Perebutan 10 Tiket Menuju Grandfinal LBFT XXII

LBFT XXII di LhokseumaweLomba Berhitung Fakultas Teknik (LBFT) yang ke-22 telah memasuki pekan ke-7. Kegiatan yang menjadi wadah bagi anak-anak Aceh ini untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi dalam kecepatan dan ketepatan berhitung.

LBFT XII tahun ini yang mengangkat tema “Berpacu Dalam Prestasi, Mewujudkan Generasi Aceh yang Mandiri” ini sudah diselenggarakan di 12 kabupaten/kota se-Aceh yang dimulai sejak 17 Januari hingga Mei 2016 mendatang.

Sementara itu, LBFT XXII Regional Aceh Barat dan Lhoksumawe serta Aceh Utara yang digelar Minggu (28/2/2016) diikuti oleh ribuan peserta.

LBFT Regional Lhosumawe & Aceh Utara bertempatkan di Auditorium Politeknik Lhoksumawedengan total peserta 1400 orang. Sedangkan untuk Aceh Barat bertempatkan di Aula AKPER Suak Ribee dengan total peserta 852 orang.

“Antusisme dari pihak masyarakat terus meningkat setiap tahunnya dan sudah mulai terlihat bibit unggul generasi Aceh mendatang dari Lomba Berhitung Fakultas Teknik (LBFT),” ujar panitia regional Aceh Barat, Mohd. Iqbal Gumara.

Selain itu, panitia regional Lhoksumawe dan Aceh Utara menyatakan bahwa banyak masyarakat yang berharap dengan adanya kegiatan seperti ini akan menimbulkan semangat berprestasi bagi anak-anak sehingga dimasa depan mereka siap untuk bersaing dengan daerah bahkan bangsa yang lain.

Berdasarkan laporan yang telah diberikan oleh pihak panitia masing-masing regional, daftar pemenang dalam LBFT XXII Regional Aceh Barat dan Lhoksumawe & Aceh Timur adalah:

Regional Aceh Barat

  • SD/MI-A : Rauzatun Munawarah (MIN Peureumbeu)
  • SD/MI-B : Frisca Deva S (SDN 1 Percontohan)
  • SD/MI-C : Fandi Baretra (MIN Meureubo)
  • SMP/MTs : Wiranata Albertus (SMPN 3 Meulaboh)
  • SMA/MA : Aqil Fadhil (SMAN 4 Wirabangsa)
  • Umum: Wirananta Albertus (SMPN 3 Meulaboh)

Regional Lhoksumawe& Aceh Utara

  • SD/MI-A : Syauqi (SD Krueng Mane)
  • SD/MI-B : Miftahul Jannah Nst (SDN Arun)
  • SD/MI-C : Byandarari Shani Z (SDN Arun)
  • SMP/MTs : Siti Mawaddah (MTsS Yapena)
  • SMA/MA : Arief Maulana I (MAS Yapena)
  • Umum: Muhammad Iqbal Ikhsan (MAS Yapena)

Setelah pelaksanaan LBFT regional Aceh Barat dan Lhoksumawe & Aceh Utara telah selesai di pekan ke-7 LBFT Aceh 2016. Maka bersiap-siaplah untuk kedatangan kami di BenerMeriah dan Pidie Jaya, Minggu 6 Maret 2016. (ed)

Hari Ini dan Enam Tahun yang Lalu | #6thiloveaceh

Hari ini dan enam tahun yang lalu. Lahirnya I Love Aceh berawal dari melihat banyaknya jumlah pengguna Twitter yang semakin aktif di Aceh. Dengan berbagai macam latar belakang profesi serta frekuensi umur yang berbeda-beda, mulai dari pelajar, anak-anak muda sampai orang-orang tua.

