Cut Nyak Meutia dan Gelar Pahlawan Nasional

CUT Nyak Meutia lahir di 15 Februari 1870 di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara.

Ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Foto juga diabadikan dalam pecahan uang kertas Rp 1.000 pada tahun 2016.

Gelar pahlawan dianugerahkan atas jasanya mengangkat senjata melawan Belanda pada tahun 1900-an. Atas jasanya pula, Cut Meutia yang gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng, pelosok Pirak Timu, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1910.

Lokasi makam Cut Meutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara, harus melewati sungai dan naik turun bukit.

Tidak banyak orang yang tahu keberadaan makam tersebut. Makam yang sudah dipugar sejak tahun 2012 lalu ini harus ditempuh dengan kesiapan fisik yang kuat dan sanggup berjalan kaki 4-5 jam menuju lokasi dari lewat Cot Girek atau Alue Bungkoh.

Dalam komplek makam tersebut, selain makam Cut Meutia juga terdapat makam Teuku Seupot Mata serta sebuah bale (balai) besar.

Lokasi makam

Tembok pagar yang dipugar sejak 2012 tertulis lokasi makam. Foto Andri Munzir

Perjuangan Cut Nyak Meutia¹

Tahun 1901 adalah awal pergerakan, dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku Chik Tunong.

Mereka memakai taktik gerilya dan spionase dengan menggunakan untuk prajurit memata-matai gerak-gerik pasukan lawan terutama rencana-rencana patroli dan pencegatan.

Taktik spionase dilakukan oleh penduduk kampung yang dengan keluguannya selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui.

Terdapat banyak perlawanan yang dilakuakn oleh Chik Tunong beserta cut meutia dari Bulan Juni 1902, Bulan Agustus November 1902 perlawanan yang sengit banyak merugikan pasukan belanda.

Selanjutnya tanggal 9 Januari 1903, Sultan bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda. Atas dasar itu, Cut Nyak Meutia bersama suami pun turun gunung pada tanggal 5 Oktober 1903. Atas persetujuan komandan datasemen Belanda di Lhokseumawe, HNA Swart, Teuku Tunong dan Cut Meutia dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.

Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad dan Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon pada tanggal 26 Januari 1905.

Peristiwa ini diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Belanda.

Di dalam penyelidikan Belanda, didapat bahwa Teuku Chik Tunong terlibat dalam pembunuhan itu. Maka dari itu, Teuku ditangkap dan dihukum gantung. Namun pada akhirnya berubah menjadi hukum tembak mati.

Pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai lhoksuemawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong. Sebelum dihukum mati, Teuku Tunong mewasiatkan agar Pang Nanggroe yang merupakan sahabat perjuangannya untuk menikahi Cut Nyak Meutia serta menjaga anak-anaknya.

Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Cut Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. Dan dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan memindahkan markas basis perjuangan ke Buket Bruek Ja.

Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Penyerangan Cut Meutia dan Pang Nanggroe dimulai dari hulu Kreueng Jambo Ayee, sebuah tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang sangat banyak tempat persembunyian. Pasukan muslimin melakukan penyerangan ke bivak-bivak Belanda dimana banyak pejuang muslim yang ditahan.

Pada tanggal 6 Mei 1907, pasukan Pang Nanggroe melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak yang mengawal para pekerja kereta api.

Dari hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka. Bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi.

Pada tanggal 15 Juni 1907, pasukan Pang Nanggroe menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan dan 8 orang luka-luka.

Taktik penyerangan Cut Meutia yang lain pula adalah jebakan yang dirancang dengan penyebaran kabar bahwa adanya acara kenduri di sebuah rumah dengan mengundang pasukan Belanda.

Rumah tersebut telah diberikan jebakan berupa makanan yang lezat, padahal pondasi rumah itu telah diakali dengan potongan bambu sehingga mudah diruntuhkan.

Pada saat pasukan Belanda berada di dalam rumah tersebut, rumah diruntuhkan dan pasukan Cut Meutia menyerang secara membabibuta.

Penyerangan pasukan Cut Meutia juga terjadi pada rel kereta api sebagai usaha untuk memutuskan jalur distribusi logistik dan jalur kereta apinya.

