Rock Fever Competition, Siap Lahirkan Rocker Islami

backdrop miniSetelah lebih sepuluh tahun tidak terdengar, kompetisi musik rock kembali hadir di Aceh. Event bertajuk “Rock Fever Competition” ini akan di ikuti puluhan grup musik rock dari Aceh. Kegiatan ini digelar Jumat dan Sabtu, 5-6 September 2014 mendatang di Open Stage Taman Budaya, Banda Aceh.

Salah satu ketua panitia, Vira D Liesmana kepada @iloveaceh, Sabtu (23/8/2014) menyebutkan, kompetisi ini dilaksanakan untuk mengakomodir minat dan bakat generasi muda yang tertarik menggeluti musik rock.

“Sebanyak 40 grup rock sudah memastikan diri mengikuti festival ini. Kami masih membuka pendaftaran grup band rock yang ingin berpartisipasi di ajang ini hingga sampai 3 september 2014 mendatang. untuk pendaftaran bisa langsung menghubungi (Imam. cp; 085277122650). Kami hanya membatasi 60 grup yang ingin berkompetisi,” ujar Vira.

Kompetisi ini memperebutkan hadiah jutaan rupiah. Selain grup band, ajang ini juga memilih the best player seperti drummer, gitaris, bassis, dan keyboardis. Selain itu, penonton juga berpeluang membawa pulang doorprize dengan berbagai macam hadiah.

sementara itu, harga tiket untuk menyaksikan festival ini di bandrol dengan harga 10 ribu rupiah.

“Nantinya, penonton diberikan tiket berbentuk gelang yang akan dipakai selama kompetisi. Gelang ini hanya berlaku untuk satu hari,” sebutnya.

Menurut vira, kompetisi musik rock ini juga bertujuan untuk menjunjung tinggi pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kreativitas generasi muda ke arah positif yang bebas narkoba dan alkohol. Kami mengikis anggapan bahwa musik rock itu identik dengan narkoba dan alkohol. Di ajang ini diharapkan lahir rocker-rocker Islami,” tutupnya. (alf)

Nuansa Melayu dari Aceh hingga Makassar Meriahkan Theater Jakarta

Penampilan Niken dengan lagu Negeri Laskar Pelangi di JMF 2014 Apa yang terlintas dipikiran Anda saat membaca atau mendengar kata Melayu? Mungkin akan teringat dengan bahasa, pakaian, atau juga dengan keseniannya.

Bicara soal musik, Melayu tidak ketinggalan. Ditengah arus musik modern dengan beragam genre aliran yang mendominasi kalangan anak-anak muda di Indonesia, kemunculan Jakarta Melayu Festival (JMF) yang sudah berhasil digelar ketiga kalinya kembali membawa semangat baru ditengah-tengah pesta demokrasi Indonesia beberapa waktu lalu.

Tema dalam JMF tahun ini menarik sekali, lewat “Melayu Menyatukan Kita” membawakan sebuah pesan bahwa menjaga musik melayu bukan cuma tugas seniman atau penyanyi, hal ini yang terungkap dari apa yang disebutkan oleh pimpinan Gita Cinta Production, Geisz Chalifah, Jum’at (22/8/2014).

Geisz Chalifah dan Anwar Fauzi (I“Masyarakat kita harus kembali disadarkan untuk tetap menjaga dan melestarikan musik Melayu yang berkualitas. Karena musik Melayu inilah karakter Bangsa yang sebenarnya,” ujar Geisz dihadapan ratusan penonton di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Kentalnya Nuansa Melayu

Ada begitu banyak penampilan lagu-lagu khas Melayu di JMF 2014, lewat arahan music director Anwar Fauzi dengan sentuhan orkestra menambahkan ruh tersendiri dalam nuansa melayu salah satunya lewat tembang pembuka dari Nong Niken yang melantukan Negeri Laskar Pelangi.

Setelah tampil dengan soundtrack dari film Edensor yang berhasil menyita perhatian penonton, Niken juga berduet dengan penyanyi senior Darmansyah Ismail lewat lagu melayu lama yang membuat penonton ikut bernyanyi dengan judul Selasih.

