Rilis: Kasus Pencemaran Nama Baik Personil @iloveaceh dari Admin Akun Publik

Surat Pernyataan dari Aulia Ferizal untuk penyelesaian masalah / ISTBertempat di Rumoh ILA Lampineung, Minggu (29/12/2013) musyawarah besar dilaksanakan pada sekira pukul 10.45 WIB. Musyawarah yang diinisiasi oleh Komunitas @iloveaceh dan ILATeam Management ini sebagai bentuk evaluasi akhir tahun terhadap sejumlah kegiatan dan juga kejadian yang mungkin telah terangkat di jejaring media sosial dan juga di lingkup publik atau masyarakat secara nyata.

Lewat rilis ini, kami ingin menyampaikan perihal yang terjadi di lapangan –baik online/offline– terkait beberapa personil atau anggota Komunitas @iloveaceh yang ‘diserang’ secara tidak sehat oleh pihak lain. Hal ini perlu kami sampaikan karena semua anggota yang tergabung di Komunitas @iloveaceh dan seluruh atribut (ID Card) yang melekat pada setiap anggota berada di bawah ILATeam Management yang sah dilindungi oleh Hukum dan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia.

Pengurus dan juga pengelola dari Komunitas @iloveaceh dan ILATeam Management sedikit banyak telah mengumpulkan sejumlah bukti dan temuan, dimana penyerangan kepada personil/anggota dari ILATeam dengan membawa-bawa nama komunitas mengakibatkan tindakan penyelewangan yang tidak sehat, maka dengan itu dalam penyelesaian masalah dan perselisihan akan dilakukan secara kekeluargaan sebagai prioritas, jika ditemukan jalan buntu maka akan diproses secara hukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Temuan Penyerangan dan Pencemaran

Berikut ini akan kami tampilkan beberapa tweet yang telah beredar sejak lama dari akun Anonim, dengan segala bukti merujuk pada sebuah akun personal dan akun publik yang dikelola bersama. Kejadian ini telah terjadi sejak Februari 2013:

Mengingat bahasa yang digunakan tidak bersahabat hanya beberapa yang kami kutip, sementara itu beberapa personil/anggota dari ILATeam juga tersebut dalam hal-hal ini seperti @AtinRY, @indieGem, @yusraucin, @antoniogayo, serta beberapa akun partner dan klien kami yang tidak mungkin kami sebut satu persatu juga terkena imbas yang mengakibakan rusaknya hubungan baik kami dari pihak manajemen @iloveaceh.

Kronologi Musyawarah Besar ILA

Terkait penyelesaian masalah telah kami tempuh pada hari Minggu lalu, beberapa poin yang bisa kami sampaikan dengan pengakuan dari orang yang terlibat langsung sejumlah tindakan tersebut di atas mengaku telah melakukannya, pilihan untuk diam dan tidak mau banyak bersuara –berbelit-belit dalam memberikan keterangan– juga kami rekam sebagai bukti dari pembicaraan dan yang bersangkutan akhirnya menandatangi surat pernyataan seperti yang kami lampirkan di atas.

“Akun @DontAceh itu bener akun Aulia Sanca (nama samaran), perihal masalah capture yang ada saat dibahas mubes kemarin dibahas itu terjadi pada #3thiloveaceh. Akun itu dia coba gunakan untuk menjadi penengah kesalahpahaman saat 3thiloveaceh,” hasil dari rekapan Mubes.

Surat pernyataan dari Aulia Ferizal / IST

Sesuai dengan kesepakatan yang tertera dalam surat pernyataan, klarifikasi untuk pemulihan nama baik personil/anggota Komunitas @iloveaceh dan ILATeam Management telah kami terima dari yang bersangkutan per tanggal 29 Desember 2013 sekira pukul 18.29 WIB.

Dengan ini iktikad baik saya sampaikan kepada rakan2 semua @iloveaceh @ilacrew @antoniogayo dll, mohon maaf yg sebesar-besarnya.

