Jakarta Melayu Festival 2016 Angkat Tema Keindonesiaan

Dengan mengangkat tema “71 Tahun Daulat Negeri”, perhelatan budaya Jakarta Melayu Festival (JMF) 2016 dipastikan akan tampil beda dengan tahun sebelumnya, acara ini digelar 20 Agustus ini di outdoor Ancol Beach City, Jakarta.

Produser JMF Gita Cinta Production, Geiz Califah mengaku tema yang diangkat JMF tahun ini memang bukan tema biasa, namun menggambarkan pencapaian yang luar biasa sebagai sebuah negara yang mayoritas penduduknya merupakan rumpun melayu.

“Di era yang semakin serba tekhnologi dan digital, melayu harus bangkit menghadapi zaman yang berubah sangat cepat dan dinamis. Kekuatannya ada pada manusia Indonesianya, nah kita perkuat itu,” tegas Geisz saat konferensi pers beberapa waktu lalu dihadapan beberapa tokoh politk yang hadir seperti Anies Baswedan, Ferry Mursidan Baldan, dan Fadly Zon yang menaruh perhatian besar terhadap budaya dan musik melayu.

Para pemimpin yang biasanya aktif di dunia politik ini, sesaat menyempatkan waktu untuk mendukung kegiatan yang ternyata mereka juga punya refensi banyak terhadap budaya melayu. Banyak langkah nyata yang telah mereka lakukan seperti turun ke lapangan untuk mendukung Ronggeng dan Zapin Melayu, membuat buku referensi melayu, sampai bergabung dalam lembaga-lembaga melayu.

Musik Melalyu Sebagai Identitas

Ferry Mursidan menyebutkan, bahwa musik melayu adalah jiwa dan identitas bangsa, hal ini selaras seperti ide mencintai musik melayu yang disarankan oleh Anies Baswedan.

“Membuat anak menyukai musik melayu bukan dipaksa saat dia dewasa, tetapi didengarkan sejak dini. Jika anak dibiasakan sejak kecil dengan pantauan orang tua yang baik, yang terjadi nanti bukan melestarikan tapi membangun,” sebut Anies.

Harapan besar juga disampaikan oleh Darmansyah sebagai artis senior musik melayu.

Darmansyah berharap adanya peran media yang cukup baik dalam mengangkat hal-hal yang terkait melayu ke permukaan, tanpa peran media dalam mendukung dan menjaga pemberitaan melayu, boleh jadi musik melayu akan kalah oleh berbagai musik lain yang masuk ke Indonesia.

Konferensi Pers Jakarta Melayu Festival 2016_1

Sementara itu, Nong Niken sebagai artis muda melayu Indonesia menyebutkan kesempatan yang diberikan kepadanya untuk mengisi acara ini menjadi sarana menguatkan identitas pilihan bermusik.

“Passion saya di Melayu, jadi ruang ini tidak hanya untuk belajar dan menjaga budaya, tetapi regenerasi untuk perkembangan Indonesia di masa mendatang,” sebut dara Aceh ini.

JMF 2016 nantinya akan diiringi oleh Anwar Fauzi Orchestra yang akan memimpin paduan musik yang akan digelar di tepi pantai pasir putih Ancol itu dengan menampilkan Iyeth Bustami yang dikenal dengan lagu-lagu melayu dan cengkok khas yang dimilikinya, juga Darmansyah, Nong Niken, Kiki Ameera, Tom Salmin, Fahad Munif, Butong, Hendri Lamiri, Konsentra Sumut, dan Amigos Band. (ed)

Jakarta Melayu Fetival 2016_Ancol Beach

Jakarta Melayu Festival 2016 Akan Tampil Beda

Gelaran Jakarta Melayu Festival (JMF) 2016 tahun ini akan tampil beda dengan tahun-tahun sebelumnya, hal ini terungkap saat konferensi pers JMF yang digelar Gita Cinta Production di Restoran Pempek Kita, Tebet Timur Dalam Raya Jakarta Selatan, Rabu (11/8/2016) lalu.

