#BioskopuntukBNA Hadirkan Acara “Kotak Hitam Perdamaian Aceh”

Diskusi Bioskop untuk Banda Aceh / @bioskopbnaGerakan yang diinisiasi lewat tagar #BioskopuntukBNA setelah sempat menggelar diskusi lintas komunitas beberapa lalu, sebagai bagian dari gerakan kolektif dalam waktu dekat ini akan menggelar kegiatan yang bertemakan “Kotak Hitam Perdamaian Aceh”.

Salah satu koordinator acara, Ferzya kepada @iloveaceh, Kamis (31/7/2014) menyebutkan, kegiatan yang merupakan bagian dari #BioskopuntukBNA ini dalam rangka menyambut peringatan kesepakatan damai RI-GAM, 15 Agustus yang tertuang dalam MoU Helsinki.

“Untuk mengingat kembali momen tersebut, kami menginisiasikan kegiatan pemutaran film (bertemakan konflik – negosiasi – perdamaian) dan diikuti oleh kegiatan diskusi dengan tokoh-tokoh terkait,” sebut Zya.

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 14-16 Agustus ini akan digelar di Museum Tsunami Banda Aceh, dari koordinator juga telah menyiapkan sejumlah persiapan, termasuk dukungan bagi semua pihak yang ingin ikut membantu dalam mewujudkan acara tersebut lewat layanan fundraising kitabisa.co.id.

Menurut Zya, kegiatan ini juga bertujuan untuk membuka pikiran dan wawasan para pejabat setempat. “Kegiatan ini juga merupakan dari kampanye #BioskopuntukBNA. Mudah-mudahan para pejabat tinggi daerah mau membuka pikirannya agar bisa menerima kenyataan bahwa menonton film dapat memberi pendidikan,” ujarnya. (ed)

Populasi Ikan Keureling di Aceh Menurun Drastis

Ikan Keureling di Aceh / @TanzilMurdha:Salah satu spesies ikan lokal Aceh, keureling kini mulai langka dijumpai disejumlah perairan di Aceh. Salah satu rakan #ATwitLovers menyebutkan hal tersebut kepada @iloveaceh, Rabu (30/7/2014).

Menurut Tanzil Murdha, ikan keureling yang memiliki nilai ekonomis tinggi mulai banyak diburu oleh masyarakat yang keberadaannya pun sudah mulai langka ditemukan. “Ikan keureling memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga banyak diburu oleh masyarakat,” sebutnya.

Dalam kicauannya lewat tagar #SaveKeureling, Tanzil menyebutkan, ikan yang masuk dalam genus tor spp (bahasa latin) ini juga mulai terancam punah di salah satu perairan di Nagan Raya.

“Ikan keureling salah satu ikan lokal yang terancam punah saat ini,” sebut pemilik akun @TanzilMurdha ini.

Sementara itu, sebuah penelitian yang pernah dipaparkan oleh peneliti dari Universitas Syiah Kuala, Nur Fadli dan Muchlisin ZA di tahun 2012 lalu menyebutkan populasi ikan keureling di perairan Aceh sudah menurun drastis akibat penangkapan yang berlebihan dan kerusakan lingkungan.

The International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga menyebutkan, ikan keureling Aceh sudah tergolong pada tingkat terancam punah (threatened species), maka dari itu penangkapannya di alam perlu dikendalikan dan nelayan perlu diarahkan kepada usaha pembudidayakan.

“Untuk mendukung pengembangan usaha budidaya ikan keureling dimasa depan perlu dikembangkan teknologi pembenihan dan pembuatan pakan yang sesuai baik untuk larva maupun pembesaran,” sebut peneliti Unsyiah tersebut.

Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti Unsyiah ini bertujuan sebagai informasi awal terhadap beberapa aspek biologi dan ekologi ikan keureling yang nanti bisa difokuskan pada pengumpulan data awal terhadap informasi biologi reproduksi, kebiasaan makanan dan habitat ikan keureling yang terdapat di beberapa sungai di kawasan Aceh Barat dan Nagan Raya.

Pengembangan Ikan Keureling

Menurut para peneliti ini, selain fokus pada aspek biologi dan ekologi, penelitian yang membutuhkan waktu tiga tahun tersebut nantinya akan difokuskan pada kajian genetika serta dilanjutkan pada kegiatan domestifikasi calon induk, pematangan gonad dan pemijahannya.

