UKA ITB Hadirkan Gelar Budaya Aceh 2015

Unit Kebudayaan Aceh Institut Teknologi Bandung (UKA-ITB) kembali menghelat Gelar Budaya Aceh 2015 yang mengangkat kembali sejumlah kebudayaan dan kesenian Aceh dalam bentuk pergelaran dan pertunjukan.

Sejak berdiri pada tahun 1989, UKA ITB telah menjadi salah satu ikon utama budaya Aceh di kota Bandung dan sekitarnya.

Pada tahun ini, dengan tema “Cempala Kuneng”, UKA ITB kembali mengenalka fauna endemik khas Aceh bagi masyarakat luar.

“Cicem Pala Kuneng (Copsychus pyrropygus) atau biasa disebut Cempala Kuneng adalah fauna endemik khas Provinsi Aceh yang merupakan burung kebanggan rakyat Aceh,” jelas panitia dalam rilisnya kepada @iloveaceh.

Kemegahan dan keindahan burung Cicem Pala Kuneng diperlihatkan oleh warnanya yang coklat keabuan tua mengkilap dengan ciri khas sebentuk alis putih di atas mata, serta paruh hitam ramping tajam. Sebagian dada dan perut sampai pangkal ekor dan punggung berwarna kuning kemerahan, sedangkan ujung ekornya berwarna hitam dengan pinggir putih pada bagian bawahnya.

Cempala kuneng ini difilosofikan sebagai bentuk kemegahan Aceh, menunjukkan bahwa Aceh memiliki ragam seni budaya, ragam suku dan bahasa daerah, Aceh mampu menjulang tinggi persis seperti burung cempala kuneng ini yang memiliki ragam warna, suara yang nyaring dan mengepakkan sayapnya yang indah untuk terbang tinggi.

Agenda GBA

Rangkaian acara Gelar Budaya Aceh 2015 akan menyajikan sebuah hikayat dari Sultan Aceh yang terkenal, yakni Hikayat Sultan Iskandar Muda. Hikayat Aceh ini akan memberikan suatu kemegahan Aceh dari segi sisi kehidupan, kebudayaan dan semangat perjuangan.

Penyajian hikayat ini akan dikemas dalam bentuk petunjukan drama tari yang akan menuntun penonton dalam keindahan dan kemegahan Aceh. Dalam pengemasan hikayat ini, Gelar Budaya Aceh 2015 akan berkolaborasi dengan sejumlah Unit Aceh lain di Pulau Jawa, seperti Unit Aceh dari Universitas Indonesia, IT Telkom, Universitas Padjajaran, berkolaborasi dengan unit-unit seni budaya ITB lainnya serta berkolaborasi juga dengan sanggar kebudayaan Aceh yang diundang dari langsung dari Aceh.

Kolaborasi yang indah ini bertujuan untuk memberikan suatu hasil pertunjukan yang megah, dikisahkan dalam hikayat Aceh bahwasanya kemegahan Aceh sungguh memesona. Sementara drama dan tari terus berkutat di atas panggung, hikayat Aceh akan menjadi pertunjukan yang megah dengan selipan nyanyian, alat musik Aceh yang akan menemani hadirin menuju tangga kemegahan Aceh.

Pagelaran ini diadakan pada hari Minggu tanggal 8 Maret 2015 pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB di Sasana Budaya Ganesha ITB. Target pengunjung seluruh rangkaian acara Gelar Budaya Aceh 2015 ini yaitu 4000 orang. (ed)

Piasan Pasee Hibur Penonton di TARASA

seudati

foto by: ILACrew

Para seniman yang berasal dari Pesisir Utara Aceh, menyuguhkan tarian nan memukau di panggung Taman Ratu Safiatuddin (TARASA) pada, Sabtu (16/11/2014) malam.

Acara yang bertajuk “Piasan Pasee” ini dimeriahkan oleh Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireun, dan Kota Lhokseumawe.

Kota Lhokseumawe, sebagai mana kabupaten ini terkenal dengan pencetak seniman-seniman yang memiliki banyak kreatifitas, tampil diawal acara dengan menyuguhkan teater rakyat yang berjudul “Teungku Tapa”. Tak mau ketinggalan, Kabupaten Bireun juga menarik perhatian penonton dengan tarian gerakan yang dinamis dan heroik yaitu tari Seudati. Disamping itu juga ada tarian Rampoe dan Rabbani Wehed yang disuguhkan ke penonton dari sanggar Meuligoe Jeumpa. Aceh Utara juga menyuguhkan penampilan kesenian Aceh yang tak kalah memukau, kabupaten penghasil gas bumi terbesar di Aceh ini menampilkan pertunjukan Sandiwara yang dulu sangat terkenal di kabupaten tersebut.

