Berbagi Lewat Pengabdian, Menginspirasi Lewat Hasil Karya

Sirup Jamblang_ISTTim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat yang terdiri 4 mahasiswa dari Prodi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Syiah Kuala menggelar kegiatan pengabdian di Gampong Baroe, Aceh Besar yang disambut antusias warga setempat, Kamis (28/4/2016) siang.

Kegiatan pengabdian dari tim yang diketuai Maulidiya Izzati ini mendapatkan dana hibah dari DIKTI melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat, dimana mereka mengenalkan cara pembuatan produk sirup dengan memanfaatkan limbah air kelapa kepada ibu-ibu di Gampong Baroe.

“Kegiatan kita kali ini disambut baik dan hangat oleh Hj. Abd Rani Daud selaku Kepala Desa setempat khusunya ibu-ibu di Gampong Baroe,” sebut Maulidiya.

Gampoeng Baroe adalah sebuah kampung di kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Tsunami 11 tahun lalu yang melanda Aceh tidak hanya merenggut nyawa dan harta, juga kampung. Kampung ini hanya terdiri dari 55 Kepala Keluarga, dimana hanya ada 78 wanita dan 107 laki-laki.

“Sambil menunggu buah jamblang yang sebentar lagi akan berbuah melimpah, kami memberikan pengetahuan awal bagaimana cara mengolah bahan pangan yang hanya bernilai rendah, menjadi produk yang bernilai ekonomi yang baik seperti dengan memanfaatkan limbah air kelapa yang diolah menjadi sirup kelapa,” ungkap Maulidiya.

Khasnya desa ini, sambung Maulidiya memiliki luas wilayah yang kecil sehingga menjadikan desa ini unik untuk dikembangkan. Selain dengan mengolah bahan pangan menjadi produk-produk yang layak untuk dipasarkan seperti mengolah buah jamblang menjadi sirup.

Foto dari Kiri ke Kanan : Bambang Aji Nagan, Weny, Maulidiya Izzati, Muhammad Faiz

“Saat ini kami juga berkeinginan membangun wisata berbasis pertanian (EduPark) di kampung ini, dikarenakan ada hal menarik yang patut untuk dieksplor. Selain itu, kami juga membutuhkan orang yang mampu dibidang landscape agar dapat membantu kami memajukan desa ini, jika ada yang berminat bergabung di tim kami di email diyaaizzati19@gmail.com,” sambungnya.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, tim PKM yang beranggotakan Yeni Chandra Dewi, Rizki Febriani, Bambang Aji Nagan, dan Muhammad Haris pernah sukses mengenalkan Sirup Jamblang pada Pekan Ilmiah Nasional yang di adakan di Kendari tahun 2015 (baca Sirup Jamblang Siap Dikenalkan di Pekan Ilmiah Nasional).

“Kegiatan ini sangat bagus dan membangun, karena kami sebelumnya tidak pernah ada dibuat kegiatan seperti ini. Dengan adanya kegiatan ini dapat menambah wawasan kami dan harapannya kegiatan ini dapat berlanjut hingga menjadi usaha yang dapat membantu perekonomian masyarakat,” sebut Darmawati, salah satu masyarakat Gampong Baroe.

Tim PKM dibawah dibimbingan Novi Safriani S.TP, M.Sc ini berharap dapat memberikan energi positif kepada masyarakat Gampong Baroe sehingga dapat meningkatkan taraf hidup serta menjadikan potensi gampong lebih baik lagi dari segi perekonomian serta dapat diperkenalkan kembali di ajang nasional PIMNAS 29 yang diadakan di IPB Bogor Agustus mendatang.

