Komunitas @iloveaceh Gelar Peringatan #SangerDay

photoKomunitas @iloveaceh bersama dengan ILATeam Management akan menggelar peringatan Hari Sanger untuk pertama kalinya dengan mengangkat tema “Everyday is Sanger Day” pada Minggu, (12/10/2014) di Solong Mini Lampineung, Banda Aceh.

“Hari Sanger ini memang awalnya kita gerakkan di media sosial akun @iloveaceh lewat tagar #SangerDay, tujuannya untuk menjadikan #SangerDay sebagai peringatan rutin tahunan di Aceh dan memperkenalkan kopi Sanger sebagai salah satu minuman khas asal Aceh,” ujar M. Antonio Gayo selaku penanggung jawab kegiatan.

Anton menambahkan, Sanger yang merupakan kopi dengan cita rasa khas Aceh ini memang beda dari kopi susu biasanya, diharapkan even kecil yang berbasis komunitas ini ikut menjadi daya tarik wisatawan ke Aceh.

“Kegiatan ini memang sederhana, setidaknya Hari Sanger bisa sampai gaungnya ke tingkat nasional maupun internasional. Komunitas @iloveaceh juga berhadap #SangerDay bisa membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap minuman yang punya sebutan “sama-sama ngerti” alias sanger ini,” jelas Anton.

Sejumlah lintas komunitas juga turut berpartisipasi meramaikan Hari Sanger tersebut, serta tidak lupa dihadiri sejumlah followers dan beberapa pembicara sebagai narasumber yang dikemas secara santai sambil nyanger.

Selanjutnya, jelang peringatan #SangerDay diadakan lomba #SangerDay Twitpic Contest, mewajibkan peserta lomba mengunggah foto lewat Twitter dan Instagram.

Untuk ketentuan lomba dan informasi #SangerDay selanjutnya, dapat langsung lihat dilinimasa akun Twitter @iloveaceh serta akun instagram ‘atwitlovers’. (che)

 

Craving Light, Tempat Santai Bernuansa ‘Vintage’

Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherararaHadir ditengah-tengah kegundahan teman-temannya soal tempat menyantap makanan ringan, yang sekaligus bisa di jadikan tempat nongkrong untuk bersantai, membuat Putri dan teman-temannya tertarik untuk menghadirkan konsep cafe bergaya vintage.

Penampilan retro dan klasik, menghiasi sejumlah ruangan di cafe bilangan Batoh, Banda Aceh ini. Mulanya Putri tidak kepikiran untuk membuat cafe dengan konsep vintage tersebut seperti yang dituturkan kepad @iloveaceh beberapa waktu lalu.

“Awalnya nggak kepikiran. Karena lihat kawan-kawan di sosial media pada ngeluh susahnya mencari tempat makan yang santai, nggak bising, bernuansa klasik, di Banda Aceh. Maka saya dan teman-teman timbul satu ide untuk membuat cafe dengan nuansa yang betul-betul membuat pengunjung betah. Maka lahirlah Craving Light ini,” ujar Putri, perempuan berparas ayu ini yang berani terjun menjadi pengusaha diusia muda.

Berangkat dari kegundahan teman-temannya yang curhat di sosial media itulah, membuat Putri untuk memberanikan diri dengan menghadirkan usaha kulinernya yang diberinama Craving Light.

Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherararaMenurut Putri, Craving Light memang beda dengan konsep cafe-cafe lainnya, disini ia menawarkan konsep kenyamanan dan tentu saja dengan sajian makanan yang menggugah lidah, ditambahkan lagi nuansa yang buat pengunjung betah berlama-lama.

Saat pertama sekali masuk ke cafe ini, Anda akan merasakan nuansa klasik dengan sejumlah pernak-pernik modern. Dinding-dinding cafe yang berbalut warna putih cerah, memberikan kesan nyaman, selain itu akan kita jumpai banyak hiasan seperti foto-foto dan karya seni lainnya terpajang disana. Soal pencahayaan, cafe ini cukup membuat Anda terasa rileks.

“Sengaja aja saya memilih warna cafe-nya putih. Soalnya kan warna putih masuk dengan suasana kepribadian orang-orang yang ingin mencari ketentraman. Pun warna putih itu kan warna netral,” kisah Putri tentang pemilihan warna untuk cafe ini.

