Hasil Polling: Harapan untuk Perfilman Aceh

Tepat pada tanggal 30 Maret lalu, di Indonesia diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN). Menariknya, perfilman di Aceh justru sedang tumbuh dengan tren yang positif apapun jenis dan kalangan yang ada saat ini.

Dengan momen tersebut, Komunitas @iloveaceh lewat akun Twitter juga menggelar polling sederhana, dimana berhasil mengumpulkan 147 suara dengan pertanyaan simpel, yakni harapan untuk perfilman Aceh.

Dari hasil polling tersebut, ada empat opsi jawabanyan yang diberikan. Dan hasilnya adalah bioskop masih mendominasi untuk segera hadir di Aceh.

Tapi jauh sebelumnya, sejumlah komentar juga bermunculan soal perfilman di Aceh ini, beberapa netizen menyebutkan keseriusaan penikmat film di Aceh malah tidak sebanding dengan permintaan. Pasalnya, dalam rangka HFN ke-66 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) juga melakukan roadshow ke Banda Aceh selama 2 hari Senin dan Selasa (21-22/3/2016), namun antusias yang datang dalam acara tersebut, hanya hitungan jari tangan dan kaki.

“Aceh Ngak Butuh Bioskop, roadshow Hari Film Nasional kemarin, ngak ada penonton,” ujar pemilik akun @azirmaop.

Posisi PHR Tergeser

73 persen memilih “Mesti Ada Bioskop” disusul dengan 15 persen pilihan “Lestarikan Sineas Muda”. Sebenarnya dua jawaban ini memang beberapa tahun ini cukup santer di Aceh, isu yang bergelinding menjadi begitu kuat disaat muncul isu #BioskopuntukBNA yang begitu tenar 2014 silam. Sebelumnya juga, geliat sineas muda di Aceh juga perlahan tumbuh di medio 2012, berbagai komunitas film yang berdiri secara indie mulai menunjukkan bakat mereka.

Seiring bermunculannya komunitas yang dengan genre film (dokumenter) ini, kerap kali kompetisi perfilman nasional juga mulai menyasar ke Aceh, baik itu berupa roadshow, diskusi film serta penanyangan film itu sendiri yang akhirnya sineas muda dari kategori siswa dan mahasiswa hingga masyarakat umum.

Bisa dibilang, netizen yang memilih sineas muda tentunya punya alasan kuat tersendiri, selain peluang juga ada prestise yang banyak orang luar belum tahu akan kebolehan anak-anak muda Aceh dalam perfilman. Siapa tahun 5 atau 10 tahun kedepan, akan muncul sineas muda Aceh yang akan menjajal karyanya ke layar lebar nasional. Tapi lagi-lagi, jika karya mereka (sineas muda Aceh) tembus layar lebar nasional, apa mungkin mereka tetap hanya bisa menonton di Aceh lewat layar tancap yang berhasil mengumpul 7 persen suara.

Layar tancap misbar (gerimis bubar) memang sudah tidak sepopuler dulu lagi di Aceh, jika dirunut lagi layar tancap sempat populer dan menunjukkan keeksisannya di era 90-an. Jika ditanya sekarang, generasi yang lahir 90-an tentu tidak tahu lagi bagaimana keseruan layar tancap saat diputar di tanah lapangan atau diemperan terminal pada malam hari, pastinya seru.

Uniknya, salah satu perhelatan seni di Banda Aceh pada tahu 2013 sempat mengangkat kembali soal layar tancap misbar yang waktu itu digawangi oleh rekan-rekan Komunitas Tikar Pandan. Sayangnya, di perhelatan seni tahunan tersebut agenda layar tancap tidak lagi mendapat porsi untuk pengunjung.

Dan hasil polling terakhir yang kini sudah hilang rimbanya adalah Punya Panggung Hiburan alias Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yang mencapai masa kejayaan di era 80-an. Yang memilih jawaban ini hanya 5 persen, yang artinya mungkin banyak dari netizen mengira panggung hiburan lebih ke konsep show atau konser.

