#SangerDay dengan Sentuhan Focus Group Discussion

Sempat diguyur hujan lebat, namun puncak peringatan Hari Sanger Sedunia – International Sanger Day yang digelar di gelar di Keude Kupi Aceh, Sabtu (29/10/2016) berjalan lancar.

Hujan lebat yang mengguyur Kota Banda Aceh sejak sore jelang Maghrib setidaknya telah membuat suasana adem dan rahmat bagi sebagian alam. Sekira pukul 20.00 WIB, beberapa perwakilan komunitas akhirnya mulai memenuhi miyup moh Rumoh Aceh dan tepat pukul 20.45 WIB acara pun dimulai yang dikomandoi Afla Nadya, selaku MC malam itu.

Video kilas balik peringatan Sanger Day sejak dua tahun lalu juga menjadi pembuka sebagai pewarna membuka sekilas ingatan peserta yang hadir sekitar 50 orang lebih.

Tidak lama berselang langsung dilanjutkan dengan pemaparan materi focus group discussion (FGD) oleh Aulia Fitri selaku penanggung jawab acara terkait potensi dan perkembangan Sanger serta beberapa kendala yang masih ditemukan di lapangan.

Foto Wanda Haris Purnam

Disela-sela pemaparan materi untuk FGD ini, peserta yang hadir juga dihidangkan sanger panas, timphan dan keukarah, sebagai peunajoh tradisional yang menjadi pelengkap malam yang berhawa dingin.

Tidak ketinggalan, perwakilan dari komunitas yang hadir juga diminta untuk ikut serta dalam lomba racik sanger yang dipandu langsung oleh komunitas Aceh Gayo Manual Brewing. Para kontestan ini diajak menyeduhkan sanger secara manual dengan menggunakan alat rok presso yang didemo langsung didepan peserta lainnya.

Canda dan tawa tidak lepas yang akhirnya menjadi penghibur bagi peserta yang lainnya disaat calon barista dadakan ini mengenalkan proses membuat sanger, mulai dari penggunaan bubuk kopi Arabika, air panas, susu serta alat yang dipres, membuat gelak tawa menjadi semakin akrab.

Hasilkan Rekomendasi untuk Sanger Day

Usai lomba racik sanger dari calon barista dadakan tersebut, dewan juri dari Aceh Gayo Manual Brewing juga melakukan penilaian dilanjutkan yang disela-sela penjurian diisi StandUp Comedi oleh comic dadakan Alvawan dari blogger Aceh serta ajakan vote bersama untuk menangkan Indonesia di World Halal Tourism Awards (WHTA) 2016 dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Sesi FGD pun dilanjutkan dengan dengar pendapat, pengutaraan ide dan masukan untuk sanger itu sendiri, varian soal kopi dan juga beragam pernyataan terkait ikon minuman khas Aceh, Sanger menjadi salah satu bagian untuk mempromosikan Aceh lewat kuliner.

Inilah beberapa kesimpulan dari FGD catatan dari notula, Ihan Nurdin berdasarkan ide-ide dan masukan dari masing-masing perwakilan yang hadir:

  1. Sanger baru populer di wilayah Banda Aceh saja, ke depan perlu ada penyeragaman ‘nama’ racikan kopi susu di Aceh, sehingga nama sanger menjadi universal di Aceh;
  2. Hingga saat ini belum ada standarisasi resep sanger, misalnya jenis kopi apa yang baik untuk membuat sanger. Jika standarisasi ini sudah ada, ketika orang luar Aceh membuat suguhan kopi yang racikannya sama dengan sanger, kita bisa klaim bahwa itu produk dari Aceh;
  3. Sanger mulai dikenalkan di Aceh tahun 97;
  4. Peringatan Sanger Day mulai dilakukan pada 2013;
  5. Ke depan sanger day bukan hanya dipelopori oleh iloveaceh saja. Perlu kerjasama dan sinergisitas dengan berbagai lintas komunitas di Aceh untuk mengampanyekan sanger;
  6. Perlu ada internalisasi sanger dan festival sanger untuk membumikan sanger khusunya bagi masyarakat Aceh;
  7. Perlu kreativitas dalam promosi sanger, misalnya dalam bentuk sanger sachet;
  8. Selama ini cita rasa sanger di setiap warung kopi di Banda Aceh masih belum seragam. Sehingga perlu ada standarisasi cita rasa yang baku dari para baristanya;
  9. Perlu kampanye yang gencar untuk membuat sanger terkanal di nasional atau internasional, seperti pemerintah mengampanyekan wonderful indonesia di bus-bus. Atau mengkampanyekan sanger melalui industri kreatif seperti perfilman;
  10. Kita ingin sanger yang modern atau sanger tradisional?
  11. Menjadikan sanger sebagai hidangan di acara-acara yang dibuat oleh instansi pemerintah;
  12. Perlu melibatkan peran media dalam mempromosikan sanger;
  13. Sanger harus menjadi ‘budaya’ bagi masyarakat Aceh, sehingga menjadi daya tarik baru bagi masyarakat luar yang datang ke Aceh;
  14. Sanger adalah jenis minuman yang khas, jadi jangan melihat sanger berdasarkan bahan baku kopinya;
  15. SDM di bidang kopi di Aceh masih rendah, sehingga pemerintah perlu memfasilitasi peningkatan SDM di bidang ini.

