Yuk, Jalan-jalan Sore di Pusat Jajanan #RamadhandiAceh

Foto @iqbal_mhdSaban sore selama bulan Ramadhan, sejumlah tempat disulap menjadi pusat jajanan. Tidak hanya di kabupaten/kota, hampir seluruh Aceh pasti akan mudah kita temukan pusat jajanan yang sangat mudah dijangkau.

Aktivitas pusat jajanan di Aceh juga serentak, dimulai ba’da Ashar berbagai menu seperti minuman dan makanan akan mudah sekali kita jumpai dan bahkan juga beberapa kuliner yang langka ada di pusat jajanan.

Seperti yang berhasil kami rekam di pusat jajanan kuliner Ramadhan beberapa waktu lalu di Peunayong, Banda Aceh. Berbagai jenis minuman ringan hingga makanan berat tersedia disini, jadi kenapa tidak untuk jalan-jalan sore sembari menikmati keramaian dalam indahnya #RamadhandiAceh. (ed)

Foto @iqbal_mhd

Foto @iqbal_mhd

Disbudpar Aceh Gelar Festival Kuliner

Aceh Culinary Fest 2015Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh kembali menggelar Aceh Culinary Festival yang akan dihelat 4-6 Juni mendatang di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh.

Sejumlah makanan khas alias peunajoh Aceh dari kabupaten/kota di Aceh dipastikan akan hadir dalam acara tahunan ini.

Disbudpar Aceh dalam keterangan menyebutkan, perayaan legenda kuliner khas Aceh digelar dalam rangka mempromosikan dan melestarikan Aceh sebagai salah satu destinasi wisata kuliner yang populer di Indonesia, mengingat Aceh memiliki kekayaan kuliner yang bercita rasa luar biasa.

Acara pameran makanan dan minuman khas Aceh yang akan berlangsung serentak dengan Jambore PKK Provinsi Aceh dan menghadirkan 400 orang peserta dari 23 Kabupaten/Kota ini akan diisi berbagai lomba, demo masak, parade, pertunjukan musik dan kenduri khas Aceh.

30 Stand Gratis

Selain menampilkan kuliner Aceh, panitia Aceh Culinary Festival juga membuka kesempatan untuk para pengusaha rumah makan dan cafe, penggiat home industri kuliner, dan komunitas hobi untuk mengisi 30 stand pameran yang disediakan secara cuma-cuma.

Bagi yang berminat dapat segera mendaftarkan diri dengan mengirimkan profil produk kuliner dan usaha melalui email festivalkulineraceh@gmail.com. Nantinya panitia akan melakukan seleksi terhadap para pendaftar untuk mencari 30 peserta pameran dalam Aceh Culinary Festival 2015.

Peserta yang menawarkan menu khas tradisional Aceh menjadi prioritas utama. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia Aceh Culinary Festival 2015, Indie di nomor handphone 0812 6460 9494. (ed)

Semarak Perhelatan Aceh Kuliner Festival 2014

aceh kuliner festival 2014

foto by: ILACrew

Setiap daerah tentu menyimpan ragam kuliner yang berbagai macam rasa dan bentuk. Begitu juga dengan Aceh. Puluhan makanan khas Aceh yang menggugah selera hadir diperhelatan Aceh Kuliner Festival 2014 yang berlangsung pada, Minggu (26/10/2014) di Taman Putroe Phang, Banda Aceh.

Puluhan makanan khas Aceh hadir difestival yang bertema “One Day, All Culinary Exsperiences” ini. Dari Kuah Beulangong, Nasi Bakar Keumamah, Tumis Keumamah, Sate Matang, Pliek U, Ie Bu Peudah, Mie Caluk, dan puluhan makanan khas Aceh lainnya. Disamping itu, penganan ringan khas Aceh juga tersedia disana. Keukarah, Kembang Loyang, Bada Reteuk, Timphan, Peugat, dan penganan ringan lainnya tampak turut menghiasi puluhan stand.

Festival yang digagas oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh (Disbudpar Aceh) ini, dalam rangka melestarikan kuliner khas Aceh. Festival yang rutin setiap tahunnya diseleggarakan oleh Disbudpar Aceh ini bertujuan untuk menjadi daya tarik masyarakat agar lebih mengenal ragam kuliner khas Aceh.

