Hasil Polling: Harapan untuk Perfilman Aceh

Tepat pada tanggal 30 Maret lalu, di Indonesia diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN). Menariknya, perfilman di Aceh justru sedang tumbuh dengan tren yang positif apapun jenis dan kalangan yang ada saat ini.

Dengan momen tersebut, Komunitas @iloveaceh lewat akun Twitter juga menggelar polling sederhana, dimana berhasil mengumpulkan 147 suara dengan pertanyaan simpel, yakni harapan untuk perfilman Aceh.

Dari hasil polling tersebut, ada empat opsi jawabanyan yang diberikan. Dan hasilnya adalah bioskop masih mendominasi untuk segera hadir di Aceh.

Tapi jauh sebelumnya, sejumlah komentar juga bermunculan soal perfilman di Aceh ini, beberapa netizen menyebutkan keseriusaan penikmat film di Aceh malah tidak sebanding dengan permintaan. Pasalnya, dalam rangka HFN ke-66 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman bekerjasama dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) juga melakukan roadshow ke Banda Aceh selama 2 hari Senin dan Selasa (21-22/3/2016), namun antusias yang datang dalam acara tersebut, hanya hitungan jari tangan dan kaki.

“Aceh Ngak Butuh Bioskop, roadshow Hari Film Nasional kemarin, ngak ada penonton,” ujar pemilik akun @azirmaop.

Posisi PHR Tergeser

73 persen memilih “Mesti Ada Bioskop” disusul dengan 15 persen pilihan “Lestarikan Sineas Muda”. Sebenarnya dua jawaban ini memang beberapa tahun ini cukup santer di Aceh, isu yang bergelinding menjadi begitu kuat disaat muncul isu #BioskopuntukBNA yang begitu tenar 2014 silam. Sebelumnya juga, geliat sineas muda di Aceh juga perlahan tumbuh di medio 2012, berbagai komunitas film yang berdiri secara indie mulai menunjukkan bakat mereka.

Seiring bermunculannya komunitas yang dengan genre film (dokumenter) ini, kerap kali kompetisi perfilman nasional juga mulai menyasar ke Aceh, baik itu berupa roadshow, diskusi film serta penanyangan film itu sendiri yang akhirnya sineas muda dari kategori siswa dan mahasiswa hingga masyarakat umum.

Bisa dibilang, netizen yang memilih sineas muda tentunya punya alasan kuat tersendiri, selain peluang juga ada prestise yang banyak orang luar belum tahu akan kebolehan anak-anak muda Aceh dalam perfilman. Siapa tahun 5 atau 10 tahun kedepan, akan muncul sineas muda Aceh yang akan menjajal karyanya ke layar lebar nasional. Tapi lagi-lagi, jika karya mereka (sineas muda Aceh) tembus layar lebar nasional, apa mungkin mereka tetap hanya bisa menonton di Aceh lewat layar tancap yang berhasil mengumpul 7 persen suara.

Layar tancap misbar (gerimis bubar) memang sudah tidak sepopuler dulu lagi di Aceh, jika dirunut lagi layar tancap sempat populer dan menunjukkan keeksisannya di era 90-an. Jika ditanya sekarang, generasi yang lahir 90-an tentu tidak tahu lagi bagaimana keseruan layar tancap saat diputar di tanah lapangan atau diemperan terminal pada malam hari, pastinya seru.

Uniknya, salah satu perhelatan seni di Banda Aceh pada tahu 2013 sempat mengangkat kembali soal layar tancap misbar yang waktu itu digawangi oleh rekan-rekan Komunitas Tikar Pandan. Sayangnya, di perhelatan seni tahunan tersebut agenda layar tancap tidak lagi mendapat porsi untuk pengunjung.

Dan hasil polling terakhir yang kini sudah hilang rimbanya adalah Punya Panggung Hiburan alias Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yang mencapai masa kejayaan di era 80-an. Yang memilih jawaban ini hanya 5 persen, yang artinya mungkin banyak dari netizen mengira panggung hiburan lebih ke konsep show atau konser.

Padahal, seperti mengutip penjelasan seniman senior Aceh Razuardi Ibrahim, keberadaan PHR dan bioskop tempo dulu tidak terpisahkan.

Pada awal tahun 1970, bioskop di Banda Aceh hanya 2 buah yakni, Bioskop Merpati dan Garuda. Pada tahun 1980-an bertambah satu lagi dengan Bioskop Gajah, disamping maraknya bioskop yang digolongkan sebagai Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yakni PHR Puda, PHR Simpang Surabaya dan PHR Urni. Di Bireuen bioskop yang populer yakni Bioskop Dewi dan Bioskop Gajah, berikut beberapa PHR yakni, PHR Suka Senang, PHR Matangglumpangdua dan PHR Ayeu Mata di Kutablang.