Di pertengahan tahun 1909 sampai Agustus 1910 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan telah mengetahui pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe dan Cut Nyak Meutia.

Beberapa penyerangan dilakukan, namun pasukan Cut Meutia yang selalu berpindah tempat membuat Belanda susah untuk menangkapnya. Beberapa penyerangan dilakukan di daerah Jambo aye, Peutoe, Bukit Hague, Paya Surien dan Matang Raya.

Namun pada tanggal 25 September 1910, saat terjadi penyerangan di daerah Paya Cicem, Pang Nanggroe terkena tembakan Belanda sehingga meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada anaknya Teuku Raja Sabi untuk mengambil rencong dan pengikat kepala ayahnya dan menjaga ibundanya Cut Nyak Meutia. Makam Pang Nanggroe terletak di samping Mesjid Lhoksukon.

Kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata.

Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat.

Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belantaraa yang sangat banyak.

Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.

Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga.

Cut Meutia dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.

¹Dikutip dari Biografi Cut Meutia, LPPKS Kemdikbud

Haifa Azzura, Mulai dari Hobi Bermain Piano Hingga Menulis Lagu

DEBUT pertamanya dalam menyanyi masih terbilang baru, namun hobinya bermain alat musik terbilang begitu kentara, single “Tak Pernah Terganti” akhirnya menjadi langkah awal Haifa Azzura untuk memberanikan diri kepada publik 2017 silam.

Gadis kelahiran Bireuen 14 Juli ini pun berbagi kisahnya saat mulai merintis dunia tarik suara.

“Kalau hobi bermain musik sudah lama, selain piano juga suka ngejreng gitar, termasuk bernyanyi,” sebut mahasiswi yang kini kuliah di Bandung tersebut.

Baginya, bermain musik dan menulis lirik telah menjadi sebuah semangat untuk berkarya.

Karya Haifa tidak berhenti, pada bulan Maret lalu, ia juga baru merilis lagu terbarunya “Kau Harus Percaya”.

“Lagu kedua itu lahir karena tugas dari guru musik saya sendiri, “Kau Harus Percaya” itu adalah hasil pekerjaan rumah saya saat belajar di Sekolah Musik Moritza Thaher,” ungkap Haifa yang kesehariannya sebagai announcer di radio kampusnya.

Pekerjaan Rumah dari sekolah musik yang digeluti Haifa memang membuahkan hasil, pasalnya ia bersemangat membuat lirik sendiri dibantu guru musiknya, yakni Moritza Thaher dan Erlinda Sofyan.

“Lagi kedua ini terinspirasi dari kisah teman saya yang pada saat itu sedang mengalami masalah, dan terlintas dibenak saya untuk membuat lirik lagu yang dapat menyemangati orang-orang,” kisah dara yang juga hobi menulis puisi tersebut.

Ia berharap, lagu keduanya itu bisa membuat orang yang mendengarkannya menjadi semangat dan merasa bahwa dirinya pasti dapat melewati suatu masalah tersebut.

“Setelah saya menulis lirik dari awal hingga akhir, lalu lirik tersebut direvisi ulang oleh guru musik saya sampai akhirnya didapatkan lirik yang seperti sekarang. Lalu diaransemen, direkam dan dimixing langsung di studio Sekolah Musik Moritza,” kata Haifa.

Haifa yang kini beranjak usianya 18 tahun, selain tercatat sebagai mahasiswi Telkom University Bandung juga aktif di club IT di divisi marketing dan yang tidak boleh ketinggalan masih terus belajar bermain piano di Purwacaraka Music Studio.

Menurut Haifa, lagu “Kau Harus Percaya” ini diharapkan dapat disukai oleh penikmat lagu khususnya bagi kalangan anak muda.

“Lagunya easy listening, mudah buat dihafal. Semoga disukai sama masyarakat,” harapnya.

Setelah lagu kedua ini, tambah Haifa, ia juga akan merilis lagu terbarunya dalam waktu dekat yang kini telah dipersiapkan dengan matang.

“Judulnya masih rahasia dulu, yang penting mohon do’anya ya, semoga bisa dirilis cepat nantinya,” pungkas.