Tepatnya tanggal 23 Februari 2010 (8 Rabiul Awwal 1431 H), I Love Aceh terbentuk dengan konsep yang sangat sederhana, mengawali update status tentang #Aceh, menyapa orang-orang Aceh lewat tweets dan pada akhirnya akun @iloveaceh digunakan sebagai akun publik, yakni bagian dari penyebaran informasi dari followers dan untuk followers atau lebih dikenal dengan #ATwitLovers (Aceh Twit Lovers).

Transformasi dari I Love Aceh terus berlanjut dan terus memantapkan satu visi, yakni menjadikan komunitas @iloveaceh sebagai bagian dari wadah informasi di Aceh pada khususnya dan masyarakat luar pada umumnya.23 Februari 2010 – 23 Februari 2016. #6thiloveaceh

***

Segenap keluarga besar ILATeam Management dan Pengelola Komunitas @iloveaceh mengucapkan banyak terima kasih atas peran rakan-rakan #ATwitLovers yang dari awal hingga saat ini masih terus memberikan sumbangsih dalam berbagi kebaikan, mengingat di saat kealpaan dan setia dalam setiap semangat perubahan.

From social media to social movement, semangat sejati yang hadir terus mewarnai dari Aceh ‘ban sigom donya’ untuk semua. (ed)

// Krue seumangat…
Sabah beuluah keu rakan ngon syedara
Seubab digata, geutanyoe lahee u donya
Awai dile keugura-gura, teuma jinoe ka meupat cara
ILA kana bak susial media, mari tajaga sama-sama. //

Hari ini dan enam tahun yang lalu_akustik

Aksi #BebasSampah2020 Berlangsung Lancar di Banda Aceh

Walikota Banda Aceh menandatangani Piagam Komitmen Kota Banda Aceh untuk IndonesiaMemperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016, ratusan peserta yang terdiri dari 52 komunitas melakukan aksi bersih lingkungan di sejumlah lokasi di Banda Aceh, Minggu (21/2/2016) pagi.

Dua titik konsentrasi pantai Alue Naga dan Darussalam menjadi bagian yang tidak luput dari masing-masing peserta yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB.

Sampah-sampah yang dikutip peserta berupa botol kaca, botol plastik, kaleng, puntung rokok, sterofom, tisu, kertas, dan kardus, 52 komunitas yang tergabung dalam Gerakan Banda Aceh Bersih bergerak ke Hutan Kota BNI Tibang melakukan deklarasi #BebasSampah2020 yang juga serentak dilakukan di seluruh Indonesia.

Dalam deklarasi tersebut, turut hadir Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal yang menandatangi Piagam Komitmen Kota Banda Aceh untuk Indonesia Bebas Sampah 2020 yang setelah itu dilanjutkan dengan orasi hemat plastik di Suzuya Mall, Setui.

Dari dua lokasi yang menjadi konsentrasi aksi bersih lingkungan tersebut, puluhan komunitas berhasil mengumpulkan sekitar 699 kilogram. (ed)

Surat Terbuka untuk Kapolda Aceh dari rakan @Ardika_LH

Salah satu rakan dari #ATwitLovers per tanggal 18 Februari mengirim surel ke @iloveaceh terkait #suarawarga yang dirasakan saat melintas jalan nasional Langsa menuju Medan dalam kesehariannya sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Medan.

Pemilik akun @Ardika_LH mengeluh soal pungutan liar yang dilakukan oleh oknum Satuan Lalu Lintas di Polres Aceh Tamiang. Berikut surat terbuka tersebut kami sajikan tanpa ada penyuntingan:

Kepada Yth Kapolda Aceh
Di tempat

Bapak Kapolda yang terhormat, saya adalah warga Kota Langsa yang saat ini sedang menempuh studi di salah satu perguruan tinggi swasta di kota medan. Dalam keseharian saya sebagai mahasiswa, saya sering berpergian dari Medan menuju Langsa atau sebaliknya dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Sebagai warga Aceh dan juga sebagai pengendara saya ingin menginformasikan tentang adanya pungutan liar yang dilakukan oknum anggota satuan lalu lintas Polres Tamiang dengan dalih biaya pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG bagi pengendara kendaraan bermotor yang melintas di wilayah hukum Polda Aceh.

