Festival Film ‘Europe on Screen’ 2014 Kembali Hadir di Aceh

Festival Film EropaKomunitas Tikar Pandan menjadi mitra lokal di Aceh untuk penyelenggaraan Festival Film Eropa ke-14, “Europe on Screen” (EOS) 2014 yang akan berlangsung 9-10 Mei mendatang.

Untuk di Aceh, program EOS ini akan menayangkan 18 film pilihan dari beragam genre, mulai dari film misteri, fiksi ilmiah, thriller, documenter sejarah, drama, film keluarga, film pendek, dan film lingkungan.

Program ini secara nasional akan memutar 71 film dari 26 negara Eropa, yaitu 22 dari 28 negara anggota Uni Eropa (Austria, Belgia, Bulgaria, Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Irlandia, Italia, Luksemburg, Polandia, Portugal, Rumania, Slowakia, Spanyol, Swedia, Belanda dan Inggris) dan 4 negara Eropa lainnya (Islandia, Norwegia, Serbia dan Swiss).

Film yang akan diputar adalah The Arrival of Wang (Italia), Breath of Freedom (Jerman), The Shooter (Denmark), The Ice Dragon (Swedia), The Past (Perancis), Alfie the Little Werewolf (Belanda), More Than Honey (Swiss), dan Wadjda (Jerman), serta 10 film finalis kompetisi film pendek.

“Film-film ini dibagi berdasarkan beberapa segmen yaitu segmen discovery, ekstra, dokumenter, anak-anak, dan segmen film pendek,” sebut Putra Hidayatullah, salah seorang panitia.

Lebih lanjut, Putra menuturkan bahwa penonton film di Aceh juga mesti berbangga, karena film penutup festival tahun ini, The Shooter, juga akan diputar di Aceh pada tanggal 9 Mei 2014.

Festival Film Eropa (Europe on Screen) ini merupakan inisiatif bersama dari para kedutaan besar dan pusat kebudayaan Eropa di Indonesia. Festival ini diselenggarakan di Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 1990, kemudian yang kedua pada tahun 1999. Sejak 2003, Festival ini mulai diselenggarakan setiap tahunnya di bawah slogan “Europe on Screen”. Untuk di Aceh sendiri, EOS pertama kali dilaksanakan sejak tahun 2007 di Episentrum Ulee Kareng (Komunitas Tikar Pandan).

Festival ini dilaksanakan sejak tanggal 2-11 Mei 2014 yang diselenggarakan di sembilan kota di Indonesia: Banda Aceh, Bandung, Denpasar, Jakarta, Makassar, Medan, Padang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Rizki, mewakili Tim Kurator Film Episentrum yang hadir di malam pembukaan EOS 2014 di Jakarta mengatakan bahwa film-film Eropa menjadi tidak begitu dikenal di Indonesia karena jalur distribusinya yang sedikit, padahal dari segi kualitas film, ada beberapa film Eropa yang bahkan lebih bagus kualitasnya daripada produksi arus utama Hollywood. Beberapa festival film ternama ada di Eropa seperti Cannes dan Berlinale.

“Program ini tentu saja akan membuka wacana penonton film di Aceh”, imbuhnya.

Dalam rangka Festival ini, Bapak Olof Skoog, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, mengatakan, “Film‐film ini tidak hanya ekspresi menakjubkan dari keragaman budaya kami, tetapi juga cara yang ampuh untuk mengkomunikasikan ide‐ide lintas batas. Film‐film ini bukan merupakan hasil perhitungan pasar yang rumit dan tidak pula disertai dengan biaya promosi besar‐besaran. Tetapi seperti semua karya yang bagus, film‐film ini kemungkinan besar akan meninggalkan jejak yang tetap bertahan terus dan tidak sekedar diingat semalam saja. Sebagian dari film‐film ini akan menghibur ‐ lainnya akan memprovokasi”.

Bapak Orlow Seunke, Direktur Festival EOS 2014 mengatakan: “Selamat menikmati film‐film serta festivalnya”.