Sebagai bentuk penghargaan kami dari Pengelola dan Pengurus Komunitas @iloveaceh dan ILATeam Management mengucapkan banyak terima kasih.

Mengingat dan menimbang jika ada hal-hal yang tidak jelas (saling merugikan kedua belah pihak) untuk penyelesaian masalah ini, baik yang berhubungan dengan rakan #ATwitLovers kami, rekan kerja/partner dan sejumlah klien dari Komunitas @iloveaceh dan ILATeam Management dan ingin meminta keterangan resmi bisa langsung menghubungi kami ke email iloveaceh@ymail.com dengan mencantumkan nama dan nomor yang bisa dihubungi.

Segala barang bukti lainnya yang telah kami kumpulkan/simpan baik secara elektronik atau pun audio adalah properti dari Komunitas @iloveaceh dan ILATeam Management, data-data tersebut menjadi pertinggal dan tidak untuk kami ekspos lebih lanjut. Jika ada pihak yang merasa dirugikan dengan sejumlah data-data tersebut bisa hubungi kami.

Demikian rilis ini secara singkat kami beritahukan kepada publik, semoga kelak menjadi bahan pelajaran bagi kita semua dan juga keberlangsungan komunitas di Aceh yang sama-sama ingin membangun Aceh untuk lebih baik.

Rumoh ILA Banda Aceh, 31 Desember 2013
HP 085277747888/085260087663

Ke Aceh Teuku Wisnu Jajal lapangan Futsal Bersama #ILATeam dkk

Teuku Wisnu bermain futsal bersama di Banda Aceh / ILATeamBertempat di De Vista Futsal Lingke, Banda Aceh menjadi saksi bisu laga antara #ILATeam vs Teuku Wisnu dkk. Minggu (29/12/2013) sekitar pukul 22. 10 WIB.

Dalam pertandinggn yang berlangsung selama 1 setengah jam tersebut, tim Teuku Wisnu dkk berhasil memenangkan pertandingan silaturrahmi ini.

Artis ibu kota Teuku Wisnu yang juga pasangan dari Shireen Sungkar meluangkan waktunya bersama teman-teman di Aceh dan juga #ILATeam untuk sekedar bertanding.

Menurut Wisnu, keberadaannya di Banda Aceh ini menjadi ajang yang pas untuk saling bertemu dan mengakrabkan kembali hubungan bersama teman-teman, apalagi bisa bermain futsal bersama.

Dalam pertandingan tersebut juga merupakan ajang silahturahmi @iloveaceh dengan Wisnu yang membawa serta teman-teman semasa sekolahnya di Aceh.

“Tetap semangat semangat ya untuk kalian,” ujarnya terakhir kali sebelum meninggalkan lapangan futsal kepada @iloveaceh. (che/ant)

#TweeTalk: Berbagi Kisah Inspiratif Pasca Bencana Tsunami Bersama @AnyakArmstong

Silaturrahmi ke kediaman Anyak di Lhoknga / ILATeamPeringatan #9thTsunami di Aceh, Kamis (26/12/2013) yang berlangsung aman disejumlah daerah telah menarik perhatian seluruh elemen masyarakat. Di sejumlah daerah memperingati 9 tahun bencana Tsunami dengan cara yang berbeda-beda, termasuk yang dilakukan oleh @iloveaceh dari tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini @iloveaceh menghadirkan segmen #TweeTalk untuk #ATwitLovers. Sebuah program #TweeTalk sendiri adalah interaksi langsung beberapa narasumber yang bersedia berbagi kisah inspiratif pasca bencana tsunami 9 tahun lalu via twitter.

Salah satunya adalah @AnyakArmstong –akun pribadi Anyak- yang merupakan istri dari artis/musisi Jono personil band Gugun Blues Shalter, yang langsung #ILATeam temui di Desa Weu Raya, Lhoknga.