“Hasil penelitian pada tahun pertama ini adalah sebagai berikut bahwa ikan sampel yang ditangkap selama penelitian belum ada yang matang kelamin, nisbah kelamin ikan jantan lebih berbanding ikan betina pada populasi sungai Nagan dan sungai Sikundo, sedangkan di sungai Geumpang ikan betina lebih dominan tertangkap,” jelas hasil penelitian yang diterbitkan tahun 2012 oleh  Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI).

Hasil dari analisis isi lambung keureling menunjukkan bahwa tersebut menyukai cacing dan lumut sebagai makanan utamanya, sehingga dapat dikatakan memiliki sifat makan omnivora, hal ini diperkuat oleh data panjang ususnya sedikit lebih panjang berbanding panjang badannya.

Sedangkan dari hasil analisis dengan metode truss network menunjukkan bahwa populasi ikan keureling di sungai Nagan memiliki kasamaan karakter lebih tinggi dengan populasi ikan keureling dari Geumpang, dan pola pertumbuhan ikan keureling cenderung allometrik negatif.

Lewat analisis faktor ini menunjukkan bahwa perairan sungai Nagao, sungai Sikondu dan sungai Geumpang masih sesuai untuk ikan keureling, dimana ketersediaan makan masih mencukupi dan keberadaan predator masih berimbang serta kualitas air juga menunjukkan taraf yang masih sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

Semoga saja keberadaan dan populasi dari ikan keureling ini bisa mendapatkan banyak perhatian dan dukungan dari masyarakat serta dinas terkait dalam upaya melestarikan habitat ikan lokal yang mulai terancam punah. (ed)

Craving Light, Tempat Santai Bernuansa ‘Vintage’

Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherararaHadir ditengah-tengah kegundahan teman-temannya soal tempat menyantap makanan ringan, yang sekaligus bisa di jadikan tempat nongkrong untuk bersantai, membuat Putri dan teman-temannya tertarik untuk menghadirkan konsep cafe bergaya vintage.

Penampilan retro dan klasik, menghiasi sejumlah ruangan di cafe bilangan Batoh, Banda Aceh ini. Mulanya Putri tidak kepikiran untuk membuat cafe dengan konsep vintage tersebut seperti yang dituturkan kepad @iloveaceh beberapa waktu lalu.

“Awalnya nggak kepikiran. Karena lihat kawan-kawan di sosial media pada ngeluh susahnya mencari tempat makan yang santai, nggak bising, bernuansa klasik, di Banda Aceh. Maka saya dan teman-teman timbul satu ide untuk membuat cafe dengan nuansa yang betul-betul membuat pengunjung betah. Maka lahirlah Craving Light ini,” ujar Putri, perempuan berparas ayu ini yang berani terjun menjadi pengusaha diusia muda.

Berangkat dari kegundahan teman-temannya yang curhat di sosial media itulah, membuat Putri untuk memberanikan diri dengan menghadirkan usaha kulinernya yang diberinama Craving Light.

Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherararaMenurut Putri, Craving Light memang beda dengan konsep cafe-cafe lainnya, disini ia menawarkan konsep kenyamanan dan tentu saja dengan sajian makanan yang menggugah lidah, ditambahkan lagi nuansa yang buat pengunjung betah berlama-lama.

Saat pertama sekali masuk ke cafe ini, Anda akan merasakan nuansa klasik dengan sejumlah pernak-pernik modern. Dinding-dinding cafe yang berbalut warna putih cerah, memberikan kesan nyaman, selain itu akan kita jumpai banyak hiasan seperti foto-foto dan karya seni lainnya terpajang disana. Soal pencahayaan, cafe ini cukup membuat Anda terasa rileks.

“Sengaja aja saya memilih warna cafe-nya putih. Soalnya kan warna putih masuk dengan suasana kepribadian orang-orang yang ingin mencari ketentraman. Pun warna putih itu kan warna netral,” kisah Putri tentang pemilihan warna untuk cafe ini.

Putri melanjutkan, ia dan teman-temanya yang juga pemilik Craving Light ini, memberanikan diri membuat nuansa cafe layaknya rumah sendiri bagi pengunjung. Sebab baginya, inilah salah satu faktor pendukung yang membuat pengunjung nyaman berlama-lama disini, dan pasti mereka tak akan bosan-bosannya untuk kembali lagi kesana.

