Kali Pertama, Nagan Raya Gelar Sanger Day Fest 2018

Peringatan Hari Sanger Sedunia atau International Sanger Day yang setiap tahun diperingati 12 Oktober ternyata tidak hanya santer di linimasa atau media sosial, kali ini giliran anak-anak muda Nagan Raya juga ikut merayakan hari sanger ini untuk pertama kalinya.

Pergelaran yang mengambil nama “Sanger Day Fest 2018” berlangsung sukses yang digelar di Sultan Coffee Nagan Raya, Selasa (16/10/2018).

Kegiatan yang mengangkat tema “Sanger Pemersatu Beurakah” tersebut, menurut panitia acara Rizki DP sebagai wujud kepeduliaan terhadap kuliner khas Aceh.

“Ini even perdana kita di Nagan Raya sebagai bentuk kepedulian kita terhadap minuman sanger sebagai kuliner khususnya minuman khas Aceh, selain itu ajang ini juga menjadi mempererat tali silahturahmi,” ungkap Rizki.

Menurut Rizki, Nagan Raya juga mempunyai kuliner yang sangat beragam dan hal ini telah dibuktikan juga saat adanya even akbar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang berlangsung Agustus lalu, dimana stand Nagan Raya mendapatkan juara khususnya di bidang kuliner.

“Nagan Raya terkenal dengan kuliner baik makanan khas yang tidak ditemukan di daerah lainnya, sementara minuman Sanger ini telah menjadi ikon Aceh dan termasuk minuman favorit juga disejumlah warkop-warkop di Nagan Raya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan di kabupaten yang bertajuk Rameune ini belum adanya di gelar peringatan Sanger Day, dimana acara yang digerakkan oleh komunitas di Banda Aceh telah beberapa kali diadakan di Kota Banda Aceh.

Rizki juga menambahkan dengan kerja sama tim yang kuat sehingga dapat terlaksana dengan baik.

“Saya mewakili teman-teman lainnya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Pemerintah Kabupaten Nagan Raya melalui Dinas Kebudayan Pariwisata Pemuda Olahraga yang telah mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk kepeduliaan terhadap kuliner daerah, serta kepada semua pihak seponsor yang telah mendukung jalannya acara dan unsur Muspika seperti Kapolres, Dandim 0116 dan Kejari Nagan Raya beserta jajaran yang telah hadir,” lanjutnya.

Selain itu, Rizki juga meminta maaf atas segala kekurangan baik kepada undangan dan pengunjung yang hadir mengingat, Sanger Day Fest 2018 ini baru pertama kali digelar di Nagan Raya.

Sanger Day Fest 2018 yang digelar pertama kali ini, selain agenda ngopi bareng juga ada pameran foto, serta melihat langsung proses pembuatan sanger dan penyajiannya.

Komunitas @iloveaceh sendiri ikut mengapresiasi atas dihelatnya Sanger Day Fest 2018 di Nagan Raya, Project Officer Sanger Day Fest 2018 Aulia Munizar menyebutkan, ini menjadi bukti bahwa kehadiran minuman sanger ini telah merambah ke sejumlah daerah dan telah ikut dirayakan secara bersama-sama untuk menjadi ikon minuman Aceh.

“Nama Sanger Day Fest memang telah menjadi agenda festival bersama, siapa pun bisa menggelar baik dari kalangan komunitas atau dari warkop-warkop serta cafe, yang pada intinya kita ingin sanger ini bisa terus mendunia serta menjadi ikon khas minuman yang bisa ditemukan dengan mudah di Tanah Rencong khususnya bagi wisatawan,” tutup.

Populasi Ikan Keureling di Aceh Menurun Drastis

Ikan Keureling di Aceh / @TanzilMurdha:Salah satu spesies ikan lokal Aceh, keureling kini mulai langka dijumpai disejumlah perairan di Aceh. Salah satu rakan #ATwitLovers menyebutkan hal tersebut kepada @iloveaceh, Rabu (30/7/2014).