Anyak bercerita banyak perihal dampak bencana tsunami di Aceh yang dialami keluarganya. Pada saat terjadinya gempa dan tsunami 24 Desember 2004 silam, dia sedang berada di Jakarta bersama anak dan suaminya. Anyak mendapat kabar bahwa telah terjadi bencana tsunami di Aceh dari salah satu abangnya lewat telpon yang berhasil selamat dari gulungan ombak raksasa dan berada di daerah aman dataran tinggi.

Ibu dari 3 anak ini kehilangan sebagian besar keluarganya mulai dari orangtua, serta semua saudara perempuannya namun, 4 orang abangnya berhasil selamat dari bencana tersebut. “Seminggu setelah kejadian Tsunami itu, suamiku langsung terbang ke Aceh menggunakan pesawat Hercules dan tinggal di camp pengungsian karena rumah orangtuaku sudah rata dengan tanah,” jelas Anyak.

Anyak menambahkan bahwa setelah kejadian Tsunami di Aceh, dia dan keluarga kecilnya menetap sementara di London, Inggris daerah asal suaminya (@nyep_nyep) selama 4 tahun. Dan kemudian mereka kembali menata hidup di Jakarta. Anyak juga menuturkan harapannya untuk Aceh agar Aceh bangkit pasca bencana Tsunami dan terus menciptakan lapangan pekerjaan.

“Aceh harus berhenti korupsi. Mari kita terus berbagi dan menebarkan cinta kepada sesama, selalu berbuat baik,” sebut pemilik akun @AnyakArmstong ini.

Kedatangan #ILATeam ke kediaman Anyak selama berada di Banda Aceh ini, disambut dengan sangat baik. Harapan kita bahwa #ATwitLovers dapat mengambil hal positif dari kisah @AnyakArmstong dan bersama-sama membangun Aceh lebih baik lagi #PositifkanAceh. (che)

Renungan: 9 Tahun Tsunami, 9 Pesan dari Mading Masjid

Oleh Muhammad Yakub Yahya

Jamaah masjid Lampulo, dekat laut, pagi shubuh Ahad yang bersejarah itu, jumlahnya tidak sampai satu shaf. Jamaah isya malam sebelumnya pun hampir sama, cuma satu setengah shaf. Sama saja dengan jumlah jamaah shubuh dan isya di masjid lain, di kota dan desa, sebelum dan usai tsunami.

Saya yang tamu, termasuk yang terakhir keluar masjid Lampulo, satu setengah jam sebelum runtuh, 26 Desember, sembilan tahun lalu. Saya sempat baca di mading (majalah dinding) remaja masjid, sebelum gelombang dahsyat tiba, yang meratakan tak cuma bangunan dan rumah Allah, juga menggulung sebagian kita —termasuk kami sekeluarga. Besar faedah juga, andai pembaca, korban atau bukan, sadar atau belum, berkenan menyimak ‘wasiat’ dari mading berikut ini.

Saudara kita yang almarhum —mungkin duluan syahid— yang menempel itu, mengajak sebagian besar kita untuk hijrah dari perangai buruk, menuju tabiat yang baik. Tabiat yang jelek, lazim mengakar menjadi rutinitas yang buruk. Seperti ujar orang bijak, “Pertama kita yang membentuk kebiasaan, lalu kebiasaan yang akan membentuk kita.” Isi sembilan pesan ini, cemeti bagi kita.

Pertama, jika ke tempat shalat atau pengajian, kita berlambat-lambat; tapi kalau ke tempat hiburan atau olah raga, cepat-cepat. Betul, di antara kita terus lari kencang, andai itu urusan penenuhan hasrat syahwat, birahi, dan setan. Kita rancang secara cermat dan matang, agar tak ketinggalan. Terik dan hujan sekalipun, kita sudah perhitungkan. Mantel dan payung, kita selipkan. Namun tak begitu kencang kita lari, jika itu urusan ukhrawi. Shalat dan pengajian, itu hanya dua contoh. Hiburan dan olah raga, itu juga cuma dua umpama. Hakikatnya Islam tak menilai ini semata-mata hanya dunia, dan itu hanya akhirat. Jika cara kita benar dan tulus dalam meramu kerja itu —dunia atau akhirat, agama atau dunia— semua memiliki muatan ibadah.

