Sebuah Pesan Mendalam dari Yachtist untuk Pariwisata Sabang

HAWA panas Sabang siang itu begitu terasa menyengat, namun suasana city tour dalam agenda Sabang Marine Festival (SMF) tidak menyurutkan semangat yachtist untuk mengeksplor Pesona Sabang.

Selain objek wisata alam dan bahari, panitia SMF yang dikomandoi oleh Fauzi Umar selaku ketua pantia juga mengajak sejumlah pelayar dari berbagai negara ini mengunjungi sekolah dan berinteraksi dengan murid-murid yang notabene warga asli Kota Sabang.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa, wisatawan mancanegara ini pun sangat merasakan keramahtamahan saat berada di lingkungan Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Sabang.

“Bayi kecil Jonathan asal Australia pun jadi incaran murid-murid karena begitu gemas melihat kelucuannya saat digendong oleh sang ibunya,” ujar Fauzi disela-sela memperkenalkan yachtist ke pihak sekolah.

Tanpa disadari dari rombongan peserta tersebut, dua yachtist yang berasal dari New Zealand, Alan Correst (captain) dan Anne Gough dari Australia memperhatikan betul interaksi dan seluruh rangkain festival yang mereka ikuti saat city tour, terlebih begitu tiba di SDN 2 Sabang tersebut.

Pada hari ketiga kegiatan SMF, Sabtu (23/4/2017), pihak panitia baru mengetahui ada sebuah kardus yang bertuliskan dengan tulisan hitam spidol yang begitu kontras terbaca “TIME TO GIVE A LITTLE BACK!” serta tertanda dua nama yachtist “Alan and Anne”.

Sontak saja, kardus tersebut ternyata telah berpindah-pindah dari satu peserta ke peserta lainnya ibarat kotak sumbangan dan yang lebih mendalam lagi adalah pesan di atas kardus tersebut tertera dengan tulisan kecil dengan pulpen yang berisi pesan yang begitu mendalam bagi sesama peserta SMF tersebut untuk membantu menjaga lingkungan danlaut agar terus bersih.

“Waktunya Untuk Memberi Walaupun Sedikit. Pengumpulan dana ini untuk sekolah yang kita kunjungi kemarin dan akan diberikan kepada Kepala Sekolah dengan harapan murid sekolah akan belajar tentang menjaga lingkungan terutama plastik yang ada di lautan. Kita telah diberi cukup banyak di festival ini dan memberikan sedikit kepada komunitas bukanlah hal yang memberatkan. Silahkan donasikan apa yang Anda dapat lakukan, centang nama boat Anda dan edarkan list ini pada boat lain yang belum. Setelah itu kembalikan ke “KIWI DREAM” tertanda Alan and Anne,” begitulah pesan yang diakui Fauzi Umar baru tahun ini mendapatkan kejutan emosional diantara peserta SMF dengan warga Sabang yang begitu mendalam.

Di kesempatan farewell sebagai penutup dari rangkaian SMF, Minggu (23/4/2017) malam Alan pun angkat bicara soal kardus yang mereka iniasiasi bersama Anne.

Alan pun dipersilahkan naik panggung kecil, dalam pidato kecilnya, Alan mewakili dari peserta dan yachtist lainnya mengungkapnya rasa senang berlayar hingga berminggu-minggu hingga bisa sampai ke Sabang.

“Kami senang bisa berlayar berminggu-minggu dan akhirnya bisa mencapai ke tempat ini, berlayar selama itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kepuasan kami berada ditempat sebagus ini, kami senang dengan rangkaian aktifitasnya, sangat mengagumkan dan diluar ekspektasi kami, kami sangat senang,” ujarnya.

Kami terkesima, sambung Alan, dengan keramahan dan kearifan lokal di Sabang dan Sabang Marine Festival telah memberikan kami kesempatan untuk melakukan semua ini. Pengalaman bisa berbaur dengan masyarakat disini merupakan hal yg sangat kami senangi dari festival ini.

