Jakarta Melayu Festival 2016 Akan Tampil Beda

Gelaran Jakarta Melayu Festival (JMF) 2016 tahun ini akan tampil beda dengan tahun-tahun sebelumnya, hal ini terungkap saat konferensi pers JMF yang digelar Gita Cinta Production di Restoran Pempek Kita, Tebet Timur Dalam Raya Jakarta Selatan, Rabu (11/8/2016) lalu.

Dalam konferensi pers tersebut turut hadir sejumlah pengisi acara JMF seperti Darmansyah, Nong Niken, Kiki Ameera, Vico Amigos, Tom Salmin, dan Butong.

Geisz Chalifah dari Gita Cinta Production menyebutkan, perhelatan musik melayu ini akan berlangsung 20 Agustus mendatang disajikan gratis untuk semua pengunjung.

“Pada tahun ini JMF akan mengambil lokasi outdoor yang akan digelar di Ancol Beach City mulai pukul 19.00 WIB. Konsepnya memang beda, selain tidak menggunakan gedung kita berikan juga akses gratis untuk masyarakat agar lebih terasa nuansa melayunya,” ujar Produser JMF tersebut.

Selain itu, tambah Geisz, untuk menambahkan kesan kemeriahan HUT RI, selain menampilkan perfomance JMF dari sejumlah penyanyi dan orkestra melayu, pengunjung juga bisa menikmati bazar yang menyajikan makana, pakaian, serta atribut yang bernuansa melayu.

“Ini hadiah untuk masyarakat dalam merayakan kemerdekaan Indonesia. Agar masyarakat tidak hanya sekedar menikmati, tapi menyadari bahwa melayu masih lekat di bumi Indonesia,” sebut Geisz. (ed)

Konferensi Pers Jakarta Melayu Festival 2016_Dok Panitia_1

@AurezMusic Luncurkan Instrumental “Aceh Lon Sayang”

Hadir ditengah-tengah belantika musik dengan format duo grup, ternyata mampu membuat dua musisi muda berbakat asal Aceh ini bisa diterima kehadirannya.

Sejak terbentuk dan mulai sering tampil dari panggung ke panggung, membuat Auwi Hidayat dan Teuku Reza Fahlevi kini semakin menyatu lewat duo grup yang mereka beri nama Aurez.

Diakhir tahun 2014 lalu, Aurez membuat satu gebrakan baru dengan meluncurkan instrumental “Aceh Lon Sayang” yang khusus diputar pada puncak peringatan 10 tahun tsunami.

Musik instrumental Aceh Lon Sayang tersebut dirampungkan oleh Aurez dalam tampo 10 hari. Dari penuturan mereka, penggarapan musik instrumental tersebut tidak banyak mengalami kendala.

“Awalnya sempat kesulitan juga karena baru kali ini dapat pengalaman membuat musik instrumental. Apalagi yang digarap ini musik Aceh yang sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat. Kalau ditanya kesulitannya, paling intensitas untuk bertemu saja, berhubung Auwi sama saya kan rumahnya agak jauh,” sebut Reza.

Tak Pesimis untuk Berkarya

Untuk menggarap instrumental ini Reza dan Auwi menggunakan beberapa alat musik, diantaranya gitar, piano, dan orkestra. Penggabungan tiga alat musik ini untuk menambah nuansa berbeda dari instrumental “Aceh Lon Sayang”.

Dua musisi berkacamata ini mengakui, tidak mudah memang untuk membuat banyak orang menyukai musik bernuansa akustik dan orkestra, terlebih bagi musisi yang belum cukup terkenal. Namun mereka tak pesimis dengan karya yang sudah berhasil dirampungkan ini.

“Musik instrumental belum cukup banyak penikmatnya di Aceh. Tapi dengan hadirnya musik instrumental Aceh Lon Sayang yang kami garap dengan perpaduan musik akustik dan orkestra ini, semoga bisa diterima masyarakat. Musik ini kan sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat,” tambah Auwi.

Untuk menggarap instrumental ini Reza dan Auwi menggunakan beberapa alat musik, diantaranya gitar, piano, dan orkestra. Penggabungan tiga alat musik ini untuk menambah nuansa berbeda dari instrumental Aceh lon Sayang.