Ada beragam pendapat dari hasil FGD tersebut, yang nantinya terus difinalisasi oleh @iloveaceh sehingga menjadi rekomendasi untuk penyelenggaran Festival Sanger Day pada tahun 2017 nanti.

Selain itu, kami juga mengucapkan banyak selamat kepada pemenang lomba racik sanger, yakni Andri Munazir sebagai juara 3, lalu Fadli Nora Iranda (Agam Aceh 2016) yang berhasil menjadi juara 2, serta M. Qafrawi menjadi juara 1 yang nantinya akan menjadi calon brand ambassador sanger di tahun 2017.

Tidak lupa juga ucapan terima kasih kepada perwakilan komunitas yang telah hadir, penikmat sanger, penikmat kuliner, awak media, sponsor dan seluruh pihak yang telah ikut menyukseskan puncak peringatan Sanger Day 2016. “Minuman Nikmat dari Ujung Barat Indonesia”. Sampai jumpa kembali di tahun selanjutnya dan mohon maaf atas segala kekurangan. (ed/foto Wanda HP)

wanda_haris_sanger_day2016_12

wanda_haris_sanger_day2016_3

wanda_haris_sanger_day2016_2

Ada @Festival_Kota di RTH Meuraxa Gampong Lambung

Tidak kurang dari 70 komunitas yang tergabung dalam Kolaborasi Komunitas Aceh menggelar Festival Kota Kita (FKK) yang berlangsung 7-8 Mei 2016 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Meuraxa, Gampong Lambung, Banda Aceh.

Festival Kota Kita yang bertajuk “Kotaku, Kotamu, Kota Kita Semua” akan dimeriahkan berbagai talent, seperti penampilan hikayat oleh Fuadi Kelayu, Bandar Philharmonic dan Sanggar Seni Seulaweut. Kegiatan ini didukung oleh Dinas Cipta Karya Aceh, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Pemerintah Kota Banda Aceh dan ICAIOS.

Ketua Panitia FKK 2016, Nanda Satria menyatakan kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Bumi dan HUT Kota Banda Aceh ke-811 tahun. Direncanakan, kegiatan ini akan dibuka langsung oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal dan dihadiri oleh Kepala Dinas Cipta Karya Aceh.

“Di sini kita tidak menunjukkan produk akhir dari suatu aktivitas, melainkan menunjukkan bagaimana proses tersebut terjadi di hadapan audiens. Bahkan audiens dapat ikut serta merasakan bagaimana proses itu terjadi. Sehingga pengalaman itu dari Festival Kota Kita dapat dibawa pulang bahkan menjadi salah satu inspirasi ke depannya,” lanjut Nanda.

Dalam rilis panitia Festival Kota Kita telah dipersiapkan serangkaian kegiatan antara lain Trash for Check Up, Fun Edukasi Bencana, Melukis Totte Bag dan Workshop Membuat Souvenir Aceh. Sejumlah kantin food court dipersiapkan dengan konsep ramah lingkungan.

Dalam kesempatan ini, Panitia FKK 2016 memberikan anugerah Terima Kasih kepada Pahlawan Kota dan peluncuran situs Kota Tanyoe. Serangkaian perlombaan digelar untuk memeriahkan FKK 2016 antara lain lomba foto dan video serta lomba opini lingkungan.