Padahal, seperti mengutip penjelasan seniman senior Aceh Razuardi Ibrahim, keberadaan PHR dan bioskop tempo dulu tidak terpisahkan.

Pada awal tahun 1970, bioskop di Banda Aceh hanya 2 buah yakni, Bioskop Merpati dan Garuda. Pada tahun 1980-an bertambah satu lagi dengan Bioskop Gajah, disamping maraknya bioskop yang digolongkan sebagai Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yakni PHR Puda, PHR Simpang Surabaya dan PHR Urni. Di Bireuen bioskop yang populer yakni Bioskop Dewi dan Bioskop Gajah, berikut beberapa PHR yakni, PHR Suka Senang, PHR Matangglumpangdua dan PHR Ayeu Mata di Kutablang.

“Film yang diminati waktu itu, 1970-an, untuk film silat yang dibintangi Wang Yu, David Chiang, Lo Lieh, dan beberapa yang lain. Untuk film India bintang film yang paling diminati masyarakat yakni Dharmendra, Rajesh Khana, Raj Kapor, Jetendra, Sanyai, Dev Anand dan beberapa yang lain. Sementara film Indonesia yang diminati masyarakat sejenis film drama dengan lima bintang terkenal seperti, Yatti Octavia, Yenny rachman, Dorris Callebout, Roy Martin dan Robby Sugara,” demikian jelas Essex, panggilan panggung Lazuardi.

Sekali lagi, selamat Hari Film Nasional. Film Indonesia adalah kita, kita dimana punya karya dan wadah untuk mengapresiasikannya. Semoga!

Hasil Polling-Harapan untuk Perfilman Aceh

Dirangkum dan disaji ulang oleh Aulia Fitri

Surat Terbuka untuk Kapolda Aceh dari rakan @Ardika_LH

Salah satu rakan dari #ATwitLovers per tanggal 18 Februari mengirim surel ke @iloveaceh terkait #suarawarga yang dirasakan saat melintas jalan nasional Langsa menuju Medan dalam kesehariannya sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Medan.

Pemilik akun @Ardika_LH mengeluh soal pungutan liar yang dilakukan oleh oknum Satuan Lalu Lintas di Polres Aceh Tamiang. Berikut surat terbuka tersebut kami sajikan tanpa ada penyuntingan:

Kepada Yth Kapolda Aceh
Di tempat

Bapak Kapolda yang terhormat, saya adalah warga Kota Langsa yang saat ini sedang menempuh studi di salah satu perguruan tinggi swasta di kota medan. Dalam keseharian saya sebagai mahasiswa, saya sering berpergian dari Medan menuju Langsa atau sebaliknya dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Sebagai warga Aceh dan juga sebagai pengendara saya ingin menginformasikan tentang adanya pungutan liar yang dilakukan oknum anggota satuan lalu lintas Polres Tamiang dengan dalih biaya pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG bagi pengendara kendaraan bermotor yang melintas di wilayah hukum Polda Aceh.

KRONOLOGIS KEJADIAN

Senin, 15 Februari 2016 sekira pukul 11.30 WIB saya mengendarai kendaraan merk Avanza dengan nomer polisi BK 1455 QF dari Langsa menuju Medan melintas di depan kantor Satuan Lalu lintas Polres Aceh Tamiang yang sedang melaksanakan razia. Saat tengah melintas saya diberhentikan oleh seorang petugas yg tidak saya ketahui nama dan pangkat karena petugas tersebut menggunakan rompi sehingga menutupi nama dan pangkatnya. Petugas tersebut menanyakan kelengkapan surat-surat berupa SIM dan STNK, karena merasa surat-surat kendaraan yang saya gunakan lengkap maka saya berikan saja SIM berikut STNK dari kendaraan. Kemudian petugas tersebut bertanya tentang alamat dan saya langsung jawab Langsa. Petugas tersebut langsung mengatakan “ayo pak masuk dulu ke kantor untuk pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG.” Karena ketidaktahuan saya mengenai maksud dan fungsi surat tersebut saya menjawab “oke pak silahkan”.