KRONOLOGIS KEJADIAN

Senin, 15 Februari 2016 sekira pukul 11.30 WIB saya mengendarai kendaraan merk Avanza dengan nomer polisi BK 1455 QF dari Langsa menuju Medan melintas di depan kantor Satuan Lalu lintas Polres Aceh Tamiang yang sedang melaksanakan razia. Saat tengah melintas saya diberhentikan oleh seorang petugas yg tidak saya ketahui nama dan pangkat karena petugas tersebut menggunakan rompi sehingga menutupi nama dan pangkatnya. Petugas tersebut menanyakan kelengkapan surat-surat berupa SIM dan STNK, karena merasa surat-surat kendaraan yang saya gunakan lengkap maka saya berikan saja SIM berikut STNK dari kendaraan. Kemudian petugas tersebut bertanya tentang alamat dan saya langsung jawab Langsa. Petugas tersebut langsung mengatakan “ayo pak masuk dulu ke kantor untuk pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG.” Karena ketidaktahuan saya mengenai maksud dan fungsi surat tersebut saya menjawab “oke pak silahkan”.

Saya mematikan mesin kendaraan dan mengikuti petugas yang memberhentikan saya. Saya diarahkan untuk memasuki kantor Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Tamiang. Saya memasuki ruangan yang tidak ketahui pasti ruangan apa namun sebelum masuk keruangan tersebut saya sempat melihat di ruangan sebelah tertulis KANIT LAKA. Diruangan yg saya masuki ada dua orang polisi, seorang berpakaian polisi dengan nama SYAHRIAL dan berpangkat bripka sedang mengetik dikomputer. Sedangkan seorang lagi menggunakan celana polisi dengan menggunakan kaus. Diluar ruangan ada beberapa orangan yang belakangan saya ketahui adalah pengemudi truk gandeng yang bernasib sama dengan saya namun mereka lebih dahulu diberhentiakan sebelum saya. Saya sempat melihat petugas Bripka Syahrial sedang memberikan sebuah SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG dan mengatakan “lima puluh ribu” si pengemudi truk kemudian mengeluarkan uang dan setelah ia hitung jumlah uangnya hanya Rp 48.000 terdiri dari empat embar uang pecahan Rp 10.000 dan empat lembar uang pecahan Rp 2.000 “kurang dua ribu boleh pak” kata si pengemudi truk gandeng “Ya udahlah gak apa” jawab Bripka Syahrial.
Setelah si pengemudi truk gandeng keluar dan Bripka Syahrial pun keluar karena di panggil seseorang untuk mengurus siswa SEBA. Petugas berkaus kemudian menggantikan dan mengetik di komputer yang sebelumnya digunakan Bripka Syahrial. Surat saya selesai dan Bripka Syahrial masuk kembali ke ruangan dan mengatakan “lima puluh ribu”. Karena merasa heran saya sempat bertanya tentang uang tersebut dan dijawab Bripka Syahrial “kalo mau tau tanya aja sama kasat (lantas)”
Saya menunggu yg dimaksud kasat (lantas) tersebut sekitar 15 menit namun yg bersangkutan tidak kunjung terlihat. Kemudian saya keluar dan sempat bertanya kepada beberapa polisi yang sedang berada dihalaman kantor Satuan Lalu Lintas tentang biaya itu dan saya mendapatkan jawaban bahwa untuk negosiasi silahkan langsung kepada petugas yang membuat surat. Setelah kembali keruangan itu saya sempat beradu argumen dengan Bripka Syahrial tentang biaya tersebut namun petugas bernama Bripka Syahrial tersebut tetap menyuruh saya menunggu kasat (lantas) atau kanit.

Karena lelah berdebat dengan Bripka Syahrial saya pun menyerahkan kunci kendaraan yang saya gunakan kepada petugas tersebut dan keluar dari kantor Satuan Lalu Lintas menuju warung yg berjarak sekitar lima puluh meter dari kantor.

