Aceh Lon Sayang in Style of Keroncong

Bagi Anda penikmati lagu keroncong mungkin sudah tidak asing lagi dengan La Paloma, ya grup musik orkes keroncong asal Padang ini sudah terkenal luas seantero nusantara dan pernah menyempatkan diri untuk roadshow ke Aceh beberapa tahun lalu.

Grup musik yang dirintis dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Sumatera Barat tersebut juga pernah membawakan lagu Aceh Lon Sayang dengan begitu apik.

Namun, yang tak kalah menarik, lagu legend karya dari T. Djohan dan Anzib Lamnyong ini juga dicoba aransemen ulang oleh musisi sekaligus YouTuber asal Aceh, Tereza.

“Ini tantangan bagi saya untuk menyanyikan lagu Aceh dengan logak yang meudok, konsepnya ini memang in style of Keroncong,” ujar Tereza disela-sela membuat video klip beberapa waktu lalu.

Tereza berharap, dengan lagu Aceh Lon Sayang ini bisa kembali membangkitkan semangatnya untuk berkarya dan tentunya menjadi motivasi bagi musisi muda di Aceh untuk terus produktif. (ed)

Teuku Reza Fahlevi

Tanabata, Coffee Shop in Speciality Hadir di Banda Aceh

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Terkenal dengan destinasi wisata kopi, penikmat kopi dan penggemar tempat nongkrong terbaru di Banda Aceh perlu berbahagia dengan hadirnya coffee shop in speciality, Tanabata.

Nama Tanabata diangkat dari sebuah festival Jepang dengan harapan bahwa coffee shop ini dapat menjadi tempat bertemunya orang-orang, yang merupakan tujuan dari festival itu sendiri.

Dengan latar belakang pendiri yang merupakan penikmat kopi, Tanabata menawarkan rasa kopi dengan cita rasa yang berkarakter. Variasi biji kopi Arabika yang digunakan tidak hanya berasal dari Gayo, namun beragam dari penjuru daerah Indonesia. Kualitas kopinya yang terjaga, menjadikan rasa kopi yang dihasilkan Tanabata mempunyai signature yang berbeda dari tempat ngopi lainnya.

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Tidak hanya kualitas minumannya yang memukau, Tanabata mengadirkan pesona industrial style pada interiornya. Coffee shop ini terdiri dari dua ruang utama, non-smoking dan smoking. Selain mengutamakan kenyamanan bagi Anda, pemisahan ini juga dilakukan untuk menjaga kualitas biji kopi agar tidak terkontaminasi oleh asap rokok. Indoor area dapat menampung sekitar 32 orang dan mempunyai meja bar bagi pengunjung yang datang sendirian, juga meja-meja bagi yang datang berkelompok.

Pendekatan yang dilakukan pada Tanabata berupa interaksi sosial antar pengunjung dan pekerja, yang ditandai dengan adanya meja bar yang berhadapan langsung dengan para barista!

Tempat ini sangat cocok bagi Anda yang ingin mencari teman-teman baru. Jangan khawatir jika Anda tidak ingin diganggu, terdapat beberapa spot yang bisa Anda isi untuk mengerjakan kesibukan yang Anda minati. Tanabata mampu menyesuaikan kedua tempat tersebut bagi pengunjungnya. Selain itu, tujuan lain dari Tanabata adalah sebagai tempat mengedukasi anak- anak muda Aceh tentang kopi, selain sebagai minuman yang dikenal hanya dengan rasa pahitnya.

Nuansa kehangatan sebagai penunjang keakraban didukung oleh pencahayaannya. Pendant lamp mendominasi jenis lampu pada Tanabata yang menciptakan ruang-ruang itim dengan kesan hangat yang dipancarkan dari kuning lampunya. Dengan paduan tema warna merah dan hitam, Tanabata menciptakan kesan ruang yang calm dan hangat. Pada satu dindingnya, terdapat infografis edukatif mengenai kopi yang bisa Anda pelajari dengan mudah.

Pesona industrialis hadir dari jenis paparan yang beragam. Mulai dari ekspos bata, paduan besi dan kabel yang tampak rapi, dan karakter kayu yang muncul pada meja, kursi, dan rak-raknya.

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Whirling door pemisah ruang dalam dan luar memberikan pengalaman ruang yang menarik. Dengan seluruh pintu yang bisa berputar, memungkinan pengunjung untuk masuk dari mana pun tanpa mengganggu ruang gerak yang lain.