Saya mematikan mesin kendaraan dan mengikuti petugas yang memberhentikan saya. Saya diarahkan untuk memasuki kantor Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Tamiang. Saya memasuki ruangan yang tidak ketahui pasti ruangan apa namun sebelum masuk keruangan tersebut saya sempat melihat di ruangan sebelah tertulis KANIT LAKA. Diruangan yg saya masuki ada dua orang polisi, seorang berpakaian polisi dengan nama SYAHRIAL dan berpangkat bripka sedang mengetik dikomputer. Sedangkan seorang lagi menggunakan celana polisi dengan menggunakan kaus. Diluar ruangan ada beberapa orangan yang belakangan saya ketahui adalah pengemudi truk gandeng yang bernasib sama dengan saya namun mereka lebih dahulu diberhentiakan sebelum saya. Saya sempat melihat petugas Bripka Syahrial sedang memberikan sebuah SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG dan mengatakan “lima puluh ribu” si pengemudi truk kemudian mengeluarkan uang dan setelah ia hitung jumlah uangnya hanya Rp 48.000 terdiri dari empat embar uang pecahan Rp 10.000 dan empat lembar uang pecahan Rp 2.000 “kurang dua ribu boleh pak” kata si pengemudi truk gandeng “Ya udahlah gak apa” jawab Bripka Syahrial.
Setelah si pengemudi truk gandeng keluar dan Bripka Syahrial pun keluar karena di panggil seseorang untuk mengurus siswa SEBA. Petugas berkaus kemudian menggantikan dan mengetik di komputer yang sebelumnya digunakan Bripka Syahrial. Surat saya selesai dan Bripka Syahrial masuk kembali ke ruangan dan mengatakan “lima puluh ribu”. Karena merasa heran saya sempat bertanya tentang uang tersebut dan dijawab Bripka Syahrial “kalo mau tau tanya aja sama kasat (lantas)”
Saya menunggu yg dimaksud kasat (lantas) tersebut sekitar 15 menit namun yg bersangkutan tidak kunjung terlihat. Kemudian saya keluar dan sempat bertanya kepada beberapa polisi yang sedang berada dihalaman kantor Satuan Lalu Lintas tentang biaya itu dan saya mendapatkan jawaban bahwa untuk negosiasi silahkan langsung kepada petugas yang membuat surat. Setelah kembali keruangan itu saya sempat beradu argumen dengan Bripka Syahrial tentang biaya tersebut namun petugas bernama Bripka Syahrial tersebut tetap menyuruh saya menunggu kasat (lantas) atau kanit.

Karena lelah berdebat dengan Bripka Syahrial saya pun menyerahkan kunci kendaraan yang saya gunakan kepada petugas tersebut dan keluar dari kantor Satuan Lalu Lintas menuju warung yg berjarak sekitar lima puluh meter dari kantor.

Saya sempat berbicara dengan pemilik warung sembari menunggu teman yang saya hubungi untuk meminjam uang karena saya bersikeras tidak mau memberi uang kepada oknum tersebut. Belakangan saya ketahui bahwa pemilik warung tersebut adalah mantan anggota salah satu LSM dan anak dari pensiunan polisi. Dari pembicaraan tersebut saya dapat simpulkan bahwa kegiatan pungli berkedok biaya pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG tersebut telah berlangsung beberapa bulan. Teman saya sampai bersama istrinya dan saya kemudian masuk kedalam halaman kantor dan kami bertiga menemui Bripka Syahrial dan istri teman saya menyarankan saya mengalah karena dia beranggapan kita tidak akan menang bila berurusan dengan polisi. Istri teman saya itu menyerahkan uang kepada Bripka syahrial senilai Rp 50.000.

