#SangerDay dengan Sentuhan Focus Group Discussion

Sempat diguyur hujan lebat, namun puncak peringatan Hari Sanger Sedunia – International Sanger Day yang digelar di gelar di Keude Kupi Aceh, Sabtu (29/10/2016) berjalan lancar.

Hujan lebat yang mengguyur Kota Banda Aceh sejak sore jelang Maghrib setidaknya telah membuat suasana adem dan rahmat bagi sebagian alam. Sekira pukul 20.00 WIB, beberapa perwakilan komunitas akhirnya mulai memenuhi miyup moh Rumoh Aceh dan tepat pukul 20.45 WIB acara pun dimulai yang dikomandoi Afla Nadya, selaku MC malam itu.

Video kilas balik peringatan Sanger Day sejak dua tahun lalu juga menjadi pembuka sebagai pewarna membuka sekilas ingatan peserta yang hadir sekitar 50 orang lebih.

Tidak lama berselang langsung dilanjutkan dengan pemaparan materi focus group discussion (FGD) oleh Aulia Fitri selaku penanggung jawab acara terkait potensi dan perkembangan Sanger serta beberapa kendala yang masih ditemukan di lapangan.

Foto Wanda Haris Purnam

Disela-sela pemaparan materi untuk FGD ini, peserta yang hadir juga dihidangkan sanger panas, timphan dan keukarah, sebagai peunajoh tradisional yang menjadi pelengkap malam yang berhawa dingin.

Tidak ketinggalan, perwakilan dari komunitas yang hadir juga diminta untuk ikut serta dalam lomba racik sanger yang dipandu langsung oleh komunitas Aceh Gayo Manual Brewing. Para kontestan ini diajak menyeduhkan sanger secara manual dengan menggunakan alat rok presso yang didemo langsung didepan peserta lainnya.

Canda dan tawa tidak lepas yang akhirnya menjadi penghibur bagi peserta yang lainnya disaat calon barista dadakan ini mengenalkan proses membuat sanger, mulai dari penggunaan bubuk kopi Arabika, air panas, susu serta alat yang dipres, membuat gelak tawa menjadi semakin akrab.

Hasilkan Rekomendasi untuk Sanger Day

Usai lomba racik sanger dari calon barista dadakan tersebut, dewan juri dari Aceh Gayo Manual Brewing juga melakukan penilaian dilanjutkan yang disela-sela penjurian diisi StandUp Comedi oleh comic dadakan Alvawan dari blogger Aceh serta ajakan vote bersama untuk menangkan Indonesia di World Halal Tourism Awards (WHTA) 2016 dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Sesi FGD pun dilanjutkan dengan dengar pendapat, pengutaraan ide dan masukan untuk sanger itu sendiri, varian soal kopi dan juga beragam pernyataan terkait ikon minuman khas Aceh, Sanger menjadi salah satu bagian untuk mempromosikan Aceh lewat kuliner.

Inilah beberapa kesimpulan dari FGD catatan dari notula, Ihan Nurdin berdasarkan ide-ide dan masukan dari masing-masing perwakilan yang hadir:

  1. Sanger baru populer di wilayah Banda Aceh saja, ke depan perlu ada penyeragaman ‘nama’ racikan kopi susu di Aceh, sehingga nama sanger menjadi universal di Aceh;
  2. Hingga saat ini belum ada standarisasi resep sanger, misalnya jenis kopi apa yang baik untuk membuat sanger. Jika standarisasi ini sudah ada, ketika orang luar Aceh membuat suguhan kopi yang racikannya sama dengan sanger, kita bisa klaim bahwa itu produk dari Aceh;
  3. Sanger mulai dikenalkan di Aceh tahun 97;
  4. Peringatan Sanger Day mulai dilakukan pada 2013;
  5. Ke depan sanger day bukan hanya dipelopori oleh iloveaceh saja. Perlu kerjasama dan sinergisitas dengan berbagai lintas komunitas di Aceh untuk mengampanyekan sanger;
  6. Perlu ada internalisasi sanger dan festival sanger untuk membumikan sanger khusunya bagi masyarakat Aceh;
  7. Perlu kreativitas dalam promosi sanger, misalnya dalam bentuk sanger sachet;
  8. Selama ini cita rasa sanger di setiap warung kopi di Banda Aceh masih belum seragam. Sehingga perlu ada standarisasi cita rasa yang baku dari para baristanya;
  9. Perlu kampanye yang gencar untuk membuat sanger terkanal di nasional atau internasional, seperti pemerintah mengampanyekan wonderful indonesia di bus-bus. Atau mengkampanyekan sanger melalui industri kreatif seperti perfilman;
  10. Kita ingin sanger yang modern atau sanger tradisional?
  11. Menjadikan sanger sebagai hidangan di acara-acara yang dibuat oleh instansi pemerintah;
  12. Perlu melibatkan peran media dalam mempromosikan sanger;
  13. Sanger harus menjadi ‘budaya’ bagi masyarakat Aceh, sehingga menjadi daya tarik baru bagi masyarakat luar yang datang ke Aceh;
  14. Sanger adalah jenis minuman yang khas, jadi jangan melihat sanger berdasarkan bahan baku kopinya;
  15. SDM di bidang kopi di Aceh masih rendah, sehingga pemerintah perlu memfasilitasi peningkatan SDM di bidang ini.

Ada beragam pendapat dari hasil FGD tersebut, yang nantinya terus difinalisasi oleh @iloveaceh sehingga menjadi rekomendasi untuk penyelenggaran Festival Sanger Day pada tahun 2017 nanti.

Selain itu, kami juga mengucapkan banyak selamat kepada pemenang lomba racik sanger, yakni Andri Munazir sebagai juara 3, lalu Fadli Nora Iranda (Agam Aceh 2016) yang berhasil menjadi juara 2, serta M. Qafrawi menjadi juara 1 yang nantinya akan menjadi calon brand ambassador sanger di tahun 2017.

Tidak lupa juga ucapan terima kasih kepada perwakilan komunitas yang telah hadir, penikmat sanger, penikmat kuliner, awak media, sponsor dan seluruh pihak yang telah ikut menyukseskan puncak peringatan Sanger Day 2016. “Minuman Nikmat dari Ujung Barat Indonesia”. Sampai jumpa kembali di tahun selanjutnya dan mohon maaf atas segala kekurangan. (ed/foto Wanda HP)

wanda_haris_sanger_day2016_12

wanda_haris_sanger_day2016_3

wanda_haris_sanger_day2016_2

Aceh dan Bandara SIM Masuk Nominasi WHTA 2016

Setelah lolos menjadi pemenang di Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI, Aceh dan Bandara Sultan Iskandar Muda kembali mendapatkan kesempatan melaju ke ajang World Halal Tourism Awards (WHTA) 2016.

Pada tahun ini dari Indonesia ada 12 nominasi yang lolos ke kompetisi pariwisata halal dunia tersebut, dimana akan ada dua tahap juga pemilihan daring (e-vote) yang bisa dilakukan lewat situs www.itwabudhabi.com atau bit.ly/votewhta.

Tahap voting pertama yang dimulai 25 Oktober akan berlangsung hingga 6 November dimana akan dipilih 5 finalis dan nantinya pada 7 November hingga 25 November kembali masuk pada tahap voting kedua untuk memilih juara.

Inilah 12 nominator dari Indonesia yang masuk dalam WHTA 2016:

1. World’s Best Airline for Halal Travellers – Garuda Indonesia
2. World’s Best Airport for Halal Travellers – Sultan Islandar Muda International Airport, Aceh, Indonesia
3. World’s Best Family Friendly Hotel – The Rhadana Hotel, Kuta, Bali, Indonesia
4. World’s Most Luxurious Family Friendly Hotel – Trans Luxury Hotel Bandung, Indonesia
6. World’s Best Halal Beach Resort – Novotel Lombok Resort & Villas, Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia
7. World’s Best Halal Tour Operator – Ero Tour, West Sumatera, Indonesia
8. World’s Best Halal Tourism Website – www.wonderfullomboksumbawa.com, Indonesia
10. World’s Best Halal Honeymoon Destination – Sembalun Village Region, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia
11. World’s Best Hajj & Umrah Operator – ESQ Tours & Travel, Jakarta, Indonesia
13. World’s Best Halal Destination – West Sumatera, Indonesia
14. World’s Best Halal Culinary Destination – West Sumatera, Indonesia
15. World’s Best Halal Cultural Destination – Aceh