“Film yang diminati waktu itu, 1970-an, untuk film silat yang dibintangi Wang Yu, David Chiang, Lo Lieh, dan beberapa yang lain. Untuk film India bintang film yang paling diminati masyarakat yakni Dharmendra, Rajesh Khana, Raj Kapor, Jetendra, Sanyai, Dev Anand dan beberapa yang lain. Sementara film Indonesia yang diminati masyarakat sejenis film drama dengan lima bintang terkenal seperti, Yatti Octavia, Yenny rachman, Dorris Callebout, Roy Martin dan Robby Sugara,” demikian jelas Essex, panggilan panggung Lazuardi.

Sekali lagi, selamat Hari Film Nasional. Film Indonesia adalah kita, kita dimana punya karya dan wadah untuk mengapresiasikannya. Semoga!

Hasil Polling-Harapan untuk Perfilman Aceh

Dirangkum dan disaji ulang oleh Aulia Fitri

American Film Showcase Akan Hadir di Aceh

American Film ShowcaseTahun ini Konsulat Amerika Serikat di Medan kembali mengadakan kegiatan American Film Showcase (AFS) yang nantinya akan hadir di Aceh pada tanggal 23-24 April mendatang.

Selain itu, pembuat film Leah Mahan juga akan bertandang ke Banda Aceh bersama dengan Konsul AS Y. Robert Ewing dan Atase Kebudayaan Kedubes AS Deborah Lynn dan akan memimpin diskusi interaktif, lokakarya, serta wawancara media yang berkaitan dengan film-film Amerika.

Dalam program AFS di Sumatera kali ini akan menayangkan tujuh film AFS termasuk Come Hell or High Water: The Battle of Turkey Creek yang disutradarai oleh Leah Mahan.

Konsul AS Y. Robert Ewing menyampaikan rasanya senangnya bisa membawa program AFS ke Medan dan Banda Aceh.

“Saya sangat senang kami dapat membawa AFS ke Medan dan Banda Aceh. Tahun ini kami punya satu program special karena pembuat film Amerika, Leah Mahan dapat berdiskusi secara langsung tentang filmnya Come Hell or High Water: The Battle for Turkey Creek,” ujarnya.

Lebih lanjut, Robert menyebutkan film yang akan ditayangkan nanti bisa menginspirasi gerakan lingkungan hidup demi kebaikan komunitas di seluruh dunia. “Leah membawakan inspirasi tersebut bagi kita,” sebutnya.

AFS adalah inisiatif Diplomasi kebudayaan dari Departemen Luar Negeri AS, dimana Biro Pendidikan dan Budaya Deplu AS bekerja sama dengan University of Southern California School of Cinematic Arts (SCA). AFS memberikan Kedutaan dan Konsulat AS kesempatan untuk membawa film dokumenter kontemporer Amerika yang telah meraih penghargaan kepada penonton di seluruh dunia, memberikan sebuah pandangan atas masyarakat dan budaya Amerika melalui sudut pandang pembuat film dokumenter independen.

Program AFS sendiri di Banda Aceh akan digelar selama dua hari, Kamis (23/4/2015) di Auditorium Kantor Walikota Banda Aceh pukul 20.15 – 22.30 WIB yang terbuka untuk umum dan Jumat (24/4/2015) di UIN Ar-Raniry pukul 08.30- 11.00 WIB bagi awak media. (ed)

Sore Ini, Film “A Visit to Ali Farka Toure” Tayang di Episentrum UK

Pemutaran Film Tikar PandanKomunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI) dalam rangkaian seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan September ini akan memutarkan film “A Visit to Ali Farka Toure” yang akan digelar Rabu (24/9/2014), pukul 16.00 WIB di Episentrum Ulee Kareng.

Selain penayang film yang berjudul asli “Ali Farka Touré-Le miel n’est jamais bon dans une seule bouche” ini juga akan diisi dengan diskusi oleh pemateri.

“Pembicara diskusi adalah Moritza Thaher, pendiri dan Kepala Sekolah Musik Moritza,” sebut Komunitas Tikar Pandar dalam rilisnya.

Pemutaran film ini kategori remaja bebas karcis, tepatnya berada di Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Institut Français Indonesia, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Infoscreening.

