Aceh Lon Sayang in Style of Keroncong

Bagi Anda penikmati lagu keroncong mungkin sudah tidak asing lagi dengan La Paloma, ya grup musik orkes keroncong asal Padang ini sudah terkenal luas seantero nusantara dan pernah menyempatkan diri untuk roadshow ke Aceh beberapa tahun lalu.

Grup musik yang dirintis dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Sumatera Barat tersebut juga pernah membawakan lagu Aceh Lon Sayang dengan begitu apik.

Namun, yang tak kalah menarik, lagu legend karya dari T. Djohan dan Anzib Lamnyong ini juga dicoba aransemen ulang oleh musisi sekaligus YouTuber asal Aceh, Tereza.

“Ini tantangan bagi saya untuk menyanyikan lagu Aceh dengan logak yang meudok, konsepnya ini memang in style of Keroncong,” ujar Tereza disela-sela membuat video klip beberapa waktu lalu.

Tereza berharap, dengan lagu Aceh Lon Sayang ini bisa kembali membangkitkan semangatnya untuk berkarya dan tentunya menjadi motivasi bagi musisi muda di Aceh untuk terus produktif. (ed)

Teuku Reza Fahlevi

@AurezMusic Luncurkan Instrumental “Aceh Lon Sayang”

Hadir ditengah-tengah belantika musik dengan format duo grup, ternyata mampu membuat dua musisi muda berbakat asal Aceh ini bisa diterima kehadirannya.

Sejak terbentuk dan mulai sering tampil dari panggung ke panggung, membuat Auwi Hidayat dan Teuku Reza Fahlevi kini semakin menyatu lewat duo grup yang mereka beri nama Aurez.

Diakhir tahun 2014 lalu, Aurez membuat satu gebrakan baru dengan meluncurkan instrumental “Aceh Lon Sayang” yang khusus diputar pada puncak peringatan 10 tahun tsunami.

Musik instrumental Aceh Lon Sayang tersebut dirampungkan oleh Aurez dalam tampo 10 hari. Dari penuturan mereka, penggarapan musik instrumental tersebut tidak banyak mengalami kendala.

“Awalnya sempat kesulitan juga karena baru kali ini dapat pengalaman membuat musik instrumental. Apalagi yang digarap ini musik Aceh yang sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat. Kalau ditanya kesulitannya, paling intensitas untuk bertemu saja, berhubung Auwi sama saya kan rumahnya agak jauh,” sebut Reza.

Tak Pesimis untuk Berkarya

Untuk menggarap instrumental ini Reza dan Auwi menggunakan beberapa alat musik, diantaranya gitar, piano, dan orkestra. Penggabungan tiga alat musik ini untuk menambah nuansa berbeda dari instrumental “Aceh Lon Sayang”.

Dua musisi berkacamata ini mengakui, tidak mudah memang untuk membuat banyak orang menyukai musik bernuansa akustik dan orkestra, terlebih bagi musisi yang belum cukup terkenal. Namun mereka tak pesimis dengan karya yang sudah berhasil dirampungkan ini.

“Musik instrumental belum cukup banyak penikmatnya di Aceh. Tapi dengan hadirnya musik instrumental Aceh Lon Sayang yang kami garap dengan perpaduan musik akustik dan orkestra ini, semoga bisa diterima masyarakat. Musik ini kan sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat,” tambah Auwi.

Untuk menggarap instrumental ini Reza dan Auwi menggunakan beberapa alat musik, diantaranya gitar, piano, dan orkestra. Penggabungan tiga alat musik ini untuk menambah nuansa berbeda dari instrumental Aceh lon Sayang.

“Kami coba mengkolaborasikan musik akustik dan musik orkestra. Inginnya agar instrumental ini terdengar lebih mewah,” tambah Reza.

Disamping itu Manajer Aurez, Dara Elvia RS mengatakan musik instrumental yang telah berhasil digarap ini tujuan awalnya adalah untuk mengasah kemampuan merek berkarya dan bertepatan juga dengan momen peringatan 10 tahun tsunami Aceh.

“Ini bentuk kecintaan Aurez kepada Aceh. Musik instrumental ini juga sempat diperdengarkan versi full kepada sejumlah tamu-tamu dari berbagai negara yang hadir pada hari peringatan 10 tahun tsunami di Banda Aceh,” katanya.

Sepaham dengan dua musisi yang dimanajerinya, Darapun mengakui untuk saat ini musik instrumental memang belum begitu familiar ditengah-tengah masyarakat Aceh. Namun ia tetap menamkankan rasa percaya diri kepada Aurez untuk merampungkan project ini. (ed/alf)

Kenang #10thnTsunami, @Albert_Jester Keluarkan Single “Wahee Poma”

Albert  Jester (Ist)Albert  Jester (Ist)Bencana gempa dan musibah tsunami yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004 silam menjadi kisah yang tak terlupakan bagi salah satu rakan @iloveaceh yang juga seorang seniman asal Kota Juang, Bireuen.

Albert yang sering disapa Bang Min, kepada @iloveaceh, Sabtu (15/11/2014) mengatakan lagu yang dibuatnya berjudul “Wahee Poma (Wahai Ibu)” ini terinspirasinya dari kejadian tsunami yang menimpa salah satu keluarganya.

“Lagu ini mengisahkan tentang tragedi tsunami yang menimpa seorang ibu kebetulan ibu itu cecek (bibi, -red) saya sendiri. Mayat anaknya tidak tahu dimana jasadnya hingga sekarang,” jelasnya.