Dalam konferensi pers tersebut turut hadir sejumlah pengisi acara JMF seperti Darmansyah, Nong Niken, Kiki Ameera, Vico Amigos, Tom Salmin, dan Butong.

Geisz Chalifah dari Gita Cinta Production menyebutkan, perhelatan musik melayu ini akan berlangsung 20 Agustus mendatang disajikan gratis untuk semua pengunjung.

“Pada tahun ini JMF akan mengambil lokasi outdoor yang akan digelar di Ancol Beach City mulai pukul 19.00 WIB. Konsepnya memang beda, selain tidak menggunakan gedung kita berikan juga akses gratis untuk masyarakat agar lebih terasa nuansa melayunya,” ujar Produser JMF tersebut.

Selain itu, tambah Geisz, untuk menambahkan kesan kemeriahan HUT RI, selain menampilkan perfomance JMF dari sejumlah penyanyi dan orkestra melayu, pengunjung juga bisa menikmati bazar yang menyajikan makana, pakaian, serta atribut yang bernuansa melayu.

“Ini hadiah untuk masyarakat dalam merayakan kemerdekaan Indonesia. Agar masyarakat tidak hanya sekedar menikmati, tapi menyadari bahwa melayu masih lekat di bumi Indonesia,” sebut Geisz. (ed)

Konferensi Pers Jakarta Melayu Festival 2016_Dok Panitia_1

Nong Niken: Galeri Nasional yang Tidak Nasionalis

Perhelatan akbar tahunan Jakarta Melayu Festival (JMF) yang rencana digelar Agustus 2016 mendatang, mulai kini terus dipersiapkan.

Even yang dipromotori oleh Gita Cinta Production tersebut, beberapa waktu lalu ditimpa kabar tidak sedap setelah sempat ditolak oleh Galeri Nasional karena dinilai tidak relevan dijadikan pentas kegiatan tersebut.

“Tahun-tahun sebelumnya perhelatan JMF ini diadakan di Crown Plaza, The Sultan Hotel, dan Taman Ismail Marzuki. Tahun ini, kegiatan yang sudah direncanakan digelar Agustus mendatang, memilih Galeri Nasional sebagai tempat apresiasi insan musik Melayu. Sayang, Galeri Nasional menolak kegiatan ini,” ujar Nong Niken yang juga salah satu pengisi Jakarta Melayu Festival, Senin (23/5/2016).

Berita tidak sedap tersebut, dibeberkan oleh penyanyi asal Aceh ini saat mengetahui surat balasan resmi dari pihak manajemen Galeri Nasional per tanggal 17 Mei 2016 lalu.

“Galeri Nasional menolak dengan alasan kegiatan ini kurang relevan diadakan disana karena tidak sesuai kriteria. Anehnya, pihak Galeri Nasional yang berada di bilangan Gambir, Jakarta tersebut sempat memberikan ijin untuk pentas musik rock pada bulan April 2016,” sebutnya.

Niken juga mempertanyakan, sikap dari pengelola gedung yang berada dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang terkesan membeda-bedakan antara pentas musik Rock dan dan pagelaran budaya Melayu.

“Kenapa Melayu ditolak oleh tempat yang punya embel-embel ‘nasional’ didalamnya. Tidakkah musik Melayu merupakan identitas bangsa Indonesia. Inikah diskriminasi yang dilakukan oleh bangsa sendiri terhadap penggerak musik Melayu?” ujar pelantun OST Laskar Pelangi 2 tersebut.

Menariknya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan dalam sejumlah pertemuan dengan pihak Gita Cinta Production selalu memberikan dukungan terhadap acara-acara budaya yang mengangkat tema Melayu.