“Acaranya keren, sebagai ajang untuk masyarakat mengenal makanan khas daerahnya. Makanan yang dihadirkan pun juga enak-enak,” sebut Fuad, salah satu pengunjung. (alf)

Sanger Day, Wacana Dari Dunia Maya yang Lahir di Dunia Nyata

Siang itu puluhan anak muda yang mengenakan seragam hitam tampak sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya masing-masing. Bertempat disalah satu warung kopi di Banda Aceh, anak-anak muda tersebut sedang menyiapkan satu agenda acara yang sudah ditunggu-tunggu banyak orang.

Mereka adalah sebuah komunitas yang bergerak dibidang sosial media. Mendengar kata sosial media, Anda jangan mengira mereka lebih “aktif” di dunia maya saja, sebab mereka punya slogan “social media to social movement”. Banyak sudah gerakan-gerakan sosial yang awal mulanya terwacana di media sosial Twitter, mampu diwujudkan oleh komunitas ini dikehidupan nyata.

Komunitas ini bernama @iloveaceh. Mereka tergerak melakukan gerakan sosial untuk mem-boom-ingkan Sanger, salah satu minuman yang kian populer di Aceh. Pertama sekali wacana ini muncul dari followers @iloveaceh yang akrab disapa #ATwitLovers tahun lalu, followers tersebut ngetweet tentang perlunya mengenalkan Sanger kepada dunia (baca Everyday is #SangerDay).

Layaknya capuccino milik negara Italy, Sanger yang terbuat dari campuran kopi, gula, dan susu ini pun diharapkan mampu menjadi minuman seperti capuccino yang telah mendunia tersebut. Berangkat dari kicauan followers itulah, @iloveaceh memberanikan diri menjadi “corong” untuk memperkenalkan Sanger ke mata dunia. Kegiatan yang bertemakan “Everyday is Sanger Day” tersebut berlangsung pada, Minggu (12/10/2014) di Solong Mini Lampineung, Banda Aceh.

“Hari Sanger ini memang awalnya kita gerakkan di sosial media Twitter @iloveaceh lewat tagar #SangerDay. Tujuannya untuk menjadikan #SangerDay sebagai peringatan rutin tahunan di Aceh dan memperkenalkan kopi Sanger sebagai salah satu minuman khas asal Aceh. ternyata antusias dari followers sangat luar biasa,” sebut Antonio Gayo selaku ketua panitia.

IMG_9027

foto by: ILACrew

Acara ini dihadiri oleh para penikmat kopi Sanger, turut pula hadir disana perwakilan dari lintas komunitas yang ada di Banda Aceh. Tidak hanya penikmat Sanger dari kalangan anak muda saja, tampak juga hadir disana General Manager Hermes Hotel, Octowandi, Putri Kopi Indonesia perwakilan Aceh, Cut Rita Kemala, sejumlah seniman Banda Aceh dan beberapa wartawan senior Aceh serta wartawan asing asal Berlin, Jerman.

Kegiatan yang diisi dengan diskusi santai sambil nyanger ini juga dihibur oleh beberapa penampilan musik akustik dan puisi yang terlihat sangat menarik, terlebih lagi ada talenta-talenta muda Aceh yang tampil segar didepan penikmat Sanger.

Diskusi yang berlangsung santai sambil menikmati segelas Sanger dan juga timphan asoe kaya ini, berbicara tentang bagaimana mewujudkan kopi Sanger menjadi ikon untuk daya tarik pariwisata di Aceh.

“Sangat baik sekali acara ini, bisa merangkul suatu ide yang awalnya dari media sosial. Ini bisa membantu daya tarik pariwisata di provinsi kita. Akan lebih baik lagi apabila Sanger ini dipatenkan menjadi minuman khas dari Aceh. Namun tentu itu semua perlu peran pemerintah juga,” sebut Octowandi.

IMG_9105

foto by: ILACrew

Sementara itu, sejak diluncurkannya tagar #SangerDay, respon dari netizen tentang perbincangan #SangerDay di Twitter sampai menembus angka 2700 kicauan (tweet). Hingga menjadikan #SangerDay trending topic (TT) untuk wilayah Aceh serta juga berhasil menduduki tangga TT untuk Sumatera beberapa saat.

