Cut Nyak Meutia dan Gelar Pahlawan Nasional

CUT Nyak Meutia lahir di 15 Februari 1870 di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara.

Ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Foto juga diabadikan dalam pecahan uang kertas Rp 1.000 pada tahun 2016.

Gelar pahlawan dianugerahkan atas jasanya mengangkat senjata melawan Belanda pada tahun 1900-an. Atas jasanya pula, Cut Meutia yang gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng, pelosok Pirak Timu, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1910.

Lokasi makam Cut Meutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara, harus melewati sungai dan naik turun bukit.

Tidak banyak orang yang tahu keberadaan makam tersebut. Makam yang sudah dipugar sejak tahun 2012 lalu ini harus ditempuh dengan kesiapan fisik yang kuat dan sanggup berjalan kaki 4-5 jam menuju lokasi dari lewat Cot Girek atau Alue Bungkoh.

Dalam komplek makam tersebut, selain makam Cut Meutia juga terdapat makam Teuku Seupot Mata serta sebuah bale (balai) besar.

Lokasi makam

Tembok pagar yang dipugar sejak 2012 tertulis lokasi makam. Foto Andri Munzir

Perjuangan Cut Nyak Meutia┬╣

Tahun 1901 adalah awal pergerakan, dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku Chik Tunong.

Mereka memakai taktik gerilya dan spionase dengan menggunakan untuk prajurit memata-matai gerak-gerik pasukan lawan terutama rencana-rencana patroli dan pencegatan.

Taktik spionase dilakukan oleh penduduk kampung yang dengan keluguannya selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui.

Terdapat banyak perlawanan yang dilakuakn oleh Chik Tunong beserta cut meutia dari Bulan Juni 1902, Bulan Agustus November 1902 perlawanan yang sengit banyak merugikan pasukan belanda.

Selanjutnya tanggal 9 Januari 1903, Sultan bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda. Atas dasar itu, Cut Nyak Meutia bersama suami pun turun gunung pada tanggal 5 Oktober 1903. Atas persetujuan komandan datasemen Belanda di Lhokseumawe, HNA Swart, Teuku Tunong dan Cut Meutia dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.

Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad dan Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon pada tanggal 26 Januari 1905.

Peristiwa ini diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Belanda.

Di dalam penyelidikan Belanda, didapat bahwa Teuku Chik Tunong terlibat dalam pembunuhan itu. Maka dari itu, Teuku ditangkap dan dihukum gantung. Namun pada akhirnya berubah menjadi hukum tembak mati.

Pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai lhoksuemawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong. Sebelum dihukum mati, Teuku Tunong mewasiatkan agar Pang Nanggroe yang merupakan sahabat perjuangannya untuk menikahi Cut Nyak Meutia serta menjaga anak-anaknya.

Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Cut Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. Dan dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan memindahkan markas basis perjuangan ke Buket Bruek Ja.

Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Penyerangan Cut Meutia dan Pang Nanggroe dimulai dari hulu Kreueng Jambo Ayee, sebuah tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang sangat banyak tempat persembunyian. Pasukan muslimin melakukan penyerangan ke bivak-bivak Belanda dimana banyak pejuang muslim yang ditahan.

Pada tanggal 6 Mei 1907, pasukan Pang Nanggroe melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak yang mengawal para pekerja kereta api.

Dari hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka. Bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi.

Pada tanggal 15 Juni 1907, pasukan Pang Nanggroe menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan dan 8 orang luka-luka.

Taktik penyerangan Cut Meutia yang lain pula adalah jebakan yang dirancang dengan penyebaran kabar bahwa adanya acara kenduri di sebuah rumah dengan mengundang pasukan Belanda.

Rumah tersebut telah diberikan jebakan berupa makanan yang lezat, padahal pondasi rumah itu telah diakali dengan potongan bambu sehingga mudah diruntuhkan.