Sejumlah kegiatan pre-event telah digelar sebelumnya antara lain peringatan Earth Day 2016, Talkshow Banda Aceh Smart-Creative City, Talkshow bersama fashion designer busana muslimah Fitri Aulia, pelatihan membuat biopori dan Satu Hari Bersama Anak-anak Thalassemia di RSUZA. (ed)

Jadwal_Kluster_Festival Kota Kita 2016Jadwal_Festival Kota Kita 2016

Selamat Jalan Adik Kami Daffa Delfira

Daffa DelfiraRasa duka menyelimuti keluarga besar Komunitas @iloveaceh dan lintas komunitas yang setahun lalu bersama berjuang untuk kesembuhan adik kami, Daffa Delfira yang berusia 2 tahun.

Tagar #PeduliDaffa masih begitu membekas dalam benak kami, tepat Minggu (29/11/2015) sekira pukul 15:11 WIB kabar duka pun akhirnya kami terima dari Nyafara Foundation, yang selama ini telah menemamani keluarga Hermanjal dan Rita Mailinar memperjuangkan buah hati mereka di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Selamat jalan adik kami, semoga berbahagia disana. Serta buat pihak keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan sabar atas musibah ini. (ed)

Foto-foto Kegiatan #CommFest2015 di Banda Aceh

Keynote speaker Tgk Nasruddin Ahmad acara Seminar MEA dan forum komunitas di Aula FISIP Unsyiah (Foto @ILAcrew)Walaupun sudah lewat, tak lupa sekali lagi Komunitas @iloveaceh dan ILATeam Management mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasi dan kontribusi dari BEM FISIP Unsyiah 2015-2016, ASD Cooperative Microfinance yang telah ikut serta menyukseskan Community Festival 2015 yang telah digelar 30 Mei lalu di Aula FISIP Unsyiah Darussalam, Banda Aceh.

Selain itu kepada sejumlah narasumber beserta keynote speaker yang telah begitu banyak berbagi ilmu, masukan, serta wawasan kepada komunitas yang berhadir.

“Kami sangat merasa terapresiasi atas banyaknya ilmu dan sharing pengalaman dari keynote speaker dan narasumber, seperti yang terlihat dari keikutsertaan peserta seminar untuk bertanya seputar komunitas dan konsep promosi wisata berdasarkan value added jelang MEA,” jelas Ketua Pelaksana #CommFest2015, Dara Elvia RS.

Serta tidak luput, kami juga mengucapkan rasa terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak, seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh, Forum WMM Chapter Aceh, Dayah Entrepreneur Aceh, The Leader, Sekolah Wira Kreatif, Inkubator FE Unsyiah, YURI Organizer, TokoUKM.com, dan Gampong Rencong.

Semoga Community Festival tahun selanjutnya bisa semakin berisi dan ramai dengan ide-ide baru yang inovatif serta menjadi pergerakan sosial baru dari lintas komunitas di Aceh. (ed)

Pimpinan ASD Cooperative Microfinance bertanya kepada narasumber  acara seminar MEA dan forum komunitas (Foto @ILACrew)

Perwakilan dari Bank Indonesia ikut berpartisipasi dalam seminar MEA dan forum komunitas (Foto @ILAcrew)

Sejumlah komunitas turut hadir acara seminar MEA dan forum komunitas (Foto @ILAcrew)

Penyerahan penghargaan kepada narasumber acara Seminar MEA dan Forum Komunitas (Foto @ILAcrew)

Narasumber turut hadir memberikan materi acara seminar MEA dan Forum Komunitas di Aula FISIP Unsyiah (Foto @ILAcrew)

Foto bersama narasumber acara seminar MEA dan Forum Komunitas (Foto @ILACrew)

Mau Kerjasama dan Media Partner, Nah Ini Dia Syaratnya

iloveaceh-headerNgopi atau ngeteh sore memang jadi andalan dikala cuaca hujan-hujan begini seperti di Banda Aceh dan beberapa daerah lainnya.

Kali ini Komunitas @iloveaceh bersama ILATeam Management juga berbagi sedikit informasi seputar manajemen dan kabar komunitas, serta kerjasama dan partner.