Kita mestinya bergegas cepat ke depan Allah. Jika memang butuh sekali, santai dan berlambat-lambat saja ke tempat syahwati dan setani. Atau tak usah sama sekali! Mari kita hijrah, dari cap si pemalas menuju pribadi nan ulet dan kreatif.

Kedua, kalau ke tempat shalat, kita hanya memenuhi shaf belakang; tapi kalau ke ajang hiburan atau olah raga, kita memilih barisan depan. Kena sekali ‘ujung cambuk’ ini. Tepat, jika kita pantau isi barisan dalam masjid, dua rakaat hari Jum‘at misalnya. Lama sekali penuh shaf-shaf depan, yang suci itu. Manusia yang sibuk ini, berlambat-lambat ke tempat azan. Jika mau pun, mungkin juga cuma Jum’at, atau hanya pada dua hari raya. Lalu melangkah agak tergesa-gesa memilih barisan anak-anak di belakang, ke dinding putih atau hijau.

Ada yang masuk masjid saat aqad nikah. Atau manakala jenazahnya dishalatkan. Persis kayak kebutuhan kristiani akan gereja. Berbeda jauh dengan rebutan akan bangku dalam ajang, hiburan misalnya. Agar tampak betis dan dada artis, atau paha pemain bola, kita terengah-engah berdesakan masuk. Lalu memilih bangku kotor itu, di deretan muka.

Padahal, mestinya kita bersaing memenuhi shaf pertama, setiap azan, setiap hari, dan saban Jum’at. Namun tak perlu berdesakan memboking tiket untuk dunia, andai acara itu tak penting, dan belum islami. Mari kita hijrah, dari posisi shaf posisi belakang, menuju shaf depan.

facility-musholaKetiga, kalau untuk jadwal akhirat, kita menggeser-geserkan atau kalau bisa dibatalkan; tapi untuk jadwal duniawi, kita prioritaskan. Ini ejekan buat wanita dan pria karir. Atau untuk siapa saja yang suka memilih dan memilah waktu. Hingga tak adil lagi di mata agama. Untuk planning yang intinya semata-mata isi perut, atau menebalkan kantong, kita cepat-cepat setujui. Namun jika itu rencana yang cenderung ke keagamaan yang menguras kantong, kita pertimbangkan. Nanti saja kita kirim jawaban, kalau pun kita sepakati.

Jika ada pertemuan, rapat proyek, audiensi, atau kunjungan dari seorang bapak yang berpangkat, atau ibu pejabat, kita cancel semua jadwal kita yang ada. Kita ubah semua jadwal desa dan balai pengajian kita. Demi kesenangan bapak atau ibu itu. Tak peduli itu pengajian rutin, majelis ta‘lim, halqah, wirid, yasinan, ngaji anak-anak, atau shalat jamaah.

Mestinya kita nomorsatukan jadwal yang telah jelas nuansa ukhrawi. Lalu kita urutkan seterusnya agenda yang kelihatannya bernuansa duniawi. Kita ubah karakter kita, jika buruk selama ini. Mari kita hijrah, dari visi materialisme duniawi menuju spritualisme ukhrawi.

Keempat, kalau untuk dunia seperti nonton TV, kita bergadang dan berlama-lama; tapi untuk shalat, kita sering telat dan secepat kilat. Pedih juga rasa ‘cambuk’ ini. Kita rela minum kopi kental buat persiapan malam nanti. Sebab liga demi liga sedang bertarung di sana. Musim kompetisi sedang digelar, yang diamati dan dipresenterkan oleh pembawa acara yang aduhai. Kita hafal nama klub, hingga nama di bangku cadangan. Juga jam tayang yang tak boleh tertunda atau siaran ulang. Tontonan itu mungkin bareng atau sendirian. Dua, tiga, atau empat jam itu masih singkat! Lapangan hijau sering masuk ke kamar kita.

