Nong Niken: Galeri Nasional yang Tidak Nasionalis

Perhelatan akbar tahunan Jakarta Melayu Festival (JMF) yang rencana digelar Agustus 2016 mendatang, mulai kini terus dipersiapkan.

Even yang dipromotori oleh Gita Cinta Production tersebut, beberapa waktu lalu ditimpa kabar tidak sedap setelah sempat ditolak oleh Galeri Nasional karena dinilai tidak relevan dijadikan pentas kegiatan tersebut.

“Tahun-tahun sebelumnya perhelatan JMF ini diadakan di Crown Plaza, The Sultan Hotel, dan Taman Ismail Marzuki. Tahun ini, kegiatan yang sudah direncanakan digelar Agustus mendatang, memilih Galeri Nasional sebagai tempat apresiasi insan musik Melayu. Sayang, Galeri Nasional menolak kegiatan ini,” ujar Nong Niken yang juga salah satu pengisi Jakarta Melayu Festival, Senin (23/5/2016).

Berita tidak sedap tersebut, dibeberkan oleh penyanyi asal Aceh ini saat mengetahui surat balasan resmi dari pihak manajemen Galeri Nasional per tanggal 17 Mei 2016 lalu.

“Galeri Nasional menolak dengan alasan kegiatan ini kurang relevan diadakan disana karena tidak sesuai kriteria. Anehnya, pihak Galeri Nasional yang berada di bilangan Gambir, Jakarta tersebut sempat memberikan ijin untuk pentas musik rock pada bulan April 2016,” sebutnya.

Niken juga mempertanyakan, sikap dari pengelola gedung yang berada dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang terkesan membeda-bedakan antara pentas musik Rock dan dan pagelaran budaya Melayu.

“Kenapa Melayu ditolak oleh tempat yang punya embel-embel ‘nasional’ didalamnya. Tidakkah musik Melayu merupakan identitas bangsa Indonesia. Inikah diskriminasi yang dilakukan oleh bangsa sendiri terhadap penggerak musik Melayu?” ujar pelantun OST Laskar Pelangi 2 tersebut.

Menariknya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan dalam sejumlah pertemuan dengan pihak Gita Cinta Production selalu memberikan dukungan terhadap acara-acara budaya yang mengangkat tema Melayu.

“Dalam setiap acara pentas Melayu yang digelar oleh Gita Cinta Production, Pak Anies Baswedan kerap menjadi undangan bahkan tamu spesial yang secara langsung memberikan dukungan kepada insan dan seniman Melayu di Indonesia. Justru tindakan dari Galeri Nasional kali ini malah menjadi bentuk penghinaan terhadap kami,” sebut Niken.

Niken juga menambahkan, sebagai penggerak musik Melayu dirinya konsisten untuk mempertahankan silogisme “tak kan Melayu hilang di bumi’. Dirinya bangga terhadap musik melayu meski sebagian orang masih belum bisa mengapresiasi musik tertua di Indonesia.

“Aliran musik itu persis pilihan hidup, tergantung nyamannya dimana. Saya nyaman dengan musik Melayu yang jelas masih sangat santun dan menjaga moral bangsa,” tutur alumni UI ini. (ed)

Nong Niken: Galeri Nasional yang Tidak Nasionalis

Foto Galeri Nasional Indonesia yang berada di Gambir, Jakarta.

Agara Community dan FOPMAT Gelar “Culture of Alas”

Selain terkenal dengan ikon Taman Nasional Gunung Leuser yang beberapa waktu lalu disinggahi oleh aktor Hollywood Leonardo DiCaprio, Aceh Tenggara juga terkenal dengan suku Alas.

Hal inilah yang mendasari Agara Community Banda Aceh dan Forum Pendidikan Mahasiswa Aceh Tengah (FOPMAT) menggelar kegiatan Culture of Alas yang merupakan bagian untuk melestarikan budaya masyarakat Alas.