Sementara itu, hal menarik dari Gampong Baroe tersebut terdapat sejarah awal mulanya Jepang datang ke Indonesia pertama sekali yang mendarat disana dengan bukti sejarah dengan didirikannya Tugu Jepang yang saat ini berdiri kokoh di kampung tersebut. (ed)

Berbagi Lewat Pengabdian, menginspirasi lewat hasil karya

Komunitas @AyoDongeng_Ind Isi Story Telling Workshop di Banda Aceh

Story Telling Workshop Dongeng di Banda Aceh_2Kegiatan perdana Story Telling Workshop bersama Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (ADI) Jakarta berlangsung seru, Jum’at (22/4/2016) sore di A Cafe Jeulingke, Banda Aceh.

Dalam workshop yang diisi langsung oleh founder ADI, Mochammad Ariyo Faridh Zidni atau lebih akrap disapa Kak Aio dari Jakarta ini diikuti oleh belasan peserta.

“Kedatangan Kak Aio ke Aceh kali ini memang tujuan pertama ke Kota Lhokseumawe untuk memberikan materi seputar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi murid-murid SD Arun,” jelas Irwanti dari ILATeam Management.

Berhubung Kak Aio berada di Aceh, Komunitas @iloveaceh akhirnya berkolaborasi dengan ADI untuk hadir ke Banda Aceh mengisi workshop seputar dongeng.

Pada kesempatan tersebut, Kak Aio banyak bercerita soal bagaimana menyampaikan pesan-pesan dalam berdongeng, tidak membosankan dan pastinya seru.

“Tema workshop ini memang sengaja kita angkat soal “Dongeng Baik yang Seru dan Mudah” untuk berbagi banyak hal bagi teman-teman di Aceh,” sebut Ariyo.

Tak lupa ucapan terima kasih kami kepada Ayo Dongeng Indonesia yang telah bersedia hadir ke Banda Aceh untuk berbagi banyak hal seru seputar dongeng, pendukung acara mulai dari A Cafe Jeulingke, GoPrint, Mister Piyoh, Cilet Coklat dan juga Ija Kroeng. (ed)

Yuk, Nobar Tausyiah Cinta di Lhokseumawe

Salah satu film box office Indonesia, Tausyiah Cinta akan ditayangkan Sabtu dan Minggu (16-17/4/2016) di Aula RM Ayam Penyet Pak Ulis, Kota Lhokseumawe.

Pemutaran Film Tausyiah Cinta yang dimotori oleh Aceh Guides Event Organizer ini didasari oleh kurangnya wadah dakwah melalui media digital yang lebih kreatif terhadap kawula muda di Kota Lhokseumawe.

Kegiatan yang bertajuk “Event Nonton Bareng Film Tausyiah Cinta” ini mendapatkan dukungan dari beberapa pihak terkait yang didaulat menjadi pihak sponsor.

“Ticket Counter dibuka pada tiga titik, yaitu RM Kana Dapu Kupi, RM Ayam penyet Pak Ulis dan Sekretariat UKM Fordima Politeknik Negeri Lhokseumawe,” jelas Sheila Mutia selaku penyelenggara acara.

Sinopsi Film Tausyiah Cinta

Film Tausyiah Cinta merupakan sebuah film religi yang disutradarai oleh Humar Hadi melalui proses produksi BedaSinema Pictures. Film ini bercerita tentang Sebuah Kebencian Lefan (Rendy Herpy) pada ayahnya menguak sebuah perjalanan batinnya yang kering. Jiwanya kosong. Dia harus kehilangan ibu yang terdzolimi oleh ayahnya sendiri. Dia berjuang membuktikan pada ayahnya bagaimana caranya memuliakan perempuan. Lefan mengalami katarsis (berkali-kali merasakan pergulatan batin), layaknya seorang yang kehausan di padang pasir.

Dia tahu bahwa ia haus, tetapi terus menemui jalan buntu untuk mencari jalan yang lebih baik. Sampai akhirnya dia bertemu seorang pemuda bernama Azka (Hamas Syahid Izzuddin), sosok arsitek sholeh, tampan, dan hafidz Qur’an. Diamnya menyejukkan. Azka adalah sosok yang nyaris sempurna. Lefan menemukan kharisma dan apa yang tidak dia dapatkan dari sosok ayahnya. Lefan kenal dengan Azka dalam satu project.