Padahal dii Barat, bola kaki sudah menjadi agama nomor dua. Gereja telah lama digantikan oleh stadion. Hari ini, gejala itu sedang merasuki benak segelintir pemuda kita. Persetan dengan agama, lebih kurang demikian katanya. Televisi memang bisa memudaratkan, jika begini liberalismenya. Jika sayup-sayup di meunasah atau masjid ada jawaban jamaah “amin”, maka di sini, di depan kotak ajaib ini pun, ada koor “gool”.

Mestinya tipuan busuk ini, tak terulang lagi dalam hari dan malam kita. Lebih-lebih jika penonton itu ketiduran saat azan, dan mata melotot saat siaran. Jika sudah parah begini, kita berani bilang, ini manusia berwajah setan. Jika pun hobbi sekali nonton hingga larut, mari kita imbangi. Ada tahajjud, witir, atau shubuh di awal waktu juga. Ada munajat di ujung malam. Shalat harus tenang dan bersahaja. Belum sah jika tak ada dalam rukunnya thuma‘ninah. Jangan lagee den-den rhah ek —bagai capung cebok. Mari kita hijrah, dari tipe yang membunuh waktu, menuju orang yang menghargai umur dan waktu.

Kelima, kalau untuk main-main, kita senang memakai fasilitas mewah; tapi untuk shalat, sebagian kita menilai wah itu terlalu mahal. Ini juga tren kita, orang kaya, di kota atau desa. Korban tsunami atau bukan. Padahal telah disarankan, dibacakan, bahkan diulang-ulang akan fadhilah berjalan kaki ke masjid, ke jamaah, atau tempat baik. Tapi kita jawab dengan segenap alasan palsu. Mungkin hari ini kecapekan atau keletihan. Namun nanti dan esok sama saja, disibukkan. Padahal azan di genderang telinga.

Jika tenda, gubuk, kantor, atau istana jarak sedikit, lalu disarankan membawa kereta atau mobil, kita kuatirkan akan tergores dan kecurian. Kita takut kotor dan kena taik cecak. Jika kita pelit memang terlalu mahal untuk Tuhan, harta kita. Namun untuk makan-makan, berbelanja, enjoy, atau jalan-jalan, kita senang start, keluarkan dari garasi, dan ikut antrian. Mari kita hijrah, dari berkurban untuk nafsu, menuju semangat kurban demi agama.

Keenam, kalau 20 ribu untuk sedekah, menurut itu sudah besar; tapi kalau untuk belanjaan, itu masih kecil. Sakit sekali cemeti ini. Sebab ada sebagian kita merasa selalu masih sedikit untuk belanjaan. Walaupun sudah tiga keranjang yang ditaksir teller, di mini market atau swalayan. Kendatipun yang diborong itu hanya ‘umpan perut’ berupa: bon-bon, permen karet, kerupuk, atau mie instan; sampah yang ditipu oleh iklan; dan sering menumpuk-numpuk kantong kemubaziran. “Mubazir adalah saudara setan. Setan kufur pada Allah,” ancam firman Tuhan.

Mestinya kita tak tergoda dengan gencarnya iklan. Tak larut bersama orang masuk keluar swalayan. Sebab sering itu hanya tipuan yang bukan kebutuhan, dan bukan tuntutan.

Gengsi biasa akan menghancurkan. Biasa ‘sampah’ isi lemari rumah atau rak nanti, itu hanya jadi barang pajangan. Kecuali pajangan buku-buku dan kitab-kitab. Sisa belanjaan kita buang ke belakang. Membuang makanan atau barang bekas, sama dengan membuang puluhan ribuan atau jutaan uang. Itu musnah seiring dengan punahnya kehidupan.

Padahal, mestinya kita sadar yang kekal itu yang kita sedekahkan. Kita mesti terus merasa masih kurang untuk celengan amal. Meskipun hanya sudah sanggup bersedekah rupiah hingga 20 ribuan. Mari kita hijrah, dari sikap bakhil/pelit munuju tipe yang ringan tangan.