Pada saat pasukan Belanda berada di dalam rumah tersebut, rumah diruntuhkan dan pasukan Cut Meutia menyerang secara membabibuta.

Penyerangan pasukan Cut Meutia juga terjadi pada rel kereta api sebagai usaha untuk memutuskan jalur distribusi logistik dan jalur kereta apinya.

Di pertengahan tahun 1909 sampai Agustus 1910 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan telah mengetahui pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe dan Cut Nyak Meutia.

Beberapa penyerangan dilakukan, namun pasukan Cut Meutia yang selalu berpindah tempat membuat Belanda susah untuk menangkapnya. Beberapa penyerangan dilakukan di daerah Jambo aye, Peutoe, Bukit Hague, Paya Surien dan Matang Raya.

Namun pada tanggal 25 September 1910, saat terjadi penyerangan di daerah Paya Cicem, Pang Nanggroe terkena tembakan Belanda sehingga meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada anaknya Teuku Raja Sabi untuk mengambil rencong dan pengikat kepala ayahnya dan menjaga ibundanya Cut Nyak Meutia. Makam Pang Nanggroe terletak di samping Mesjid Lhoksukon.

Kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata.

Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat.

Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belantaraa yang sangat banyak.

Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.

Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga.

Cut Meutia dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.

┬╣Dikutip dari Biografi Cut Meutia, LPPKS Kemdikbud

Rakan @Rifqi_Rasya Ajak Mahasiswa Peduli Sampah

PUNCAK peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang akan digelar di Pantai Ulee Lheue, Kota Banda Aceh pada tanggal 14 Maret 2020 mendatang.

Rakan Rifqi Ramadhansyah yang juga Menteri Hubungan Antar Lembaga UIN Ar-Raniry Mengajak seluruh mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh untuk mengikuti agenda HPSN tersebut.

Rifqi mengatakan, bagi mahasiswa yang keseringan membuang sampah sembarang untuk tidak lagi melakukan hal tersebut kedepan.

“Jika kita saling menjaga satu sama-sama lain untuk tidak membuang sampah sembarangan, itu sangat luar biasa,” kata Rifqi, Kamis (12/3/2020).

Rifqi RamadhansyahPermasalahan terkait timbulan sampah di Aceh, sejatinya bukan hanya pekerjaan pemerintah. Namun, harus dimulai dari hati masing-masing mahasiswa, karena mayoritas sampah itu bersumber dari perilaku yang kurang peduli soal urusan sampah.

Membuang sampah pada tempatnya terdengar sangat sederhana, namun, sesungguhnya itu benar-benar menjadi masalah yang hingga saat ini menjadi persoalan mendasar bagi mahasiswa dalam upaya mengelola atau mengurangi timbulnya sampah.

“Contoh kecil, tidak jarang, pada saat mereka duduk bersama teman-temannya di pantai Ule lhe, mereka dengan sengaja membuang sampah. Seperti tusuk sate, Aqua plastik dan lainnya, Mungkin, yang ada dibenak mereka, Sampah ini nantinya kan sudah ada yang bersihkan,” kata pemilik akun Twitter @Rifqi_Rasya.

Terkait perilaku mahasiswa tersebut, bagaimanapun upaya pemerintah, tidak akan berdampak besar selama mahasiswa itu sendiri tidak memiliki rasa kepedulian yang tinggi untuk mengurangi timbulan sampah, dan membuang sampah pada tempatnya.

“Dan kali ini kita juga akan bekerjasama dengan dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3). Untuk itu saya mengajak kawan-kawan untuk bisa ikut serta dalam bentuk kepedulian kita terhadap peduli sampah di hari Sabtu nantinya,” ungkapnya.

Dengan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman, mahasiswa dan masyarakat yang akan merasakan kenyamanan saat menikmati indahnya pantai Ulee Lheue. Oleh karena itu, mulailah untuk mengubah perilaku dari hal yang paling kecil, dengan membuang sampah pada tempatnya.