Sukses terus untuk berkarya Haifa.

Sebuah Pesan Mendalam dari Yachtist untuk Pariwisata Sabang

HAWA panas Sabang siang itu begitu terasa menyengat, namun suasana city tour dalam agenda Sabang Marine Festival (SMF) tidak menyurutkan semangat yachtist untuk mengeksplor Pesona Sabang.

Selain objek wisata alam dan bahari, panitia SMF yang dikomandoi oleh Fauzi Umar selaku ketua pantia juga mengajak sejumlah pelayar dari berbagai negara ini mengunjungi sekolah dan berinteraksi dengan murid-murid yang notabene warga asli Kota Sabang.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa, wisatawan mancanegara ini pun sangat merasakan keramahtamahan saat berada di lingkungan Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Sabang.

“Bayi kecil Jonathan asal Australia pun jadi incaran murid-murid karena begitu gemas melihat kelucuannya saat digendong oleh sang ibunya,” ujar Fauzi disela-sela memperkenalkan yachtist ke pihak sekolah.

Tanpa disadari dari rombongan peserta tersebut, dua yachtist yang berasal dari New Zealand, Alan Correst (captain) dan Anne Gough dari Australia memperhatikan betul interaksi dan seluruh rangkain festival yang mereka ikuti saat city tour, terlebih begitu tiba di SDN 2 Sabang tersebut.

Pada hari ketiga kegiatan SMF, Sabtu (23/4/2017), pihak panitia baru mengetahui ada sebuah kardus yang bertuliskan dengan tulisan hitam spidol yang begitu kontras terbaca “TIME TO GIVE A LITTLE BACK!” serta tertanda dua nama yachtist “Alan and Anne”.

Sontak saja, kardus tersebut ternyata telah berpindah-pindah dari satu peserta ke peserta lainnya ibarat kotak sumbangan dan yang lebih mendalam lagi adalah pesan di atas kardus tersebut tertera dengan tulisan kecil dengan pulpen yang berisi pesan yang begitu mendalam bagi sesama peserta SMF tersebut untuk membantu menjaga lingkungan danlaut agar terus bersih.

“Waktunya Untuk Memberi Walaupun Sedikit. Pengumpulan dana ini untuk sekolah yang kita kunjungi kemarin dan akan diberikan kepada Kepala Sekolah dengan harapan murid sekolah akan belajar tentang menjaga lingkungan terutama plastik yang ada di lautan. Kita telah diberi cukup banyak di festival ini dan memberikan sedikit kepada komunitas bukanlah hal yang memberatkan. Silahkan donasikan apa yang Anda dapat lakukan, centang nama boat Anda dan edarkan list ini pada boat lain yang belum. Setelah itu kembalikan ke “KIWI DREAM” tertanda Alan and Anne,” begitulah pesan yang diakui Fauzi Umar baru tahun ini mendapatkan kejutan emosional diantara peserta SMF dengan warga Sabang yang begitu mendalam.

Di kesempatan farewell sebagai penutup dari rangkaian SMF, Minggu (23/4/2017) malam Alan pun angkat bicara soal kardus yang mereka iniasiasi bersama Anne.

Alan pun dipersilahkan naik panggung kecil, dalam pidato kecilnya, Alan mewakili dari peserta dan yachtist lainnya mengungkapnya rasa senang berlayar hingga berminggu-minggu hingga bisa sampai ke Sabang.

“Kami senang bisa berlayar berminggu-minggu dan akhirnya bisa mencapai ke tempat ini, berlayar selama itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kepuasan kami berada ditempat sebagus ini, kami senang dengan rangkaian aktifitasnya, sangat mengagumkan dan diluar ekspektasi kami, kami sangat senang,” ujarnya.

Kami terkesima, sambung Alan, dengan keramahan dan kearifan lokal di Sabang dan Sabang Marine Festival telah memberikan kami kesempatan untuk melakukan semua ini. Pengalaman bisa berbaur dengan masyarakat disini merupakan hal yg sangat kami senangi dari festival ini.