Ketujuh, kalau dari koran atau media massa, kita yakin 100%; tapi kalau dari Al- Qur’an dan Nabi, kita ragu-ragu dulu. Ini penyakit hati orang munafiq, kafir, musyrik, yang tak pantas menghinggapi qalbu sang mukmin. Satu lagi perangai jahat, meragukan kebenaran. Biasa, lantaran sok pandai, debatkan, pertanyakan, logiskan, atau rasionalkan dulu, baru percaya. Memang kadangkala logika pun menjadi sembahan.

Memang hadits pun ada yang palsu, tapi kenapa atas berita media, kita yakin penuh. Kita wajib yakini ayat-ayat Tuhan dengan iman dan nurani. Lalu tak perlu serius sekali, jika itu isu, kabar burung, gosip, atau fitnah dari media, untuk kita sebarkan. Terkutuklah si penggosip. Mari kita hijrah dari sosok yang peragu pada-Nya, menuju hamba yang yakin pada ‘suara langit’.

Kedelapan, kalau berdoa panjang, kita cepat bosan; tapi kalau ngobrol panjang, kita tak bosan-bosan. Tuhan padahal senang sang hamba mengeluh panjang di depan-Nya. Curahan hati, rengekan, adakala keliru kita tumpahkan hanya pada manusia. Kita pintal dalam bait-bait doa saja. Sombong namanya, jika kita terus bekerja lupa berdoa. Bohong namanya, jika kita asyik berdoa, malas usaha. Kita ubah tipe kita, dari pengeluh kesah pada manusia, menuju hamba yang yakin memunajat pada-Nya.

Kesembilan, kalau baca koran, sebagian kita berhalaman-halaman; tapi kalau baca Al-Qur’an, cukup satu halaman. Inipun kalau sempat. Kalau tidak, baca saja menjelang ajal di kepalanya.

Lewat perantaraan qalam (media pembelajaran), Allah selalu menyingkapkan jagat ilmu pengetahuan yang belum kita ketahui. Lewat instruksi iqra’ (membaca ayat-ayat tekstual dan simbolik yang kontekstual), Allah mewajibkan ummatnya untuk terus belajar, terutama lewat institusi pendidikan. Kita wajibkan diri ini pembaca setia Kalam Ilahi.

Saya tambahkan setelah tsunami, satu lagi yang kesepuluh. Yaitu kalau giliran teken bantuan, atau pemungutan suara, kita berdesak-desakan ke pekarangan masjid; tapi kalau menyahuti seruan azan, sebagian besar kita bermalas-malasan masuk masjid. Mungkin ke sana sepekan satu kali (Jumat), atau setahun dua kali (Idul Fitri dan Idul Adha). Begitu, renungan dari dinding masjid, sisa tsunami setahun lalu. Segera, menyongsong awal 1435 Hijriah atau jelang 2014 Masehi, kita perbaiki perangai, jika jelek selama ini.

*Direktur TPQ Plus Baiturrahman, Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Aceh (saksi tsunami, malam, pagi, siang Minggu 26 Desember 2004 di Lampulo Kuta Alam Banda Aceh, hilang anak sulung, adik kandung, ipar, sepupu, dan keluarga besar)

Peringatan #9thnTsunami di Linimassa

9thntsunami.Acara peringatan tsunami juga akan digelar disetiap daerah di Aceh, baik tingkat kabupaten/kota. Pihak Pemerintah Aceh juga telah menghimbau kepada seluruh masyarakat maupun kelompok-kelompok pengajian atau komunitas lainnya, siswa dan mahasiswa untuk dapat hadir agar dapat melakukan do’a bersama kepada para syuhada tsunami dengan memakai busana muslim muslimah warna putih.

Sementara itu juga dihimbau kepada para pedagang-pedagang besar dan kecil khususnya di sekitar kota Banda Aceh agar dapat menunda membuka toko sampai dengan pukul 11.00 wib.