Persahabatan pun dimulai. Lefan dan Azka sama-sama dibesarkan dalam keluarga islam yang taat namun Lefan sungguh berbanding terbalik dengan Azka. Lefan terus mencari jawaban pergulatan-pergulatan batin yang dialaminya kepada Azka. Pertanyaan-pertanyaan kritis dari Lefan terus menyerang Azka satu demi satu. Tidak hanya menjadi arsitek pembangun gedung, Azka terus belajar menjadi arsitek pembangun iman untuk dirinya dan lingkungannya.

Project di kantor mempertemukan dua pemuda tampan ini dengan Rein (Ressa Rere), gadis cantik yang juga hafal qur’an, senang memanah dan lincah membuat gambar siluet. Rein bekerja freelance di perusahaan iklan. Waktu berjalan efektif, persahabatan Azka dan Lefan makin sinergis. Sesuatu hal terjadi. Lefan merasakan konflik batin, dia kehilangan. Lefan mendapatkan sesuatu pada diri Rein yang tidak ada pada diri almarhumah kakaknya, Elfa (Hidayatur Rahmi).

Ternyata, ada sosok sholehah yang membuat hati Lefan merasakan sesuatu yang menyentuh. Ada sebuah keputusan yang tidak wajar yang membuat Lefan makin terpukul. Keputusan apakah itu?? Lefan meneteskan air mata. Puisi Tausiyah Cinta yang ditulisnya sebagai bukti proses ikhtiar pencarian untuk dekat kepadanya.

Mau tahu keseruan dan kisah film ini, jangan lupa pesan segara tiketnya ya. (ed)

Yuk, Nobar Tausyiah Cinta di Lhokseumawe

Sabang Marine Blogging Competition 2016

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menyambut positif even Sabang Marine Festival (SMF) 2016 pada 26-30 April mendatang di Sabang. Serangkaian acara digelar untuk memeriahkan kegiatan tersebut, salah satunya Sabang Marine Blogging Competition 2016.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi melalui Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani menyebutkan, SMF tahun ini dijadikan sebagai agenda mempromosikan Sabang sebagai salah satu destinasi wisata yang memiliki pesona bahari.

“Dalam rangka mendorong arus wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, pariwisata sektor bahari tentunya harus terus diupayakan di daerah wisata Sabang agar menjadi daya tarik tersendiri, mulai dari kegiatan wisata yacht, dive, snorkeling, dan lainnya. Dan salah satunya cara menarik minat (wisatawan) lewat lomba blog,” jelasnya, Senin (11/4/2016).

Lomba blog bertemakan “Pesona Wisata Bahari Sabang” itu berlangsung selama 4-22 April 2016 yang terbuka untuk seluruh warga Indonesia, didukung oleh Kementerian Pariwisata RI, Badan Pengembangan Kawasan Sabang (BPKS), dan Pemko Sabang. Syarat dan ketentunya selengkapnya bisa dilihat di laman www.disbudpar.acehprov.go.id.

Rahmadhani mengharapkan kegiatan pra-event SMF itu menjadi media efektif dalam mempromosikan Sabang.  “Kita akan terus membangun pencitraan positif memajukan industri pariwisata Aceh bagi wisatawan dalam dan luar negeri, sekaligus membangun semangat literasi dengan adanya lomba menulis tentang pariwisata Aceh,” sebutnya.

Ia juga berharap, potensi wisata sektor bahari Sabang menjadi tren sekaligus potensi mendatangkan wisatawan mancanegara serta mempunyai peluang untuk mengundang para investor di bidang pariwisata dan lainnya. (ed)

Mari Rayakan Sabang Marine Festival 2016 Lewat-Tulisan

Yuk Ajak Keluarga Anda ke Roadshow #LaguAnakHebat di Banda Aceh

Pendidikan antikorupsi sudah seharusnya dimulai sejak dini. Termasuk sosialisasi kepada anak-anak. Dalam rangka melakukan pendidikan antikorupsi, Indonesia Corruption Watch (ICW) bekerjasama Komunitas Mari Nyanyi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Roadshow Album Anak Antikorupsi “Lagu Anak Hebat” di delapan kota di Indonesia.

