Komunitas @pustakaTP Ramaikan Festival Seni Budaya Jepang

Festival Seni Budaya Sanriku International Art Festival 2015 / ISTKomunitas Tikar Pandan Banda Aceh ikut meramaikan festival seni dan budaya di Jepang dalam sebuah kegiatan yang bernama Sanriku International Arts Festival 2015.

Festival yang berlangsung sejak awal Agustus lalu hingga 18 Oktober mendatang ini berlangsung di Ofunato-city, sebuah kota pantai di utara Jepang.

Dalam festival tahunan tersebut, digelar sebagai bentuk untuk mempertemukan pekerja kebudayaan dan bertukar pikiran dalam usaha mempertahankan serta mengembangkan beragam kesenian rakyat di kawasan Asia-Pasifik, terutama wilayah-wilayah rentan gempa dan tsunami.

“Dalam kegiatan ini, Komunitas Tikar Pandan berkolaborasi dengan Komunitas Al-Hayah, sebuah kelompok kesenian dari kampung Nusa, Lhok Nga, Aceh Besar,” ujar M. Yulfan Rubama dalam rilisnya.

Festival seni-budaya ini sengaja digelar di beberapa wilayah yang terkena musibah tsunami 2011 di Jepang sebagai ruang untuk saling berbagi ingatan dan kesadaran kolektif menghadapi bencana alam di masa mendatang. Mencari kemungkinan-kemungkinan kreatif pencegahan dini melalui aktifitas kesenian.

Selain pertunjukan seni tradisi Jepang, Aceh, Kamboja dan peserta lain, festival yang mengambil nama tua dari satu kawasan paling utara Jepang yang hancur oleh gempa 9.0 scala-richter dan tsunami pada 9 Juli 869 ini juga beragenda diskusi, workshop seni, kuliner kampung, temu komunitas adat dan kemah seni. Kegiatan pun tersebar di beberapa sekolah, rumah tradisional, taman budaya, taman laut dan museum tsunami Ofunato-city.

Yulfan menyebutka, Komunitas Tikar Pandan nantinya akan memaparkan hal-hal yang telah dikerjakan selama 10 tahun terakhir yang berkaitan dengan kebencanaan serta pemulihan sosial melalui aktifitas seni-budaya.

“Proses-proses kreatif untuk rekonstruksi pasca tsunami di Aceh hingga mencetus banyak komunitas pemuda dan perempuan. Sedangkan Komunitas Al-Hayah, sebagai bagian dari gerakan diatas, akan mengisi sejumlah diskusi dan workshop serta latihan bersama seniman untuk pentas seni kolaborasi internasional,” jelasnya.

Sanriku (tiga-riku) adalah istilah untuk tiga dari lima provinsi tua yang dimekarkan setelah perang sipil di Jepang pada 1869 yaitu; Rikuō, Rikuchū, Rikuzen. Pantai Sanriku yang kini meliputi propinsi Aomori, Iwate dan Miyagi, diapit banyak bebatu karang raksasa dan teluk-teluk sepanjang 200 kilometer garis pantai menghadap samudera Pasifik. Selepas tsunami besar tahun 1896, pantai indah tersebut beberapa pernah dihempas ombak raya pada 2011.

Komunitas Tikar Pandan merupakan organisasi kebudayaan yang dicetus oleh beberapa mahasiswa di Banda Aceh Aceh pada 2003 sebagai alternatif untuk menjawab soal-soal kebudayaan yang ada. Memiliki liga kebudayaan yang terdiri dari kedai buku, sekolah menulis, TV Eng Ong dan pustaka. Sementara Komunitas Al-Hayah adalah kumpulan remaja di sekitar wilayah tsunami Aceh 2004 yang bertujuan mengembangkan kesenian tradisi. (ed)

 

Komunitas @PustakaTP Putar Film Smong Aceh

Festival Film Smong Aceh-1Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Museum HAM Aceh dan didukung oleh Kineforum, akan melaksanakan program Festival Film Smong Aceh.

Program ini untuk peringatan dan refleksi 10 tahun gempa dan tsunami Aceh. Program ini akan dilaksanakan sejak hari Jumat-Minggu (12-14 Desember 2014) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.