Nong Niken / @ILACrewTembang Cintai Aku Karena Allah yang dibawakan oleh Novi Ayla diramu dengan alunan mendayu melayu menambah hangat suasana JMF malam itu yang banyak dihadiri oleh sejumlah tokoh-tokoh penting seperti  Anies Baswedan, Hariman Siregar, Bursah Zarnubi dan Nusron Wahid. 

Diikuti oleh pasangan Dou Shahab lewat petikan gitarnya ditambah dengan gesekan biola Hendri Lamiri berpadu dengan accordian dari Buthonk membuat irama melayu semakin menyatu. Ada juga Fadly (Padi) tampil dengan busanan khas dari Makassar merasa ikut bangga bisa tampil di perhelatan JMF.

“Saya orang melayu dan saya bangga dengan musik melayu. Itu adalah identitas kita,” ujar Fadli di atas pentas.

Fadly Padi di JMF 2014  / @ILACrewDengan lagu berbahasa Makassar berjudul Ati Raja, Fadly mampu memberikan suasana etnik dalam perpaduan Melayu. Belum lagi, disambung dengan penampilan Rafly Kande lewat lagu Aceh yang berjudul Saleum yang dipopulerkan oleh Grup Nyawoeng berhasil membuat penonton larut, ditambah dengan tembang Perahu karya dari Hamzah Fansuri menambah hangat suasana JMF.

Sementara Uma Tobing yang membawakan lagu Engkau Laksana Bulan, cukup apik dan serentak dengan irama orkestra berpadu dengan string dan rebana memberikan aksen tersendiri bagi sang juara IMB ini.

Sebagai penutup dari JMF 2014 yang jelang larut malam, tampil dengan formasi lengkap Amigos Band akhirnya membuat  penonton yang hadir malam itu tak tahan untuk ikut berjoget mengiringi lagu-lagu yang dimainkan, seperti Seroja, Rentak (Pak Ketipak Ketipung), hingga dengan tembang Pantun Jantan membuat band asal Medan tampil maksimal.

Sukses untuk JMF dan semoga bisa terus mengangkat musik Melayu dan menyatukan kita dari ujung Sumatera hingga Papua. (ed)

Festival Film German Cinema 2014 Hadir di Aceh

Festival Film German CinemaAceh yang berada paling ujung pulau Sumatera menjadi yang pertama kalinya untuk tahun ini dengan digelarnya pemutaran Festival Film German Cinema 2014.

Selain Aceh, Goethe-Institut selalu penyelenggara di Indonesia juga menggelar acara di delapan kota besar lainnya, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Denpasar, Palu dan Balikpapan.

Dalam rilisnya kepada @iloveaceh, Rabu (20/8/2014), pihak panitia dari Goethe-Institut di Indonesia akan membawa film-film terbaik berbahasa Jerman ke layar-layar besar untuk penonton di Indonesia yang akan tayang mulai 22 hingga 31 Agustus mendatang.

Yang menarik dari festival yang sudah memasuki tahun ketiga ini akan kedatangan tiga orang tamu kehormatan yaitu dua bintang perfilman dari Jerman, Nina Hoss dan Fritzi Haberlandt serta Noėl Dernesch, sutradara film dokumenter “Journey to Jah” yang yang telah mendapat banyak penghargaan di festival internasional.

“Program tahun ini terdiri dari 14 film yang telah diseleksi dengan cermat dan merupakan produksi-produksi baru yang sudah diakui kualitasnya di tingkat internasional,” sebut Katrin Sohns, Kepala Bagian Program Budaya, Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru.

Katrin berharap dengan adanya Festival Film German Cinema 2014, penonton Indonesia dapat mengapresiasi emosi-emosi kontras yang ditampilkan dalam film-film ini. Untuk program tahun ini, German Cinema bertujuan untuk menggambarkan lanskap perfilman Jerman saat ini selain tentunya berusaha untuk menginspirasi penonton Indonesia dan membangkitkan minat terhadap film-film Jerman.

“Kami yakin film Jerman masa kini memiliki begitu banyak perkembangan yang menggembirakan antara lain perspektif yang segar, sutradara-sutradara muda dan aktris serta aktor berbakat. Kami berharap semua film akan dapat diakses oleh khalayak luas dengan adanya teks terjemahan bahasa Inggris,” ujar Katrin.