Hal yang sangat saya sesalkan adalah adanya pungli yang merusak citra Polri khususnya Polda Aceh oleh oknum yg bertugas di Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Tamiang. Dalam hal ini adalah Bripka Syahrial yg menurut pengakuanya melalui pesan (bukti SMS terlampir) singkat setelah saya infokan bahwa atas kejadian pungli ini saya akan membuat surat terbuka kepada Bapak Irjen pol Husein Hamidi selaku Kapolda Aceh. Saya mendapat balasan bahwa intinya kutipan tersebut berdasarkan perintah Kasat Lantas. Ditambah lagi tempat kejadian pungli berada di dalam kantor Satuan Lalu Lintas dan saat kejadian banyak siswa SEBA yang magang di satuan Lalu Lintas. Apakah kejadian ini tidak berdampak buruk nantinya bagi siswa SEBA yang mungkin saja aka meniru cara seniornya melakukan pungli. Mungkin bagi sebagian orang uang senilai Rp 50.000 tersebut bukanlah nilai yang besar namun bagi saya yang sedang menempuh studi diluar kota dan bagi para pengemudi yang mencari nafkah dari jalanan Aceh atau pedagang keliling uang senilai itu sangat berarti. Saya pribadi tidak merasa keberatan dengan UU No.2 Tahun 2002, UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 71 tentang Pemilik Kendaraan Bermotor wajib melaporkan kepada Kepolisian Negara Republik Indonsia dan Surat Telegram Kapolda Aceh Nomor ST / 469 / VI / 2015 tanggal 08 juni 2015 tentang pendataan terhadap kendaraan non BL yg beroperasi di wilayah Aceh. Saya sangat mendukung telegram bapak diatas guna pendataan dan pencegahan tindak kriminal bermotor di wilayah hukum Polda Aceh namun biaya yang katanya untuk pembuatan SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG oleh sekelintir oknum tersebut sangat memberatkan kami sebagai pengguna jalan. Besar harapan saya bapak dapat mempertimbangkan surat terbuka saya ini sebagai bagian dari bahan evaluasi terhadap kinerja sekelompok oknum petugas Satlantas Polres Aceh tamiang yang terlibat kegiatan pungli ini. Berikut saya lampirkan selembar SURAT KETERANGAN LAPOR DATANG bernomor SK / 6723 / II / 2016 / Lantas. Salam hormat

Besar harapan, semoga surat terbuka ini menjadi informasi yang berguna bagi jajaran Polda Aceh dan tentunya ada jalan keluar terbaik. (ed)

Surat Terbuka Kepada Kapolda Aceh

Berkah Peringatan Tsunami Bagi Penjaja Kue Khas Aceh

Kak Pina sedang menunggu pelanggan untuk membeli dagangan jajanan khas Aceh miliknya dilintasan jalan Meulaboh-Banda Aceh.

Kak Peni sedang menunggu pelanggan untuk membeli dagangan jajanan khas Aceh miliknya dilintasan jalan Meulaboh-Banda Aceh, Sabtu (6/12/2014). (Foto: Alfath Asmunda/ iloveaceh.org)

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh 10 tahun silam menyimpan banyak kenangan dan keberkahan tersendiri bagi penjaja kue tradisional khas Aceh.

Para penjual jajanan khas tradisional yang berlokasi di pinggiran jalan lintas Meulaboh – Banda Aceh, tepatnya di Desa Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar mendapat berkah dari momen peringatan tsunami yang selalu diperingati oleh segenap lapisan masyarakat di Aceh.

Sebut saja kak Peni, seorang perempuan penjaja kue tradisional khas Aceh,  mengaku saat memasuki bulan Desember, kue jajanannya laku keras. Hal tersebut dikarenakan bertepatan dengan peringatan tsunami yang selalu menarik banyak pengunjung untuk berhadir dibumi Serambi Mekkah.