Tanabata juga menawarkan loyalty card bagi pengunjung setianya yang akan mendapatkan satu minuman gratis setiap pengumpulan sembilan stempel pada kartu. Hidangan spesial yang dihadirkan berupa ragam variasi kopi dengan espresso based dan non-coffee. Selain itu, sajian minuman spesial khas Aceh, kopi sanger, juga menjadi minuman spesial di Tanabata. Makanan yang bisa Anda cicipi berupa panganan teman mengopi, cakes, kue tradisional, dan makanan berat berupa makanan jepang, nasi, mie, dan pasta.

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Berlokasi di jalan Teuku Iskandar No. 304, Ulee Kareng, Tanabata menjadi tempat yang cocok untuk berkumpul bersama teman-teman dan keluarga Anda. Informasi lebih lanjut bisa kunjungi Instagram @tanabatacoffee, Twitter @tanabata_coffee, atau Facebook Tanabata Coffee. (Muhammad Farhan Barona)

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)

Mau Kerjasama dan Media Partner, Nah Ini Dia Syaratnya

iloveaceh-headerNgopi atau ngeteh sore memang jadi andalan dikala cuaca hujan-hujan begini seperti di Banda Aceh dan beberapa daerah lainnya.

Kali ini Komunitas @iloveaceh bersama ILATeam Management juga berbagi sedikit informasi seputar manajemen dan kabar komunitas, serta kerjasama dan partner.

Dari pada bingung, mending kita simak terus beberapa poin yang telah dikabarkan langsung oleh ILATeam di linimasa @ILAcrew berikut ini.

Sembari ngeteh dan ngopi, berikut penjelasannya 🙂

Salam sukses buat semua dan mari berkolaborasi untuk mempositifkan Aceh. (ed)

Band @Seuramoe_Reggae Gelar “Saleum Damee”

Saleum Damee Seuramoe ReggaeYayasan Kelola Jakarta bersama Seuramoe Reggae akan menggelar pentas yang bertajuk “Saleum Damee” mulai 17-19 April mendatang di Banda Aceh.

Band yang terkenal dengan musik reggae ini rencananya akan membawakan beberapa karya hits mereka seperti Lon Ka Pah, Saleum Damee, HSPM, Maneh, Saboh Hatee Saboh Nanggroe, dan masih banyak lainnya.

Deddy Mulia, personil dari Seuramoe Reggae menyebutkan, pentas yang digelar selama 3 hari ini akan berada dibeberapa tempat.

“Acaranya nanti ada di tiga lokasi, 17 April kita tampil di Vi Ai Pi Café Batoh lalu 18 April di Coffein Batoh dan terakhir tanggal 19 April di Joel Bungalow Lhoknga,” sebutnya.

Deddy juga menyebutkan, “Saleum Damee” kali ini sepenuhnya didukung oleh organisasi nirlaba asal Jakartya, yakni Yayasan Keloloa yang begitu banyak membantu dan merespon kebutuhan komunitas seni pertunjukan dan seni visual melalui pemberian akses pembelajaran, informasi, dan pendanaan.

“Acara ini terbuka untuk umum, jadi silahkan datang saja. Beberapa lokasi yang bakal kita tampil nanti juga akan mulai dari sore dan juga malam,” terang pemain Drum tersebut. (ed)

Menduniakan @Ija_Kroeng Made in Aceh

Khairul Fajri memperkerjakan satu pegawai untuk menjahit ija kroeng / ILACrewKain sarung dalam bahasa Aceh disebut dengan ija kroeng. Sebutan ija kroeng sudah sangat familiar di masyarakat Aceh, tapi apa yang unik dengan kata tersebut?

Produk buatan tangan alias hand made yang digawangi oleh anak muda Aceh bernama Khairul Fajri ini terbilang menarik untuk disimak kisahnya membangun brand yang begitu mudah diingat.

Ija kroeng ini memang Aceh sekali, kita bisa lihat berapa banyak anak muda di Aceh yang pakai kain sarung dalam keseharian, biasanya sering dibilang kain sarung udah gak fashion,” ujarnya kepada #ILAwetwet saat berkunjung ke Workshop di bilangan Residen Danu Broto, Banda Aceh.

Khairul menyebutkan, produk yang dibranding dengan nama Ija Kroeng ini dianggapnya begitu simpel untuk diingat dan dipakai.

“Kalau kita sebut ija kroeng, semua orang pasti sudah tahu itu kain sarung. Mau dibilang bahasa Aceh, Inggris, tetap ija kroeng,” sebutnya sembari senyum.

Selain itu, uniknya lagi produk yang asli buatan Aceh ini hanya memiliki dua warna. Suami dari @cienacien ini mengatakan, Ija Kroeng hanya tersedia warna hitam dan putih.