German Cinema di Aceh

Sementara itu, pemutaran film-film terbaik Jerman di Aceh akan dilaksanakan pada Minggu, (24/8/2014) dengan menggandeng mitra lokal yaitu Komunitas Tikar Pandan dan Episentrum Ulee Kareng.

Ada tiga film cerita dari Jerman yang akan diputar di Aceh yaitu Kaddisch für einen Freund (pukul 14.00 WIB), Das merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat) (pukul 16.30 WIB), dan Was bleibt (Home for the Weekend) (pukul 20.00 WIB).

Putra Hidayatullah, dari Komunitas Tikar Pandan (KTP), mengatakan bahwa program Festival Film GERMAN CINEMA 2014, adalah momen penting untuk menonton film Jerman berkualitas dalam rentang waktu produksi yang relatif masih baru.

“Sejak tahun 2013 hingga sekarang, KTP dan Goethe-Institut juga telah bekerja sama melaksanakan pemutaran film Jerman tiap bulannya di Aceh,” tambah Putra.

Seluruh pemutaran film terbuka untuk umum dan gratis yang berlangsung di Episentrum Ulee Kareng: Jl. Tgk. Meunara VIII, No. 8. Garot. Aceh Besar (masuk melalui jalan depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Khusus bagi penonton di Aceh, bagi yang tertarik menonton untuk dapat mendaftarkan diri di formulir pendaftaran online di situs www.tikarpandan.org karena tempat terbatas.

“Bagi yang sudah mendaftar dan dikonfirmasi panitia, tiket nantinya dapat diambil sejak satu jam sebelum pemutaran. Tiket on the spot hanya disediakan dan dibuka jika masih tersedia kursi penonton. Semua film dalam terjemahan bahasa Inggris, kategori Dewasa (D,” sebut Putra.

Acara ini terlaksana berkat kerja sama Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Episentrum Ulee Kareng, dan mitra pendukung lokal yaitu Sekolah Menulis Dokarim, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, IloveAceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net

Untuk informasi program dapat menghubungi Putra (085262673007) dan melihat lini massa @pustakaTP. (ed)

@tashasetiawan, Kapten Perempuan Pencetus Lahirnya BIGREDS Aceh

1408386448618Berbicara tentang sepakbola, pasti hampir semua dari kita setuju jikalau olahraga ini sangat identik dengan sosok kaum adam. Tapi jika melihat kisah dibalik lahirnya komunitas fansclub Liverpool di tanah Aceh, nampaknya dua jempol patut kita acungkan untuk sosok yang satu ini.

Namanya Natasha Rahmany, perempuan berzodiak cancer inilah pencetus lahirnya BIGREDS Aceh yang tepat hari ini, Selasa (19/08/2014) yang sudah menginjak tahun ke-8. Usia yang bisa dibilang tidak muda lagi bagi sebuah komunitas.

Tasha panggilan akrabnya, sejak dulu memang sudah mendukung Liverpool. Teringat, dulu beliau pernah bercerita kepada saya kalau aktivitas kerja sekalipun tidak boleh mengganggu waktunya untuk menonton tiap pertandingan klub asal kota pelabuhan tersebut di televisi.

“Dulu awalnya aku iseng maksa ngajakin kawan-kawan kantorku untuk ikut temenin aku nonton Liverpool. Eh akhirnya mereka juga ngefans sama Liverpool,” ungkapnya dengan penuh gelak tawa.

Wanita kelahiran Banda Aceh, 10 Juli 1980 ini memang tidak akan sungkan untuk melepaskan tawa jika sudah duduk satu meja bersama teman-teman BIGREDS dengan pembahasan yang tidak jauh dari Liverpool Football Club. Sosoknya yang ramah ini membuat dirinya cepat sekali akrab dengan teman-teman BIGREDS lainnya.

Isengnya Tasha mengajak kawan-kawan kerjanya untuk ikut menonton Liverpool adalah cikal bakal lahirnya BIGREDS di ujung barat Indonesia. Mereka yang awalnya hanya menemani Tasha kemudian mulai ikut jatuh cinta kepada Liverpool. Dan seterusnya hampir tidak pernah melewatkan nonton bareng Liverpool.

“Tahun 2005 sudah mulai nonbar, dan setahun setelahnya pada tahun 2006 akhirnya resmi menjadi regional. Hal itu setelah mendapat saran dari presiden BIGREDS saat itu Andhika Suksmana,” jelasnya sambil mengingat kembali.