Semua film diputar gratis, namun terbatas hanya untuk 45 kursi setiap filmnya. Saat ini tiket dapat diambil di Episentrum Ulee Kareng atau melalui Putra Hidayatullah (085262673007).

Bagi bagi para penonton yang telah mengambil tiket diharapkan untuk dapat hadir ke tempat pemutaran satu jam sebelum pemutaran berlangsung untuk registrasi ulang. Jika saat pemutaran sudah dimulai dan para penonton yang bersangkutan tidak hadir atau tempat duduk sudah terisi penuh, maka tiket akan dialihkan ke penonton cadangan dan pintu akan segera ditutup.

Pemutaran berlangsung di Episentrum Ulee Kareng: Jl. Tgk. Meunara VIII, No. 8. Garot. Aceh Besar (masuk melalui jalan depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Jadwal pemutaran di Aceh yaitu:

  • Jumat (9/5), pukul 14:00 WIB, The Arrival of Wang (Italia); pukul 16:30 WIB, Breath of Freedom (Jerman), dan pada pukul 19:00 WIB, The Shooter (Denmark).
  • Sabtu (10/5), pukul 14:00 WIB, The Ice Dragon (Swedia); pukul 16:30 WIB, film finalis kompetisi film pendek; dan pukul 19:00 WIB, The Past (Perancis).
  • Minggu (11/5), pukul 14:00 WIB, Alfie the Little Werewolf (Belanda), pukul 16:30 WIB, More Than Honey (Swiss), dan pada pukul 19:00, Wadjda (Jerman).

Acara ini merupakan kerja sama antara Uni Eropa, Indonesian Film Center (IdFilmCenter), dan khusus di Aceh, bermitra dengan Komunitas Tikar Pandan, Episentrum Ulee Kareng, Aneuk Mulieng Publishing, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Komunitas Kanot Bu, Banda Aceh Membaca, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Universitas Syiah Kuala, English Department Student Association (EDSA) UIN Ar-Raniry, Komunitas Kamera Lubang Jarum Aceh (Mata Nanggroe), Suara Komunikasi.com, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, Aceh Women for Peace Foundation, Radio Flamboyant FM, dan Liberty Language Center.

Untuk informasi program dapat menghubungi Putra (085262673007) dan melihat lini massa @pustakaTP, situs www.tikarpandan.org, dan laman Facebook Liga Kebudayaan Tikar pandan. (rel/ed)

Hari Ini, Ada Cang-pilem! “Pendek dan Bagus” di Ulee Kareng

cang pilem pendek dan bagusKomunitas Tikar Pandar seri pemutaran film Jerman di bulan April ini, kembali menggelar Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bertema Pendek dan Bagus yang akan memutarkan tiga film pendek Jerman dengan judul Spielzeugland, Rabbit A La Berlin (Mauerhase), dan Raju.

Film-film pendek Jerman ini akan diputar pada Sabtu (26/14/2014), pukul 16.15 WIB dan akan diikuti dengan diskusi tentang “Bahasa Jerman”. Pemantik diskusi adalah Farah Diba, lulusan dari Charite Medical School Berlin dan Instruktur Bahasa Jerman di Liberty Language Center. Pemutaran film ini bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Acara ini tanpa karcis.

Putra mewakili panitia KTP mengatakan bahwa film-film pendek ini merupakan film pilihan dan sudah terbukti kualitasnya jika dilihat dari capaiannya di beberapa penghargaan film dunia.

“Pemutaran film Pendek dan Bagus ini juga untuk menambah wacana dan wawasan tentang contoh film yang durasinya pendek dan berbeda dengan beberapa film panjang Jerman yang diputar di pemutaran-pemutaran sebelumnya”, tambah Putra.

Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (0852 6267 3007).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institut Indonesia, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Komunitas Kanot Bu, Banda Aceh Membaca, Aceh Women for Peace Foundation, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Radio Flamboyant FM.