“Sebagai sebuah komunitas, kami mendapatkan banyak pengalaman dari berbagai macam kebudayaannya, mulai dari musik, tarian, persahabatan dan lain-lain. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk panitia dan aliansi terkait, terutama Bapak Fauzi Umar. Kami juga memohon maaf atas masalah yang mungkin juga datang dari kami, kesusahan dalam berkomunikasi, masalah semacam ini sama halnya dengan menghadapi seekor kucing, tidak mudah, tapi kita masih dapat dipahami satu sama lain, jadi terima kasih banyak untuk kerja keras semua pihak disini, kerja yang sangat bagus,” urainya sembari sesekali melempar senyum kecil kepada tamu yang hadir.

Alan juga berharap pengalaman dan foto-foto yang mereka abadikan bisa menjadi bahan promosi saat mereka balik ke negara masing-masing.

“Kami sudah melihat dan menerima pesan dari kalian tentang harapan, mimpi, dan aspirasi kalian tentang Sabang agar bisa lebih dikenal oleh masyarakat dunia, juga menjadi harapan kami, dan sebagai fotografer kami sudah menulis dan mengirim artikel tentang Sabang untuk media di New Zealand, dan kami juga berharap akan ada publikasi yang besar,” harapnya.

Soal “kotak sumbangan” dengan pesan emosional tersebut juga diutarakan oleh Alan yang mewakili dari tim “KIWI DREAM”.

“Sebagai bentuk kecil dari apresiasi kami untuk masyarakat disini, kami sudah menyerahkan donasi dalam rupiah kepada kepala sekolah untuk anak-anak di SDN 2 Sabang, dan barang siapa yang hendak menyumbang, kotak amalnya masih terbuka lebar. Harapan kami agar anak-anak di sekolah dapat menjaga lingkungan dan laut demi masa depan yang lebih baik,” pungkas yang disambut tepuk tangan.

Dan sebagai penutup, Alan pun memberikan dukungan untuk kesuksesan seluruh masyarakat di Sabang. “Sukses juga untuk acara Sail Sabang pada bulan Desember mendatang, kami yakin planning kalian akan berjalan dengan lancar dan kami berharap dapat berkontribusi didalamnya,” harapnya.

Alan pun turun panggung, Fauzi Umar selaku Ketua Panitia SMF juga mengambil alih panggung untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta (yachtist) dan berharap mereka juga bisa ikut serta dalam kegiatan Sail Sabang tahun ini.

“Kami berharap kalian dalam keadaan sehat walafiat selama berada di Sabang, kami juga berharap kalian menikmati dan bisa lebih lama lagi berada disini. Kami sangat senang atas kehadiran kalian dalam acara ini dan mengunjungi pulau ini, kalian sudah hadir dan ikut dalam rangkaian kegiatan komunitas ini, termasuk tsunami tour besok di Banda Aceh,” jelas Fauzi malam itu.

Fauzi juga memohon mohon maaf, pada malam penutupan SMF yang seharusnya dihadiri oleh Kepala BPKS Fauzi Husin, namun beliau berhalangan.

“Beliau meminta maaf kepada kita semua berhubung tidak bisa hadir, beliau sedang mempersiapkan pertemuan dengan delegasi dari Kementerian Pariwisata Indonesia dan Kementerian Pariwisata Thailand di Bangkok, untuk mengembangkan rute pelayaran kapal yacht Phuket, Sabang dan Langkawi agar dapat ditempuh dalam waktu singkat. Tujuan Kemenpar Indonesia berada di Bangkok juga dalam rangka mempromosikan Sail Sabang 2017 pada Desember mendatang,” tuturnya.

Malam pun semakin larut, malam penutupan SMF pun diakhir dengan pembagian hadiah untuk sejumlah pemenang berbagai lomba yang telah digelar. Semua berakhir dengan senyum dan foto bersama. (ed)

Kemenpar: SMF Dapat Promosikan Wisata Bahari kepada Komunitas Yacht Dunia

WAKIL Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Bahari Asep Muhammad yang hadir dalam pembukaan SMF 2017 menyambut baik kegiatan bahari dari BPKS ini, dimana dapat mempromosikan wisata bahari Sabang kepada wisatawan dunia.

“Kemenpar RI melalui Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Bahari sangat menyambut baik kegiatan SMF 2017. Kita harap kegiatan ini dapat mempromosikan wisata bahari kepada wisatawan khususnya kepada komunitas yacht dunia,” sebut Asep dalam sambutannya.