“Kami coba mengkolaborasikan musik akustik dan musik orkestra. Inginnya agar instrumental ini terdengar lebih mewah,” tambah Reza.

Disamping itu Manajer Aurez, Dara Elvia RS mengatakan musik instrumental yang telah berhasil digarap ini tujuan awalnya adalah untuk mengasah kemampuan merek berkarya dan bertepatan juga dengan momen peringatan 10 tahun tsunami Aceh.

“Ini bentuk kecintaan Aurez kepada Aceh. Musik instrumental ini juga sempat diperdengarkan versi full kepada sejumlah tamu-tamu dari berbagai negara yang hadir pada hari peringatan 10 tahun tsunami di Banda Aceh,” katanya.

Sepaham dengan dua musisi yang dimanajerinya, Darapun mengakui untuk saat ini musik instrumental memang belum begitu familiar ditengah-tengah masyarakat Aceh. Namun ia tetap menamkankan rasa percaya diri kepada Aurez untuk merampungkan project ini. (ed/alf)

Nuansa Melayu dari Aceh hingga Makassar Meriahkan Theater Jakarta

Penampilan Niken dengan lagu Negeri Laskar Pelangi di JMF 2014 Apa yang terlintas dipikiran Anda saat membaca atau mendengar kata Melayu? Mungkin akan teringat dengan bahasa, pakaian, atau juga dengan keseniannya.

Bicara soal musik, Melayu tidak ketinggalan. Ditengah arus musik modern dengan beragam genre aliran yang mendominasi kalangan anak-anak muda di Indonesia, kemunculan Jakarta Melayu Festival (JMF) yang sudah berhasil digelar ketiga kalinya kembali membawa semangat baru ditengah-tengah pesta demokrasi Indonesia beberapa waktu lalu.

Tema dalam JMF tahun ini menarik sekali, lewat “Melayu Menyatukan Kita” membawakan sebuah pesan bahwa menjaga musik melayu bukan cuma tugas seniman atau penyanyi, hal ini yang terungkap dari apa yang disebutkan oleh pimpinan Gita Cinta Production, Geisz Chalifah, Jum’at (22/8/2014).

Geisz Chalifah dan Anwar Fauzi (I“Masyarakat kita harus kembali disadarkan untuk tetap menjaga dan melestarikan musik Melayu yang berkualitas. Karena musik Melayu inilah karakter Bangsa yang sebenarnya,” ujar Geisz dihadapan ratusan penonton di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Kentalnya Nuansa Melayu

Ada begitu banyak penampilan lagu-lagu khas Melayu di JMF 2014, lewat arahan music director Anwar Fauzi dengan sentuhan orkestra menambahkan ruh tersendiri dalam nuansa melayu salah satunya lewat tembang pembuka dari Nong Niken yang melantukan Negeri Laskar Pelangi.

Setelah tampil dengan soundtrack dari film Edensor yang berhasil menyita perhatian penonton, Niken juga berduet dengan penyanyi senior Darmansyah Ismail lewat lagu melayu lama yang membuat penonton ikut bernyanyi dengan judul Selasih.

Nong Niken / @ILACrewTembang Cintai Aku Karena Allah yang dibawakan oleh Novi Ayla diramu dengan alunan mendayu melayu menambah hangat suasana JMF malam itu yang banyak dihadiri oleh sejumlah tokoh-tokoh penting seperti  Anies Baswedan, Hariman Siregar, Bursah Zarnubi dan Nusron Wahid. 

Diikuti oleh pasangan Dou Shahab lewat petikan gitarnya ditambah dengan gesekan biola Hendri Lamiri berpadu dengan accordian dari Buthonk membuat irama melayu semakin menyatu. Ada juga Fadly (Padi) tampil dengan busanan khas dari Makassar merasa ikut bangga bisa tampil di perhelatan JMF.

“Saya orang melayu dan saya bangga dengan musik melayu. Itu adalah identitas kita,” ujar Fadli di atas pentas.

Fadly Padi di JMF 2014  / @ILACrewDengan lagu berbahasa Makassar berjudul Ati Raja, Fadly mampu memberikan suasana etnik dalam perpaduan Melayu. Belum lagi, disambung dengan penampilan Rafly Kande lewat lagu Aceh yang berjudul Saleum yang dipopulerkan oleh Grup Nyawoeng berhasil membuat penonton larut, ditambah dengan tembang Perahu karya dari Hamzah Fansuri menambah hangat suasana JMF.