Pada program ini, akan ada pemutaran film dan diskusi yang menghadirkan aktivis, pembuat film, dan produser film. Pada Jumat (12/12/), pemutaran akan dilaksanakan pada pukul 18.30 WIB, sedangkan hari Sabtu-Minggu (13-14/12), pemutaran berlangsung tiga sesi yaitu pada pukul 14.15 WIB, 17.00 WIB, dan 19.30 WIB.

Pemutaran ini terbuka untuk publik dan gratis. Bagi publik yang ingin berdonasi untuk mendukung kegiatan, dapat mengirimkan ke Ela Ferdilla, Bank Muamalat Indonesia, dengan nomor rekening: 3010159229.

Program ini dilaksanakan bersama dan didukung oleh: Komunitas Tikar Pandan; Museum HAM Aceh, Kineforum; Episentrum Ulee Kareng; Sekolah Menulis Dokarim; Aneuk Mulieng Publishing; Kedai Buku Dokarim; Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment; TV Eng Ong Penutur Aceh Modern; Japan Foundation; Goethe Institut Indonesia; Erasmus Huis; Kedutaan Besar Kerajaan Belanda; Institut Français Indonesia; Ruangrupa; Forum Lenteng; Paviliun 28; In-Docs (Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia); Forum Jurnalis Aceh Peduli Bencana; Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh; Muharram Journalism College; LPM Perspektif Unsyiah; IloveAceh; Polyglot Indonesia Chapter Aceh; Yayasan Yap Thiam Hien; Graha Budaya Indonesia; Unimoto Studio; Karya Kita Kreatif; Aceh Media Art; Galeri Indonesia Kaya; Infoscreening; Komunitas Kanot Bu; Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS); Miles Films; Christine Hakim Films; Beujroh; Cangkir Kopi Production; dan Cinema Poetica.

Untuk informasi kegiatan dapat melihat di situs www.tikarpandan.org dan www.kineforum.org; media sosial Facebook: Komunitas Tikar Pandan dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta; dan Twitter: @pustakaTP dan @kineforum. Untuk informasi lainnya: Kiki (082276647937). (ed)

Sore Ini, Film “A Visit to Ali Farka Toure” Tayang di Episentrum UK

Pemutaran Film Tikar PandanKomunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI) dalam rangkaian seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan September ini akan memutarkan film “A Visit to Ali Farka Toure” yang akan digelar Rabu (24/9/2014), pukul 16.00 WIB di Episentrum Ulee Kareng.

Selain penayang film yang berjudul asli “Ali Farka Touré-Le miel n’est jamais bon dans une seule bouche” ini juga akan diisi dengan diskusi oleh pemateri.

“Pembicara diskusi adalah Moritza Thaher, pendiri dan Kepala Sekolah Musik Moritza,” sebut Komunitas Tikar Pandar dalam rilisnya.

Pemutaran film ini kategori remaja bebas karcis, tepatnya berada di Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Institut Français Indonesia, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Infoscreening.

Sinopsis

Film dokumenter ini mengikuti perjalanan penyanyi dan gitaris legendaris dari Afrika, Ali Farka Touré (yang meninggal pada 2006 silam) saat dia kembali ke rumahnya dan akar musiknya di Niafunké, Mali. Dia lahir dengan nama lahir Ali Ibrahim Touré. Ali pernah memenangkan Grammy Award dua kali. Ali melihat sosoknya sekarang sebagai petani dan pecinta keluarga, yang mencoba meningkatkan kondisi agrikultur dan sosial di Timbuktu.

Tempat ini sangat berkekurangan. Ali dikenal sebagai legenda terutama dalam menghubungkan musik blues Amerika dan musik gitar asli di Mali. Dia akhirnya memopulerkan aliran yang dikenal sebagai Blues Mali.Martin Scorsese, salah seorang sutradara film Amerika Serikat menyebut gaya musik Ali sebagai “DNA-nya musik blues”. (ed)

Informasi Ramol (085260034932)

Festival Film German Cinema 2014 Hadir di Aceh

Festival Film German CinemaAceh yang berada paling ujung pulau Sumatera menjadi yang pertama kalinya untuk tahun ini dengan digelarnya pemutaran Festival Film German Cinema 2014.