Lewat perhelatan kesenian yang rutin sebulan sekali diadakan ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, Reza Fahlevi berharap panggung TARASA menjadi tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat.

“Taman Ratu Safiatuddin ini tak boleh sepi dari kegiatan kesenian. Kita terus galakkan agar TARASA ini tetap hidup dengan penampilan-penampilan kesenian Aceh,” sebut Reza.

joni

foto by: ILACrew

Piasan Pasee di panggung TARASA ini juga menghadirkan beberapa artis Aceh. Salah satunya Eumpang Breuh, film komedi Aceh yang para pemainnya sudah cukup terkenal dikalangan masyarakat Aceh ini juga memberikan hiburan kepada penonton. Bang Joni, Mando Gapi, Bang Taleb, para pemain film Eumpang Breuh ini membuat penonton tertawa lewat aksi-aksi lucu mereka di atas panggung. Tak hanya Eumpang Breuh, Amoeba Band juga turut menghibur penonton dengan lantunan musik yang mereka mainkan. (alf)

Foto | Pentas Barat Raya Aceh di Tarasa

Beberapa tarian khas dari Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Jaya, dan Simeulue tampil pada Pentas Barat Raya Aceh, Sabtu (11/10/2014) malam di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh. Penampilan dari Pentas Barat Raya Aceh ini dalam rangka untuk menjadikan Taman Ratu Safiatuddin (TARASA) terus berdenyut sebagai ruang seni kreatifitas kebudayaan Aceh. Acara yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh ini, Sebelumnya juga telas digelar Pentas Selatan Raya Aceh yang diisi oleh kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Raya, Aceh Singkil, dan kota Subulussalam pada, Jum’at (10/10/2014) malam. (alf)

IMG_0855

foto by: ILACrew

IMG_1071

foto by: ILACrew

IMG_1000

foto by: ILACrew

3cxPmc7d

foto by: ILACrew

Piasan Selatan dan Barat Raya Aceh Kembali Digelar di TARASA

tari ratoh trieng/ilacrewDinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Aceh kembali menggelar Pentas Selatan Raya yang akan diisi oleh kota/kabupaten yang terdiri dari Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Subulussalam sebagai bentuk rangkaian dari event tahunan di Taman Ratu Safiatuddin (TARASA) mulai Sabtu dan Minggu (10-11/10/2014).

Sebelumnya juga sudah pernah digelar Pesona Basajan (Banda Aceh, Sabang, Jantho)  pada bulan Agustus 2014 lalu yang dilanjutkan dengan Piasan Pidie Raya pada bulan September 2014.

Adapun untuk penampilan di Pentas Selatan Raya, Disbubpar Aceh telah mempersiapkan beberapa tim kesenian yang akan menampilkan sejumlah kesenian tari, diantaranya tari Rapai Geleng, tari Seudati, tari Tulak Bala, tari Putroe Along, dan tari Khanduri Laot.

Sementara itu pada malam berikutnya, Minggu (11/10/2014)  akan tampil Pentas Barat Raya yang akan diisi oleh penampilan kesenian dari  Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Simeulue.

“Acara ini  juga akan dimeriahkan oleh artis Aceh legendaris Sabirin Lamno, yang akan membawakan tembang lagu dari album-albumnya tahun 1990 sampai sekarang,” ucar Ayi Sarjev selaku Stage Manager acara.

Menurut Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rasyidah menambahkan acara kesenian di TARASA ini diharapkan menjadi salah satu bentuk promosi wisata dalam rangka untuk menarik minat wisatawan luar untuk berkunjung ke Aceh.

“Ekspresi seni Aceh ini akan terus digelar di panggung utama area Pekan kebudayaan Aceh dari berbagai lintas multikultur aceh mulai dari kepulauan, pergunungan, pesisir barat dan timur Aceh. Mudah-mudahan dengan adanya event bulanan ini menjadi wadah bersama para pengkarya, seninam, dan menjadi paket promosi travel agent untuk para wisatawan asing maupun domestik,”  papar Rasyidah. (alf)

Tari Seudati, Inilah Alasan Berkunjung ke Serambi Mekkah

tarian seudati

Salah satu ciri yang paling menarik dari tarian khas Aceh adalah dilakukan berkelompok secara solid dan variatif. Hampir tak ada tarian Aceh yang dilakukan sendiri. Tari seudati merupakan satu dari sekian banyak bukti kemegahan seni budaya Aceh yang dilakukan secara bersama penuh makna dan atraktif.