Saya sempat berbicara dengan pemilik warung sembari menunggu teman yang saya hubungi untuk meminjam uang karena saya bersikeras tidak mau memberi uang kepada oknum tersebut. Belakangan saya ketahui bahwa pemilik warung tersebut adalah mantan anggota salah satu LSM dan anak dari pensiunan polisi. Dari pembicaraan tersebut saya dapat simpulkan bahwa kegiatan pungli berkedok biaya pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG tersebut telah berlangsung beberapa bulan. Teman saya sampai bersama istrinya dan saya kemudian masuk kedalam halaman kantor dan kami bertiga menemui Bripka Syahrial dan istri teman saya menyarankan saya mengalah karena dia beranggapan kita tidak akan menang bila berurusan dengan polisi. Istri teman saya itu menyerahkan uang kepada Bripka syahrial senilai Rp 50.000.

Hal yang sangat saya sesalkan adalah adanya pungli yang merusak citra Polri khususnya Polda Aceh oleh oknum yg bertugas di Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Tamiang. Dalam hal ini adalah Bripka Syahrial yg menurut pengakuanya melalui pesan (bukti SMS terlampir) singkat setelah saya infokan bahwa atas kejadian pungli ini saya akan membuat surat terbuka kepada Bapak Irjen pol Husein Hamidi selaku Kapolda Aceh. Saya mendapat balasan bahwa intinya kutipan tersebut berdasarkan perintah Kasat Lantas. Ditambah lagi tempat kejadian pungli berada di dalam kantor Satuan Lalu Lintas dan saat kejadian banyak siswa SEBA yang magang di satuan Lalu Lintas. Apakah kejadian ini tidak berdampak buruk nantinya bagi siswa SEBA yang mungkin saja aka meniru cara seniornya melakukan pungli. Mungkin bagi sebagian orang uang senilai Rp 50.000 tersebut bukanlah nilai yang besar namun bagi saya yang sedang menempuh studi diluar kota dan bagi para pengemudi yang mencari nafkah dari jalanan Aceh atau pedagang keliling uang senilai itu sangat berarti. Saya pribadi tidak merasa keberatan dengan UU No.2 Tahun 2002, UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 71 tentang Pemilik Kendaraan Bermotor wajib melaporkan kepada Kepolisian Negara Republik Indonsia dan Surat Telegram Kapolda Aceh Nomor ST / 469 / VI / 2015 tanggal 08 juni 2015 tentang pendataan terhadap kendaraan non BL yg beroperasi di wilayah Aceh. Saya sangat mendukung telegram bapak diatas guna pendataan dan pencegahan tindak kriminal bermotor di wilayah hukum Polda Aceh namun biaya yang katanya untuk pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG oleh sekelintir oknum tersebut sangat memberatkan kami sebagai pengguna jalan. Besar harapan saya bapak dapat mempertimbangkan surat terbuka saya ini sebagai bagian dari bahan evaluasi terhadap kinerja sekelompok oknum petugas Satlantas Polres Aceh tamiang yang terlibat kegiatan pungli ini. Berikut saya lampirkan selembar SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG bernomor SK / 6723 / II / 2016 / Lantas. Salam hormat

Besar harapan, semoga surat terbuka ini menjadi informasi yang berguna bagi jajaran Polda Aceh dan tentunya ada jalan keluar terbaik. (ed)

Surat Terbuka Kepada Kapolda Aceh

Besok, Puluhan Komunitas di Aceh Gelar Aksi #BebasSampah2020

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016 yang jatuh pada tanggal 21 Februari, sekitar 51 komunitas yang tergabung dalam “Gerakan Banda Aceh Bersih” akan menggelar aksi sosial lingkungan dibeberapa lokasi di Banda Aceh, Minggu (21/2/2016).