Ribuan orang pengguna akun sosial media twitter dan Instagram di Aceh turut berkicau di hari #SangerDay. Tak hanya di Aceh, di Jakarta, Semarang, Jogyakarta, Balikpapan, hingga merambah ke sejumlah followers @iloveaceh yang ada di Turki, juga ikut saling berbagi tweet tentang #SangerDay.

Capture

foto by: ILACrew

“Kami tak menyangka acara yang sederhana begini mendapat respon positif dari followers,” cetus Anton.

Sebelumnya, dalam menyambut hari #SangerDay, pengelola @iloveaceh juga telah mengadakan lomba foto yang ditujukan kepada seluruh followers di akun Twitter dan Instagram-nya. Tak ayal, banyak dari followers yang semakin tertarik untuk berkicau tentang #SangerDay di akun sosial media.

Dari kegiatan yang sederhana ini, ada harapan besar yang terus ingin digerakkan oleh @iloveaceh dengan para followersnya. Keinginan itu tentu saja menjadikan Sanger sebanding dengan capuccino milik Italy yang telah lebih dulu mendunia. Terutama dengan cara memperingati hari Sanger di setiap tahunnya, dan memanfaatkan sosial media sebagai wadah “pemantik” untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke Aceh, tentu saja untuk menikmati suguhan Sangernya.

Penulis : Alfath Asmunda (@Alfaaaath)

Craving Light, Tempat Santai Bernuansa ‘Vintage’

Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherararaHadir ditengah-tengah kegundahan teman-temannya soal tempat menyantap makanan ringan, yang sekaligus bisa di jadikan tempat nongkrong untuk bersantai, membuat Putri dan teman-temannya tertarik untuk menghadirkan konsep cafe bergaya vintage.

Penampilan retro dan klasik, menghiasi sejumlah ruangan di cafe bilangan Batoh, Banda Aceh ini. Mulanya Putri tidak kepikiran untuk membuat cafe dengan konsep vintage tersebut seperti yang dituturkan kepad @iloveaceh beberapa waktu lalu.

“Awalnya nggak kepikiran. Karena lihat kawan-kawan di sosial media pada ngeluh susahnya mencari tempat makan yang santai, nggak bising, bernuansa klasik, di Banda Aceh. Maka saya dan teman-teman timbul satu ide untuk membuat cafe dengan nuansa yang betul-betul membuat pengunjung betah. Maka lahirlah Craving Light ini,” ujar Putri, perempuan berparas ayu ini yang berani terjun menjadi pengusaha diusia muda.

Berangkat dari kegundahan teman-temannya yang curhat di sosial media itulah, membuat Putri untuk memberanikan diri dengan menghadirkan usaha kulinernya yang diberinama Craving Light.

Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherararaMenurut Putri, Craving Light memang beda dengan konsep cafe-cafe lainnya, disini ia menawarkan konsep kenyamanan dan tentu saja dengan sajian makanan yang menggugah lidah, ditambahkan lagi nuansa yang buat pengunjung betah berlama-lama.

Saat pertama sekali masuk ke cafe ini, Anda akan merasakan nuansa klasik dengan sejumlah pernak-pernik modern. Dinding-dinding cafe yang berbalut warna putih cerah, memberikan kesan nyaman, selain itu akan kita jumpai banyak hiasan seperti foto-foto dan karya seni lainnya terpajang disana. Soal pencahayaan, cafe ini cukup membuat Anda terasa rileks.

“Sengaja aja saya memilih warna cafe-nya putih. Soalnya kan warna putih masuk dengan suasana kepribadian orang-orang yang ingin mencari ketentraman. Pun warna putih itu kan warna netral,” kisah Putri tentang pemilihan warna untuk cafe ini.

Putri melanjutkan, ia dan teman-temanya yang juga pemilik Craving Light ini, memberanikan diri membuat nuansa cafe layaknya rumah sendiri bagi pengunjung. Sebab baginya, inilah salah satu faktor pendukung yang membuat pengunjung nyaman berlama-lama disini, dan pasti mereka tak akan bosan-bosannya untuk kembali lagi kesana.