“Sebagai sebuah komunitas, kami mendapatkan banyak pengalaman dari berbagai macam kebudayaannya, mulai dari musik, tarian, persahabatan dan lain-lain. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk panitia dan aliansi terkait, terutama Bapak Fauzi Umar. Kami juga memohon maaf atas masalah yang mungkin juga datang dari kami, kesusahan dalam berkomunikasi, masalah semacam ini sama halnya dengan menghadapi seekor kucing, tidak mudah, tapi kita masih dapat dipahami satu sama lain, jadi terima kasih banyak untuk kerja keras semua pihak disini, kerja yang sangat bagus,” urainya sembari sesekali melempar senyum kecil kepada tamu yang hadir.

Alan juga berharap pengalaman dan foto-foto yang mereka abadikan bisa menjadi bahan promosi saat mereka balik ke negara masing-masing.

“Kami sudah melihat dan menerima pesan dari kalian tentang harapan, mimpi, dan aspirasi kalian tentang Sabang agar bisa lebih dikenal oleh masyarakat dunia, juga menjadi harapan kami, dan sebagai fotografer kami sudah menulis dan mengirim artikel tentang Sabang untuk media di New Zealand, dan kami juga berharap akan ada publikasi yang besar,” harapnya.

Soal “kotak sumbangan” dengan pesan emosional tersebut juga diutarakan oleh Alan yang mewakili dari tim “KIWI DREAM”.

“Sebagai bentuk kecil dari apresiasi kami untuk masyarakat disini, kami sudah menyerahkan donasi dalam rupiah kepada kepala sekolah untuk anak-anak di SDN 2 Sabang, dan barang siapa yang hendak menyumbang, kotak amalnya masih terbuka lebar. Harapan kami agar anak-anak di sekolah dapat menjaga lingkungan dan laut demi masa depan yang lebih baik,” pungkas yang disambut tepuk tangan.

Dan sebagai penutup, Alan pun memberikan dukungan untuk kesuksesan seluruh masyarakat di Sabang. “Sukses juga untuk acara Sail Sabang pada bulan Desember mendatang, kami yakin planning kalian akan berjalan dengan lancar dan kami berharap dapat berkontribusi didalamnya,” harapnya.

Alan pun turun panggung, Fauzi Umar selaku Ketua Panitia SMF juga mengambil alih panggung untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta (yachtist) dan berharap mereka juga bisa ikut serta dalam kegiatan Sail Sabang tahun ini.

“Kami berharap kalian dalam keadaan sehat walafiat selama berada di Sabang, kami juga berharap kalian menikmati dan bisa lebih lama lagi berada disini. Kami sangat senang atas kehadiran kalian dalam acara ini dan mengunjungi pulau ini, kalian sudah hadir dan ikut dalam rangkaian kegiatan komunitas ini, termasuk tsunami tour besok di Banda Aceh,” jelas Fauzi malam itu.

Fauzi juga memohon mohon maaf, pada malam penutupan SMF yang seharusnya dihadiri oleh Kepala BPKS Fauzi Husin, namun beliau berhalangan.

“Beliau meminta maaf kepada kita semua berhubung tidak bisa hadir, beliau sedang mempersiapkan pertemuan dengan delegasi dari Kementerian Pariwisata Indonesia dan Kementerian Pariwisata Thailand di Bangkok, untuk mengembangkan rute pelayaran kapal yacht Phuket, Sabang dan Langkawi agar dapat ditempuh dalam waktu singkat. Tujuan Kemenpar Indonesia berada di Bangkok juga dalam rangka mempromosikan Sail Sabang 2017 pada Desember mendatang,” tuturnya.

Malam pun semakin larut, malam penutupan SMF pun diakhir dengan pembagian hadiah untuk sejumlah pemenang berbagai lomba yang telah digelar. Semua berakhir dengan senyum dan foto bersama. (ed)

Tingkatkan Publikasi Majelis Pendidikan Aceh

Majelis Pendidikan Aceh (MPA) yang sebelumnya dikenal dengan Majelis Pendikan Daerah (MPD) dibentuk berdasarkan tuntutan sejarah. Perjalanan sejarah konflik Aceh antara Darul Islam dengan Pemerintah RI berhasil membuat konsensus damai dan Aceh mendapat status istimewa dalam tiga hal: agama, pendidikan dan peradatan.