“Dalam setiap acara pentas Melayu yang digelar oleh Gita Cinta Production, Pak Anies Baswedan kerap menjadi undangan bahkan tamu spesial yang secara langsung memberikan dukungan kepada insan dan seniman Melayu di Indonesia. Justru tindakan dari Galeri Nasional kali ini malah menjadi bentuk penghinaan terhadap kami,” sebut Niken.

Niken juga menambahkan, sebagai penggerak musik Melayu dirinya konsisten untuk mempertahankan silogisme “tak kan Melayu hilang di bumi’. Dirinya bangga terhadap musik melayu meski sebagian orang masih belum bisa mengapresiasi musik tertua di Indonesia.

“Aliran musik itu persis pilihan hidup, tergantung nyamannya dimana. Saya nyaman dengan musik Melayu yang jelas masih sangat santun dan menjaga moral bangsa,” tutur alumni UI ini. (ed)

Nong Niken: Galeri Nasional yang Tidak Nasionalis

Foto Galeri Nasional Indonesia yang berada di Gambir, Jakarta.

Nuansa Melayu dari Aceh hingga Makassar Meriahkan Theater Jakarta

Penampilan Niken dengan lagu Negeri Laskar Pelangi di JMF 2014 Apa yang terlintas dipikiran Anda saat membaca atau mendengar kata Melayu? Mungkin akan teringat dengan bahasa, pakaian, atau juga dengan keseniannya.

Bicara soal musik, Melayu tidak ketinggalan. Ditengah arus musik modern dengan beragam genre aliran yang mendominasi kalangan anak-anak muda di Indonesia, kemunculan Jakarta Melayu Festival (JMF) yang sudah berhasil digelar ketiga kalinya kembali membawa semangat baru ditengah-tengah pesta demokrasi Indonesia beberapa waktu lalu.

Tema dalam JMF tahun ini menarik sekali, lewat “Melayu Menyatukan Kita” membawakan sebuah pesan bahwa menjaga musik melayu bukan cuma tugas seniman atau penyanyi, hal ini yang terungkap dari apa yang disebutkan oleh pimpinan Gita Cinta Production, Geisz Chalifah, Jum’at (22/8/2014).

Geisz Chalifah dan Anwar Fauzi (I“Masyarakat kita harus kembali disadarkan untuk tetap menjaga dan melestarikan musik Melayu yang berkualitas. Karena musik Melayu inilah karakter Bangsa yang sebenarnya,” ujar Geisz dihadapan ratusan penonton di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Kentalnya Nuansa Melayu

Ada begitu banyak penampilan lagu-lagu khas Melayu di JMF 2014, lewat arahan music director Anwar Fauzi dengan sentuhan orkestra menambahkan ruh tersendiri dalam nuansa melayu salah satunya lewat tembang pembuka dari Nong Niken yang melantukan Negeri Laskar Pelangi.

Setelah tampil dengan soundtrack dari film Edensor yang berhasil menyita perhatian penonton, Niken juga berduet dengan penyanyi senior Darmansyah Ismail lewat lagu melayu lama yang membuat penonton ikut bernyanyi dengan judul Selasih.

Nong Niken / @ILACrewTembang Cintai Aku Karena Allah yang dibawakan oleh Novi Ayla diramu dengan alunan mendayu melayu menambah hangat suasana JMF malam itu yang banyak dihadiri oleh sejumlah tokoh-tokoh penting seperti  Anies Baswedan, Hariman Siregar, Bursah Zarnubi dan Nusron Wahid. 

Diikuti oleh pasangan Dou Shahab lewat petikan gitarnya ditambah dengan gesekan biola Hendri Lamiri berpadu dengan accordian dari Buthonk membuat irama melayu semakin menyatu. Ada juga Fadly (Padi) tampil dengan busanan khas dari Makassar merasa ikut bangga bisa tampil di perhelatan JMF.

“Saya orang melayu dan saya bangga dengan musik melayu. Itu adalah identitas kita,” ujar Fadli di atas pentas.