Sementara Uma Tobing yang membawakan lagu Engkau Laksana Bulan, cukup apik dan serentak dengan irama orkestra berpadu dengan string dan rebana memberikan aksen tersendiri bagi sang juara IMB ini.

Sebagai penutup dari JMF 2014 yang jelang larut malam, tampil dengan formasi lengkap Amigos Band akhirnya membuat  penonton yang hadir malam itu tak tahan untuk ikut berjoget mengiringi lagu-lagu yang dimainkan, seperti Seroja, Rentak (Pak Ketipak Ketipung), hingga dengan tembang Pantun Jantan membuat band asal Medan tampil maksimal.

Sukses untuk JMF dan semoga bisa terus mengangkat musik Melayu dan menyatukan kita dari ujung Sumatera hingga Papua. (ed)

Grup Hip Hop Very Necessary Akan Tampil di Banda Aceh

Grup musik hip hop Remarkable CurrentGrup hip hop Amerika Serikat, Very Necessary (dulu bernama Remarkable Current) dijadwalkan akan berkunjung ke Aceh 10-11 Mei mendatang.

Public Affairs dari U.S. Consulate Medan, Dian Lumbantoruan menyebutkan, grup musik bernafaskan Islam ini akan tampil di dua tempat berbeda di Banda Aceh selama 2 hari.

“Mereka dijadwalkan tampil di Taman Sari pada tanggal 10 Mei dan di kampus Unsyiah tanggal 11 Mei,” sebut Dian.

Grup musik rap yang dulunya bernama Remarkable Current ini merupakan salah satu kelompok seniman Amerika yang terdiri dari musisi, penulis lagu dan produser yang disatukan tidak hanya oleh kecintaan mereka akan musik dan seni namun pula oleh tradisi Islam di Amerika.

Pada satu dekade terakhir, grup hip hop yang sering tampil penuh semangat dengan misi untuk menyemangati dan menginspirasi ini telah banyak melakukan tur keliling dunia, seperti ke benua Eropa, Afrika dan Timur Tengah.

Anas Canon selaku pimpinan dari grup musik ini juga masuk dalam edisi pertama buku 500 Most Influential Muslims in the World- 500 Orang Muslim yang Berpengaruh di Dunia yang berhasil membuat 10 album dalam hampir 10 tahun terakhir.

Gaya bermusik Very Necessary merefleksikan latar belakang beraneka sisi dari para senimannya. Walaupun mereka focus pada music urban, karya mereka juga dipengaruhi oleh musik Rock, Jazz, Opera dan World Music tradisional. (ed)

Ungkap Kegemberiaan, Robby Freakenstein Bikin Lagu untuk Aceh

Robby Freakenstein saat tampil bareng Aziz Jamrud di Piasan Seni Banda Aceh 2013 / Dok. Panitia

Kenangan berkunjung ke Aceh yang dilewati oleh sang gitaris band GLYPH Rocks, Robby Freakenstein sepertinya belum usai. Robby yang tampil di Piasan Seni November 2012 lalu bersama Aziz Zamrud akhirnya membuat sebuah video perjalanan singkat yang berjudulnya “Senangnya di Aceh”.

“Video ini adalah versi dari perjalanan singkat, tapi menyenangkan buat saya selama di Aceh. Semoga memberi sesuatu,” sebut Robby, Selasa (11/6/2013).

Lebih menariknya lagi, pemilik akun @RobzFreak yang kerap ingin belajar bahasa Aceh ini juga memberikan cuma-cuma lagu energik gitarnya ini untuk diguanakan oleh ILATeam jika sewaktu-waktu ada event.

“Kalo ILA Team mau pakai lagu ini buat theme song, monggo, silahkan,” sebutnya di Facebook.

Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri juga bagi @iloveaceh atas apresiasi yang diberikan oleh penggemar kopi Aceh ini untuk bisa saling mempromosikan Aceh lewat karya seninya. Sukses buat bang Robby ya, jangan sungkan-sungkan masih banyak kopi hitam yang nendang siap menanti.***