Ketua Panitia, Oki Murzan Hani menyebutkan, acara yang budaya ini sengaja diinisiasi untuk mengenalkan budaya Tanoh Alas kepada masyarakat luas, yang akan digelar 27 Mei mendatang di Open Stage Taman Budaya Banda Aceh mulai pukul 19.00 WIB.

“Kegiatan Culture of Alas ini adalah yang pertama, tentunya kepada seluruh masyarakat terutama yang berada di Banda Aceh untuk mengenal lebih dekat adat dan budaya yang ada di Tanoh Alas,” ujarnya, Minggu (22/5/2016).

Dengan tema “Introducing The Art and Culture of Alas” tambah Oki, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi jembatan untuk muda-mudi di Aceh dalam mengembangkan seni budaya, khususnya bagi generasi muda Aceh Tenggara.

“Kami berharap, even Culture of Alas ini bisa menjadi media ekspresi seni dalam mengembangkan budaya serta menjadi jembatan bagi masyarakat khususnya pemuda pemudi untuk menjaga tradisi kesenian dan kebudayaan Aceh Tenggara,” harapnya.

Sejumlah Seni Tari Dipersiapkan

Menurut Koordinator Lapangan Culture Of Alas, Putri Sri Mala MP, bentuk kegiatan dari Culture of Alas yang sudah dipersiapkan panitia mulai dari seni tari, pemutaran film dokumenter, dan puncaknya yakni tarian kolosal.

“Ada beberapa tarian khas dari Tanoh Alas seperti tarian Belomesusun, tarian Brudihe, tarian Meusekat, Saman Aceh Tenggara, tarian Tangis Dilo. Selain itu pemutaran film dokumenter juga akan kita tayangkan yang bertema potensi wisata dan aneka ragam kehidupan etnis masyarakat Alas beserta adat istiadat di Tanoh Alas,” sebutnya.

Sementara penutupan puncak dari acara tersebut, tukas Putri akan menampilkan tarian kolosal yang mengangkat tema kebudayaan dan kehidupan masyarakat Alas.

“Ini adalah salah satu bentuk kecintaan putra-putri terhadap Tanoh Alas dengan adat istiadat mereka yang sempat tenggelam di era modren ini, kita ingin menunjukkan bahwa generasi muda Tanoh Alas masih peduli dengan adat budaya mereka,” imbuhnya.

Acara yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh serta Dinas Pariwisata Aceh Tenggara ini terbuka untuk umum tanpa dipungut tiket masuk. (ed)

Culture of Alas 2016

Komunitas @iloveaceh dan ICAIOS Luncurkan Situs “Kota Tanyoe”

International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAOS) berkolaborasi dengan Komunitas @iloveaceh luncurkan situs urbanisme warga “Kota Tanyoe” di hari terakhir rangkaian Festival Kota Kita (FKK), Minggu (8/5/2016) kemarin di RTH Lambung Meuraxa, Banda Aceh.

Program Manager Urbanisme Warga, Asrul Sidiq menyebutkan, ICAIOS mendapat kepercayaan dari Tim Rujak Center for Urban Studies (RCUS) untuk bersama-sama mengawal kota Banda Aceh dalam mengembangkan program Urbanisme Warga.

“Ada delapan kota di Indonesia yang terpilih dalam program Urbanisme Warga dan salah satunya kota Banda Aceh, untuk disini (Banda Aceh, red) kita menamainya dengan sebutan “Kota Tanyoe” dimana melibatkan Komunitas @iloveaceh sebagai kolaborator untuk mengembangkan situs daringnya,” ujar Asrul didepan puluhan perwakilan komunitas dan tamu yang hadir di kegiatan FKK yang digelar selama dua hari.

Asrul menyebutkan, keterlibatan Komunitas @iloveaceh sebagai kolaborator “Kota Tanyoe” dinilai bukan hal baru, mengingat komunitas yang besar dari media sosial Twitter ini juga aktif melibatkan followers dalam berbagi informasi untuk sesama warga yang ada di Aceh.

“Komunitas @iloveaceh sejak 2010 sudah lama melibatkan masyarakat, dalam hal ini followers untuk berbagi informasi lewat tagar-tagar yang kita kenalkan seperti #infowarga, #fotowarga, #suarawarga, dan sejumlah tagar lainnya,” sebut Pengelola @iloveaceh, Aulia Fitri yang hadir dalam peluncuran situs tersebut.