Melalui Surat Keputusan Perdana Menteri RI Nomor 1/Missi/1959 yang berlaku sejak 26 Mei 1959 untuk mengisi keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan, maka pada tahun 1990 dibentuk Majelis Pendidikan Daerah (MPD) dengan Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 420/435/1990 tanggal 31 Agustus 1990 tentang Pembentukan Majelis Pendidikan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh, dengan tugas menangani keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan.

Keberadaan MPA diperkuat dengan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh (UUPA) pasal 220, yang menyebutkan bahwa Pemerintah Aceh meningkatkan fungsi Majelis Pendidikan Daerah yang merupakan salah satu wadah partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan. Ketentuan UUPA ini belum disinkronkan dengan Qanun Aceh tentang MPA yang drafnya belum menjadi perioritas Prolega.

Menurut Ketua MPA Prof Dr Warul Walidin, fungsi MPA adalah sebagai badan pemikir (think tank body); badan pemberi pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah mengenai pendidikan (advisory body); badan penggerak masyarakat untuk berpartisipasi dalam membangun dan meningkatkan mutu pendidikan (motivating body); sebagai badan pengawas pelaksanaan kebijakan dan program-program pendidikan (controlling body); badan mediator antara masyarakat dan pemerintah serta antara sekolah, keluarga dan masyarakat (mediating body).

Prof Walidin mengakui fungsi MPA sudah dilakukan dengan baik selama ini, misalnya dapat dilihat dari jumlah pertimbangan yang disampikan kepada Pemerintah Aceh setiap tahun mencapai 20 buah lebih. Demikian juga beberapa lembaga yang terkait pendidikan, konsep dasarnya dibahas di MPA seperti pembentukan Dinas Pendidikan Dayah, Kopertis Aceh, Akademi Perikan, Sekolah Penerbangan, LPSDM, Badan Pengelola Dana Abadi Pendidikan dan penyiapan Pergub-Pergub bidang pendidikan.

Masalahnya adalah, pelaksanaan fungsi dan kinerja MPA ini belum terpublikasi dengan baik. Dengan publikasi yang baik diharapkan masyarakat dan pekerja pendidikan di Aceh bisa bersinergi dengan MPA dalam melakukan revolusi pendidikan Aceh, supaya pendidikan Aceh tak tertinggal jauh dari daerah lain. Untuk itu, kita meminta MPA memperbaiki strategi komunikasi kepada publik. (Sayed Muhammad Husen)

Sumber: Gema Baiturrahman, 27 Januari 2017

ICN 2017: Terobosan Baru Pemuda Indonesia Unutk Melakukan Perubahan

Mengapa sih Indonesia perlu untuk berubah? Menurut kalian, apa sih arti sesungguhnya dari perubahan?

Sebagian besar dari kita yang sedang membaca artikel ini secara garis besar sudah tahu alasan mengapa Indonesia tanah air kita ini harus berubah. Namun hanya sebagian kecil dari kita yang membaca artikel ini ingin dan peduli untuk mengambil tindakan demi Indonesia negeri kita.

Indonesia memiliki ribuan ragam budaya yang tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ribuan ragam tradisi, ragam flora dan fauna, ragam karya seni, makanan khas hingga bahasa tersebar di setiap provinsi di Indonesia. Tetapi potensi yang sangat besar itu hanya tersimpan dan ditelantarkan begitu saja. Tidak ada tangan yang cukup peduli untuk menggarapnya.

Berdasarkan data tahun 2001 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, Indonesia mempunyai populasi anak muda terbesar di dunia (Winarta 2015). Dengan total 30 juta anak muda yang berusia dibawah 30 tahun, Indonesia menyimpan potensi yang beigtu besar untuk menjadi negara yang kuat dan kreatif. Sudah saatnya kita para pemuda generasi Indonesia mengulurkan tangan merubah segala potensi ragam budaya tersebut menjadi sebuah karya yang dapat membanggakan dan memajukan tanah air kita. Sudah saatnya bagi kita para generasi muda Indonesia berdiri bersama mengikat tali persatuan Indonesia. Jangan biarkan rasa nasionalisme itu terhenti hanya sebatas ide dan perkataan di mulut. Tunjukkan bahwa kita para anak-anak Indonesia dapat memimpin Indonesia berubah menuju perubahan yang lebih baik.