Sinopsis

Film dokumenter ini mengikuti perjalanan penyanyi dan gitaris legendaris dari Afrika, Ali Farka Touré (yang meninggal pada 2006 silam) saat dia kembali ke rumahnya dan akar musiknya di Niafunké, Mali. Dia lahir dengan nama lahir Ali Ibrahim Touré. Ali pernah memenangkan Grammy Award dua kali. Ali melihat sosoknya sekarang sebagai petani dan pecinta keluarga, yang mencoba meningkatkan kondisi agrikultur dan sosial di Timbuktu.

Tempat ini sangat berkekurangan. Ali dikenal sebagai legenda terutama dalam menghubungkan musik blues Amerika dan musik gitar asli di Mali. Dia akhirnya memopulerkan aliran yang dikenal sebagai Blues Mali.Martin Scorsese, salah seorang sutradara film Amerika Serikat menyebut gaya musik Ali sebagai “DNA-nya musik blues”. (ed)

Informasi Ramol (085260034932)

Yuk Ikut, Cang-pilem Sembari Berbahasa dan Buka Puasa

Die Fremde LandscapeCang-pilem!–pemutaran dan diskusi film edisi Ramadhan kembali digelar, dengan mengambi tema “Mari Berbahasa Sambil Berpuasa (wir sprechen während des Fastens)” Komunitas Tikar Pandan akan memutarkan film Jerman-Turki berjudul Die Fremde, Minggu (13/7/2014).

Die Fremde adalah film drama Jerman-Turki yang diproduksi tahun 2010 yang disutradarai oleh pembuat film Austria, Feo Aladag. Film berdurasi 119 menit ini bercerita tentang seorang ibu keturunan Turki, Umay (diperankan oleh Sibel Kekili), yang berjuang menentukan nasib di antara benturan dua nilai budaya yang berbeda. Kisah ini menggangkat tema tentang kehormatan, intoleransi, dan keharmonisan dalam hidup bersama.

Film ini telah mendapat banyak penghargaan di festival dunia. Untuk perannya yang luar biasa sebagai Umay dalam film ini, Sibel Kekili meraih penghargaan Aktris Terbaik Film Jerman 2010. Film ini merupakan karya debut sang sutradara Feo Aladag dan di tahun yang sama juga menerima tujuh nominasi dalam ajang penghargaan versi Persatuan Kritikus Film Jerman. Di kancah internasional “Die Fremde“ meraih penghargaan LUX dari Parlemen Eropa sebagai karya terbaik seni film di Eropa. Pada tahun 2010, Komite Seleksi Film Jerman resmi memilih Die Fremde masuk ke kompetisi Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Bagi Anda yang ingin ikut, jangan lupa untuk berhadir pada pukul 15.00 WIB. Selain nonton bersama, juga akan ada diskusi dengan menghadirkan pembicara dari komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh yaitu Baiquni Hasbi dan Azhar Ilyas.

Komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh adalah wadah bagi semua penggemar bahasa yang sudah menguasai atau sedang belajar bahasa asing. Kegiatan utamanya adalah pertukaran bahasa. Dalam setiap pertemuan rutin tiap dua-mingguannya, peserta dan peminat umum dapat belajar, diskusi, praktik, serta bertukar info dan pengalaman dalam menekuni bahasa Asing. Beberapa bahasa yang selama ini menjadi peminatan di antaranya adalah bahasa Jerman, Turki, Jepang, Spanyol, Inggris, Italia, Arab, Esperanto, dsb.

Pemutaran film untuk kategori penonton dewasa ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini terbuka untuk publik dan tanpa karcis. Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (085262673007). Acara ini juga disertai buka puasa bersama. Bagi peserta yang ingin berbuka puasa bersama, dapat membawa makanan dan minuman sendiri atau dapat memesan pada Azhar Ilyas (081262554864).

Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) Aceh, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, ruangrupa, Komunitas @iloveaceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net.(rel/ed)

Festival Film ‘Europe on Screen’ 2014 Kembali Hadir di Aceh

Festival Film EropaKomunitas Tikar Pandan menjadi mitra lokal di Aceh untuk penyelenggaraan Festival Film Eropa ke-14, “Europe on Screen” (EOS) 2014 yang akan berlangsung 9-10 Mei mendatang.

Untuk di Aceh, program EOS ini akan menayangkan 18 film pilihan dari beragam genre, mulai dari film misteri, fiksi ilmiah, thriller, documenter sejarah, drama, film keluarga, film pendek, dan film lingkungan.

Program ini secara nasional akan memutar 71 film dari 26 negara Eropa, yaitu 22 dari 28 negara anggota Uni Eropa (Austria, Belgia, Bulgaria, Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Irlandia, Italia, Luksemburg, Polandia, Portugal, Rumania, Slowakia, Spanyol, Swedia, Belanda dan Inggris) dan 4 negara Eropa lainnya (Islandia, Norwegia, Serbia dan Swiss).

