Ungkap Kegemberiaan, Robby Freakenstein Bikin Lagu untuk Aceh

Robby Freakenstein saat tampil bareng Aziz Jamrud di Piasan Seni Banda Aceh 2013 / Dok. Panitia

Kenangan berkunjung ke Aceh yang dilewati oleh sang gitaris band GLYPH Rocks, Robby Freakenstein sepertinya belum usai. Robby yang tampil di Piasan Seni November 2012 lalu bersama Aziz Zamrud akhirnya membuat sebuah video perjalanan singkat yang berjudulnya “Senangnya di Aceh”.

“Video ini adalah versi dari perjalanan singkat, tapi menyenangkan buat saya selama di Aceh. Semoga memberi sesuatu,” sebut Robby, Selasa (11/6/2013).

Lebih menariknya lagi, pemilik akun @RobzFreak yang kerap ingin belajar bahasa Aceh ini juga memberikan cuma-cuma lagu energik gitarnya ini untuk diguanakan oleh ILATeam jika sewaktu-waktu ada event.

“Kalo ILA Team mau pakai lagu ini buat theme song, monggo, silahkan,” sebutnya di Facebook.

Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri juga bagi @iloveaceh atas apresiasi yang diberikan oleh penggemar kopi Aceh ini untuk bisa saling mempromosikan Aceh lewat karya seninya. Sukses buat bang Robby ya, jangan sungkan-sungkan masih banyak kopi hitam yang nendang siap menanti.***

Jelajah Budaya: Buat Kita Mengenal Lebih Dekat Sejarah

Aksi penanaman pohon di Hutan Kota Tibang / @disbudparacehOleh Uzlifatil Jannah

Dalam rangka Visit Aceh 2013, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengajak perwakilan dari beberapa komunitas untuk mengikuti acara Jelajah Budaya Aceh (JBA) yang mengusung tema ‘Kenali Budaya sebagai Identitasmu’. Kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 28-31 Mei 2013 tersebut bertujuan untuk mengenalkan sejarah dan budaya kepada anak muda Aceh agar lebih bangga juga peduli terhadap nilai-nilai dari sejarah dan budaya bangsanya sendiri.

Kegiatan pertama dari JBA ini dipusatkan di Taman Kota BNI yang berada di desa Tibang, Banda Aceh. Diawali dengan pembukaan dan pelepasan dari perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh lalu diikuti dengan aksi penanaman pohon. Selanjutnya para peserta diajak untuk akrab dan mengenal satu sama lain dengan serangkaian kuis pada outbound yang dipandu oleh bang Gugun dari team Spider Outbound Indonesia. Hari yang melelahkan ditengah gempuran terik matahari yang begitu panas, namun terbayar oleh keseruan outbound tadi.

Monumen kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande / @AtinRY

Monumen kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande / @AtinRY

Gampong Pande

Peserta memulai hari kedua dari Jelajah Budaya di gampong (desa) Pande Kecamatan Kutaraja Banda Aceh. Desa yang terletak tidak begitu berjauhan dengan pusat kota ini, mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi. Dilihat dari letak geografisnya yang berada diseputaran Krueng Aceh dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka yang diyakini sudah dipakai untuk melakukan perjalanan timur – barat dari berabad-abad silam lalu. Maka tidak diragukan lagi bahwa disinilah asal muasal kota Banda Aceh. Tempat awal mula kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 601 H atau bertepatan 22 April 1205 M.

Disebut Gampong pande dikarenakan dahulunya orang-orang yang menempati wilayah ini adalah orang-orang yang pandai dan terampil. Daerah ini dulunya juga tempat pembuatan batu nisan selain yang berada di Dayah Geuleumpang dan juga di Keutapang.

Sebelum Bandar Aceh Darusalam (cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam) didirikan, disini berdiri kerajaan Lamuri dengan ibukota Bandar Darussalam.

Keberadaan Lamuri juga merupakan salah satu kerajaan Islam yang ada di Aceh, hal ini bisa dibuktikan dengan penemuan batu nisan di bukit Lamreh yang berornamenkan Islam, suatu kerajaan bisa dikatakan kerajaan Islam apabila memenuhi 3 syarat yaitu; raja dan pejabat istana beragama Islam, masyarakatnya yang beragama Islam dan sistem kepemimpinannya yang bisa dilihat dari bangunan peninggalan.

Peta daerah Lamreh di Aceh Besar (Ist)

Jika kita ingin menyusurinya, bisa dimulai dari titik nol perjalanan melalui sungai yang melewati Gampong Pande ke  arah pantai Ulee Lheue atau Indra Purwa, kemudian jika melewati Selat Malaka maka akan menuju ke bekas benteng Indra Purwa.  Dan inilah yang kemudian dinamakan dengan Aceh Lhee Sagoe atau tiga segi.

Komplek makam raja di Gampong Pande / @AtinRYPada masa kepemimpinan Sultan Johansyah, tatanan pemerintahan dan seluruh pengurusan tata ruang kota Banda Aceh dibuat berdasarkan Al-Quran dan Hadist, dari   sinilah kita bisa bisa melihat betapa kuatnya peraturan yang telah dibangun oleh para pendahulu dulu. (bersambung)

*Salah satu anggota Jelajah Budaya Aceh perwakilan dari Komunitas @iloveaceh