Tak hanya dari lokal, pengunjung dari mancanegara pun cukup ramai berdatangan ke Aceh saat peringatan Tsunami tiba. Hal ini seperti dituturkan kak Peni kepada iloveaceh.org, Sabtu (6/12/2014).

“Kalau sudah bulan Desember, biasanya dagangan kami banyak dibeli oleh turis. Apalagi kalau mau dekat-dekat tanggal terjadinya gempa dan tsunami, alhamdulillah dagangan kami banyak laku,” katanya.

Ia menambahkan, jajanan khas Aceh yang dijualnya banyak dibeli oleh pelancong lokal maupun mancanegara, seperti dari Amerika, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Prancis, dan banyak negara lainnya.

“Peringatan tsunami tahun lalu, kue-kue yang saya jual ini banyak dibeli oleh turis. Mereka banyak membeli kue semacam keukarah, kue seupet, dodoi (dodol). Kalau turis dari Malaysia, Singapura, dan Brunei, mereka suka sekali dengan kue meusekat,” tambahnya.

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 silam, tinggal hitungan hari untuk genap satu dekade. Sementara banyak harapan untuk hidup lebih memadai bagi sebagaian masyarakat Aceh masih belum terpenuhi akibat terhimpit beban ekonomi.

Kak Pina berharap, dengan usahanya menjaja kue tradisional Aceh, kehidupannya bisa semakin terus membaik. Ia pun tak patah semangat untuk terus mencari rezeki.

“Mencari rezeki itu bisa dimana saja. Yang paling penting dengan niat yang baik. Masyarakat Aceh harus bangkit, jangan hanya tergantung dengan bantuan orang lain. Kita harus mandiri dengan mencari rezeki yang halal,” tutup perempuan yang mengaku sudah berjualan kue tradisional Aceh selama tiga tahun tersebut. (alf)

#SuaraWarga | Mencari Kejelasan Soal Parkir di Museum Tsunami

Parkir area depan Museum Tsunami-AcehMenyoal parkir kendaraan di Museum Tsunami Aceh bukan lagi isu baru, sejak beberapa tahun belakangan tetap saja berbagai keluhan datang, terlebih lewat jejaring sosial Twitter baru-baru ini yang diterima oleh @iloveaceh.

“Kata juru parkir dpn Museum Tsunami “klw parkir tmpt wisata, roda 2 Rp2000/motor”. Tdk ada karcis resmi dr pemda,” sebut @zulkabar dalam mentionnya kepada @iloveaceh, Kamis (6/2/2014) lalu.

Jika menarik ulur, di tahun 2012 hal serupa juga sempat terjadi. Dimana pengunjung museum tsunami Aceh juga mengeluhkan mahalnya bea parkir yang melonjak 100 % dari ketentuan Pemerintah Kota Banda Aceh. Pengelola parkir mengutip Rp 2.000/sepeda motor. Padahal pada tahun 2012 bea tarif parkir di badan jalan masih berlaku Rp 500/sepeda motor dan Rp 1.000/mobil.

Area parkir dalam Museum Tsunami / foto darirantau.blogspot.comPada tahun 2013, Dishubkominfo Kota Banda Aceh juga telah mengenakan tarif baru, yakni terhitung mulai 1 Maret 2013 Qanun Kota Banda Aceh Nomor 4 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum. Adapun tarif baru tersebut adalah sebagaia berikut:

  • Kendaraan roda 2 dan roda 3 dikenakan tarif sebesar Rp1.000;
  • Untuk kendaraan roda 4 dikenakan tarif Rp2.000; dan
  • Kendaraan roda 6 dikenakan tarif sebesar Rp 6.000.