Selain Aceh, Goethe-Institut selalu penyelenggara di Indonesia juga menggelar acara di delapan kota besar lainnya, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Denpasar, Palu dan Balikpapan.

Dalam rilisnya kepada @iloveaceh, Rabu (20/8/2014), pihak panitia dari Goethe-Institut di Indonesia akan membawa film-film terbaik berbahasa Jerman ke layar-layar besar untuk penonton di Indonesia yang akan tayang mulai 22 hingga 31 Agustus mendatang.

Yang menarik dari festival yang sudah memasuki tahun ketiga ini akan kedatangan tiga orang tamu kehormatan yaitu dua bintang perfilman dari Jerman, Nina Hoss dan Fritzi Haberlandt serta Noėl Dernesch, sutradara film dokumenter “Journey to Jah” yang yang telah mendapat banyak penghargaan di festival internasional.

“Program tahun ini terdiri dari 14 film yang telah diseleksi dengan cermat dan merupakan produksi-produksi baru yang sudah diakui kualitasnya di tingkat internasional,” sebut Katrin Sohns, Kepala Bagian Program Budaya, Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru.

Katrin berharap dengan adanya Festival Film German Cinema 2014, penonton Indonesia dapat mengapresiasi emosi-emosi kontras yang ditampilkan dalam film-film ini. Untuk program tahun ini, German Cinema bertujuan untuk menggambarkan lanskap perfilman Jerman saat ini selain tentunya berusaha untuk menginspirasi penonton Indonesia dan membangkitkan minat terhadap film-film Jerman.

“Kami yakin film Jerman masa kini memiliki begitu banyak perkembangan yang menggembirakan antara lain perspektif yang segar, sutradara-sutradara muda dan aktris serta aktor berbakat. Kami berharap semua film akan dapat diakses oleh khalayak luas dengan adanya teks terjemahan bahasa Inggris,” ujar Katrin.

German Cinema di Aceh

Sementara itu, pemutaran film-film terbaik Jerman di Aceh akan dilaksanakan pada Minggu, (24/8/2014) dengan menggandeng mitra lokal yaitu Komunitas Tikar Pandan dan Episentrum Ulee Kareng.

Ada tiga film cerita dari Jerman yang akan diputar di Aceh yaitu Kaddisch für einen Freund (pukul 14.00 WIB), Das merkwürdige Kätzchen (The Strange Little Cat) (pukul 16.30 WIB), dan Was bleibt (Home for the Weekend) (pukul 20.00 WIB).

Putra Hidayatullah, dari Komunitas Tikar Pandan (KTP), mengatakan bahwa program Festival Film GERMAN CINEMA 2014, adalah momen penting untuk menonton film Jerman berkualitas dalam rentang waktu produksi yang relatif masih baru.

“Sejak tahun 2013 hingga sekarang, KTP dan Goethe-Institut juga telah bekerja sama melaksanakan pemutaran film Jerman tiap bulannya di Aceh,” tambah Putra.

Seluruh pemutaran film terbuka untuk umum dan gratis yang berlangsung di Episentrum Ulee Kareng: Jl. Tgk. Meunara VIII, No. 8. Garot. Aceh Besar (masuk melalui jalan depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Khusus bagi penonton di Aceh, bagi yang tertarik menonton untuk dapat mendaftarkan diri di formulir pendaftaran online di situs www.tikarpandan.org karena tempat terbatas.

“Bagi yang sudah mendaftar dan dikonfirmasi panitia, tiket nantinya dapat diambil sejak satu jam sebelum pemutaran. Tiket on the spot hanya disediakan dan dibuka jika masih tersedia kursi penonton. Semua film dalam terjemahan bahasa Inggris, kategori Dewasa (D,” sebut Putra.

Acara ini terlaksana berkat kerja sama Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Episentrum Ulee Kareng, dan mitra pendukung lokal yaitu Sekolah Menulis Dokarim, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, IloveAceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net

Untuk informasi program dapat menghubungi Putra (085262673007) dan melihat lini massa @pustakaTP. (ed)

Yuk Ikut, Cang-pilem Sembari Berbahasa dan Buka Puasa

Die Fremde LandscapeCang-pilem!–pemutaran dan diskusi film edisi Ramadhan kembali digelar, dengan mengambi tema “Mari Berbahasa Sambil Berpuasa (wir sprechen während des Fastens)” Komunitas Tikar Pandan akan memutarkan film Jerman-Turki berjudul Die Fremde, Minggu (13/7/2014).