Dengan diberlakukan bebas Visa, lanjut Asep, tentunya kegiatan tersebut akan mendapatkan feedback jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat sebesar 5% hingga 25%.

“Target capaian wisatawan tahun 2019 meningkatkan kunjungan wisatawan telah ditetapkan dalam RPJM sekitar 20 juta, diantaranya ada 4 juta yang ditargetkan untuk wisata bahari, dimana nantinya mampu meningkatkan devisa sebesar 4 miliar dolar pada 2019,” urainya.

Kemenpar juga berharap Pemerintah Aceh dan khususnya Sabang bisa ikut berperan untuk dapat meningkat devisa untuk Indonesia dari sektor pariwisata bahari.

Asep juga berpesan agar masyarakat dapat menjaga keistimewaan wisata bahari yang ada di bawah laut Sabang yang dikenal dunia.

“Aceh memang menyimpan banyak keistimewaan wisata bahari terutama Pulau Weh yg memiliki underwater wood-nya yg sudah dikenal dunia. Mari sama-sama kita jaga dan lestarikan seluruh destinasi yang dimiliki Sabang. Sebagaimana disampaikan Menpar, pada prinsip wisata bahari semakin dilestarikan semakin mensejahterakan,” sebut Asep mengutip pernyataan Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

Dalam kesempatan yang sama, Kemenpar sendiri juga memberikan apresiasi atas kecekatan BPKS Sabang dalam melakukan screening data bagi yachtist dengan waktu 45-60 menit saat memeriksa kelengkapan 1 kapal yacht.

“Kemenpar sendiri berharap kesiapan segala infratruktur yang ada di Sabang juga terus dibenahi, mengingat kita akan menyambut hajatan Sail Sabang pada akhir tahun mendatang khususnya untuk 3A (Atraksi, Amenities, dan Aksesibilitas),” tutur Asep.

Malam kesenian Sabang Marine Festival 2017 berlangsung meriah, penampilan band lokal kota sabang seperti Zero Band, Marwah Band dan Rencong Al Fitrah ikut memeriahkan malam kesenian SMF.

Kemeriahan pun pecah saat pesta kembang api berlangsung di tengah-tengah kepadatan penonton di Arena Sabang Fair, tidak hanya masyarakat kota sabang yang ikut larut dalam kemeriahan pesta kembang api tapi juga para yachtist terlihat terhibur dengan pesta kembang api yang hampir berlangsung selama 30 menit tersebut.

Setelah pesta kembang Api para yachtist juga ikut diajak bergoyang dan bermain seudati bareng joel pasee, mereka pun ikut naik kepanggung diiringi dengan tepuk tangan para pengunjung yang hadir.

Tidak hanya sampai disitu, kemeriahan malam kesenian pun terasa saat Apache 13 tampil dengan lagu-lagu hits mereka Alahom, Bek Panik, Pengkhianat, Leumoh Aneuk Muda dan ditutup dengan tembang Mona. (ed)

SMF 2017: Yachtist Dunia Berbagai Pengalaman City Tour

YACHTIST Sabang Marine Festival (SMF) 2017 dari New Zealand, Hilbrand mengaku senang bisa ikut dalam kegiatan city tour, Kamis (20/4/2017) dan baginya menjadi pengalaman mengenal warga setempat.

“Menurut saya city tour ini sangat bagus dan juga sangat bermanfaat terutama untuk mengenal kehidupan di Sabang, terutama penduduknya. Hal yang sangat saya perhatikan salah satunya infrastruktur, seperti jalanan dan bangunan disini, saya juga memperhatikan bagaimana penghidupan orang-orang di kota Sabang,” akuinya.

Ditanya soal perjalanan city tour yang paling berkesan, Hilbrand tanpa ragu menyebut langsung museum, air terjun dan keramahan warga kota.