Putri melanjutkan, ia dan teman-temanya yang juga pemilik Craving Light ini, memberanikan diri membuat nuansa cafe layaknya rumah sendiri bagi pengunjung. Sebab baginya, inilah salah satu faktor pendukung yang membuat pengunjung nyaman berlama-lama disini, dan pasti mereka tak akan bosan-bosannya untuk kembali lagi kesana.

Anak-anak muda yang sangat menggemari tempat nongkrong yang jauh dari keramaian, suara bising, sangat cocok sekali untuk mengunjungi cafe yang beralamat di jalan Tgk Muhammad Hasan Batoh, sembari meluangkan waktu sejenak untuk duduk santai bersama teman-teman sambil menikmati makanan yang disuguhkan.

Salah satu menu di cafe Craving Light / @cherararaSajian menu makanannya di Craving Light cukup beragam. Dari makanan bergaya Eropa semisal Smoothies, Cake, Bistik Ayam, Tiramisu cake, Banana Strawberry, dan masih banyak menu-menu andalan khas lainnnya. Namun bagi Anda penikmat makan khas tradisional Aceh jangan khawatir, di sini juga menyediakan berbagai macam aneka makanan yang populer di Aceh, mie Aceh salah satunya yang siap menggoyang lidah Anda.

Tentu, di samping makanan yang enak, harga juga menjadi patokan “mau tidaknya” pembeli untuk datang ke sebuah cafe. Untuk cafe Craving Light sendiri Anda tidak perlu khawatir soal harga. Sebab, harga makanan yang di tawarkan disini sangat bersahabat dengan isi kantong. Terlebih bagi Anda yang berstatus pelajar, dijamin sangat tidak mencekik dompet.

Selain itu, cafe yang aktif di akun Twitter @craving_light ini juga menyediakan beberapa fasilitas lain untuk semakin membuat pengunjung nyaman. Seperti fasilitas musholla untuk beribadah dan Water Closet (WC).

Mushalla di Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherarara

Bagi Anda yang suka bernarsis ria sendiri atau bersama teman-teman dan keluarga, tenang saja Craving Light menyediakan tempat khusus untuk photobooth. 

Yang lebih unik lagi, caffee ini juga menyediakan penjualan bunga-bunga segar yang sudah sedemikian cantik di rangkai. Seperti bunga mawar segar, yang bisa anda beri kepada orang spesial di hari-hari penting dalam kehidupan anda.

Dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1435 H yang sudah dekat di depan mata, Criving Light juga menyediakan beberapa macam jenis kue kering yang bisa Anda beli atau sebagai oleh-oleh buat sanak saudara setelah Anda, atau untuk Anda sendiri mungkin sebagai penambah koleksi kue di rumah saat Idul Fitri Nanti. (alf/che)

Berawal dari Nama Abu Nawas hingga Menjadi @alikebabaceh Cafe

PicsArt_1385726882910 Siapa yang tinggal di Banda Aceh, tapi belum pernah makan Ali Kebab?  Wah, pertanyaan yang menarik mengingat @alikebabaceh –akun Twitter resmi Ali Kebab– sendiri salah satu panganan favorit di Banda Aceh dan hanya tersedia di Banda Aceh pula. Penikmatnya mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Nah, bagaimana bisa panganan sehat ini bisa ngetrend di Banda Aceh?

Kisahnya berawal dari seorang mahasiswa lulusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta yang kembali ke daerah asalnya Banda Aceh. Ia memulai peruntungan di jalur kuliner pada tahun 2008 dengan cara Frienchise Kebab di daerah Peunayong, Banda Aceh.

Selanjutnya pada tahun 2010, Muhammad Fadli yang akrab di sapa Ali ini menuturkan  kepada @iloveaceh, Jum’at (29/11/2013) bahwa dia mulai memberanikan diri untuk membuat citarasa kebab sendiri dengan membuat kebab yang di beri nama Abu Nawas.  Namun, karena Abu Nawas merupakan tokoh yang berwatakan negatif, maka dia memutuskan untuk menamai kebabnya dengan namanya  sendiri yaitu Ali Kebab.

Muhammad Fadli owner dari Ali Kebab / @iloveaceh“Ali Kebab sendiri dari segi cita rasa pasti berbeda. Mulai dari saos, mayonaise, dan yang paling penting dagingnya dari produsen yang berbeda dari kebab-kebab lain di Banda Aceh. Nah, itu yang membedakan cita rasa Ali Kebab ini”, tutur pria kelahiran Banda Aceh, 33 tahun silam ini.