Fadly Padi di JMF 2014  / @ILACrewDengan lagu berbahasa Makassar berjudul Ati Raja, Fadly mampu memberikan suasana etnik dalam perpaduan Melayu. Belum lagi, disambung dengan penampilan Rafly Kande lewat lagu Aceh yang berjudul Saleum yang dipopulerkan oleh Grup Nyawoeng berhasil membuat penonton larut, ditambah dengan tembang Perahu karya dari Hamzah Fansuri menambah hangat suasana JMF.

Sementara Uma Tobing yang membawakan lagu Engkau Laksana Bulan, cukup apik dan serentak dengan irama orkestra berpadu dengan string dan rebana memberikan aksen tersendiri bagi sang juara IMB ini.

Sebagai penutup dari JMF 2014 yang jelang larut malam, tampil dengan formasi lengkap Amigos Band akhirnya membuat  penonton yang hadir malam itu tak tahan untuk ikut berjoget mengiringi lagu-lagu yang dimainkan, seperti Seroja, Rentak (Pak Ketipak Ketipung), hingga dengan tembang Pantun Jantan membuat band asal Medan tampil maksimal.

Sukses untuk JMF dan semoga bisa terus mengangkat musik Melayu dan menyatukan kita dari ujung Sumatera hingga Papua. (ed)

Cut Niken Siap Meriah Jakarta Melayu Festival 2014

Cut Nyak Niken akan tampil di Jakarta Melayu Festival 2014/ ILACrewPerhelatan Jakarta Melayu Festival (JMF) yang akan digelar 22 Agustus mendatang di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki hanya tinggal sebulan lagi, sejumlah seniman dan musisi melayu akan ikut meriahkan acara yang bertajuk  “Melayu Menyatukan Kita”.

Tidak ketinggalan, penyanyi asal Aceh yang baru-baru ini mengeluarkan single Hijrah, Cut Niken juga akan turut memeriahkan acara tahunan yang digelar oleh Gita Cinta Production ini.

“InsyaAllah jika tidak ada halangan, Niken akan tampil di Jakarta Melayu Festival dengan membawakan beberapa lagu lewat iringan musik melayu pastinya,” sebut Niken kepada @iloveaceh, Senin (21/7/2014).

Saat ditanya lagu apa yang akan dibawakan, Niken juga membeberkan 3 lagu andalannya yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. “Nanti akan Niken bawakan tiga lagu, Negeri Laskar Pelangi, Hijrah, dan Selasih ku Sayang yang akan duet juga dengan Mas Darmansyah,” ujar dara kelahiran Lhokseumawe ini.

Dalam JMF 2014 nanti, kata Niken, dia akan tampil dengan iringan musik orkestra dibawah arahan Anwar Fauzi. “Ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan, kebetulan ini kali pertama Niken ikut serta Jakarta Melayu Festival 2014 dengan iringan orkestra,” ceritanya.

Niken juga berharap lewat perhelatan JMF ini, ia bisa ikut serta dalam melestarikan dan mengenalkan lagu melayu dan tentunya persiapan pun harus matang.

“Musik melayu memang harus dilestarikan, apalagi Aceh juga punya musik-musik melayu, namun sayangnya kini mulai redup. Setidaknya lewat JMF ini sejumlah daerah lainnya juga bisa ikut bangkit mengangkat kembali musik melayu, bahwa lagu ini masih begitu bagus untuk didengar,” ungkap pelantun single Prang Sabi yang beberapa hari lalu meluncurkan video klip barunya.

Sementara soal persiapan untuk tampil, Niken pun sudah melakukan latihan bersama. “Beberapa minggu lalu kita sudah latihan pertama, nanti insyaAllah 14 Agustus akan ada latihan lagi di Gita Cinta Production,” sebutnya.