Sinopsi Film

Film Spielzeugland disutradarai oleh Jochen Alexander Freydank dengan durasi 14 menit. Cerita bermula ketika seorang bocah 6 tahun, Heinrich Meissner bermain piano dengan temannya David Silberstein. Ibu Heinrich kemudian memberitahu bahwa keluarga David harus meninggalkan rumah menuju“Daerah mainan“ (Spielzeugland). Heinrich tidak ingin kehilangan temannya. Diam-diam bocah itu ikut bersama keluarga David. Dengan rasa putus asa, ibunya mencari-cari Heinrich dan tiba di kereta api yang siap untuk berangkat menuju kamp konsentrasi. Film ini memenangi piala Oscar pada tahun 2009 dengan katagori film pendek terbaik.

Film Rabbit A La Berlin (Mauerhase) disutradarai oleh Bartek Konopka dan berdurasi 39 menit. Film ini berkisah tentang kelinci yang hidup di antara tembok yang dibangun untuk membentengi Berlin. Kelinci-kelinci itu berkembang biak dengan sangat cepat. Kehidupan tanpa musuh berjalan dalam damai, tetapi penuh keterbatasan; semua itu berhenti dengan runtuhnya tembok Berlin. Dan kelinci-kelinci itu tidak siap menyambut kebebasan yang baru. Film ini memenangi Academy Awards 2010, nominasi untuk kategori “Best Documentary Short“

Film Raju berdurasi 24 menit dan bercerita tentang sepasang suami istri Jerman, Jan dan Sarah Fischer menjemput anak adopsi mereka di satu rumah yatim piatu di Kalkutta, India. Tak lama kemudian anak itu menghilang. Mereka tidak menduga ternyata Raju masih punya orang tua, dan mereka juga kehilangan Raju, sehingga Raju masuk dalam daftar “Anak hilang“ di satu kantor yang mengurus anak-anak yang hilang dari keluarga mereka.

Tak lama kemudian polisi berhasil menemukan Raju. Sarah tetap ingin mempertahankan Raju tetapi Jan ingin menemukan solusi yang lain. Film ini disutradarai oleh Max Zähle dan memenangi Academy Awards 2012: nominasi untuk kategori “Best Live Action Short Film” dan Student Academy Awards 2011: pemenang untuk kategori “Foreign Film Award (Bronze Medal)”. (rel)

16 Film Akan Diputar dalam Acara”Khanduri Pilem” di Episentrum UK

khanduri pilemKomunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Yayasan Cipta Citra Indonesia, Cinesurya, dan Karuna Pictures, akan mengadakan program “Khanduri Pilem” mulai 18-21 April ini di Episentum Ulee Kareng Banda Aceh.

Dalam program tersebut akan menayangkan 16 film terpilih, mulai dari film pendek, panjang, eksperimental, seni, hingga film festival yang telah mendapatkan penghargaan baik di tingkat lokal maupun internasional. Mayoritas film yang diputar adalah film edisi pemutaran terbatas–tidak diputar atau diputar terbatas di bioskop komersial–dan diputar secara independen oleh produsernya di beberapa tempat pemutaran mandiri dan rumah budaya.

Rizki, mewakili Tim Kurator Film Komunitas Tikar Pandan, dalam rilisnya kepada @iloveaceh, Kamis (17/4/2014) mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan suatu perayaan bagi penonton untuk dapat menikmati film-film yang telah diakui banyak penonton dan juri festival dunia.

“Harapannya bagi penonton, film-film yang diputar menambah wawasan referensi mereka tentang film, dan bagi sineas lokal, dapat menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi agar capaian sinematik para sineas lokal semakin berkembang”, ujar Rizki.

Sementara itu, Putra selaku Pelaksana Program mengatakan bahwa program ini dibagi ke beberapa sesi berdasarkan temanya yaitu: “Film Panjang, Seni, dan Festival”; “Film Pendek Indonesia Mutakhir”; “Fokus pada Edwin dan Karyanya”; “Produser Perempuan Indonesia dan Karyanya”; dan “Sutradara Perempuan Indonesia dan Karyanya”.