ICN 2017 dibawah kepemimpinan Student Board S1 Universitas Prasetiya Mulya bersedia untuk memfasilitasi itu semua. Dengan tema AKULTURASI: Aktualisasi Tutur Generasi, ICN 2017 memiliki tujuan untuk menciptakan kesempatan bagi generasi muda agar dapat berkontribusi nyata dan menjadi agen perubahan kepada masyarakat melalui proyek sosial.

Dengan 3 rangkaian acaranya: ICN Food Exhibition, ICN Conference dan ICN Festival, ICN ingin mengambil bagian dalam pengembangan generasi penerus bangsa yang kreatif, inspiratif dan berkarakter.

Berbagai kegiatan dan rangkaian acara inspiratif siap untuk menarik perhatian anda dari seluruh Indonesia. Dimulai dari ICN Conference 2017, total dana 50 juta siap diberikan kepada 5 proyek sosial terbaik. Kesempatan untuk membangun koneksi hingga seluruh Indonesia pun terbuka lebar. Para delegasi tidak perlu direpotkan dengan berbagai biaya akomodasi karena ICN 2017 akan menyediakan seluruh akomodasi dimulai dari penginapan, transportasi dan makan 3x sehari dengan gratis. Siapa sangka, lebih dari 420 pemuda Indonesia tercatat telah mendaftarkan diri mereka di ICN Conference 2016!

Tidak hanya itu saja, ICN 2017 juga menyediakan berbagai jajanan khas nusantara yang dapat kalian temui di Food Exhibition. Serta berbagai pembicara inspiratif dari tokoh politik maupun non-politik siap memeriahkan ICN 2017. Setelah berhasil mendatangkan Anies Baswedan, Najwa Shihab, Maman Suherman, Chelsea Islan dan Arifin Putra, kini ICN 2017 berani melanjutkan langkahnya dengan acara yang lebih besar, menarik, dan meriah tentunya.

Yuk! Tunggu apa lagi? Sudah penasaran bukan bagaimana ICN 2017 nanti?

Ayo daftarkan diri anda segera di website kami www.icn-id.com dan jadilah saksi kemeriahan ICN 2017!

Peringatan Hari Aksara Internasional 2016 di Aceh

Dinas Pendidikan Pidie berkerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pidie mengadakan pameran besar-besaran di Kota Sigli sejak tanggal 17-20 November dalam rangka peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) yang ke-51.

Pameran yang meriah ini diikuti oleh puluhan stan dari beberbagai Kabupaten dan Instansi yang berjejer rapi di Lapangan Alun-Alun Kota Sigli.

Pembukaan pameran juga tidak kalah meriah. HAI yang dibuka di Lapangan Kuta Asan ini dihadiri oleh kontingen dari semua peserta pameran.

Berbagai kreativitas tersaji di pameran yang berlangsung selama empat hari ini, dari mulai tarian adat yang dipertontonkan setiap malam di panggung utama Alun-alun kota. Tariannya ada ranup lampuan dan tari kreasi lainnya. Peserta tari datang dari berbagai sekolah di Kabupaten Pidie.

hai_selamat-datang-dihari-aksara-internasional_rio

Yang menjadi pertunjukan utama adalah para peserta stan daerah, sekolah dan UPTD Kabupaten. Semua stan berlomba-lomba menunjukkan keindahannya. Dari desain stan yang menarik sampai yang paling penting isi stan yang bisa membius para pengunjung untuk berlama-lama didalamnya.

Dimualai dari stan yang paling megah, Stan Kabupaten Pidie yang menjadi tuan rumah. Di kabupaten yang terkenal dengan keripik melinjo (krupuk Mulieng) ini, tidak hanya menampilkan produk, tapi masyarakat bisa juga turut andil ikut dalam proses pembuatannya. Misalnya bisa mengetes cara membuat krupuk mulieng itu bagaimana caranya. Juga cara menjahit Kupiah Riman (peci salat dari pelepah aren) dan cara membuat tembikar seperti tikar, raga dan alas menaruh panci.