Terlebih lagi, sebut Aulia, selain bergerak di media sosial, hadirnya program urbanisme warga juga telah menjadi irisan dari Komunitas @iloveaceh yang mempunyai semangat “from social media to social movement”.

“Situs yang bisa diakses di kotatanyoe.iloveaceh.org saat ini masih versi beta, sejumlah pengembangan demi kenyamanan pengguna terus kita tingkatkan. Kami juga sangat terbuka untuk menerima berbagai masukan dan saran dari pelbagai komunitas agar kedepan situs tersebut bisa lebih user friendly,” tambah Aulia yang juga menjadi tim Kurator di situs “Kota Tanyoe”.

Sementara itu, Program Assistant Urbanisme Warga Pratitou Arafat menambahkan, kehadiran situs “Kota Tanyoe” yang telah dikembangkan sejak sebulan lalu ini diharapkan menjadi media warga dan komunitas dalam meningkatkan kreativitas dan mendorong perubahan kebijakan yang inklusif.

“Kita berharap, program ini menjadi proses produksi pengetahuan secara bersama-sama oleh masyarakat dan menghubungkan mereka dengan para pemangku kepentingan lainnya, sehingga kreativitas dan potensi solusi sangat kita butuhkan,” harapnya.

Program Urbanisme Warga sendiri merupakan sebuah program yang berpusat pada meningkatkan kemampuan warga memproduksi pengetahuan perkotaan secara bersama-sama dan memanfaatkannya untuk mendorong perubahan kebijakan yang inklusif berdasarkan sebanyak mungkin pengetahuan. (ed)

Tampilan situs Kota Tanyoe

Ada @Festival_Kota di RTH Meuraxa Gampong Lambung

Tidak kurang dari 70 komunitas yang tergabung dalam Kolaborasi Komunitas Aceh menggelar Festival Kota Kita (FKK) yang berlangsung 7-8 Mei 2016 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Meuraxa, Gampong Lambung, Banda Aceh.

Festival Kota Kita yang bertajuk “Kotaku, Kotamu, Kota Kita Semua” akan dimeriahkan berbagai talent, seperti penampilan hikayat oleh Fuadi Kelayu, Bandar Philharmonic dan Sanggar Seni Seulaweut. Kegiatan ini didukung oleh Dinas Cipta Karya Aceh, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Pemerintah Kota Banda Aceh dan ICAIOS.

Ketua Panitia FKK 2016, Nanda Satria menyatakan kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Bumi dan HUT Kota Banda Aceh ke-811 tahun. Direncanakan, kegiatan ini akan dibuka langsung oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal dan dihadiri oleh Kepala Dinas Cipta Karya Aceh.

“Di sini kita tidak menunjukkan produk akhir dari suatu aktivitas, melainkan menunjukkan bagaimana proses tersebut terjadi di hadapan audiens. Bahkan audiens dapat ikut serta merasakan bagaimana proses itu terjadi. Sehingga pengalaman itu dari Festival Kota Kita dapat dibawa pulang bahkan menjadi salah satu inspirasi ke depannya,” lanjut Nanda.

Dalam rilis panitia Festival Kota Kita telah dipersiapkan serangkaian kegiatan antara lain Trash for Check Up, Fun Edukasi Bencana, Melukis Totte Bag dan Workshop Membuat Souvenir Aceh. Sejumlah kantin food court dipersiapkan dengan konsep ramah lingkungan.

Dalam kesempatan ini, Panitia FKK 2016 memberikan anugerah Terima Kasih kepada Pahlawan Kota dan peluncuran situs Kota Tanyoe. Serangkaian perlombaan digelar untuk memeriahkan FKK 2016 antara lain lomba foto dan video serta lomba opini lingkungan.