Saban harinya juga akan ada diskusi film dengan beberapa para produser dan sutradara berbakat yang membuat film-film tersebut. Diskusinya bertema tentang “Film Seni” (oleh Anggun Priambodo); “Film Pendek dan Karya Edwin” (oleh Edwin); “Produser Perempuan Indonesia dan Karyanya” (oleh Meiske Taurisia); dan “Sutradara Perempuan Indonesia dan Karyanya” (oleh Mouly Surya). Film yang diputar merupakan karya dari Edwin, Mouly Surya, Teddy Soeriaatmadja, Anggun Priambodo, Ladya Cheryl, Orizon Astonia, dan Aditya Ahmad.

Judul film yang akan diputar adalah: Lovely Man; Rocket Rain; Vulgar; Lewat Sepertiga Malam; Sepatu Baru; Someone’s Wife In The Boat Of Someone’s Husband; A Very Slow Breakfast; A Very Boring Conversation; Dajang Soembi, Perempuan Jang Dikawini Andjing; Kara, Anak Sebatang Pohon; Trip To The Wound; Hulahoop Soundings; Babi Buta Yang Ingin Terbang (Blind Pig Who Wants to Fly); Kebun Binatang (Postcards from the Zoo); Fiksi; Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (What They Don’t Talk About When They Talk About Love).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Yayasan Cipta Citra Indonesia, Cinesurya, Karuna Pictures, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Komunitas Kanot Bu, Banda Aceh Membaca, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, Aceh Women for Peace Foundation, Radio Flamboyant FM, dan Harvies Coffee House.

Bagi penikmat film di Aceh, dapat mendapatkan tiketnya di Harvies Coffee House (Tommy Harvie), Jl. Salam, No. 12, Lampriet. PIN BBM: 3248EFE3 atau HP: 085262467460 atau langsung di tempat (tiket terbatas) satu jam sebelum sesi pemutaran berlangsung.

Alamat Episentrum Ulee Kareng: Jl. Tgk. Meunara VIII, No. 8. Garot. Aceh Besar (masuk melalui jalan depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Untuk informasi program dapat menghubungi Putra (085262673007) dan melihat lini massa @pustakaTP, situs www.tikarpandan.org, dan laman Facebook Liga Kebudayaan Tikar pandan. (ed)

Peringati Hari Film Nasional, Tikar Pandan Gelar Pemutaran Film

KTP-Hari Film NasionalDalam rangka memperingati 64 Tahun Hari Film Nasional, Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Pic[k]lock Production akan melakukan pemutaran dua film nasional, yakni film Minggu Pagi Di Victoria Park (2010) dan Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012).

Kegiatan pemutaran film ini akan dilaksanakan pada Ahad, (30/3/2014) yang terdiri dari 2 sesi. Sesi pertama film Minggu Pagi Di Victoria Park pukul 13.45 WIB dan sesi kedua film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya) pada pukul 16.00 WIB. Pemutaran bertempat di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh). Biaya donasi karcis Rp10.000 per sesi/judul film.

Untuk registrasi dan informasi dapat menghubungi Putra (0852 6267 3007).

Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Pic[k]lock Production, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, Banda Aceh Membaca, Geuroebee, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, Gemasastrin Unsyiah, ruangrupa, IloveAceh, Banda Aceh Info, dan Radio Flamboyant.

Film Minggu Pagi di Victoria Park disutradarai oleh Lola Amaria. Film berdurasi 101 menit ini berkisah dari realitas TKW di Hongkong. Cerita bermula ketika seorang ayah menginginkan tokoh utama, Mayang, untuk mencari kakaknya (Sekar) yang telah lama berprofesi sebagai TKW di Hongkong. Di luar pengetahuan banyak orang, Sekar terlilit hutang dan tergiring ke dunia gelap. Akankah Sekar berhasil kembali?

