Aceh Siap Hadapi Global ASEAN Economic Community 2015

Program Studi Akuntansi Universitas Syiah Kuala dengan Himpunan Mahasiswa Akuntansi, dalam Pekan Ilmiah Akuntansi (PIA) XVII Oktober ini akan mengadakan “Seminar Nasional Menghadapi Tantangan Global ASEAN Economic Community 2015″ yang mengundang pemateri yang berkompeten serta berpengalaman dalam cakupan global.

Seminar nasional yang akan dilaksanakan pada hari Senin, (13/10/2014) ini yang bertempat di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.

Adapun sejumlah narasumber seminar akan dihadiri oleh mereka yang berkompeten dan berpengalaman dalam cakupan global, seperti Bambang Irawan (Senior Officer Finance Integration Division of ASEAN), Dasrul Chaniago (CFO General Electric), dan Dr. Islahuddin, M.Ec. (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala).

Kawasan ASEAN telah menjadi salah satu pusat perkembangan ekonomi dan politik yang paling pesat dan aman untuk investasi. Pada tahun 2015 mendatang, Negara-negara di Asia Tenggara akan menghadapi tantangan global ASEAN Economic Community (AEC), termasuk di Indonesia.

Seminar Nasional Pekan Ilmiah Akuntansi XVII

Pembentukan ASEAN Community tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota ASEAN sehingga mampu menghadapi persaingan pada lingkup regional dan global. Hal ini merupakan suatu kemajuan yang sangat signifikan sebagai respons terhadap care of human security yang mencakup keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan, keamanan individu, keamanan komunitas, dan keamanan politik.

Kaum muda yang produktif, memegang peran penting di AEC ini, agar tantangan global ini menjadi sebuah peluang besar bagi Indonesia untuk memajukan bidang ekonomi, mengingat Indonesia menyumbang 40% dari total penduduk ASEAN, letak geografis, serta luas wilayah tentu akan sangat menguntungkan apabila dimanfaatkan dengan baik. Namun apabila diabaikan, Indonesia dengan adanya AEC ini akan terus menerus menkonsumsi.

Biaya pendaftaran sebesar Rp 35.000,- untuk mahasiswa dan Rp 50.000,- untuk umum. Pendaftaran seminar dapat dilakukan dengan mengunjungi stand pendaftaran PIA XVII di Terminal Campus (TC) Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala pada hari kerja.

Acara ini bekerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia, KAP Rizal Yahya, Hadrah, DJ Gallery, Radio Three FM, LPM Perspektif, The Globe Journal, @ILoveAceh.

Untuk informasi dapat menghubungi Meri (085260603782), Yoly (082360000932) dan melihat linimasa @Himaka_USK atau di www.himakausk.blog.com, dan laman Facebook Himaka Unsyiah. (ed)

Sore Ini, Film “A Visit to Ali Farka Toure” Tayang di Episentrum UK

Pemutaran Film Tikar PandanKomunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI) dalam rangkaian seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan September ini akan memutarkan film “A Visit to Ali Farka Toure” yang akan digelar Rabu (24/9/2014), pukul 16.00 WIB di Episentrum Ulee Kareng.

Selain penayang film yang berjudul asli “Ali Farka Touré-Le miel n’est jamais bon dans une seule bouche” ini juga akan diisi dengan diskusi oleh pemateri.

“Pembicara diskusi adalah Moritza Thaher, pendiri dan Kepala Sekolah Musik Moritza,” sebut Komunitas Tikar Pandar dalam rilisnya.

Pemutaran film ini kategori remaja bebas karcis, tepatnya berada di Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Institut Français Indonesia, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Infoscreening.

Sinopsis

Film dokumenter ini mengikuti perjalanan penyanyi dan gitaris legendaris dari Afrika, Ali Farka Touré (yang meninggal pada 2006 silam) saat dia kembali ke rumahnya dan akar musiknya di Niafunké, Mali. Dia lahir dengan nama lahir Ali Ibrahim Touré. Ali pernah memenangkan Grammy Award dua kali. Ali melihat sosoknya sekarang sebagai petani dan pecinta keluarga, yang mencoba meningkatkan kondisi agrikultur dan sosial di Timbuktu.