Berikut Rundown #9thnTsunami yang dirilis Pemerintah Aceh

  • 07.00-12.00 WIB – Pameran foto
  • 07.00-08.00 WIB – Ziarah – Kuburan Massal Ulee Lheue
  • 07.00-08.00 WIB – Zikir dan Do’a Bersama
  • 08.00-08.10 WIB – Opening
  • 08.10-08.20 WIB – Pembacaan Ayat Suci Alquran
  • 08.20-08.25 WIB – Sari Tilawah
  • 08.25-08.30 WIB – Shalawat Badar
  • 08.30-08.40 WIB – Shalawat Tabina
  • 08.40-08.50 WIB – Sambutan Walikota Banda Aceh
  • 08.50-09.00 WIB – Sambutan dari Yayasan Kanaheiwa Jepang
  • 09.00-09.10 WIB – Sambutan Kepala BNPB Pusat
  • 09.10-09.25 WIB – Sambutan Gubernur Aceh
  • 09.25-09.40 WIB – Musikalisasi Puisi
  • 09.40-10.40 WIB – Tausiyah dan Doa
  • 10.40-10.50 WIB – Penutupan

Agenda #9thnTsunami di Linimassa @iloveaceh (26 Desember 2013)*

  • 00.00-24.00 WIB – Menulis Inspiratif di blog selama 1 x 24 jam**
  • 07.00-11.00 WIB – Livetweet Peringatan 9 Tahun Tsunami di Taman Safiatuddin
  • 07.00-18.00 WIB – Livetweet Peringatan 9 Tahun Tsunami di Museum Tsunami
  • 07.00-18.00 WIB – Livetweet Peringatan 9 Tahun Tsunami di Kuburan Massal
  • 10.00-18.00 WIB – Kopi Darat bersama @acehblogger ke tempat bersejarah**
  • 11.00-14.00 WIB – KulTweet tempat bersejarah (Tsunami Track and History)
  • 14.00-15.00 WIB – TweeTalk bersama korban tsunami “From Zero to Hero”
  • 16.00-17.00 WIB – TweeTalk bersama korban tsunami “Berbagi Inspirasi”

Catatan:

*) Waktu/pukul bisa berubah sewaktu-waktu disesuaikan dengan kondisi lapangan.
**) Komunitas @iloveaceh & @acehblogger menyediakan bingkisan kecil bagi yang beruntung. Informasi lebih lanjut sejumlah agenda bisa mention @iloveaceh dengan tagar resmi #9thnTsunami di linimassa

Rifda, Penyair Muda Asal Lhokseumawe dengan Segudang Prestasi

Rifdatus Sunniyah Alhida (Ist)Rifdatus Sunniyah Alhida, tercatat sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara stambuk 2012 ini, merupakan penyair muda yang mengawali prestasinya sejak usia sepuluh tahun.

Kecintaan terhadap sang bunda dan rasa ketidakmampuannya dalam mengungkapkan perasaan, membuat gadis berusia 18 tahun ini mencoba untuk menulis puisi yang ia persembahkan untuk sang ibu. Sehingga, kebanyakan dari karyanya bertemakan tentang ibu.

Rasa cintanya terhadap buku juga telah mambuat gadis berkulit putih ini terobsesi akan dunia tulisan khususnya dibidang puisi, semangat dan keuletan yang dimilikinya telah mengantarkannya menerima serangkaian prestasi. Beberapa prestasi yang pernah diraihnya pun cukup membanggakan, seperti juara 3 Lomba cipta puisi se-Kabupaten Bireuen (2012), 10 Finalis terbaik seleksi nasional menulis cerpen se-Kabupaten Bireuen (2012), dan juara 1 lomba baca puisi dalam acara Dakwah Expo ke-6 di Universitas Sumatera Utara (2013).

Walaupun telah meraih berbagai prestasi didunia puisi, semangat gadis yang akrab Rifda ini tidak pernah surut. Kecintaannya akan puisi dibuktikan dengan mengikuti sejumlah perlombaan yang mengharuskan, ia pergi keluar kota demi mendapatkan pengalaman yang lebih.

