250 blogger di Indonesia berkumpul disana dan juga perwakilan dari negera-negara ASEAN. Ramai, seru, dan tentunya ada banyak cerita menarik selama 3 hari di kota yang punya tagline “The spirit of Java” ini.

Dibalik itu semua, ada satu hal yang ingin saya bagi dan ceritakan. Walaupun acara ABFI yang mengangkat tema “Reinventing the Spirit of Cultural Heritage in Southeast Asia” dan mengundang komunitas blogger, pastinya kisah pengalaman teman-teman blogger di komunitas itu menjadi pelajaran penting untuk diambil hikmah dan ide kreatif lainnya.

Disela-sela berlangsungnya ABFI baik dari pagi hingga sore hari, terlebih pada hari kedua berbagai pandangan blogger bisa kita jumpai. Mulai dari personal blogger sampai dengan komunitas, tidak muluk-muluk memang. Apa yang mereka bagikan itu tetap berhubungan satu sama lain, seperti aksi sosial, wisata, kuliner, bahkan sampai dengan kisah-kisah heroik yang jarang di endus media. Semua bergerak dari ketulusan hati untuk membuat yang terbaik bagi orang-orang sekitar dan masyarakat.

Semisalnya ada salah satu kisah teman blogger Maluku, orang yang selama ini saya kenal di jejaring sosial dan akhirnya bertemu dan bertatap muka disana. “Hal yang paling susah itu menyatukan komunitas, tapi pelan-pelan dengan semangat dan perbedaan yang ada kita bisa membuat lebih berwarna untuk terjun ke masyarakat,” sebut Almas yang dulu juga ikut ASEAN Blogger di Bali.

Bagaimana membuat tempat ibadah seperti masjid itu lebih aktif, bukan saja kegiatan yang bersifat religius seperti pengajian tapi juga tempat berkumpul anak-anak muda –di area masjid– untuk berekspresi dengan menulis hal-hal yang berguna dan berdiskusi dalam sebuah mimbar bebas dan dipandu oleh lintas komunias. Hal ini yang disampaikan Almas, menurut saya cukup menarik dengan keadaan di Aceh. Apalagi jika masjid punya fasilitas jaringan dan akses internet yang memadai.

Lain lagi dengan cerita Akbar, bersama komunitasnya mampu membuat gebrakan sosial untuk membantu orang-orang lain dengan membuat bank sampah yang bisa dijual. “Sampah-sampah yang kita kumpulkan dari masyarakat, kita jual dan dari uang itu kita beli Al-Qur’an untuk disumbangkan pada tempat-tempat ibadah,” sebut blogger asal Jember ini.

Selain itu dari tuan rumah blogger Solo atau yang dikenal dengan komunitas Begawan juga terus mensosialisasikan pentingnya pemanfaatan wilayah bantaran sungai bengawan yang begitu terkenal sehingga diabadikan dalam sebuah judul lagu yang diciptakan oleh (Alm) Gesang. Urban Forest begitulah istilah yang diperkenalkan, program ini untuk menyadarkan masyarakat ikut serta melestarikan bantaran sungai dengan menanam pohon sehingga kelak menjadi sebuah hutan kota dan tempat bermain masyarakat sekitar.

ABFI sharing night sesion / @hack87

Dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya, poin penting disini adalah kekuatan komunitas dalam menggerakan aksi. Tidak saja komunitas blogger, tapi juga komunitas lain baik yang online atau offline yang ada saat ini di Aceh. Jika suatu hari nanti bisa duduk bersama sambil kopdar (ngopi darat) juga akan begitu banyak ide-ide membangun yang bisa digerakkan bersama. Tidak saja sebatas aksi di jejaring sosial, melainkan juga gerakan nyata yang bisa langsung menyentuh masyarakat sekitar.

Kini, hanya butuh semangat dan kesempatan saja. Bukan karena tidak sama warna dan identitas lalu berjalan sendiri-sendiri, tapi karena perbedaan inilah, menurut saya komunitas di Aceh tentu akan bisa banyak berbuat ke arah yang lebih baik dan kreatif. serta bisa #positifkanAceh. Warung kopi dengan sejuta kisah dan informasi, jaringan wi-fi yang tersebar dimana-mana, menjadi salah dua potensi yang begitu besar untuk dimanfaatkan. Jika bukan kita siapa lagi tentunya.***

*Co-Founder Komunitas Blogger Aceh

Jalan-jalan malam di Solo, ketemu sama penampilan kesenian Aceh di pusat jajanan Golabo / @hack87