Pertunjukan tari seudati sama memukaunya dengan kubah-kubah tarian Aceh lainnya selain tari saman yang akan diakui dunia. Bila ke Aceh, sempatkan datang pada waktu dan tempat yang tepat untuk sebuah “penyaksian” yang menggetarkan sekaligus membanggakan Nusantara ini.

Hentakan kaki, pukulan telapak tangan di dada dan pinggul, serta petikan jari telah menjadi bagian utama dari sebagian aksi tari seudati yang memukau.

Tari seudati begitu sederhana tapi sangat indah. Tanpa musik, tanpa gamelan. Hanya ada syair dan pantun. Musiknya bersumber pada gerakan tubuh dan syair dari penarinya sendiri. Kelenturan sekaligus keperkasaan memancar dari penarinya beriring dengan nyanyian yang berderap, badan penari meliuk cepat, semakin cepat, lalu berhenti tiba-tiba dalam suasana sunyi. Dipastikan penonton akan terbawa emosi hingga memnberikan letupan sorak dan teriakan untuk seni tari yang indah ini.

Nama ’seudati’ berasal dari akar kata syahadat atau syahadatain yang bermakna pengakuan, dua perkara penyaksian. Di dalam agama Islam, syahadat merupakan ikrar seseorang yang mengakui atau memberikan saksi berketuhanan dan kepemimpinan. Para penyiar agama Islam di bumi Serambi Mekah menggunakan tarian bernuansa agama sebagai metode penyebaran pesan ilahi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak.

Seudati telah dikembangkan sejak agama Islam masuk ke Aceh.Diberitakan muncul pada awal perkembangannya dari Desa Gigieng, Simpang Tiga, Pidie di bawah bimbingan Syeh Tam dan juga di Desa Didoh yang dibimbing oleh Syeh Ali Didoh. Tak heran tarian ini lebih populer di daerah Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur.

Awalnya, tarian seudati menggunakan bahasa Arab dan Aceh dimana memang digunakan untuk media dakwah. Tarian ini berikutnya dikenal sebagai varian bentuk tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih yang artinya mengabarkan atau memperagakan. Tarian ini biasanya dijadikan pembuka sebelum permainan sabung ayam dulunya. Ratoh berfungsi sama seperti randai di Sumatera Barat, yaitu untuk mengabarkan sebuah perihal permasalahan di masyarakat dan bagaimana menyelesaikannya.

Aceh dalam Lantunan Rap Tradisional

Tarian seudati begitu populer di seluruh tanah Aceh karena keunikan yang tak berbekal tambur, kecapi, atau pun seruling. Kesenian ini hanya menggunakan vokal pelantun syair saja yang dipadupadankan dengan gerakan lincah, harmonis, dan terkadang kaku sebagai perlambang kebesaran dan keperkasaan seorang pejuang.

Tarian seudati dibawakan dengan mengisahkan pelbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu bagaimana memecahkan suatu persoalan secara bersama.

Tak banyak tarian di negeri ini yang mampu membuat keheningan menjadi lautan atmosfir kekaguman hanya karena bertumpu pada keharmonisan gerak anggota badan dan suara yang dihasilkan oleh tepukan. Bagai lantunan lagu rap yang biasa dipopulerkan masyarakat Afro-Amerika, seorang aneuk syahi telah jauh mengawalinya puluhan tahun sebelumnya di Tanah Rencong.

Penarinya berformasi 8 hingga 10 orang dengan mengenakan celana panjang dengan baju ketat berwarna putih. Kepala penari dihiasi ikat yang disebut tangkulok dan sarung sebatas paha tempat diselipkan rencong yaitu senjata tradisional Aceh.

Tari seudati selalu dipimpin oleh seseorang yang disebut syeikh sebagai lambang dari keimanan yang dipersaksikan dalam syahadat. Syeikh ini dibantu seorang pembantu syeikh. Setelah itu ada dua orang di sebelah kiri yang disebut apeet wie, satu orang pembantu lagi di bagian belakang yang disebut apeet bak, dan tiga orang pembantu lainnya yang menyertai semua peran tadi. Delapan orang ini ditemani penyanyi yang biasanya dua orang atau disebut aneuk syahi.