Dan saat ini, BIGREDS Aceh sudah berusia 8 tahun. Dimana sudah banyak member yang pergi dan datang di BIGREDS Aceh, tapi Tasha tetap tinggal untuk menyambut member-member lainnya datang memperkuat fondasi BIGREDS Aceh agar lebih kokoh kedepannya.

Tasha yang friendly dan tidak pernah pelit membagi pengalaman dan nasihat kepada anggota-anggota baru di BIGREDS Aceh mengingatkan saya kepada Steven Gerrard. Sosok kapten Liverpool yang dikenal karena loyalitas dan menjadi panutan di timnya. Captain! #YNWA. (Penulis: @antoniogayo)

Selamat HUT Komunitas Fansclub @BIGREDS_Aceh #8thBigredsAceh

The greatest Reds! Thanks udah ramein dan tertib. You're awesome!Komunitas fansclub pencinta Liverpool atau yang dikenal dengan sebutan BIGREDS Aceh hari ini, Selasa (19/08/2014) merayakan hari jadinya yang ke-8.

Hal ini terlihat di akun twitternya @BIGREDS_Aceh yang berkicau dengan tagar #8thBigredsAceh tepat di pukul 00.00 WIB. Kicauan dari akun resmi BIGREDS Aceh itu pun diikuti oleh kicauan beberapa anggota BIGREDS Aceh lainnya yang juga menyisipkan poster ulang tahun ke-8.

ILATeam yang memantau hal ini, langsung menghubungi koordinator wilayah (korwil) BIGREDS Aceh, Fadhlur Rahman via layanan pesan Blackberry Messenger.

Fadhlur Rahman yang akrab disapa Bedul ini sudah aktif nonbar (nonton bareng) di musim 2010/2011. Kecintaannya terhadap Liverpool dan keinginannya untuk menyaksikan Liverpool bertanding dengan nuansa yang berbeda akhirnya menggerakan Bedul bergabung ke BIGREDS Aceh.

“Selain agar bisa bertukar ideologi dan sharing tentang Liverpool, saya juga ingin bisa selalu heboh tiap kali nonton Liverpool. Gak kayak sebelumnya yang cuman nonton sendiri,” jelasnya saat diwawancarai ILATeam, Selasa (19/08/2014).

BIGREDS Aceh yang tidak lepas dari pasang surut sejak berdirinya di tahun 2006 meninggalkan harapan besar dibenak Bedul selaku korwil BIGREDS Aceh saat ini.

“Harapannya BIGREDS Aceh tetap konsisten pada paham bahwa kita hanya supporter club, namun juga sebuah keluarga yang juga peka terhadap sosial. Serta mengubah paradigma orang tentang fans sepakbola yang rusuh,” ungkap pemilik akun twitter @DoelBedul dengan penuh harapan.

Karena tak hanya sebatas nonton bola, BIGREDS Aceh juga rutin mengumpulkan OGOT (One Goal One Thousand). Dimana satu gol yang dilesakan Liverpool ke gawang lawan berarti bernilai Rp.1000 yang dikumpulkan di akhir pertandingan. Uang tersebut akan digunakan untuk kegiatan peduli sosial, seperti sebelumnya Peduli Bencana Gunung Sinabung dan Peduli Daffa bersama @iloveaceh. (ant)

Upacara Bawah Laut Pertama di Kawasan Titik Nol Indonesia

Upacara Bendera HUT RI Sabang / Foto @acehdivingApa rasanya jika upacara bendera sambut Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-69 tahun dilaksanakan di bawah laut? Penasaran tentunya bukan. Aceh Diving Championship (ADC) yang digelar di Sabang sejak 15 hingga 17 Agustus lalu ternyata berlangsung sukses dan untuk pertama kali melakukan pengibaran bendera bawah laut dengan formasi lengkap di kawasan perairan Gapang, Kota Sabang Propinsi Aceh.

Kegiatan upacara yang menggunakan 2 Kirby Morgan Bandmask (KMB) tersebut digunakan oleh Inspektur Upacara dan Komandan Upacara, sehingga bisa berkomunikasi 2 arah.