Sejumlah kegiatan pre-event telah digelar sebelumnya antara lain peringatan Earth Day 2016, Talkshow Banda Aceh Smart-Creative City, Talkshow bersama fashion designer busana muslimah Fitri Aulia, pelatihan membuat biopori dan Satu Hari Bersama Anak-anak Thalassemia di RSUZA. (ed)

Jadwal_Kluster_Festival Kota Kita 2016Jadwal_Festival Kota Kita 2016

Pengalaman Nong Niken Ngisi Coaching Clinic 2

Penyanyi Melayu asal Aceh, Nong Niken baru-baru ini kembali merasakan pengalaman baru disaat diundang menjadi pembicara tunggal di kegiatan Coaching Clinic 2 Program Vokasi Universitas Indonesia, Kamis (28/4/2016) lalu di Kampus UI Depok.

Pelantun single original soundtrack film ‘Kalam-kalam Langit’ ini mengaku sedikit nervous disaat harus berbagi pengalaman dihadapan mahasiswa.

“Agak nervous sih, dulu saya pernah ngerasain jadi mahasiswa dan peer banget harus bikin mahasiswa tetap antusias selama dua jam,” ujar Niken yang kini sehari-sehari berprofesi sebagai host di TVRI dan MNC Muslim.

Undangan dari mahasiswa Vokasi UI tersebut, diakui Niken tidak bisa ditolaknya, mengingat kontribusinya sebagai almamater ditambah lagi, dara cantik ini dihubungi langsung oleh dosennya yang saat ini menjadi Ketua Program Vokasi UI, Amelita Lusia, M.Si.

“Kamu ada di top of mind saya saat anak-anak bilang tema public speaking,” tiru Niken saat dihubungi oleh dosennya tersebut lewat telepon seluler beberapa waktu lalu.

Kegiatan Coaching Clinic yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Vokasi Komunikasi UI tersebut merupakan salah satu agendakan rutin setiap bulannya yang membahas seputar sharing pengalaman dari pelbagai alumni yang sukses dibidang keahlian mereka masing-masing.

Selama coaching berlangsung, Niken juga memberikan sejumlah materi yang mengangkat tema kekinian serta pengalaman pribadinya di dunia entertainment.

Tidak terlalu sulit, hal ini diakui oleh dara kelahiran Kota Lhokseumawe ini karena materi tersebut merupakan hal yang sering dijalaninya sehari-hari.

“Saya combain antara teori dan contoh nyata yang saya alami, Alhamdulillah mahasiswa memahami dan senang dengan paparan saya. Banyak diantara mereka yang langsung praktek,” sebut pelantun lagu Prang Sabi ini.

Niken juga bersyukur kesempatan ini diberikan kepadanya. Baginya, pendidikan itu sangat penting karena lewat pendidikan seseorang tahu bagaimana harus menyesuaikan diri di lingkungan.

“Pendidikan mampu membuat seseorang tahu bagaimana membawa diri dan mengambil sikap. Tentu ini menjadi nilai penting, terlebih persaingan saat ini sangat ketat di industri kreatif,” pesannya. (ed)

Pengalaman Nong Niken Ngisi Coaching Clinic 2

Turnamen Futsal Kota Naga Cup Segera Digelar

Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Tapaktuan dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Nasional yang ke-108 tahun akan menggelar Turnamen Futsal Kota Naga Cup 2016.

Kegiatan ini merupakan agenda pertama yang diselenggarakan oleh panitia yang mengangkat tema “Penggerak Kebangkitan dalam Keragaman Etnik Melalui Sportifitas Yang Bersolidaritas”.

Acara yang diketuai oleh Taufiq Ihya Ulumuddin akan berlangsung pada 5,7 dan 8 Mei 2016 di dua tempat, yakni lapangan Vinly Fairplay Setui untuk masa penyisihan grub dan GOR KONI Aceh pada saat memasuki babak 16 besar.

Selain itu, jelang pembukaan futas juga akan ada kegiatan donor darah. Dalam turnamen ini tersedia 36 tim yang nantinya akan menghadirkan wasit bersertifikasi lisensi. Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung menghubungi 082339073759. (ed)

Turnamen   futsal   Kota   Naga   Cup