Film yang akan diputar adalah The Arrival of Wang (Italia), Breath of Freedom (Jerman), The Shooter (Denmark), The Ice Dragon (Swedia), The Past (Perancis), Alfie the Little Werewolf (Belanda), More Than Honey (Swiss), dan Wadjda (Jerman), serta 10 film finalis kompetisi film pendek.

“Film-film ini dibagi berdasarkan beberapa segmen yaitu segmen discovery, ekstra, dokumenter, anak-anak, dan segmen film pendek,” sebut Putra Hidayatullah, salah seorang panitia.

Lebih lanjut, Putra menuturkan bahwa penonton film di Aceh juga mesti berbangga, karena film penutup festival tahun ini, The Shooter, juga akan diputar di Aceh pada tanggal 9 Mei 2014.

Festival Film Eropa (Europe on Screen) ini merupakan inisiatif bersama dari para kedutaan besar dan pusat kebudayaan Eropa di Indonesia. Festival ini diselenggarakan di Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 1990, kemudian yang kedua pada tahun 1999. Sejak 2003, Festival ini mulai diselenggarakan setiap tahunnya di bawah slogan “Europe on Screen”. Untuk di Aceh sendiri, EOS pertama kali dilaksanakan sejak tahun 2007 di Episentrum Ulee Kareng (Komunitas Tikar Pandan).

Festival ini dilaksanakan sejak tanggal 2-11 Mei 2014 yang diselenggarakan di sembilan kota di Indonesia: Banda Aceh, Bandung, Denpasar, Jakarta, Makassar, Medan, Padang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Rizki, mewakili Tim Kurator Film Episentrum yang hadir di malam pembukaan EOS 2014 di Jakarta mengatakan bahwa film-film Eropa menjadi tidak begitu dikenal di Indonesia karena jalur distribusinya yang sedikit, padahal dari segi kualitas film, ada beberapa film Eropa yang bahkan lebih bagus kualitasnya daripada produksi arus utama Hollywood. Beberapa festival film ternama ada di Eropa seperti Cannes dan Berlinale.

“Program ini tentu saja akan membuka wacana penonton film di Aceh”, imbuhnya.

Dalam rangka Festival ini, Bapak Olof Skoog, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, mengatakan, “Film‐film ini tidak hanya ekspresi menakjubkan dari keragaman budaya kami, tetapi juga cara yang ampuh untuk mengkomunikasikan ide‐ide lintas batas. Film‐film ini bukan merupakan hasil perhitungan pasar yang rumit dan tidak pula disertai dengan biaya promosi besar‐besaran. Tetapi seperti semua karya yang bagus, film‐film ini kemungkinan besar akan meninggalkan jejak yang tetap bertahan terus dan tidak sekedar diingat semalam saja. Sebagian dari film‐film ini akan menghibur ‐ lainnya akan memprovokasi”.

Bapak Orlow Seunke, Direktur Festival EOS 2014 mengatakan: “Selamat menikmati film‐film serta festivalnya”.

Semua film diputar gratis, namun terbatas hanya untuk 45 kursi setiap filmnya. Saat ini tiket dapat diambil di Episentrum Ulee Kareng atau melalui Putra Hidayatullah (085262673007).

Bagi bagi para penonton yang telah mengambil tiket diharapkan untuk dapat hadir ke tempat pemutaran satu jam sebelum pemutaran berlangsung untuk registrasi ulang. Jika saat pemutaran sudah dimulai dan para penonton yang bersangkutan tidak hadir atau tempat duduk sudah terisi penuh, maka tiket akan dialihkan ke penonton cadangan dan pintu akan segera ditutup.

Pemutaran berlangsung di Episentrum Ulee Kareng: Jl. Tgk. Meunara VIII, No. 8. Garot. Aceh Besar (masuk melalui jalan depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Jadwal pemutaran di Aceh yaitu:

  • Jumat (9/5), pukul 14:00 WIB, The Arrival of Wang (Italia); pukul 16:30 WIB, Breath of Freedom (Jerman), dan pada pukul 19:00 WIB, The Shooter (Denmark).
  • Sabtu (10/5), pukul 14:00 WIB, The Ice Dragon (Swedia); pukul 16:30 WIB, film finalis kompetisi film pendek; dan pukul 19:00 WIB, The Past (Perancis).
  • Minggu (11/5), pukul 14:00 WIB, Alfie the Little Werewolf (Belanda), pukul 16:30 WIB, More Than Honey (Swiss), dan pada pukul 19:00, Wadjda (Jerman).