Film Minggu Pagi di Victoria Park ini telah meraih banyak penghargaan misalnya di Festival Film Bandung, Indonesian Movie Awards, Bali International Film Festival, Jakarta International Film Festival, dan Festival Film Indonesia.

Film Rayya disutradarai oleh Viva Westi. Film berdurasi 114 menit ini bercerita tentang seorang diva, Rayya (Titi Sjuman). Keberhasilan Rayya didukung oleh tim suksesnya, yang sedang merencanakan menerbitkan biografi beserta album foto Rayya. Padahal Rayya sedang galau menyangkut hubungan asmaranya yang tidak menentu. Arya (Tio Pakusadewo) dipilih untuk melanjutkan rencana perjalanan untuk pemotretan. Sebetulnya Arya juga sedang dalam kemelut rumah tangga. Selama perjalanan, Rayya banyak mendapat pelajaran hidup. Apa saja pelajaran hidup itu?

Film ini telah diikutsertakan dalam beberapa festival di dalam dan luar negeri. Beberapa penghargaan adalah Best Director of Photography ASEAN International Film Festival and Awards 2013; Nominate Best Director, Best Picture-Drama, Best Actor, Best Actress, Best Screenplay di ajang yang sama. Film ini adalah salah satu film perjalanan yang diproduksi di Indonesia. Dialog dalam film ini juga sarat makna dan puitis karena skenario film ini ditulis oleh sastrawan Emha Ainun Nadjib bersama dengan Viva Westi. (rel)

Pemutaran Film Jerman “Kirschblüten-Hanami” Bersama Komuitas Tikar Pandan

HANAMI (2008) 127MNT-POSTER A4-2-2Komunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Goethe Institut Jakarta dan Banda Aceh Membaca, akan melaksanakan pemutaran film dan diskusi. Film yang diputar kali ini berupa film dari Jerman yang berjudul “Kirschblüten-Hanami (Bunga Ceri Hanami)”. Pemutaran ini akan dilaksanakan pada Minggu (22/12/2013) sejak pukul 15.50 WIB di Episentrum Ulee Kareng, Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar.

Film Jerman karya Doris Dörrie produksi tahun 2008 yang berdurasi 127 menit ini adalah sebuah film cinta yang sangat manusiawi dan mengharukan. Putra, salah seorang pengelola pemutaran film, mengatakan bahwa film ini berkisah tentang pasangan usia enampuluhan, Rudi dan Trudi, yang saling mencintai, akhirnya dipisahkan oleh kematian, dan baru setelah itu mereka dapat benar-benar mengenal. Film Jerman bersubteks bahasa Inggris ini adalah satu perjalanan puitis ke kedalaman jiwa. Cerita pengorbanan cinta yang memikat, pilu dan menyentuh.

Film yang disutradarai oleh Doris Dörrie ini diproduksi pada tahun 2008 lalu dengan bahasa utamanya Jerman dan dilengkapi dengan terjemahan bahasa Inggris. Beberapa pemeran utama dalam film ini terdiri dari Elmar Wepper dan Hannelore Elsner.

Sinopsis

Rudi yang menderita kanker, tidak tahu, bahwa umurnya tinggal beberapa minggu lagi. Hanya Trudi, istrinya yang penuh semangat hidup dan eksotis tahu diagnosa dokter mengenai penyakit suaminya, oleh sebab itu dia memutuskan, mengajak suaminya jalan-jalan untuk terakhir kalinya. Trudi berhasil membujuk suaminya untuk meninggalkan harmonis tapi gersang pengalaman di Allgäu, Bavaria, dan mengunjungi cucu dan anaknya di Berlin. Tetapi setibanya di sana, mereka diabaikan, keluarga muda ini sibuk dengan urusannya sendiri, mereka tidak berusaha untuk dekat dan perhatian terhadap orang tuanya. Setelah selesai menonton pertunjukkan tari Jepang Butoh, keduanya memutuskan untuk tinggal di hotel saja dan pergi ke Laut Baltik. Di sana Trudi meninggal mendadak, Rudi sangat terguncang dan tidak tahu lagi bagaimana dia harus melanjutkan hidup.