Selain Niken, JMF 2014 nanti juga akan menghadirkan banyak bintang tamu serta seniman nasional untuk memeriahkannya seperti Fadly vokalis dari band Padi, Amigos Band, Uma Tobing (Juara Indonesia Mencari Bakat), Novi Ayla (KDI), Duo Shahab, dan Rafly Kande dari Aceh. (ed)

Gita Cinta Akan Hadirkan Jakarta Melayu Festival 2014

Konferensi Pers Jakarta Melayu Festival 2014 (IST)Berawal dari sebuah idealisme untuk mengangkat harkat musik melayu, yang merupakan salah satu budaya dan musik asli Nusantara, Gita Cinta Production akan menggelar Jakarta Melayu Festival yang ketiga kalinya pada Jum’at, (22/8/2014) mendatang di Theater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat.

Pagelaran yang bertajuk “Melayu Menyatukan Kita” ini merupakan sebuah ikhtiar bersama anak bangsa agar musik melayu klasik dapat mengambil peran penting di blantika musik nasional yang kini tengah terpuruk di pasar industri rekaman, mengingat musik melayu adalah musik yang paling mengakar di masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu, namun selama ini kurang dilirik oleh industri musik tanah air.

Produser Gita Cinta Production, Geisz Chalifah, menyebutkan festival ini sebagai langkah untuk menggelar Malam Pagelaran Musik Melayu merupakan langkah ideologis dan strategis.

“Budaya positif itu kini telah tergantikan oleh budaya pop (pop culture) yang cenderung artifisialistik dan tidak mengandung nilai-nilai yang relevan bagi pengembangan karakter masyarakat dan bangsa,” kata Geisz dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/6/2014).

Secara ideologis, menurut Geisz, pihaknya miris dengan dampak negatif globalisasi yang telah menggusur habis budaya dan seni substansial bangsa yang penuh kerakter. Menjadi strategis karena ditengah pemilihan presiden yang tengah berlangsung anak bangsa diberikan wadah untuk mengingat bahwa kita adalah satu bagian yang tak terpisahkan dari bingkai Negara Indonesia dan Melayu adalah jati diri yang merupakan identitas nasional bangsa.

“Dalam bidang kesenian, musik-musik pop secara total telah “merajai” pasar karena customer utama mereka adalah kalangan remaja dan anak muda yang rata-rata belum kritis terhadap agresi nilai dari budaya lain. Dalam batas tertentu, hal ini mungkin dapat dimaklumi karena perkembangan kesadaran berbudaya belum tumbuh kental di usia mereka. Apalagi nyaris tak ada alternatif,” jelas Geisz.

Untuk itu, Gita Cinta Production berupaya memberi alternatif bagi kaum muda Indonesia, sekaligus juga kaum tuanya, dengan menghadirkan sebuah pagelaran musik melayu yang dikemas apik dan sesuai “semangat zaman”, tapi tidak menghilangkan substansi nilai yang dikandungnya.

“Masyarakat harus disuguhi kembali musik yang bermutu, yang mendidik, sekaligus yang dapat diterima pasar,” paparnya.

Langkah strategis yang coba dikenalkan oleh Gita Cinta Production ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran kolektif bangsa untuk tetap teguh menumbuh kembangkan musik dan budaya melayu sebagai internalisasai nilai-nilai dan ekspresi kesenian yang berkarakter. Sekaligus pula untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) kalangan muda terhadap seni dan budaya bangsa sejak dini, sehingga tidak kehilangan arah dalam menerima segala bentuk agresi nilai dan budaya asing yang belum tentu konstruktif bagi diri, keluarga, dan masyarakat.

Dalam pagelaran festival ini, nantinya akan dihadirkan karya-karya Melayu baru hasil dari seniman muda Indonesia dan para maestro musik dan lagu melayu lainnya. Tidak ketinggalan, sejumlah penyanyi dan seniman nasional juga akan turut hadir memeriahkan, seperti Fadly (Padi), Amigos Band, Uma Tobing (Juara Indonesia Mencari Bakat), Novi Ayla (KDI), Darmansyah, Niken Astri (KDI), Duoa Shahab, Rafly kande, dan sebagai arranger Anwar Fauzi Orchestra. (ed/sp)