Roadshow Album Anak Antikorupsi ini akan dimulai perdana di Kota Banda Aceh dengan menggandengkan Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) sebagai penyelenggara lokal di Aceh yang akan digelar, Sabtu (9/4/2016) yang bertempat di Aula Balai Kota Banda Aceh. Kegiatan ini sendirinya sifatnya terbuka untuk umum.

Album “Lagu Anak Hebat” ini adalah sebuah album yang digagas ICW untuk memberi edukasi tentang mencegah praktik korupsi, sekaligus menumbuhkan karakter jujur dan bertanggungjawab dalam diri anak-anak.

Selain itu, acara akan diisi dengan Talkshow “Parenting Antikorupsi” yang menghadirkan narasumber perwakilan dari KPK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pakar Pendidikan Anak, Akademisi UIN Ar-Raniry dan Pencipta lirik “Lagu Anak Hebat”.

Roadshow Album Anak Antikorupsi juga akan dimeriahkan dengan penampilan dongeng dan lomba mewarnai bagi anak usia 4-8 tahun. Bagi putra-putra bapak-ibu yang ingin ikut dalam lomba mewarnai ini dapat didaftarkan ke No HP 085260750236, dengan membawa peralatan gambar sendiri.

Album lagu anak hebat ini berisikan 10 lagu anak, yang menceritakan tentang perilaku anti-korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui lagu, anak-anak diajarkan untuk mau berbagi dengan orang lain, menjadi pemberani, tepat waktu, dan taat antrian.

Sasaran dari album ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga orang tua (keluarga). Dengan mengajak anak-anak, semoga saja bisa sekaligus mendorong peran orang tua (keluarga) dalam membesarkan anak dengan nilai-nilai antikorupsi. (ed)

Yuk Ajak Keluarga Anda ke Roadshow #LaguAnakHebat di Banda Aceh

Hasil Polling: Harapan untuk Perfilman Aceh

Tepat pada tanggal 30 Maret lalu, di Indonesia diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN). Menariknya, perfilman di Aceh justru sedang tumbuh dengan tren yang positif apapun jenis dan kalangan yang ada saat ini.

Dengan momen tersebut, Komunitas @iloveaceh lewat akun Twitter juga menggelar polling sederhana, dimana berhasil mengumpulkan 147 suara dengan pertanyaan simpel, yakni harapan untuk perfilman Aceh.

Dari hasil polling tersebut, ada empat opsi jawabanyan yang diberikan. Dan hasilnya adalah bioskop masih mendominasi untuk segera hadir di Aceh.

Tapi jauh sebelumnya, sejumlah komentar juga bermunculan soal perfilman di Aceh ini, beberapa netizen menyebutkan keseriusaan penikmat film di Aceh malah tidak sebanding dengan permintaan. Pasalnya, dalam rangka HFN ke-66 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) juga melakukan roadshow ke Banda Aceh selama 2 hari Senin dan Selasa (21-22/3/2016), namun antusias yang datang dalam acara tersebut, hanya hitungan jari tangan dan kaki.

“Aceh Ngak Butuh Bioskop, roadshow Hari Film Nasional kemarin, ngak ada penonton,” ujar pemilik akun @azirmaop.

Posisi PHR Tergeser

73 persen memilih “Mesti Ada Bioskop” disusul dengan 15 persen pilihan “Lestarikan Sineas Muda”. Sebenarnya dua jawaban ini memang beberapa tahun ini cukup santer di Aceh, isu yang bergelinding menjadi begitu kuat disaat muncul isu #BioskopuntukBNA yang begitu tenar 2014 silam. Sebelumnya juga, geliat sineas muda di Aceh juga perlahan tumbuh di medio 2012, berbagai komunitas film yang berdiri secara indie mulai menunjukkan bakat mereka.