Bagaimana–semuanya bertanya–bagaimana Rudi yang tidak mandiri dan sedikit aneh itu bisa hidup sendiri, siapa dari anak-anaknya yang harus mengurusi Rudi yang tinggal jauh di Bayern? Rudi sendiri bingung dengan keadaannya yang sekarang–apalagi dia pun tak tahu bahwa diapun sebenarnya tidak akan berumur panjang. Dia juga merasa bersalah, ketika dia menyadari, berapa banyak waktu yang telah dihabiskan Trudi untuk mengurusnya, berapa banyak pengorbanan yang telah dia lakukan untuk Rudi. Misalnya salah satu kecintaan istrinya ialah tari Butoh, tapi dia mengabaikan hasratnya itu karena cintanya pada Rudi. Akhirnya Rudi pergi ke Jepang untuk mengunjungi Karl, anaknya. Dan tanpa diduga, di sana, di tanah asing, tempat yang biasanya dia tak suka, dia berhasil merasa dekat dengan istrinya yang sudah meninggal–sambil menunaikan impian selama hidup sang istri yaitu: pergi ke Jepang dan melihat gunung Fuji. (sumber: kedaikebun.com)

Pemutaran ini gratis dan terbuka untuk publik. Bagi peminat dapat mendaftarkan diri via sms ke 08983895543 (Kiki) atau datang langsung ke tempat pemutaran. Setelah pemutaran akan dilanjutkan dengan diskusi film tersebut.

Acara ini dilaksanakan bersama oleh Komunitas Tikar Pandan, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Goethe Institut Jakarta, Banda Aceh Membaca, LPM Perspektif Unsyiah, dan IloveAceh. (che/Rizki Alfi Syahril)

“Ombak Surut Bijak Bertaut” Antara Film, Teater dan Bencana

Komunitas Tikar Pandan, JIMG_0987um’at (13/12/13) jelang peringatan 9 tahun bencana Tsunami Aceh, 26 Desember mendatang, menggelar sebuah acara bertajuk “Ombak Surut Bijak Bertaut” yang berlangsung mulai 12 sampai 14 Desember di Gedung ACC Sultan II Selim, Banda Aceh.

Serangkaian kegiatan yang hadir di acara ini adalah Pameran Foto Bencana, Festival Film Bencana, Zikir Bersama, Seminar Mitigasi Bencana Kreatif, Peluncuran Pustaka Bencana, hingga  penampilan dari siswa/i MAN 2, SMP Lhoknga , Panti Asuhan SOS, dan SMP/SMA Methodist untuk kegiatan Gelar Teater Remaja Aceh.

Pada kegiatan Festival Film Bencana, ada beberapa film dokumenter yang ditayang dari sejumlah negara seperti Jerman, Inggris, Austria, Luxemburg, Amerika, Jepang, Indonesia, serta Aceh diputar sebagai salah satu media pembelajaran menghadapi bencana, baik bencana yang disebabkan faktor alam maupun buatan manusia. Untuk Aceh sendiri film yang diputar bertemakan konflik dan bencana seperti Adakadabra, Provokator Damai, 13 Sesember, dan lain-lain. Kemudian ditutup dengan diskusi “Film, Konflik, dan Bencana” oleh Fauzan Santa dan Feri Kusuma.

“Kita ingin menghadirkan wacana bencana melalui film dan teater sebagai pendekatan penanggulangan bencana secara visual,” jelas Rizki Alfi Syahril selaku sekretaris panitia acara ini.

Gelar Teater Remaja Aceh merupakan penutup serangkaian kegiatan yang dihadirkan oleh Komunitas Tikar Pandan ini dan akan berlangsung pada Sabtu (14/12) pukul 20.30 WIB s/d selesai. (che)