Menurut Tanzil Murdha, ikan keureling yang memiliki nilai ekonomis tinggi mulai banyak diburu oleh masyarakat yang keberadaannya pun sudah mulai langka ditemukan. “Ikan keureling memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga banyak diburu oleh masyarakat,” sebutnya.

Dalam kicauannya lewat tagar #SaveKeureling, Tanzil menyebutkan, ikan yang masuk dalam genus tor spp (bahasa latin) ini juga mulai terancam punah di salah satu perairan di Nagan Raya.

“Ikan keureling salah satu ikan lokal yang terancam punah saat ini,” sebut pemilik akun @TanzilMurdha ini.

Sementara itu, sebuah penelitian yang pernah dipaparkan oleh peneliti dari Universitas Syiah Kuala, Nur Fadli dan Muchlisin ZA di tahun 2012 lalu menyebutkan populasi ikan keureling di perairan Aceh sudah menurun drastis akibat penangkapan yang berlebihan dan kerusakan lingkungan.

The International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga menyebutkan, ikan keureling Aceh sudah tergolong pada tingkat terancam punah (threatened species), maka dari itu penangkapannya di alam perlu dikendalikan dan nelayan perlu diarahkan kepada usaha pembudidayakan.

“Untuk mendukung pengembangan usaha budidaya ikan keureling dimasa depan perlu dikembangkan teknologi pembenihan dan pembuatan pakan yang sesuai baik untuk larva maupun pembesaran,” sebut peneliti Unsyiah tersebut.

Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti Unsyiah ini bertujuan sebagai informasi awal terhadap beberapa aspek biologi dan ekologi ikan keureling yang nanti bisa difokuskan pada pengumpulan data awal terhadap informasi biologi reproduksi, kebiasaan makanan dan habitat ikan keureling yang terdapat di beberapa sungai di kawasan Aceh Barat dan Nagan Raya.

Pengembangan Ikan Keureling

Menurut para peneliti ini, selain fokus pada aspek biologi dan ekologi, penelitian yang membutuhkan waktu tiga tahun tersebut nantinya akan difokuskan pada kajian genetika serta dilanjutkan pada kegiatan domestifikasi calon induk, pematangan gonad dan pemijahannya.

“Hasil penelitian pada tahun pertama ini adalah sebagai berikut bahwa ikan sampel yang ditangkap selama penelitian belum ada yang matang kelamin, nisbah kelamin ikan jantan lebih berbanding ikan betina pada populasi sungai Nagan dan sungai Sikundo, sedangkan di sungai Geumpang ikan betina lebih dominan tertangkap,” jelas hasil penelitian yang diterbitkan tahun 2012 oleh  Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI).

Hasil dari analisis isi lambung keureling menunjukkan bahwa tersebut menyukai cacing dan lumut sebagai makanan utamanya, sehingga dapat dikatakan memiliki sifat makan omnivora, hal ini diperkuat oleh data panjang ususnya sedikit lebih panjang berbanding panjang badannya.

Sedangkan dari hasil analisis dengan metode truss network menunjukkan bahwa populasi ikan keureling di sungai Nagan memiliki kasamaan karakter lebih tinggi dengan populasi ikan keureling dari Geumpang, dan pola pertumbuhan ikan keureling cenderung allometrik negatif.

Lewat analisis faktor ini menunjukkan bahwa perairan sungai Nagao, sungai Sikondu dan sungai Geumpang masih sesuai untuk ikan keureling, dimana ketersediaan makan masih mencukupi dan keberadaan predator masih berimbang serta kualitas air juga menunjukkan taraf yang masih sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

Semoga saja keberadaan dan populasi dari ikan keureling ini bisa mendapatkan banyak perhatian dan dukungan dari masyarakat serta dinas terkait dalam upaya melestarikan habitat ikan lokal yang mulai terancam punah. (ed)