“Yap, saya suka air terjun Pria Laot dan juga museum, seperti yang kita lihat tadi, anak-anak sangat antusias dan senang berada di dalamnya, itulah alasan kami suka travelling, kebahagiaan dan keramah-tamahan penduduknya. Banyak pemandangan indah di Malaysia, di Thailand, di Filipina, tapi kita berbicara tentang masyarakatnya, bagaimana cara mereka memperlakukan tamu dan wisatawan, dan penduduk di Sabang memperlakukan tamu dengan sangat baik,” ujarnya sembari .

Pengalaman yang serupa juga diungkapkan oleh yachtist lainnya asal Australia, Lynita yang menjadi momen pertamanya menginjak kaki di Sabang, mengaku menyenangkan dengan adanya kegiatan city tour.

“Sangat mengagumkan dan luar biasa bagi kami, mengingat kami lebih banyak menghabiskan waktu di boat dan sangat susah berkeliling menikmati panorama alam di sini, tapi hari ini kami berkesempatan mengelilingi seluruh pulau dan ini sangat menyenangkan,” ujarnya yang ditemani keluarga.

Soal objek wisata favorit, Lynita juga seiya dengan Hilbrand, yang sama-sama menyukai air terjun.

“Tentu saja air terjunnya, kami bisa berenang, air yang bersih, lokasi yang bersih dan bebas sampah. Terlebih kami tidak bisa mandi dengan air sebersih itu di dalam kapal, jadi, ya, di air terjun kami bisa mandi dengan segar,” celutuknya sembari tertawa senang.

Usai SMF, Lynita sendiri akan berada di Sabang selama sepekan. Ia ingin menjelajahi lebih banyak lagi tempat-tempat indah di Pulau Weh ini.

“Kami akan berada disini mungkin selama seminggu setelah festivalnya berakhir, kami berharap bisa mengunjungi lebih banyak tempat, seperti Pulau Rubiah, dan melakukan snorkling bersama keluarga,” sebutnya. (ed)

SMF 2017: Pesona Sabang Memikat Hati Yachtist Dunia

KEGIATAN Sabang Marine Festival (SMF) III 2017 yang digelar sejak Rabu (19/4/2017) mendapat antusias luar biasa dari para yachtist –sebutan pelayar– yang berasal dari 20 negara saat mengeksplore sejumlah keindahan yang ada di pulau paling ujung Sumatera, Sabang.

Tidak tanggung-tanggung, pada hari pertama SMF pihak Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) ini memboyong 54 yachtist untuk melihat keindahan Marina Lhok Weng yang merupakan salah satu lokasi pelabuhan khusus untuk kapal layar yacht, disana mereka disambut dengan penampilan tarian kolosal dari Sanggar Nol Kilometer.

“Pada hari pertama agenda Sabang Marine kita mulai pukul 14.00 WIB, peserta diajak menuju lokasi Marina Lhok Weng dari dermaga CT 1 BPKS dengan menggunakan beberapa boat yang dikawal oleh Polair dan Custom. Disana mereka disambut dengan tarian kolosal serta hiburan dari berbagai tembang nusantara,” ujar Ketua Panitia SMF, Fauzi Umar.

Agenda hari pertama berakhir sampai malam ditutup dengan sajian barbeque untuk menikmati sajian laut dari perairan Sabang.

Sementara pada kedua, Kamis (20/4/2017) semangat dari yachtist untuk melihat destinasi Pulau Weh semakin terasa, terlebih mereka diajak berkeliling city tour serta berbaur dengan masyarakat setempat.

Berbagai tempat yang dikunjungi mulai dari pukul 09.00 WIB pagi tidak henti-hentinya bidikan kamera poket dan gawai mereka abadikan mulai dari kunjungan ke Museum Sabang hingga di ikut berenang di air terjun Pria Laot.

“Hari kedua peserta ikut serta dalam city tour, kita juga melibatkan peserta untuk berbaur bersama warga disini dan mengunjungi sekolah. Beberapa objek wisata saat city tour kita mulai dari Museum Sabang lalu berlanjut ke Tugu Walikota, Pantai Sumur Tiga, Bunker Jepang Anoi Hitam, Kelok Seribu, Wisata Gunung Berapi Jaboi, lalu makan siang di Gua Sarang hingga kunjungan penutup di air terjun Pria Laot,” sebut Fauzi.

Sabang Marine Festival 2017_city_tour_iloveaceh_12