“Putih mungkin sudah umum, sementara hitam itu identik sekali dengan pakaian orang Aceh dulu. Kita bisa lihat sejarah dan foto-foto orang Aceh jaman dulu, pasti didominasi oleh warna hitam, mau baju, celana, atau selendang,” sebut Khairul yang sempat mengecap pendidikan di Berlin.

Sekedar info, pakaian adat Aceh yang digunakan laki-laki berwarna hitam, karena warna ini bagi masyarakat Aceh mengandung makna warna kebesaran. Jika seseorang mengenakan baju dan celana berwarna hitam berarti orang itu dalam pandangan masyarakat Aceh sedang memakai pakaian kebesarannya.

Khairul dan Istri pemilik usaha Ija Kroeng / ILACrew

Usaha ija kroeng yang masih seumuran jagung ini terbilang cepat dikenal luas masyarakat, buktinya produk yang memiliki akun jejaring sosial Twitter, Faceboo, dan Instagram tersebut telah ramai dipesan oleh berbagai kalangan di Aceh dan luar Aceh.

“Walau masih hitungan minggu, alhamdulillah sejumlah pelanggan sangat puas dengan kain sarung kita. Rafly Kande misalnya asal ke Banda Aceh pasti sempatkan diri mampir ke workshop Ija Kroeng, karena beliau penyuka kain sarung,” ujar Ayah satu anak tersebut.

Soal harga sendiri, Ija Kroeng dibrandol dibawah 100 ribu. “Kebetulan ini masih bulan promo (Maret, red), untuk kain sarung dewasa berkisar diharga 97 ribu, sementara buat anak-anak 60 ribu,” jelas sang istri yang kini menjadi owner @Ija Kroeng. (ed)

Duo @AurezMusic Rilis Single Perdana “Diriku Mewarnai Harimu”

Aurez - Dirimu Mewarnai HarikuSejak terbentuk Oktober 2014 silam, duo pendatang baru dibelantika musik Indonesia, Auwi dan Tereza (Aurez) untuk pertama kalinya meluncurkan single perdana yang berjudul Dirimu Mewarnai Hariku, Kamis (19/3/2015).

Single yang bergenre romancoustic ini, menurut Auwi –sapaan akrab Alwi Hidayat Ilyas– diharapkan mampu menambah khasanah dan warna baru bagi penikmat musik akustik di Indonesia.

“Kita nyebutnya Romancoustic (romantic acoustic), karena liriknya masih bertema kasmaran. Saya pribadi seneng nyanyiin lagu dengan konsep dan tema yang fresh kayak gini, walaupun agak berlawanan dengan konsep solo saya sendiri yang agak nge-pop,” pungkas Auwi.

Proses penggarapan single yang diproduseri langsung oleh ILAProduciton dibawah naungan ILATeam Management ini, menurut pengakuan Tereza berjalan unik dan penuh perjuangan.

“Lagu ini terbilang cukup unik bagi kami, karena kami buat sehari sebelum Aurez resmi dibentuk. Sedangkan untuk proses penggarapannya memakan waktu sekitar satu bulan, karena kita kan beda kota, jadi untuk mendiskusikan konsepnya agak sedikit terhambat,” ujar Tereza pemilik nama lengkap Teuku Reza Fahlevi.

Ditanyai soal kisah dibalik munculnya lagu ini, Tereza mengisahkan tentang sosok seorang lelaki yang sedang kasmaran, dimana wanita idamannya selalu membayangi hari-hari lelaki tersebut dan sebagian ceritanya adalah kisah nyata.

“Dari kisah nyata, sedikit sih iya, tapi inspirasi untuk lagu ini sendiri sebenarnya dari orang-orang sekeliling juga. Kita coba tuang ke dalam lagu, biar jadi motivasi tersendiri bagi para pendengar,” ungkap Tereza.

Disamping kesibukan masing-masing personel Aurez sebagai penyanyi solo, mereka terbilang cukup serius menjalani grup duo ini, terlihat dari perjuangan mereka yang kini terpisah jarak antara Lhokseumawe – Banda Aceh, kemantapan untuk menggarap single ini pun akhirnya selesai.

Single perdana “Dirimu Mewarnai Hariku” yang dibantu oleh Galih Gautama (Landdeep) sebagai Audio Director sudah bisa dinikmati media sosial musik, soundcloud.com.

Tak hanya itu, duo Aurez juga memberikan akses gratis bagi penggemarnya yang ingin mengunduh lagi tersebut di laman http://bit.ly/DirimuMewarnaiHariku. (ed)