Belum lengkap ke pameran HAI ini kalau belum berfoto dengan manekin yang dipakaikan pakaian adat daerah masing-masing. Yang menjadi daya tarik pengunjung adalah pakaian adat Aceh Tenggara, Simeulue dan Gayo Lues. Pengunjung rela mengantri, demi bisa berdiri disamping menekin ini.

Stan Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah menarik animo masyarakat karena para pengunjung senang dengan kopinya, keramahan para penjaga stan dan bahasa mereka yang berbeda dan sangat suka didengar oleh pengunjung melalui pengeras suara.

hai_roasting-kopi-di-stand-aceh-tengah_hari-aksara-internasional_rio

Ngomong-ngomong soal pengeras suara, stan Aceh Selatan tak-henti henti mempromosikan stannya di mikrofon, yang menginformasikan tentang khasiat minyak pala dari daerahnya, katanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk masuk angin. Karena dengungnya begitu besar orang-orang jadi berdatangan dan menghabiskan 1000 botol minyak pala juga dari pengeras suara terdengar mereka menyediakan madu asli dari hutan Buloh Seuma.

Berbagai kerajinan tangan bisa dibawa pulang dari stan, tentu saja dengan membayar sesuai harga. Kerajinan dari seluruh kabupaten di Aceh terpajang disini. Dari mulai tas, hasil alam –seperti di Simeulu ada sejenis bunga karang, Lobster yang sudah di awetkan dan makanan khas daerah. Demikian juga distan lain, makanan-makanan yang sudah dipacking dengan unik bisa kita bawa pulang dengan harga murah. Juga tersedia kerajinan dari kayu, rajutan benang, tempurung, barang-barang bekas sampai dari kartu perdana.

Acara yang dimulai dari jam 09.00 pagi sampai jam 11.00 malam ini dipadati pengunjung sampai memacetkan jalan disekitar, dari pusat kota sampai alun alun dipadati warga yang ingin ke pameran HAI yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie ini, pak polisi dibantu oleh pamong praja kewalahan mengatur jalur lalu-lintas dari sejak pertama hari acara.

Para pedagang lokal maupun luar daerah juga memamerkan dagangannya diluar dan di sekitar panggung utama, dari yang berjualan balon anak-anak sampai pelukis inai hadir disini. Juga tidak kalah para penjual makanan. Pameran HAI51 ini bisa memacu ekonomi para pedangan kecil.

Semoga kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Karena dengan adanya pameranlah, hasil karya seni dari berbagai daerah bisa ditampilkan. disamping menghasilkan pundi-pundi rupiah dari barang yang diperdagangkan, para pengrajin souvenir juga bisa tampil didepan masyarakat untuk menunjukkan hasil karya mereka. Siapa tahu bisa menjadi ajang promosi ajakan kerja sama dari pihak pengusaha untuk memperluas jaringan usaha atau meningkatkan pesanan kerajinan yang mereka buat.

hai_hasil-bumi-aceh-tengah_hari-aksara-internasional_rio

Disamping itu pameran HAI ini kembali mengingatkan kita tentang sejarah bagaimana perkembangan keberaksaraan bangsa Indonesia, kalau tahun 90-an masih banyak yang buta aksara, sampai-sampai pemerintah membuat program khusus bagi para orang-orang yang belum bisa membaca, bisa bersekolah lagi setelah anak sekolah pulang sekolah, hanya untuk kursus membaca dengan guru-guru SD.

Kini masyarakat tahun 2000-an sudah bisa membaca walaupun tidak 100%. Kita sudah melek ilmu pengetahuan dengan sekolah-sekolah yang sudah ada diseluruh pelosok propinsi. Bahkan kemajuan pendidikan di Kabupaten Pidie sudah menghantarkan siswa-siswanya bersaing ditingkat nasional. Juga sudah ada banyak sekolah unggul di Kabupaten ini, termasuk didalamnya SMU Unggul Blang Galang, SMU Unggul 3 Sigli, Sukma Bangsa dan kelas unggul disekolah-sekolah lain. (rio)

hai_mayeum-tika_hari-aksara-internasional_rio