Tempat ini sangat berkekurangan. Ali dikenal sebagai legenda terutama dalam menghubungkan musik blues Amerika dan musik gitar asli di Mali. Dia akhirnya memopulerkan aliran yang dikenal sebagai Blues Mali.Martin Scorsese, salah seorang sutradara film Amerika Serikat menyebut gaya musik Ali sebagai “DNA-nya musik blues”. (ed)

Informasi Ramol (085260034932)

Isak Tangis Jamaah Zikir Tumpah di Mapolda Aceh

IMG_20140921_00122327[1]Puluhan ribu jamaah larut dalam zikir akbar bersama Ustadz Arifin Ilham di halaman Mapolda Aceh, Minggu pagi (21/9/2014).

Jamaah yang hadir dari berbagai pelosok Aceh ini memadati halaman Polda dengan pakaian serba putih. Amatan iloveaceh.org dilokasi sejak Subuh jamaah sudah berhadir untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah serta dilanjutkan dengan zikir yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham.

Dipanggung yang berbalut warna putih tampak hadir Gubernur Aceh, Ketua DPRA, Kapolda, Pangdam, serta para tamu undangan dari berbagai instansi pemerintahan di Aceh dan turut serta dari kalangan ulama dari sejumlah dayah dan pesantren. Juga tampak hadir disana rektor dari kampus Unsyiah dan UIN-Arraniry.

Dalam tausiahnya Arifin Ilham menyampaikan betapa pentingnya setiap hari manusia sebagai ciptaan Allah swt melantunkan zikir kepada-Nya.

“Tidak ada perbuatan yang paling indah di dunia ini selain berzikir kepada Allah. Setiap hari saudaraku lakukan zikir, niscaya Allah akan melindungi saudara dari siksa neraka-Nya,” demikian Arifin Ilham menyampaikan tausyiahnya yang samar-samar terdengar sambutan isak tangis dari para jamaah.

Kemudian lanjut Arifin, “Saya senang melihat antusias rakyat Aceh melakukan zikir. Saya yang atas izin Allah swt beristrikan orang Aceh, benar-benar terharu melihat lautan manusia yang terpanggil hatinya mengikuti zikir ini,” sebut menantu dari salah satu Ulama Aceh, Abuya Jamaaluddin Al-Waliy.

Arifin Ilham berulang-ulang kali menekankan kepada seluruh jamaah agar tak bosan-bosan untuk terus melakukan zikir. Ia menekankan agar zikir menjadi “nafas” dalam aktifitas sehari-hari.

“Ajak seluruh sanak saudara, tetangga, teman, siapapun yang seiman dengan kita untuk terus berzikir kepada Allah. Agar bumi Aceh ini terus mendapat nikmat Allah yang berlimpah ruah,” katanya.

Lautan manusia yang memadati halaman Polda Aceh sejak jam 3 pagi tampak larut dalam lantunan zikir. Tak sedikit dari jamaah yang terisak-isak menangis mengikuti lantunan zikir dari ustadz kondang Jakarta ini.

Sementara itu Muhammad Rahmatul Qadhri, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Aceh yang mengikuti jalannya zikir mengatakan kegiatan ini menjadi tren yang positif. “Puluhan ribu orang berbondong-bondong datang mengikuti zikir, ini sebuah tren positif yang harus terus dilaksanakan. Saya pikir, kegiatan seperti ini perlu menjadi agenda tahunan dari pemerintah Aceh. Minimal dalam setahun ada empat atau tiga kali kegiatan ibadah zikir seperti ini digelar oleh pemerintah,” ungkapnya. (alf)

Panggung TARASA, Hadirkan Piasan Pidie Raya

Piasan Pidie Raya TARASA Banda AcehDi panggung utama taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh malam ini, Sabtu (13/9/2014) akan berlangsung berbagai atraksi seni dan budaya dari kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Pergelaran seni yang mengambil tema Piasan Pidie Raya ini juga akan dimeriahkan oleh artis Aceh Liza Aulia dan comedian kondang Aceh Apa Gense.

“Selain untuk mengfungsikan area TARASA sebagai perekat multikultur Aceh, yang lebih penting lagi menjadikan area taman Sultahanah Safiatuddin ini sebagai wadah ekspresi para seniman dan pelaku seni untuk berkarya. sehingga nantinya melahirkan karya terbaik dalam kazanah kebudayaan Aceh,” ucap Rasyidah, selaku Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh.