Ketua panitia pelaksana ADC, Octowandi menyebutkan, upacara bawah laut tersebut juga didokumentasikan lewat CCTV. “Upacara juga direkam melalui CCTV dari bawah laut, dengan harapan bisa di saksikan langsung oleh masyarakat dari atas KAL Simeulu milik TNI Angkatan Laut Sabang,” sebutnya, Minggu (17/8/2014).

Adapun yang bertindak sebagai Inspektur Upacara Danlantamal I Belawan Laksamana TNI Pulung Pambudi dan Komandan Upacara Danlanal Sabang Kolonel Laut (P) Imam Musani, SE.

“Sebanyak 200 peserta akan ikut dalam kegiatan upacara pengibaran bendera dibawah laut ini, dan lebih dari 100 orang diantaranya akan menjadi peserta dibawah laut, ini merupakan upacara lengkap selayaknya upacara pengibaran bendera yang dilakukan di lapangan di darat,” jelas Octowandi.

Sementara itu, opacara pengibaran bendera didalam laut mengambil posisi pada kedalaman 10-15 meter yang menghabiskan waktu selama 30 menit. Dari ratusan peserta yang ikut, juga berasal dari berbagai kota di Indonesia, diantaranya Pontianak, Bandung dan Medan, yang kesemuanya merupakan berasal dari berbagai elemen, yakni mahasiswa penghobi olahraga selam dan anggota TNI.

“Ini merupakan kegiatan upacara lengkap bawah laut pertama dilakukan di Indonesia, selain memperingati HUT Kemerdekaan ke-69 RI, sekaligus juga kita memperkenalkan potensi bawah laut yang dimiliki Pulau Sabang yang merupakan kawasan nol kilometer Indonesia,” ujar Octowandi.

Kejuaraan Selam

Selain itu, sebelum pelaksanaan upacara pengibaran bendera lengkap di bawah laut, ADC juga mengadakan kejuaraan diving yang diikuti oleh 152 peserta yang berasal dari dalam dan luar negeri. Katagori yang diperlombakan adalah katagori Fin Swimming untuk putra dan putri, Orientasi bawah laut (OBA) 5 Point putra dan putri, Bouyancy serta Under Water Clean Up.

Adapun nama-nama pemenang dari aneka lomba tersebut seperti untuk kategori Fin Swimming Putra, juara 1 diraih oleh Anwar (POSSI Sabang) 00.50’.35”, disusul M Habibie (Sabang) 00.50’.58” dan Syibran (BASARNAS) dengan waktu 00.52’.37”.

Sedangkan untuk kategori Fin Swimming Putri dimenangkan oleh Pooja Deviana (POSSI Aceh Utara) 01.02’.24” pada urutan pertama dan Isabelle (Bouet Swiss) 01.02’.37” pada urutan kedua serta Sri Mulyana (POSSI Aceh Timur) 01.06’.24”.

Pemenangn kategori OBA 5 Point Putra berhasil dimenangkan secara berturut-turut oleh Ermayudi DKI Jakarta, Wahyudi POSSI Sabang, Hidayat Iqbarullah POSSI Aceh Utara 4. Untuk kategori OBA 5 Point Putri, berhasil diraih oleh Jumiana POSSI Sabang, Dewi Hajriani POSSI Sabang, dan Nurul Najmi BASARNAS.

Sementara perlombaan kategori BOUYANCY, disabet oleh Ari Gunawan POSSI Sabang dengan waktu 00.56’.08”, Wahyudi POSSI Sabang 00.58’.45” pada urutan kedua dan Ermayudi DKI Jakarta dengan 01.17’.56”.

Tidak ketinggalan juga, kategori pemenang untuk perlombaan Under Water Clean Up diberikan kepada Ermayudi & Zuraimi DKI Jakarta & Arun LNG 97 sebagai juara 1, dan Taufiq & Aswa BASARNAS 40 sebagai juara 2 serta Riza & Binsar Sinaga BASARNAS 34  sebagai juara 3.

Menurut Octowandi, kejuaraan bawah laut yang telah sukses dilaksanakan ini, kedepannya akan digelar menjadi even tahunan. “Even kejuaraan dan upacara bawah laut ini akan dijadikan even tahunan, dan tahun depan direncanakan akan diadakan di kawasan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil,” tutup. (ed)