“Dimanapun dan kapanpun kompetisinya akan saya datangi saya tidak peduli berapa biaya yang akan saya keluarkan dan sejauh mana jalan yang akan saya tempuh,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sampai pada akhirnya, sikap pantang menyerah yang ia miliki telah mempertemukannya dengan seorang penulis buku terkenal asal Malaysia, Qayyum A. Badaruddin yang mengajaknya untuk bekerja sama dalam pembuatan buku antologi puisi.

Buku ini merupakan pembuktian diri Rifda dan menegaskan bahwa seorang yang masih muda bisa menggapai prestasi apabila ia selalu berusaha untuk menggapainya. Karena jika kita hanya berdiam diri kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya, seperti yang tersemat dalam motto hidupnya “berani tampil, kunci sukses”. Terus semangat Rifdha dan bisa #positifkanAceh dimana pun berada. (ed)

Biodata Diri

NamaNama Panggilan

Tempat / Tanggal Lahir

Alamat

Agama

Pekerjaan

Cita – cita

Hobi

E-mail

Nama Orang Tua

: Rifdatus Sunniyah Alhida: Rifda

: Lhokseumawa, 28 Juli 1995

: Gang Keluarga, Desa Uteun Geulinggang, Krueng Geukueh, Aceh Utara

: Islam

: Mahasiswa Ilmu Komunikasi USU

: Penulis

: Menulis dan baca novel

: rifdaalhida@yahoo.co.id

: Al Husaini Umar (Ayah) &  ZubaidahBasyirruddin (Ibu)


Prestasi Rifda

JUARAEVENT
Juara 3Lomba Mewarnai (2003)
Juara 3Pesantren Kilat TPA (2004)
Juara 1Cerdas Cermat SD Yapena Aceh (2004)
Juara 2Lomba Baca Puisi (2005)
Juara 3Lomba Hafalan Juz 30 se-SD Yapena Aceh (2005)
Juara 1Cerdas Cermat SD Yapena Aceh(2005)
Juara 3Lomba Pidato se-SD Yapena Aceh (2006)
Juara 2Pesantren Kilat SD Yapena Aceh (2006)
Juara 1Cerdas Cermat SD Yapena Aceh (2006)
Juara 1Santriwati Terbaik Pesantren Kilat SMP Yapena Aceh (2007)
Juara 2Cerdas Cermat SMP Yapena Aceh (2007
Juara 2Lomba Sinopsis SMP Yapena Aceh (2007)
Juara Harapan 1Lomba Baca Puisi se-Kota  Lhokseumawe/PORSENI (2007)
Juara 3Olimpiade Fisika se-Kota lhokseumawe  (2008)
Juara 1Pesanteren Kilat SMP Yapena Aceh (2009)
Juara 1Pesantren Kilat SMA Yapena Aceh (2010)
Juara 3Lomba Cipta P;uisi se-Kabupaten Bireuen (2012)
10 Finalis TerbaikSeleksi Nasional Menulis Cerpen se- Kabupaten Bireuen (2012)
Juara 2Lomba Karya Tulis Ilmiah SMA N 1 Bireuen  (2012)
Juara 3Lomba Kreasi Mading Pribadi SMA N 1 Bireuen  (2012)
Juara Harapan 1Lomba Baca Puisi se-Kabupaten Bireuen (MAPALA) (2012)
Juara 1 putriLomba Baca Puisi dalam rangka Dies Natalis USU ke-60 (2012).
Juara 1Lomba Baca Puisi dalam acara Dakwah Expo ke-  6, Universitas Sumatera Utara (2013)
Juara Harapan 2Lomba Baca Puisi dalam acara Piala Bergilir  Rektor Unsyiah 9 – 10 November 2013 se-Aceh.
Juara 2Lomba Baca Puisi dalam rangka Muharram Festival Fisip USU tanggal 18-19 November 2013