Acara ini merupakan kerja sama antara Uni Eropa, Indonesian Film Center (IdFilmCenter), dan khusus di Aceh, bermitra dengan Komunitas Tikar Pandan, Episentrum Ulee Kareng, Aneuk Mulieng Publishing, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Komunitas Kanot Bu, Banda Aceh Membaca, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Universitas Syiah Kuala, English Department Student Association (EDSA) UIN Ar-Raniry, Komunitas Kamera Lubang Jarum Aceh (Mata Nanggroe), Suara Komunikasi.com, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, Aceh Women for Peace Foundation, Radio Flamboyant FM, dan Liberty Language Center.

Untuk informasi program dapat menghubungi Putra (085262673007) dan melihat lini massa @pustakaTP, situs www.tikarpandan.org, dan laman Facebook Liga Kebudayaan Tikar pandan. (rel/ed)

Hari Ini, Ada Cang-pilem! “Pendek dan Bagus” di Ulee Kareng

cang pilem pendek dan bagusKomunitas Tikar Pandar seri pemutaran film Jerman di bulan April ini, kembali menggelar Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bertema Pendek dan Bagus yang akan memutarkan tiga film pendek Jerman dengan judul Spielzeugland, Rabbit A La Berlin (Mauerhase), dan Raju.

Film-film pendek Jerman ini akan diputar pada Sabtu (26/14/2014), pukul 16.15 WIB dan akan diikuti dengan diskusi tentang “Bahasa Jerman”. Pemantik diskusi adalah Farah Diba, lulusan dari Charite Medical School Berlin dan Instruktur Bahasa Jerman di Liberty Language Center. Pemutaran film ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Acara ini tanpa karcis.

Putra mewakili panitia KTP mengatakan bahwa film-film pendek ini merupakan film pilihan dan sudah terbukti kualitasnya jika dilihat dari capaiannya di beberapa penghargaan film dunia.

“Pemutaran film Pendek dan Bagus ini juga untuk menambah wacana dan wawasan tentang contoh film yang durasinya pendek dan berbeda dengan beberapa film panjang Jerman yang diputar di pemutaran-pemutaran sebelumnya”, tambah Putra.

Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (0852 6267 3007).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Indonesia, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Komunitas Kanot Bu, Banda Aceh Membaca, Aceh Women for Peace Foundation, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Radio Flamboyant FM.

Sinopsi Film

Film Spielzeugland disutradarai oleh Jochen Alexander Freydank dengan durasi 14 menit. Cerita bermula ketika seorang bocah 6 tahun, Heinrich Meissner bermain piano dengan temannya David Silberstein. Ibu Heinrich kemudian memberitahu bahwa keluarga David harus meninggalkan rumah menuju“Daerah mainan“ (Spielzeugland). Heinrich tidak ingin kehilangan temannya. Diam-diam bocah itu ikut bersama keluarga David. Dengan rasa putus asa, ibunya mencari-cari Heinrich dan tiba di kereta api yang siap untuk berangkat menuju kamp konsentrasi. Film ini memenangi piala Oscar pada tahun 2009 dengan katagori film pendek terbaik.

Film Rabbit A La Berlin (Mauerhase) disutradarai oleh Bartek Konopka dan berdurasi 39 menit. Film ini berkisah tentang kelinci yang hidup di antara tembok yang dibangun untuk membentengi Berlin. Kelinci-kelinci itu berkembang biak dengan sangat cepat. Kehidupan tanpa musuh berjalan dalam damai, tetapi penuh keterbatasan; semua itu berhenti dengan runtuhnya tembok Berlin. Dan kelinci-kelinci itu tidak siap menyambut kebebasan yang baru. Film ini memenangi Academy Awards 2010, nominasi untuk kategori “Best Documentary Short“

Film Raju berdurasi 24 menit dan bercerita tentang sepasang suami istri Jerman, Jan dan Sarah Fischer menjemput anak adopsi mereka di satu rumah yatim piatu di Kalkutta, India. Tak lama kemudian anak itu menghilang. Mereka tidak menduga ternyata Raju masih punya orang tua, dan mereka juga kehilangan Raju, sehingga Raju masuk dalam daftar “Anak hilang“ di satu kantor yang mengurus anak-anak yang hilang dari keluarga mereka.

Tak lama kemudian polisi berhasil menemukan Raju. Sarah tetap ingin mempertahankan Raju tetapi Jan ingin menemukan solusi yang lain. Film ini disutradarai oleh Max Zähle dan memenangi Academy Awards 2012: nominasi untuk kategori “Best Live Action Short Film” dan Student Academy Awards 2011: pemenang untuk kategori “Foreign Film Award (Bronze Medal)”. (rel)