Die Fremde adalah film drama Jerman-Turki yang diproduksi tahun 2010 yang disutradarai oleh pembuat film Austria, Feo Aladag. Film berdurasi 119 menit ini bercerita tentang seorang ibu keturunan Turki, Umay (diperankan oleh Sibel Kekili), yang berjuang menentukan nasib di antara benturan dua nilai budaya yang berbeda. Kisah ini menggangkat tema tentang kehormatan, intoleransi, dan keharmonisan dalam hidup bersama.

Film ini telah mendapat banyak penghargaan di festival dunia. Untuk perannya yang luar biasa sebagai Umay dalam film ini, Sibel Kekili meraih penghargaan Aktris Terbaik Film Jerman 2010. Film ini merupakan karya debut sang sutradara Feo Aladag dan di tahun yang sama juga menerima tujuh nominasi dalam ajang penghargaan versi Persatuan Kritikus Film Jerman. Di kancah internasional “Die Fremde“ meraih penghargaan LUX dari Parlemen Eropa sebagai karya terbaik seni film di Eropa. Pada tahun 2010, Komite Seleksi Film Jerman resmi memilih Die Fremde masuk ke kompetisi Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Bagi Anda yang ingin ikut, jangan lupa untuk berhadir pada pukul 15.00 WIB. Selain nonton bersama, juga akan ada diskusi dengan menghadirkan pembicara dari komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh yaitu Baiquni Hasbi dan Azhar Ilyas.

Komunitas Polyglot Indonesia-Chapter Aceh adalah wadah bagi semua penggemar bahasa yang sudah menguasai atau sedang belajar bahasa asing. Kegiatan utamanya adalah pertukaran bahasa. Dalam setiap pertemuan rutin tiap dua-mingguannya, peserta dan peminat umum dapat belajar, diskusi, praktik, serta bertukar info dan pengalaman dalam menekuni bahasa Asing. Beberapa bahasa yang selama ini menjadi peminatan di antaranya adalah bahasa Jerman, Turki, Jepang, Spanyol, Inggris, Italia, Arab, Esperanto, dsb.

Pemutaran film untuk kategori penonton dewasa ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini terbuka untuk publik dan tanpa karcis. Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (085262673007). Acara ini juga disertai buka puasa bersama. Bagi peserta yang ingin berbuka puasa bersama, dapat membawa makanan dan minuman sendiri atau dapat memesan pada Azhar Ilyas (081262554864).

Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Jakarta, Polyglot Indonesia Chapter Aceh, Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) Aceh, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, ruangrupa, Komunitas @iloveaceh, Banda Aceh Info, Suarakomunikasi.com, dan AJNN.net.(rel/ed)

Tikar Pandan dan ACSTF Gelar Nobar dan Diskusi

nonton bareng TPDalam rangka menyambut Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia tahun 2014, ACSTF bekerjasama dengan Komunitas Tikar Pandan akan menggelar acara pemutaran film La Voie D’Un Peuple dan diskusi serta buka puasa bersama, Jum’at (4/7/2014).

“Selama ini jarang ada ruang diskusi bagi generasi muda dalam menyuarakan opini dan gagasan mereka, terutama terkait pemilihan umum presiden. Ini juga bagian dari edukasi tentang politik yang selama ini sangat jarang dilakukan,” ujar Daus mewakili ACSTF dalam rilisnya kepada @iloveaceh, Kamis (3/7/2014).

Kegiatan yang akan diisi oleh Wiratmadinata ini bertujuan untuk menjaring aspirasi, opini, dan gagasan dari kalangan anak muda dengan tema “Mengubah Keadaan Bukan Dengan Golput”.

Acara yang dimulai pukul 16.30 s/d 19.00 WIB tersebut juga akan dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama yang bertempat di Kantor Komunitas Tikar Pandan, Jl. Tgk. Meunara VIII no. 8 Desa Garot, Geuceue Meunara Aceh Besar.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Untuk registrasi dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0852 6267 3007 (Putra).