Perlu diketahui juga, cara voting kali ini sedikit berbeda karena diwajibkan mengisi biodata singkat seperti jenis kelamin, nama depan dan belakang, serta industri. Baru setelah itu klik list nominator di masing-masing kategori dan pilih 12 nominator dari Indonesia sebagaimana daftar di atas lalu klik SUBMIT. Selesai! (ed)

lets-vote-for-indonesia_whta

Perempuan Aceh Besar Dikukuhkan Sebagai Pejuang Pangan

Aceh patut berbangga hati seorang perempuan paruh baya dari Aceh besar dikukuhkan menjadi salah satu dari sembilan orang perempuan pejuang pangan. Acara pengukuhan perempuan pejuang pangan bertepatan dengan hari pangan dunia yang jatuh pada Minggu, 16 Oktober 2016.

Perempuan Aceh Besar tersebut bernama Ummi Kalsum yang telah terbukti mampu menginspirasi komunitasnya dalam bidang pertanian. Beliau ada perempuan yang selama 5 tahun terakhir ini di dampingi oleh Aceh Women for Peace Foundation (AWPF), yakni yayasan perempuan Aceh untuk perdamaian sebagai organisasi masyarakat sipil yang memiliki perhatian terhadap hak asasi perempuan dan perdamaian.

Direktur program keadilan ekonomi Oxfam Dini Widiastuti dalam penganugrahan perempuan pejuang pangan Oxfam 2016 di Bakoel Kafiie Menteng Jakarta Pusat mengatakan bahwa kesembilan perempuan yang terpilih telah mampu menjadi penggerak bidang pangan di tingkat dasar, perempuan-perempuan tersebut terlibat langsung mempertahankan lahan pertaniannya, seperti penerapan pertanian dengan varietas lokal yang lebih adaptif terhadap iklim dan lingkungan setempat serta membudidayakan pertanian hidroponik untuk mengatasi sempitnya lahan.

Sembilan perempuan itu mewakili Indonesia timur hingga wilayah Indonesia barat diantaranya Giyem (Pati), Ummi Kalsum (Aceh Besar), Seliwati (luwu Utara), Daeng Karra (Makasar), Nurlina (Pangep), Sri Rohani (Kebumen), Catur Rini (Bogor), Beatrix Rika (Sikka) dan Erna Leka (Tulang Bawang).

Kesembilan perempuan tersebut dipilih melalui kompetisi video anak muda. Pencarian tokoh perempuan pejuang pangan Oxfam di Indonesia ini dimulai sejak 27 Juli sampai 6 Oktober 2016. Juri kompetisi video Famale Food Hero (FFH) terdiri dari Dini Widiastuti dari Oxfam Indonesia, Prisia Nasution artis perempuan yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan Dandhy Laksono videografer sekaligus pengkampanye ketahanan pangan.

Dari 34 video yang masuk dari seluruh provinsi Indonesia, Aceh masuk menjadi pemenang dari kompetisi pejuang pangan, mereka Ummi Kalsum dan Rita Juniasari (kompetisi Video) yang merupakan perwakilan dan dampingan AWPF.

Irma Sari sebagai Direktur Eksekutif AWPF mengatakan bahwa perjuangan Ummi Kalsum sebagai perempuan petani yang menjadi ketua pertanian bukan hal yang mudah, banyak cobaan yang beliau terima termasuk tidak mendapatkan insentif sama sekali, beliau bekerja untuk pertanian gampongnya dengan ikhlas.

Ummi Kalsum sangat berbangga bisa dipilih oleh AWPF mengikuti kompetisi perempuan pangan, saat ini beliau sangat percaya diri dalam membangun komunitasnya setelah mendapatkan pelatihan dan pendidikan-pendidikan kritis oleh AWPF, dalam hal ini Irma juga berharap sekembalinya Ummi Kalsum dari ibu kota, keterlibatan beliau dalam bidang pertanian dapat diakui oleh pemerintah daerah Aceh Besar. (ed)

perempuan-pejuang-pangan_jaknews