Rasyidah menambahkan, pergelaran kesenian ini menjadi kelender tetap yang terus mendapat dukungan dari pemerintah. Sehingga seluruh kabupaten kota di Aceh berkesempatan untuk tampil di area TARASA termasuk di kecamatan yang paling terpencil sekalipun. sebab perhelatan kesenian semacam ini tidak menutup kemungkinan akan terciptanya ruang ekonomi kreatif.

Sementara itu, Liza Aulia artis Aceh yang popular lewat lagu Kutidhieng, Adat, dan Keunebah Indatu-nya itu, di Piasan Pidie Raya siap menghibur masyarakat. Masyarakat Pidie dan Pidie Jaya yang berada di Banda Aceh, yang sangat rindu untuk menyaksikan pergeleran kesenian daerahnya, silahkan datang ke Taman Sultanah Safiatuddin. Juga kepada element-element masyarakat lainnya para penikmat seni budaya Aceh. (alf)

Lintas Komunitas di Aceh, Gelar Aksi Damai Peduli Gajah Sumatera

(foto by: @SumatraSOS)

Lintas komunitas di Aceh yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Sahabat Gajah menyerukan pemerintah dan masyarakat tidak hanya di Aceh, untuk bahu membahu menghentikan pembunuhan gajah sumatera.

Aksi damai di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Jumat, (12/9/2014) yang melibatkan puluhan anak-anak muda Aceh yang punya kepedulian terhadap lingkungan hidup dan satwa.

Terbunuhnya 3 ekor gajah sumatera secara brutal di kabupaten Aceh Jaya dan kabupaten Aceh Timur dalam kondisi kehilangan gading cukup membuat miris banyak kalangan. Selama 3 tahun terakhir Aceh telah kehilangan 30 ekor gajah yang sebagian besar mati karena di bunuh.

”Kami khawatir gajah-gajah sumatera di Aceh sudah menjadi target para pemburu gading, dan ini dibiarkan begitu saja terjadi. Ini jadi tanggung jawab dan kepedulian bersama, tetapi kami meminta kepada otoritas yang berwenang untuk mengambil tindakan tegas dan menghukum para pembunuh gajah di Aceh,” kata M. Syafri Al Hayat selaku koordinator aksi.

Kejadian ini sesungguhnya sangat kontradiktif dan cukup memalukan Indonesia di mata dunia, mengingat pemerintah Indonesia selalu mendengungkan pentingnya menjaga kelestarian kehidupan hutan. Menurut WWF, di Indonesia kini gajah Sumatera di alam liar jumlahnya sekitar 1724 individu.

Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan dan juga dukungan dari masyarakat Aceh bahwa sesungguhnya gajah sumatera adalah hewan yang mempunyai tempat di hati masyarakat Aceh. Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, gajah merupakan satwa kebanggaan dan di hormati. Kerajaan Aceh memiliki pasukan seribu gajah, Orang Aceh juga mempunyai nama penghormatan tersendiri untuk gajah yakni Po Meurah dan Teungku Rayeuk.

Sementara itu, lanjut Al Hayat dari Gerakan Indonesia Sahabat Gajah ini mendesak pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan berakhir dalam waktu dekat ini, mau memberi perhatian dan juga instruksi yang tegas terhadap kebrutalan yang terjadi di hutan Aceh. Para Sahabat Gajah Aceh juga berharap kedepannya pada pasangan presiden pengganti SBY, Jokowi dan Yusuf Kalla, juga mempunyai komitmen melindungi gajah dan satwa langka lainnya yang ada di hutan-hutan Indonesia yang tersisa. Termasuk mengusut tuntas atas pembunuhan gajah di hutan Aceh, serta menghukum para pelakunya.

Aksi lintas komunitas ini juga menyerukan kepada semua pihak untuk dapat hidup berdampingan dengan gajah. Gajah dan manusia adalah sahabat sejak dulu, itu sudah di buktikan bahwa orang Aceh sangat menghormati gajah dan bisa hidup berdampingan sampai kapapun.

“Hutan Aceh kini merupakan benteng terakhir pertahanan gajah sumatera. Ini petanda bahwa Allah SWT telah mengamanahkan pada orang Aceh untuk menjadi penjaga gajah sumatera,” tutupnya. (alf)