Anak-anak muda yang sangat menggemari tempat nongkrong yang jauh dari keramaian, suara bising, sangat cocok sekali untuk mengunjungi cafe yang beralamat di jalan Tgk Muhammad Hasan Batoh, sembari meluangkan waktu sejenak untuk duduk santai bersama teman-teman sambil menikmati makanan yang disuguhkan.

Salah satu menu di cafe Craving Light / @cherararaSajian menu makanannya di Craving Light cukup beragam. Dari makanan bergaya Eropa semisal Smoothies, Cake, Bistik Ayam, Tiramisu cake, Banana Strawberry, dan masih banyak menu-menu andalan khas lainnnya. Namun bagi Anda penikmat makan khas tradisional Aceh jangan khawatir, di sini juga menyediakan berbagai macam aneka makanan yang populer di Aceh, mie Aceh salah satunya yang siap menggoyang lidah Anda.

Tentu, di samping makanan yang enak, harga juga menjadi patokan “mau tidaknya” pembeli untuk datang ke sebuah cafe. Untuk cafe Craving Light sendiri Anda tidak perlu khawatir soal harga. Sebab, harga makanan yang di tawarkan disini sangat bersahabat dengan isi kantong. Terlebih bagi Anda yang berstatus pelajar, dijamin sangat tidak mencekik dompet.

Selain itu, cafe yang aktif di akun Twitter @craving_light ini juga menyediakan beberapa fasilitas lain untuk semakin membuat pengunjung nyaman. Seperti fasilitas musholla untuk beribadah dan Water Closet (WC).

Mushalla di Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherarara

Bagi Anda yang suka bernarsis ria sendiri atau bersama teman-teman dan keluarga, tenang saja Craving Light menyediakan tempat khusus untuk photobooth. 

Yang lebih unik lagi, caffee ini juga menyediakan penjualan bunga-bunga segar yang sudah sedemikian cantik di rangkai. Seperti bunga mawar segar, yang bisa anda beri kepada orang spesial di hari-hari penting dalam kehidupan anda.

Dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1435 H yang sudah dekat di depan mata, Criving Light juga menyediakan beberapa macam jenis kue kering yang bisa Anda beli atau sebagai oleh-oleh buat sanak saudara setelah Anda, atau untuk Anda sendiri mungkin sebagai penambah koleksi kue di rumah saat Idul Fitri Nanti. (alf/che)

Agam Inong Banda Aceh Gelar Malam Amal Untuk Palestina

image (2)Ikatan Agam Inong (Duta Wisata) Banda Aceh bersama dengan Ikatan Mahasiswa Banda Aceh (IKAMBA) menyelenggarakan Malam Amal Dari Aceh Untuk Palestina pada, Selasa (22/7/2014) Malam.

Acara yang berlangsung di Vi Ai Pi Coffee ini di isi dengan beberapa rangkaian kegiatan antara lain pemutaran video, pembacaan puisi, musik akustik, dan seni tutur hikayat Aceh.

Di samping itu, juga ada penampilan dari teman-teman disabilitas yang juga ikut memeriahkan acara. para penyandang disabilitas tersebut menampilkan pembacaan puisi dan menyanyi.

Sebelum kegiatan Malam Amal ini, Agam Inong Banda Aceh juga sudah mengumpulkan donasi untuk Palestina dalam dua minggu belakangan. kegiatan yang mereka buat adalah, menjual gantungan kunci bertuliskan #SaveGaza kepada pengguna jalan di seputaran kota Banda Aceh dengan harga Rp 15.000.

Alhamdulillah, kami menerima total donasi Rp 7.349.650 dari berbagai donatur dan dari hasil penjualan gantungan kunci. Nantinya donasi ini akan kami sumbangkan untuk saudara kita di Palestina melalui lembaga yang telah terpercaya. Kita berharap sumbangan dari kita ini bisa sampai kesana,” sebut Ichwan, selaku ketua panitia.

Sementara itu, kegiatan ini juga di dukung oleh OZ Radio dan Komunitas @Iloveaceh. Juga ikut berpartisipasi pada malam amal ini beberapa komunitas seperti Economic Automotive Club dan Second Crown Automotive Club. (alf)

Cut Niken Siap Meriah Jakarta Melayu Festival 2014

Cut Nyak Niken akan tampil di Jakarta Melayu Festival 2014/ ILACrewPerhelatan Jakarta Melayu Festival (JMF) yang akan digelar 22 Agustus mendatang di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki hanya tinggal sebulan lagi, sejumlah seniman dan musisi melayu akan ikut meriahkan acara yang bertajuk  “Melayu Menyatukan Kita”.