Anak-anak muda yang sangat menggemari tempat nongkrong yang jauh dari keramaian, suara bising, sangat cocok sekali untuk mengunjungi cafe yang beralamat di jalan Tgk Muhammad Hasan Batoh, sembari meluangkan waktu sejenak untuk duduk santai bersama teman-teman sambil menikmati makanan yang disuguhkan.

Salah satu menu di cafe Craving Light / @cherararaSajian menu makanannya di Craving Light cukup beragam. Dari makanan bergaya Eropa semisal Smoothies, Cake, Bistik Ayam, Tiramisu cake, Banana Strawberry, dan masih banyak menu-menu andalan khas lainnnya. Namun bagi Anda penikmat makan khas tradisional Aceh jangan khawatir, di sini juga menyediakan berbagai macam aneka makanan yang populer di Aceh, mie Aceh salah satunya yang siap menggoyang lidah Anda.

Tentu, di samping makanan yang enak, harga juga menjadi patokan “mau tidaknya” pembeli untuk datang ke sebuah cafe. Untuk cafe Craving Light sendiri Anda tidak perlu khawatir soal harga. Sebab, harga makanan yang di tawarkan disini sangat bersahabat dengan isi kantong. Terlebih bagi Anda yang berstatus pelajar, dijamin sangat tidak mencekik dompet.

Selain itu, cafe yang aktif di akun Twitter @craving_light ini juga menyediakan beberapa fasilitas lain untuk semakin membuat pengunjung nyaman. Seperti fasilitas musholla untuk beribadah dan Water Closet (WC).

Mushalla di Craving Light, tempat santai ala 'Vintage' / @cherarara

Bagi Anda yang suka bernarsis ria sendiri atau bersama teman-teman dan keluarga, tenang saja Craving Light menyediakan tempat khusus untuk photobooth. 

Yang lebih unik lagi, caffee ini juga menyediakan penjualan bunga-bunga segar yang sudah sedemikian cantik di rangkai. Seperti bunga mawar segar, yang bisa anda beri kepada orang spesial di hari-hari penting dalam kehidupan anda.

Dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1435 H yang sudah dekat di depan mata, Criving Light juga menyediakan beberapa macam jenis kue kering yang bisa Anda beli atau sebagai oleh-oleh buat sanak saudara setelah Anda, atau untuk Anda sendiri mungkin sebagai penambah koleksi kue di rumah saat Idul Fitri Nanti. (alf/che)

Timphan juga hadir di @AcehCoffest2013

imagesJika kita mendengar kata Timphan, pasti yang terlintas dipikiran kita adalah kue yang dibungkus rapi oleh daun pisang dan didalamnya terdapat berbagai jenis rasa seperti srikaya, kelapa, bahkan ada juga durian. Pasti kita setuju jika timpan adalah kue segala umur, penikmatnya mulai dari yang tua hingga anak-anak, cocok untuk teman bersantai sore dilengkapi segelas kopi hangat.

Kue timpan merupakan salah satu makanan khas Aceh. Panganan manis ini terbuat dari tepung ketan, bahkan kue ini menjadi kegemaran masyarakat Aceh. Selain hari-hari besar, kue timpan juga sering ditemui dalam pesta besar, arisan, maupun jamuan penting lainnya yang diadakan masyarakat Aceh. Bahan yang dipakai untuk adonan kue timpan adalah tepung ketan yang dicampur dengan pisang raja atau labu.

Adonan kue timpan dibungkus dengan daun pisang yang sudah diolesi dengan minyak goreng. Tujuannya adalah agar saat matang, kue ini tidak lengket ketika dibuka pembungkusnya.

Mungkin anda bingung dimana bisa menikmati panganan khas Aceh ini, karena tidak sempat untuk membuatnya sendiri. Nah, langsung saja datang ke acara “Banda Aceh Coffee Festival” tahun ke-III yang berlangsung pada 22-24 November 2013 di Taman Sari. Timphan akan disajikan berbagai rasa serta ditemani 1001 cita rasa kopi yang tersedia di acara ini.

Kapan lagi kita menikmati kuetimpan ditemani live music mulai dari modern hingga tradisional Aceh. Jangan sampai ketinggalan, atau kalian harus menunggu sampai tahun depan lagi.(che/ed)

Penulis: Chera Ayarizki (@cherara)