Tari seudati jaman dulu di Samalanga, Bireuen Aceh

Kisah Dua Saudara dan Seudati

Adalah Syeh Rih Meureuedu dan kakaknya Syeh Lah Banguna selalu berlatih di tanah kosong sebagai anak-anak kecil Aceh yang gigih “bermain” Seudati. Walau ayahnya sering mengejar mereka saat melarang bermain Seudati, mereka terus membandel dan akhirnya mengantarkan pada sebuah pertandingan seudati atau disebut tunang. Dengan menggunakan nama sampan ayahnya, Banguna, Syeh Lah kecil menamai kelompoknya sebagai Syeh Lah Banguna dan selalu memenangkan tunang.

Bertahun-tahun hingga dewasa kakak beradik ini memainkan Seudati hingga suatu saat mereka bergabung dalam kelompok Seudati yang menjadi duta budaya Indonesia. Bermain di hadapan masyarakat Amerika Serikat di 10 negara bagiannya. Syeh Lah Banguna dan adiknya Syeh Rih Meureudu bermain bersama maestro Seudati lainnya seperti Syeh Lah Geunta, T. Abu Bakar, Syeh Jafar, Syeh Muktar, Alamsyah, Marzuki, dan Nurdin Daud.

Masyarakat Amerika mereka sihir dalam ketakjuban hingga layar panggung ditutup. Tepukan tangan sambil berdiri yang dikenal sebagai standing ovation adalah lambang apresiasi tertinggi penontonnya telah mereka rasakan. Tiga kali layar dinaikkan dan ditutup untuk menumpahkan lautan ketakjuban penonton Amerika kepada Seudati Aceh ini. Hal ini nyaris terulang dalam ketakjuban penonton di Sevilla, Spanyol, juga Belanda, serta negara-negara Eropa lainnya. Tidak ketinggalan pula negara di kawasan Asia Tenggara telah mereka taklukkan penontonnya. (ed/dbs)

Festival Rapa’i Tunang Akan Digelar di Banda Aceh

Imam-Saleuem-GroupSalah satu perhelatan seni terbesar di Kota Banda Aceh akan segera dimulai. Acara yang bertajuk Piasan Seni Banda Aceh 2013 ini akan kembali memeriahkan kota wisata dan budaya pada tanggal 21-24 Agustus mendatang.

Dalam acara ini nantinya akan ditampilkan berbagai kesenian Aceh yang akan dilakoni oleh para pelaku seni dan seniman yang ada di Banda Aceh. Dari beberapa talent yang akan memeriahkan acara ini adalah Komunitas Saleuem Group yang akan menggelar Festival Rapa’i Tunang.

Festival yang akan berlangsung sejak 20-21 Agustus mendatang ini nantinya akan menjadi titik balik kemajuan rapa’i di Aceh. Hal tersebut disampaikan oleh Imam Juaini selaku koordinator acara.

“Festival rapai’i ini digelar sebagai bentuk penghargaan terhadap nila-nilai seni lokal yang telah ditinggalkan oleh indatu untuk terus menjadi ikon Aceh dimata dunia,” ujar Imam kepada @iloveaceh, Senin (29/7/2013).

Festival ini nantinya juga akan menjadi salah satu bentuk ikon pada perhelatan Piasan Seni mendatang. “Kesenian rapa’i yang sempat tergerus oleh musik-musik modern ini diharapkan bisa kembali menjadi suatu ikon budaya khas Aceh yang terus dikembangkan,” tambah Imam yang juga Ketua Komunitas Saleuem Group.

Sementara itu, sampai saat ini sudah ada beberapa komunitas yang berkembang dibagian rapa’i dan mulai digalakkannya kembali. Namun sayangnya saat ini masih sangat minim panggung apresiasi untuk masyarakat/komunitas untuk perform.

“Jika dilihat dari perkembangannya selama ini, rapa’i masih perlu pendalaman dan perkembangan lagi, karena dalam konteks Aceh rapa’i memiliki power yang cukup besar. Rapa’i merupakan ciri khas Aceh yang tidak kita temui di daerah lain, walaupun ada persamaan dengan timur tengah namun rapa’i memiliki nilai dan ciri khas sendiri, oleh karenanya rapa’i perlu diangkat sebagai sebuah menjadi ciri khas ke-Acehan”, tambahnya.

Imam juga menambahkan, kedepan acara rapa’i yang akan digelar ini tidak hanya menjadi agenda musimam atau event tahunan. “Semoga acara ini bukan hanya event yang musiman, namun ada tindak lanjutan kedepannya. Kita harap agar seni rapai’i ini dijaga dan diwarisi untuk generasi kedepan, karena jika tidak maka musik etnik ini akan terus tergerus oleh musik-musik modern”, tutup Imam. (pry)