Dari pada bingung, mending kita simak terus beberapa poin yang telah dikabarkan langsung oleh ILATeam di linimasa @ILAcrew berikut ini.

Sembari ngeteh dan ngopi, berikut penjelasannya 🙂

Salam sukses buat semua dan mari berkolaborasi untuk mempositifkan Aceh. (ed)

Dari Musibah Hingga Hari Kepedulian

Pagi itu hujan belum juga reda. Rintik-rintiknya masih berjatuhan membasahi bumi. Sembari menunggu, saya telah menghabiskan sepiring nasi dan segelas teh hangat. Jarum jam terus saja berputar, namun tanda-tanda hujan akan reda belum tampak.

Namun di halaman depan masjid kebanggan orang Aceh, Masjid Raya Baiturrahman ratusan anak-anak muda yang sudah lengkap dengan atributnya masing-masing telah berkumpul. Informasi itu saya dapat dari grup WhatsApp komunitas yang saya geluti. Mereka telah bersiap-siap untuk ikut membuat sebuah sejarah baru bagi Aceh.

Sejak malam, Sabtu (20/12/2014) kota Banda Aceh memang terus menerus diguyur hujan, bahkan diseluruh penjuru Aceh hujan tanpa henti-hentinya berjatuhan. Tak ayal hal itu menyebabkan puluhan daerah di Aceh terserang banjir. Hingga pagi pun datang, hujan masih enggan untuk berhenti.

Tepat pukul setengah delapan pagi, saya membulatkan niat menerobos hujan yang belum ada tanda-tandanya untuk pergi dari langit kota ini. Dengan mengendarai sepeda motor, saya menelusuri jalanan yang terlihat kosong. Tidak seperti biasanya, dipagi Minggu begini, biasanya jalanan kota ramai diisi oleh masyarakat yang berolahraga sepeda, lari, atau sekedar berjalan kaki sambil menghirup udara pagi yang segar. Namun kali ini pemandangan itu tidak tampak, jalanan sepi. Ini sudah tentu penyebabnya hujan, gumam saya dalam hati.

Saya terus mengendarai motor, menerobos hujan yang makin saja deras. Pakaian yang saya kenakan kian basah, juga sepatu. Akhirnya saya memutuskan berhenti disebuah halte, tidak beberapa jauh dari pusat kantor Pemerintah Aceh.

Dihalte tersebut, Beberapa orang pengguna jalan juga sedang berteduh untuk menghindari hujan yang makin deras. pagi itu, harapan saya untuk bisa cepat bergabung dengan anak-anak muda yang hendak membuat sejarah baru bagi Aceh, terhenti sebab hujan.

“Tapi tak mengapa, hujan itu rahmat yang diturunkan oleh sang pencipta bagi daerah Serambi Mekkah ini,” cetus saya dalam hati coba menghibur diri.

Beberapa menit kemudian, hujan sedikit mulai mereda. Saya tak pikir panjang lagi. Saya hidupkan motor lalu tancap gas menuju Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi saksi bisu atas musibah yang melanda daerah ini pasca-satu dekade silam. Niat saya sudah amat kuat untu menerobos hujan, tak peduli pakaian basah. Dari pada menunggu hujan benar-benar reda, bisa saja itu bakalan lama, sudah pasti nanti saya akan tertinggal dari sejarah yang akan tercipta. Saya teruskan saja menarik gas motor hingga akhirnya sampai juga di halaman depan masjid kebanggaan rakyat Aceh tersebut. Tentu dalam keadaan pakaian basah.

Disana tampak seratusan lebih anak-anak muda telah berhadir lengkap dengan atribut masing-masing. Ada teman-teman dari pelbagai komunitas fansclub di Aceh, komunitas fotografi, Palang Merah Remaja, Seniman dan Musisi Aceh, Tarung Derajat, RAPI Aceh, Duta Wisata, Duta Mahasiswa, Radio di Aceh, Media Lokal di Aceh, Relawan Air Putih, Komunitas Comics, dan juga teman-teman yang datang secara personal. Mereka berkumpul demi satu tujuan, satu semangat, satu harapan agar tepat ditanggal 26 Desember, dunia mengakui dan menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Kepedulian Dunia atau Care Day.