Tepat Minggu (10/11/2013) lalu, Ali Kebab yang berpusat di Lampineung ini juga baru saja soft launching outlet baru “Ali Kebab Café” di Kampung Laksana, Jalan Al-Huda dengan membagikan 1000 kebab gratis. Hingga kini Ali Kebab pun sudah membuka cabang sendiri hingga 6 tempat dan beberapa di warung kopi seputaran Banda Aceh.

“Sejauh ini @alikebabaceh hanya tersedia di daerah Banda Aceh, namun ada rencana untuk menghadirkannya di luar daerah Banda Aceh dalam waktu dekat”, lanjut owner Ali Kebab ini.

Jadi, siapa yang belum coba menu sehat asal Timur Tengah ini? Langsung saja usir rasa penasaran Anda dengan mencicipi @alikebabaceh di cabang terdekat, bisa ajak teman bahkan keluarga untuk menyantapnya. (che/ed)

Penulis : @cherarara

Timphan juga hadir di @AcehCoffest2013

imagesJika kita mendengar kata Timphan, pasti yang terlintas dipikiran kita adalah kue yang dibungkus rapi oleh daun pisang dan didalamnya terdapat berbagai jenis rasa seperti srikaya, kelapa, bahkan ada juga durian. Pasti kita setuju jika timpan adalah kue segala umur, penikmatnya mulai dari yang tua hingga anak-anak, cocok untuk teman bersantai sore dilengkapi segelas kopi hangat.

Kue timpan merupakan salah satu makanan khas Aceh. Panganan manis ini terbuat dari tepung ketan, bahkan kue ini menjadi kegemaran masyarakat Aceh. Selain hari-hari besar, kue timpan juga sering ditemui dalam pesta besar, arisan, maupun jamuan penting lainnya yang diadakan masyarakat Aceh. Bahan yang dipakai untuk adonan kue timpan adalah tepung ketan yang dicampur dengan pisang raja atau labu.

Adonan kue timpan dibungkus dengan daun pisang yang sudah diolesi dengan minyak goreng. Tujuannya adalah agar saat matang, kue ini tidak lengket ketika dibuka pembungkusnya.

Mungkin anda bingung dimana bisa menikmati panganan khas Aceh ini, karena tidak sempat untuk membuatnya sendiri. Nah, langsung saja datang ke acara “Banda Aceh Coffee Festival” tahun ke-III yang berlangsung pada 22-24 November 2013 di Taman Sari. Timphan akan disajikan berbagai rasa serta ditemani 1001 cita rasa kopi yang tersedia di acara ini.

Kapan lagi kita menikmati kuetimpan ditemani live music mulai dari modern hingga tradisional Aceh. Jangan sampai ketinggalan, atau kalian harus menunggu sampai tahun depan lagi.(che/ed)

Penulis: Chera Ayarizki (@cherara)

Festival Kuliner Aceh Digelar di Banda Aceh

Pintu masuk Festival Kuliner Aceh di Taman Sri Ratu Safiatuddin / @antoniogayoMau cicipi kuliner tradisional Aceh dengan bumbu khas rasa rempah? pastinya jangan lewatin kegiatan Festival Kuliner Aceh yang saat ini sedang diadakan di Taman Sri Ratu Safiatuddin, Lampriet Banda Aceh hingga 21 Juni mendatang.

Tidak saja menyanyikan aneka kuliner Aceh dari berbagai kota dan kabupaten di Aceh, berbagai lomba memasak, bazar, hiburan serta seminar gaya hidup sehat dan makanan juga akan digelar diarena PKA ini.

Acara yang diselenggarkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh ini terbuka untuk umum dan tentunya gratis, apalagi bisa icip-icip makanan yang dijajakan dari masing-masing stand.

Jangan sampai kelewatan ya, informasi lanjut bisa juga follow @DisbudparAceh atau pantau saja di linimassa @iloveaceh untuk informasi update lainnya. (ed)

Tradisi Kopi dan Konservasi

970051_375960225857538_1662989282_nTradisi minum kopi memang sudah mengakar di sebagian warga Indonesia, tak terkecuali di daerah Aceh yang terkenal dengan kopinya. Kopi Aceh adalah salah satu kopi paling populer di negeri kita Indonesia dan Dunia, untuk itu sudah menjadi hal lumrah kalau kopi dijadikan minuman khas di Aceh.