Kolaborator HPSN 2016 Aceh, Fauca K. Ramadhan menyebutkan, lokasi kegiatan HPSN 2016 akan dipusatkan dibeberapa tempat, seperti di Pantai Alue Naga, kawasan Peunayong, sekitaran Pantai Ulee Lheue serta komplek pelajar dan mahasiswa (Kopelma) Darussalam.

“Lokasi kegiatan yang telah dibagi ini, nantinya sejumlah komunitas yang tergabung akan dikoordinir oleh beberapa kolaborator kegiatan,” jelasnya.

Kegiatan aksi ini, tambah Fauca akan fokuskan pada aksi pengutipan sampah anorganik nantinya akan dipilah menjadi 2 bagian jenis sampah.

“Pengutipan sampah anorganik dikarenakan sampah tersebut sukar terurai di alam dan sangat mempengaruhi ekostem lingkungan. Nantinya setelah kegiatan aksi mengumpulkan sampah, beberapa kolaborator akan mengarahkan ke satu titik pertemuan di Hutan Kota Tibang. Di sana seluruh komunitas yang telah beraksi akan melanjutkan kegiatan sharing diskusi mengenai sampah,” sebutnya.

Hasil diskusi dan sharing dari puluhan komunitas ini nantinya, menurut Fauca direkomendasikan sebagai langkah-langkah solutif mengenai isu sampah dari masyarakat yang dalam hal ini diwakilkan oleh suara-suara seluruh komunitas di Banda Aceh.

Kegiatan HPSN 2016 yang serentak digelar di 155 kota/kabupaten di Indonesia juga didukung dan diikuti oleh Pemerintah Kota Banda Aceh beserta jajarannya.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mendukung penuh kegiatan aksi serentak komunitas Peduli Sampah yang dilakukan di Banda Aceh lewat tagar kampanye #BebasSampah2020 di media sosial.

Dalam pertemuan dengan perwakilan komunitas, Illiza juga menghimbau kepada seluruh kalangan masyarakat agar dapat mengurangi penggunaan tas kantong belanja yang berbahan plastik dalam kehidupan sehari-hari melalui program pemerintah “Belanja Cantik Tanpa Plastik”.

“Pemkot Banda Aceh membuat kebijakan dengan menerapkan setiap pembelian/belanja kantong plastik akan dikenakan biaya Rp.500,- dan akan di launching bertepatan di Hari Peduli Sampah Nasional 2016, 21 Februari 2016 yang nantinya lauching di Hutan Kota Tibang bersama sejumlah komunitas serta di pusat perbelanjaan Suzuya Mall,” sebut Illiza. (ed)

Gerakan Banda Aceh Bersih

Earth Hour Aceh Gelar Workshop “Social Media for Social Good!”

Earth Hour Aceh bersama dengan Greeneration Faoundation akan menggelar workshop “Social Media for Social Good!” mulai 13-14 Februari di Auditorium Politeknik Aceh, Banda Aceh.

Kegiatan tersebut, menurut panitia acara Dedy Jalil untuk meningkatkan ecopreneur ditengah kalangan masyarakat, sehingga mampu memberikan informasi dan cara bagi masyarakat untuk dapat menjadi wirausaha pengusaha sosial, baik lewat kampanyen sosial dan lainnya.

“Kami juga akan mengundang komunitas media sosial lokal (@iloveaceh) yang memiliki ribuan jumlah pengikut di twitter untuk berbagi tentang bagaimana media sosial dapat memainkan peran dalam mengangkat nilai-nilai lokal, serta pihak Change.org salah satu situs petisi yang popular dikalangan netizen,” sebut Dedy.

Dedy menyebutkan, adapun target dalam kegiatan ini mulai dari usia 16 hingga 25 tahun seperti kalangan mahasiswa, siswa dan guru, media, dan juga pemerintah daerah.

“Workshop akan kita gelar selama 2 hari. Hari pertama diisi dengan digital dan hands on – training dan pada hari kedua akan terlibat langsung dengan LSM lokal untuk workshop lingkungan,” tutupnya. (ed)

Earth Hour Aceh Gelar Workshop “Social Media for Social Good!”