IMG_5299

Demi tujuan itulah yang membuat kami dari lintas komunitas di Aceh berkumpul untuk melakukan sebuah aksi longmarch dari halaman Masjid Raya Biturrahman melintasi jalan protokol dan berakhir di monumen Aceh Thanks To The World, Blang Padang.

Hujan masih enggan untuk benar-benar rehat. Beberapa ruas jalan protokol tampak digenangi oleh air. Burung-burung yang bersarang di menara Masjid Raya beterbangan dilangit, bersahut-sahutan seakan bahagia menikmati hujan yang tak kunjung reda.

Saya memakirkan motor tepat dihalaman masjid. Kemudian dengan sedikit berlari-lari kecil, saya mengejar barisan teman-teman lintas komunitas yang sudah lebih dulu berjalan melakukan longmarch. Untungnya, barisan tersebut belum cukup jauh berjalan.

IMG_5296

Dalam rintik hujan pagi itu, terlihat semangat yang besar dari teman-teman lintas komunitas untuk melakukan pawai mengelilingi kota. Tak ada satu pun yang menghiraukan hujan, kami rela berbasah-basahan, berjalan kaki beberapa kilometer demi satu tujuan menjadikan tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia. Itu saja.

Satu Dekade yang Lalu

Musibah gempa dan tsunami yang melanda daerah kami 10 tahun silam telah membuka mata dunia terhadap Aceh. Gempa yang merobohkan istana-istana gubuk yang kami tinggali, gelombang air laut dengan ketinggian mencapai 35 meter yang menggulung sanak keluarga kami, telah membuat dunia benar-benar berduka atas musibah tersebut. Triliunan rupiah bantuan dari masyarakat dunia coba membantu Aceh, ratusan ribu relawan berdatangan untuk membasuh luka rakyat Aceh, namun itu semua tentu tidak serta merta bisa menghapus luka yang teramat dalam disanubari kami. Luka yang terpatri hingga hari ini. Luka yang sangat kami nikmati.

Sebagaimana orang yang kehilangan seseorang yang ia cintai, seseorang yang ia sayangi, walaupun beragam rupa coba digantikan, tetap tak akan sama. Tak akan bisa hati berdamai dengan sesuatu yang bukan aslinya. Kenangan dengan sanak saudara yang kami cintai, tak akan bisa tergantikan dengan kemegahan Aceh hari ini. Gedung-gedung yang baru, jalan-jalan yang mulus, rumah yang baru, jembatan yang kokoh, sekolah yang megah, semua itu tak bisa menghilangkan ingatan kami kepada sanak saudara yang telah pergi. Hilang tak tahu dimana pusaranya, tenggelam dalam pekatnya gelombang pada Minggu 26 Desember 2004 silam.

Pun sebagaimana kata pepatah “sedalam apapun coba kau tenggelamkan kenangan, ia pasti akan timbul kepermukaan jua”. demikian jugalah yang kami rasakan. Walaupun Aceh hari ini tidak seperti 10 tahun yang lalu, saat orang-orang yang kami cintai masih ada, kenangan bersama mereka 10 tahun yang lalu itu tidaklah pernah akan surut.

IMG_5321

Puing-puing kenangan dengan orang-orang yang terkasih, masih tertanam rapi dihati rakyat Aceh. Tak terkecuali saya, pada Minggu pagi yang cerah itu gempa dan gelombang tsunami telah membuat abang sepupu yang sangat saya sayangi, hilang tersapu oleh gelombang maha dasyat itu. tak hanya beliau, ratusan saudara saya hilang bagai ditelan bumi. Ingatan tentang mereka sampai hari ini masih membekas dalam hati ini. Tak akan terhapus sampai kapanpun.

Cetuskan Hari Kepedulian

Berangkat dari niat tak ingin melupakan kenangan itulah, lintas komunitas di Aceh coba memprakarsai lahirnya hari Kepedulian Dunia. Kami tak ingin generasi Aceh, 40 atau 50 tahun nantinya akan lupa dengan musibah yang pernah merenggut ratusan ribu nyawa, yang membuat ratusan ribu anak-anak menjadi yatim piatu, yang membuat ayah kehilangan anaknya, anak kehilangan ibu bapaknya, saudara kehilangan saudaranya, para korban tsunami yang hingga hari ini menderita sakit jiwa, negara-negara yang datang mengulurkan tangannya untuk membantu Aceh, para relawan dari seluruh penjuru dunia yang datang membantu tanpa melihat apa dan siapa, hilang begitu saja diingatan anak cucu kami nantinya.