Tidak ketinggalan, penyanyi asal Aceh yang baru-baru ini mengeluarkan single Hijrah, Cut Niken juga akan turut memeriahkan acara tahunan yang digelar oleh Gita Cinta Production ini.

“InsyaAllah jika tidak ada halangan, Niken akan tampil di Jakarta Melayu Festival dengan membawakan beberapa lagu lewat iringan musik melayu pastinya,” sebut Niken kepada @iloveaceh, Senin (21/7/2014).

Saat ditanya lagu apa yang akan dibawakan, Niken juga membeberkan 3 lagu andalannya yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. “Nanti akan Niken bawakan tiga lagu, Negeri Laskar Pelangi, Hijrah, dan Selasih ku Sayang yang akan duet juga dengan Mas Darmansyah,” ujar dara kelahiran Lhokseumawe ini.

Dalam JMF 2014 nanti, kata Niken, dia akan tampil dengan iringan musik orkestra dibawah arahan Anwar Fauzi. “Ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan, kebetulan ini kali pertama Niken ikut serta Jakarta Melayu Festival 2014 dengan iringan orkestra,” ceritanya.

Niken juga berharap lewat perhelatan JMF ini, ia bisa ikut serta dalam melestarikan dan mengenalkan lagu melayu dan tentunya persiapan pun harus matang.

“Musik melayu memang harus dilestarikan, apalagi Aceh juga punya musik-musik melayu, namun sayangnya kini mulai redup. Setidaknya lewat JMF ini sejumlah daerah lainnya juga bisa ikut bangkit mengangkat kembali musik melayu, bahwa lagu ini masih begitu bagus untuk didengar,” ungkap pelantun single Prang Sabi yang beberapa hari lalu meluncurkan video klip barunya.

Sementara soal persiapan untuk tampil, Niken pun sudah melakukan latihan bersama. “Beberapa minggu lalu kita sudah latihan pertama, nanti insyaAllah 14 Agustus akan ada latihan lagi di Gita Cinta Production,” sebutnya.

Selain Niken, JMF 2014 nanti juga akan menghadirkan banyak bintang tamu serta seniman nasional untuk memeriahkannya seperti Fadly vokalis dari band Padi, Amigos Band, Uma Tobing (Juara Indonesia Mencari Bakat), Novi Ayla (KDI), Duo Shahab, dan Rafly Kande dari Aceh. (ed)

SMA Negeri 4 Banda Aceh, Gelar Buka Puasa Bersama Alumni

IMG-20140720-02138SMA Negeri 4 Banda Aceh menggelar buka puasa bersama dan reuni alumni di sekolah tersebut, Minggu (20/7/2014).

Acara yang dihadiri dari angkatan SMPP (1976-1985), angkatan SMA 5 (1985-1998), hingga ratusan mantan siswa-siswi sekolah menengah atas itu yang pada tahun 1998 berganti nama menjadi SMA Negeri 4 Banda Aceh.

Acara buka puasa bersama dan reuni alumni SMA Negeri 4 Banda Aceh, yang mengambil tema “Saweu Sikula Meurumpok Syedara” ini di isi dengan hiburan pentas seni. Dalam acara buka puasa bersama ini para siswa-siswi juga melakukan penggalangan dana untuk Palestina.

Sementara itu kepala sekolah SMA Negeri 4 Banda Aceh, Drs. Syarifuddin Ibrahim dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada panitia dan seluruh undangan yang telah menyempatkan diri untuk hadir di acara tersebut.

“Saya sangat berterima kasih kepada alumni yang telah berhadir di sekolah yang kita cintai ini, Dan kepada siswa/i yang tergabung dalam kepanitiaan acara, yang telah susah payah menggelar agar terlaksananya acara ini. Semoga dengan acara buka puasa bersama ini kian terjalin hubungan silahturahmi sesama kita yang semakin kuat,” sebutnya.

Sekolah menengah atas yang terletak di jalan Lampineung ini, lebih populer di kalangan masyarakat Banda Aceh dengan sebutan SMA 4 DKI Jakarta. panggilan itu bersebabkan sejarah pada saat pasca gempa dan tsunami melanda Aceh, SMA ini mendapat bantuan langsung dari gubernur Jakarta, saat itu bapak Sutiyoso. (alf)