Berdasarkan hal inilah, @iloveaceh kembali menaikkan #suarawarga sebagai bentuk penjaringan pendapat warga di linimasa dari sejumlah pengunjung yang pernah bertandang ke lokasi wisata ini untuk mencarikan solusi yang nantinya bisa diambil kebijakan baik itu oleh manajemen museum, dinas terkait, serta warga setempat yang disebut-sebut sebagai pengelola parkir area luar.

Apa Kata #ATwitLovers

Selama 1 kali 60 menit, @iloveaceh berhasil menjaring beragam pendapat. Tidak lepas dari itu semua, pendapat yang masuk dalam #suarawarga juga bisa mewakili beberapa pendapat umum lainnya soal tanggung jawab dari petugas atau juru parkir serta keberadaan area parkir yang dikelola secara terpisah antara pihak manajemen museum dan warga setempat.

Menanggapi hal tersebut dan sejumlah #suarawarga, pihak Museum Tsunami lewat akun resmi juga kembali memberikan klarifikasi pada Jum’at (7/3/2014). Berikut petikannya:

Dari klarifikasi di atas juga bisa kita ambil kesimpulan bahwa, uang retribusi parkir juga ditampung oleh pihak Pemkot Banda Aceh. Namun, upaya penjelasan informasi kepada masyarakat atau pengunjung di Museum Tsunami ada baiknya juga disampaikan dalam bentuk tertulis seperti pencantuman plang retribusi di depan area luar atau dalam museum.

Kita juga mengharapkan persoalan yang sama tidak bermunculan lagi ke depan dan menjadi bahan pertimbangan dari pihak-pihak yang telah disebutkan di atas tadi (Manajemen Museum Tsunami, Pemkot Banda Aceh, warga setempat) untuk melakukan rembuk alias menggelar diskusi dalam mencari solusi alternatif lainnya. Sehingga kesadaran masyarakat untuk berkunjung ke tempat wisata seperti Museum Tsunami juga akan lebih meningkat kedepan dengan adanya upaya dari pihak pengelola sendiri dalam menjaga kenyamanan pengunjung. (ed)

#SuaraWarga | Aceh Harus Mandiri Tangani Krisis Listrik

Suasana mati lampu di Banda Aceh salah satu rumah #ATwitLovers, gelap sangatkan / IstBeberaha hari terakhir ini, di linimasa bermunculan banyak pertanyaan yang masuk lewat mention ke @iloveaceh dengan drastis mendadak ramai soal pemadaman listrik, baik siang atau pun malam hari.

Pemadaman listrik yang terjadi berjam-jam bahkan setengah hari di Aceh ini seakan-akan telah menjadi hal yang biasa, namun kondisi ini tidak bisa dilihat sebelah mata.

Pasokan listrik dari Sumatera Utara (Sumut) ke Aceh sampai saat ini masih belum teratasi. Hal tersebut diakui oleh PT PLN (Persero) yang terus melakukan cara untuk menangulanginya, namun tidak sedikit rintangan juga untuk mengatasi defisit listrik ini.

“Banyak kendala yang di luar kewenangan kami, mulai dari pembebasan lahan yang tidak kunjung selesai, sehingga membuat pengerjaan proyek pembangkit listrik terhambat, si kontraktor yang mengerjakan pembangkit telat selesai membangun pembangkit, tanah sudah dibebaskan muncul masalah-masalah sosial di sana, sudah ada pembangkit ditolak masyarakat dan lain sebagainya yang terjadi di lapangan,” ungkap Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto, Senin (24/2/2014) lalu.

Bambang menyebutkan, PLN terus melakukan langkah darurat untuk menangani krisis listrik tersebut dengan melakukan sewa genset berkapasitas total 150 MW.