Kami sungguh tak ingin semua itu terjadi. Sepahit apapun kenangan, ia tetaplah kenangan. Karena sebelum kenangan yang pahit itu datang, ada kenangan manis yang terlebih dahulu pernah singgah.

Berjalan kaki beberapa kilometer tanpa memperdulikan hujan yang terus saja membasahi bumi, kami akhirnya sampai di museum tsunami. Disana, para teman-teman lintas komunitas berhenti sejenak di gedung yang menyimpan ribuan memori tentang tsunami. Salah satu gedung termegah di Aceh tersebut, kami membubuhkan tanda tangan disebuah spanduk sebagai bentuk dukungan ditetapkannya tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia. Rencananya, spanduk tanda tangan sebagai bentuk dukungan itu nantinya akan dipajang pada saat upacara peringatan mengenang 10 tahun tsunami yang dihadiri oleh banyak tamu-tamu penting.

IMG_5412

Aksi ini memang sangat sederhana. Tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan aksi dari belahan bumi lainya yang meminta hal serupa. Namun, niat yang benar-benar tulus dan harapan yang benar-benar besar agar generasi Aceh yang akan datang, maupun anak-anak Indonesia umumnya dan bahkan anak-anak dari negara lain keseluruhannya, tidaklah lupa bahwa dulu pada tanggal 26 Desember pernah terjadi musibah dimuka bumi ini. Musibah ie beuna (sebutan orang Aceh terhadap tsunami) yang pernah meluluh lantakkan Aceh dan negara-negara lainnya di Asia.

Dukungan penetapan tanggal 26 Desember sebagai hari Kepedulian Dunia pun mengalir deras. Bak air tsunami yang datangnya amat kencang, seperti itulah teman-teman dari daerah lain di seluruh Indonesia mengucurkan dukungan mereka terhadap wacana ini. Mereka mengirimkan ucapan dukungan dan semangat kepada rakyat Aceh lewat berbagai akun sosial media. Bahkan, tanpa pernah mengira sebelumnya, anak-anak muda dari berbagai lintas negara pun juga melakukan hal serupa.

Lewat tagar #2612CareDay, mereka mengirim beberapa ucapan untuk mendukung sekaligus mengucapkan kata-kata penyemangat bagi rakyat Aceh melalui media sosial. Sungguh, saya orang yang paling sulit untuk menangis, namun atas apa yang dilakukan oleh teman-teman diseluruh daerah di Indonesia dan teman-teman lintas negara tersebut, mampu membuat saya meneteskan air mata terharu. Terima kasih banyak teman-teman.

IMG-20141218-WA007

Hari ini boleh saja orang lain melihat Aceh dan mengatakan Aceh telah benar-benar pulih dari musibah yang amat kelam tersebut. Hal demikian tentu didasari atas penglihatan geliat pembangunan dan ekonomi rakyat Aceh yang kian tumbuh. Itu memang benar. Tapi, dalam hati kami rakyat Aceh masih membekas kesedihan yang teramat dalam. Kesedihan yang sengaja kami simpan untuk mengenang sanak keluarga kami yang telah pergi lebih dahulu. Kesedihan yang tak akan pernah padam, dari hari kehari coba terus kami nikmati. Kesedihan yang kami rawat sebagai kenangan agar dimasa yang akan datang menjadi cerita yang tak akan lagi menimbulkan kepahitan. Agar generasi yang terus datang bersiap siaga dari pengalaman generasi yang pernah merasakan dahsyatnya musibah itu.

Dalam aksi tersebut tak luput pula teman-teman lintas komunitas mengucapkan miliaran terima kasih kepada negara-negara dan relawan yang telah membasuh luka derita rakyat Aceh. Puluhan bendera dari negara yang pernah mengulurkan bantuannya terhadap Aceh, ikut dikibarkan oleh teman-teman lintas komunitas tepat di monumen “Aceh Thanks To The World”.

IMG_5482

 

 

Penulis adalah Alfath Asmunda (@alfaaaath). Tulisan ini pernah dimuat di blog penaalfath.wordpress.com