Seiring bermunculannya komunitas yang dengan genre film (dokumenter) ini, kerap kali kompetisi perfilman nasional juga mulai menyasar ke Aceh, baik itu berupa roadshow, diskusi film serta penanyangan film itu sendiri yang akhirnya sineas muda dari kategori siswa dan mahasiswa hingga masyarakat umum.

Bisa dibilang, netizen yang memilih sineas muda tentunya punya alasan kuat tersendiri, selain peluang juga ada prestise yang banyak orang luar belum tahu akan kebolehan anak-anak muda Aceh dalam perfilman. Siapa tahun 5 atau 10 tahun kedepan, akan muncul sineas muda Aceh yang akan menjajal karyanya ke layar lebar nasional. Tapi lagi-lagi, jika karya mereka (sineas muda Aceh) tembus layar lebar nasional, apa mungkin mereka tetap hanya bisa menonton di Aceh lewat layar tancap yang berhasil mengumpul 7 persen suara.

Layar tancap misbar (gerimis bubar) memang sudah tidak sepopuler dulu lagi di Aceh, jika dirunut lagi layar tancap sempat populer dan menunjukkan keeksisannya di era 90-an. Jika ditanya sekarang, generasi yang lahir 90-an tentu tidak tahu lagi bagaimana keseruan layar tancap saat diputar di tanah lapangan atau diemperan terminal pada malam hari, pastinya seru.

Uniknya, salah satu perhelatan seni di Banda Aceh pada tahu 2013 sempat mengangkat kembali soal layar tancap misbar yang waktu itu digawangi oleh rekan-rekan Komunitas Tikar Pandan. Sayangnya, di perhelatan seni tahunan tersebut agenda layar tancap tidak lagi mendapat porsi untuk pengunjung.

Dan hasil polling terakhir yang kini sudah hilang rimbanya adalah Punya Panggung Hiburan alias Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yang mencapai masa kejayaan di era 80-an. Yang memilih jawaban ini hanya 5 persen, yang artinya mungkin banyak dari netizen mengira panggung hiburan lebih ke konsep show atau konser.

Padahal, seperti mengutip penjelasan seniman senior Aceh Razuardi Ibrahim, keberadaan PHR dan bioskop tempo dulu tidak terpisahkan.

Pada awal tahun 1970, bioskop di Banda Aceh hanya 2 buah yakni, Bioskop Merpati dan Garuda. Pada tahun 1980-an bertambah satu lagi dengan Bioskop Gajah, disamping maraknya bioskop yang digolongkan sebagai Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yakni PHR Puda, PHR Simpang Surabaya dan PHR Urni. Di Bireuen bioskop yang populer yakni Bioskop Dewi dan Bioskop Gajah, berikut beberapa PHR yakni, PHR Suka Senang, PHR Matangglumpangdua dan PHR Ayeu Mata di Kutablang.

“Film yang diminati waktu itu, 1970-an, untuk film silat yang dibintangi Wang Yu, David Chiang, Lo Lieh, dan beberapa yang lain. Untuk film India bintang film yang paling diminati masyarakat yakni Dharmendra, Rajesh Khana, Raj Kapor, Jetendra, Sanyai, Dev Anand dan beberapa yang lain. Sementara film Indonesia yang diminati masyarakat sejenis film drama dengan lima bintang terkenal seperti, Yatti Octavia, Yenny rachman, Dorris Callebout, Roy Martin dan Robby Sugara,” demikian jelas Essex, panggilan panggung Lazuardi.

Sekali lagi, selamat Hari Film Nasional. Film Indonesia adalah kita, kita dimana punya karya dan wadah untuk mengapresiasikannya. Semoga!

Hasil Polling-Harapan untuk Perfilman Aceh

Dirangkum dan disaji ulang oleh Aulia Fitri