“Tapi tentu itu masih belum cukup, karena seharusnya kelistrikan di Sumatera Utara sudah direncanakan dipasok dari PLTU-PLTU seperti Nagan Raya berkapasitas 2 x 110 MW di Meulaboh, Aceh, PLTU Pangkalan Susu 2 x 200 MW di Sumatera Utara dan PLTU Teluk Sirih 2 x 112 MW di Sumatera Barat. Namun PLTU-PLTU tersebut molor pengerjaanya sesuai target yang ditentukan. Terlambatnya proyek tersebut di luar kuasa PLN, karena yang mengerjakan proyek tersebut adalah kontraktor dari China,” ungkapnya Bambang.

Ia menegaskan, PLN akan berusaha mengurangi dampak defisit listrik ini dan akan mulai terlihat antara Maret-April.

“Pasalnya PLTU Nagan Raya 2 x 110 MW unit 1 sudah mulai tes dan sudah menghasilkan listrik, tidak lama lagi bisa segera mengalir listriknya ke masyarakat, apalagi PLTU Labuan Angin 2 x 115 MW akan segera selesai perbaikkannya dan mulai beroperasi kembali minggu depan, ini akan menambah pasokan listrik sekitar 200 MW,” tandasnya.

Apa Pendapat Mereka

Lewat linimasa kita pun memulai dengan #suarawarga dari sejumlah #ATwitLovers, pada Rabu (26/2/2014) malam jelang pagi hari. Kami pun mulai menanyakan sejumlah pendapat, opini, serta ide-ide dari sejumlah #ATwitLovers terkait seringnya pemadaman listrik di beberapa daerah.

Berikut ini yang kami rangkum, #suarawarga dari #ATwitLovers agar Aceh juga mampu dan bisa menjadi mandiri dalam menangani krisis listrik ini.

Demikianlah #suarawarga dari raka-rakan, memang 140 karakter ini tidak akan berarti apa-apa jika tanpa solusi nyata. Namun, apa yang telah dikatakan warga ini menjadi poin penting bagi pengambilan kebijakan untuk menyikapi apa yang diperlukan masyarakat saat ini. Infrastruktur, SDA, dan juga SDM yang tidak kalah penting juga bagian yang perlu disorot lagi.

Semoga saja, kemandirian Aceh dalam soal listrik bisa terus dewasa seiring dengan sejumlah perkembangan sarana dan prasana yang kelak bisa mensejahterakan rakyat. Do’a kita bersama untuk Aceh tercinta. (ed)

Lewat Tagar #Aceh2014 Warnai Harapan di Tahun Baru

Harapan #Aceh2014 / Photo by Elizabeth WongJelang pergantian tahun, sejumlah harapan dan semangat memang sering menjadi momen untuk perubahan. Tidak terkecuali juga suasana di linimassa, pergantian tahun 2013 menuju tahun 2014 juga diwarnai dengan semangat dan harapan.

Tidak muluk-muluk, harapan untuk Aceh yang lebih baik semua diharapkan. Sejumlah masukan dan juga kritikan bagi semua pihak untuk saling berperan menjadi kunci, bahwa semua perubahan yang baik tetap berawal dari pribadi masing.

Lewat jejaring sosial, kami pun menjaring #suarawarga tentang harapan apa yang diinginkan rakan #ATwitLovers untuk Aceh di tahun 2014. Dan inilah yang kami rangkum dalam tagar #Aceh2014 untuk Anda.

Itulah sejumlah harapan yang bisa kita lihat dari anak-anak muda di Aceh di linimassa #Aceh2014, tentu saja ada yang bernada lucu, jenaka, namun juga ada yang sangat dan berharap serius. Kesemua harapan tentu bukan sihir yang bisa semudah membalikkan telapak tangan.

Proses akan terus dijalani, setiap perkataan memang banyak membutuhkan pembuktian. Pelan-pelan sebuah dambaan untuk Aceh menjadi lebih baik pasti diidamkan oleh semua warganya yang berada paling ujung pulau Sumatera ini. Semoga saja pesan-pesan kecil dari #Aceh2014 bisa menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait, dan juga bagi semua orang yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan. Mau dibawa kemana Aceh ini di tahun 2014 nanti. (ed)