Kopi Arabika adalah salah satu kopi yang dikenal berasal dari Aceh, kopi ini merupakan jenis Arabika kopi terbanyak yang dikembangkan oleh para petani kopi di dataran tinggi Gayo – Aceh, dan hasil produksinya adalah yang terbesar di Asia untuk jenis arabika. Kopi Gayo Aceh juga memiliki citarasa yang khas dan sudah diakui oleh pakar uji citarasa (cupper) kopi dunia.

Salah satu jenis Kopi Arabika Gayo yang sudah dikenal oleh masyarakat luas adalah Leuser Coffee yang merupakan sebuah hadiah untuk setiap penikmat kopi arabika Gayo (Aceh).

Sejarah perkembangan

“Leuser Coffee terbentuk atas inisiatif isu lingkungan dengan melihat kondisi perambahan hutan yang terjadi di Aceh. Ini dikarenakan hasil hutan bukanlah hanya kayu semata namun  juga dapat dimanfaatkan untuk hasil sumber daya alam lainnnya. Salah satunya dengan memfokuskan masyarakat pinggiran hutan untuk berkomitmen agar tetap menjaga kelestarian alam dengan bertani kopi. Nama Leuser sendiri diangkat dari sebuah nama Taman Nasional Gunung Leuser yang berada di propinsi Aceh” Ujar Gem pemilik Leuser Coffee.

Proses Pengolahan Kopi

Proses pengolahan Leuser Coffee ini dimulai dengan memilih biji merah,  kemudian dilakukan penyortiran cherry dan di permentasi selama 12 jam dalam bentuk gabah. Setelah itu, biji kopi ini dijemur pada para-para (Jaring) sehingga kualitas kopi tidak terkontaminasi dengan benda disekitarnya. Untuk mendapat hasil kopi yang berkualitas, Gem harus sangat teliti untuk menjaga kadar air hingga 14%.

Selanjutnya, Leuser Coffee ini di roasting pada level medium dan disesuaikan dengan selera permintaan para pemesan seperti medium to dark yang biasanya di olah untuk menu espresso di cafe cafe, serta tersedia dalam pilihan green bean premium jika buyer (pembeli) yang menginginkan green bean (biji hijau) nya saja.

Positifnya, selain ikut memberikan premium fee kepada petani kopi, Leuser Coffee juga turut membantu kelestarian hutan-lingkungan Aceh melalui penanaman pohon dan kampanye sadar lingkungan. Untuk setiap pembelian 1 Pack Leuser Coffee, anda sudah berkontribusi sebesar Rp.1000,- untuk pelestarian hutan-lingkungan Aceh dan Rp.1000,- untuk petani kopi sebagai premium fee.

Track Record

Tidak hanya berkembang di Aceh, perkembangan Leuser Coffee juga sudah menjangkau beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Semarang, Bogor, Jogja, Bali dan beberapa kawasan sekitarnya. Selain itu, Leuser Coffee juga sudah pernah di order oleh pembeli yang berasal dari Thailand, Malaysia, Singapore, Vietnam, dan Amerika. Selanjutnya menurut gem, awal bulan depan (Juni) akan ada buyer yang berasal dari Turki yang ingin membawa Leuser Coffee untuk tester. Dalam tahun ini, Leuser Coffee juga akan diikutsertakan dalam Festival Food and Coffee 2013 yang akan diadakan di Banda Aceh.

Untuk  mendapatkannya, pembeli cukup merogoh kocek Rp.30.000 per 100 gramnya. Leuser Coffee bisa didapatkan secara langsung dengan menghubungi lewat nomor 085277747888 Danurfan (Gem). (zdayat)

944102_375962212524006_1580035005_n

Petani Kopi di daerah dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah.

945381_375961689190725_999461658_n

Biji kopi yang telah melewati proses roasting level medium.

376933_375954902524737_670435503_n

Leuser Coffee dalam kemasan 100 gram.

Penanaman pohon di sekolah pada hari bumi 22 april 2013, hasil dari kontribusi 1000 Rupiah dan dana hibah lingkungan lainnya bersama @tropicalsociety.

Penanaman pohon di sekolah pada hari bumi 22 april 2013, hasil dari kontribusi 1000 Rupiah dan dana hibah lingkungan lainnya bersama @tropicalsociety.