Kisah pilu dan duka kejadian tsunami yang telah berlalu satu dekade tersebut memang masih terus dikenang oleh masyarakat Aceh, termasuk Albert yang meluapkan ekspresi atas kenangannya itu lewat bait-bait yang dikemas dengan aliran rock-reggae.

Dalam lagu yang berbahasa Aceh ini, Albert memberikan pesan-pesan tersendiri lewat vokal yang khasnya itu bagi siapa saja agar mengikhlaskan apa yang telah berlalu, termasuk kehilangan orang-orang yang dicintai. Seperti yang terungkap dalam bait pembuka, “wahee poma bek lee neu pikee / hareuta jinoe nyang ka hana lee / puelom hareuta yang that tasayang / sidroe boh hatee jinoe ka hana lee”.

Penasaran bagaimana ungkapan hati Albert untuk seorang poma (ibu), berikut lagunya yang bisa didengarkan langsung serta diunduh juga dari Soundcloud. (ed)

Rakan @Tereza_1969 Keluarkan Single Terbaru “Tanpamu”

Lagu baru dari penyanyi solo Aceh, Teuku Reza Fahlevi Siapa sangka, anak muda asal Lhoksukon, Aceh Utara yang sering pulang pergi ke Banda Aceh ini menghentakkan warna baru di dunia belantika musik Aceh.

Pemilik akun Twitter @Tereza_1969 bisa disebut pendatang baru, tapi kegemarannya bermusik sudah lama sampai-sampai mereka membentuk grup vokal akustik LC VOICE yang kini masih aktif di Banda Aceh. Hal tersebut diungkapkan oleh pemilik nama asli Teuku Reza Fahlevi kepada @iloveaceh lewat akun jejaringnya, Jum’at (18/4/2014).

Single terbaru Reza –sapaan akrabnya– yang dikeluarkan beberapa hari ini lalu memang mulai banyak dilirik oleh penggemarnya. Video klip yang mengambil gambar di salah satu tempat wisata di Banda Aceh terlihat sederhana dengan genre pop alternative.

“Video klip ini menceritakan kisah masa lalu saya, tapi baru sekarang terwujud,” ujarReza.

Reza yang berprofesi sebagai freelance translator ini juga sebelumnya telah mengeluarkan single pertama yang berjudul “Nyanyian Hati” dan berencana akan membuat video klik untuk single ketiganya.

“Untuk single ketiga “Rindu Kita” lagi kita persiapkan, mungkin nanti bulan 7 (Juli, red) akan kita mulai proses pembuatan videonya,” tambahnya.

Soal pembuatan video klip dan rekaman, Reza mengakui masih memproduksinya sendiri alias indie dibantu oleh teman-temannya di Aceh.

“Untuk rekaman dan pembuatan video kita masih produksi secara indie, kebetulan saya dibantu juga oleh teman-teman di Aceh seperti untuk pengambilan gambar dan pembuatan video klip ini ada teman-teman IMM Production dan musik dibantu oleh Landdeep studio,” akuinya.

Selamat dan sukses untuk video klipnya rakan @Tereza_1969 dan kita tunggu single-single terbarunya ya. (ed)

Konser Iwan Fals di Aceh Tampil dengan Lagu Bungong Jeumpa

Iwan Fals saat manggung di Banda Aceh / atjehlink.com

Iwan Fals saat manggung di Banda Aceh / atjehlink.com

Kedatangan sang maestro Iwan Fals dalam rangka konser TOP Kopi 2013 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Sabtu (15/6/2013) malam membawa aura tersendiri, beberapa lagu dalam bahasa Aceh membuat penonton begitu terhibur.

Acara yang dibuka oleh band yang keluar sebagai juara favorit arasement ulang jingle TOP Kopi, juga tidak ketinggalan pertunjukkan tarian Didong dari komunitas Mahasiswa Pecinta Sejarah Gayo (MAPESGA).

Antusias para penonton untuk melihat sosok Iwan Fals sangat tinggi karena dapat dirasakan ketika para penonton memangil-mangil nama sang maestro untuk tampil diatas panggung. Pantauan @iloveaceh, kurang lebih sekitar seribu penonton yang hadir diacara tersebut, tidak ketinggalan juga teman-teman dari IwanFals Mania atau yang lebih dikenal dengan fans Iwan Fals, serta teman-teman Tiga Rambu serta OI dari Aceh Barat.

“Assalamualaikum peu haba Aceh, sehat mandum?” sahut sang maestro yang untuk kedua kalinya konser di Tanah Rencong setelah tahun 2006 silam, serontak tepuk tangan penonton menyapa kehadirannya di atas panggung.

Lagu Bungong Jeumpa sebagai pembuka konser Iwan Fals menjadi pelepas kerinduannya dengan Aceh, dilanjutkan lagu-lagu yang tidak asing lagi ditelinga penonton seperti Siram, Jingle TOP Kopi, Orang Pedalam, Oemar Bakri, Malahayati, Pesawat Tempur, Bento, dan Bongkar.

Berbagai pesan disela-sela membawa lagu hitsnya, Iwan juga mengajak masyarakat Aceh untuk peduli dari menanam pohon, mengelolah sampah, penderita thalassemia, masyarakat pedalaman, dan wanita-wanita di Aceh untuk tangguh seperti Malahayati.

Diujung acara Iwan Fals membawakan lagu “Hio” dan ditutup dengan lagu “Aceh Lon Sayang” sebagai tanda perpisahan konser TOP Kopi 2013. Tidak lama setelah berakhirnya konser @iwanfals sempat ngetwet “Aceh Lon Sayang” sebagai bukti beliau cinta kepada Aceh. (ed/eza)