Cut Nyak Meutia dan Gelar Pahlawan Nasional

CUT Nyak Meutia lahir di 15 Februari 1870 di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara.

Ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Foto juga diabadikan dalam pecahan uang kertas Rp 1.000 pada tahun 2016.

Gelar pahlawan dianugerahkan atas jasanya mengangkat senjata melawan Belanda pada tahun 1900-an. Atas jasanya pula, Cut Meutia yang gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng, pelosok Pirak Timu, Aceh Utara, pada 24 Oktober 1910.

Lokasi makam Cut Meutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara, harus melewati sungai dan naik turun bukit.

Tidak banyak orang yang tahu keberadaan makam tersebut. Makam yang sudah dipugar sejak tahun 2012 lalu ini harus ditempuh dengan kesiapan fisik yang kuat dan sanggup berjalan kaki 4-5 jam menuju lokasi dari lewat Cot Girek atau Alue Bungkoh.

Dalam komplek makam tersebut, selain makam Cut Meutia juga terdapat makam Teuku Seupot Mata serta sebuah bale (balai) besar.

Lokasi makam

Tembok pagar yang dipugar sejak 2012 tertulis lokasi makam. Foto Andri Munzir

Perjuangan Cut Nyak Meutia¹

Tahun 1901 adalah awal pergerakan, dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku Chik Tunong.

Mereka memakai taktik gerilya dan spionase dengan menggunakan untuk prajurit memata-matai gerak-gerik pasukan lawan terutama rencana-rencana patroli dan pencegatan.

Taktik spionase dilakukan oleh penduduk kampung yang dengan keluguannya selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui.

Terdapat banyak perlawanan yang dilakuakn oleh Chik Tunong beserta cut meutia dari Bulan Juni 1902, Bulan Agustus November 1902 perlawanan yang sengit banyak merugikan pasukan belanda.

Selanjutnya tanggal 9 Januari 1903, Sultan bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda. Atas dasar itu, Cut Nyak Meutia bersama suami pun turun gunung pada tanggal 5 Oktober 1903. Atas persetujuan komandan datasemen Belanda di Lhokseumawe, HNA Swart, Teuku Tunong dan Cut Meutia dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.

Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad dan Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon pada tanggal 26 Januari 1905.

Peristiwa ini diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Belanda.

Di dalam penyelidikan Belanda, didapat bahwa Teuku Chik Tunong terlibat dalam pembunuhan itu. Maka dari itu, Teuku ditangkap dan dihukum gantung. Namun pada akhirnya berubah menjadi hukum tembak mati.

Pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai lhoksuemawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong. Sebelum dihukum mati, Teuku Tunong mewasiatkan agar Pang Nanggroe yang merupakan sahabat perjuangannya untuk menikahi Cut Nyak Meutia serta menjaga anak-anaknya.

Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Cut Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. Dan dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan memindahkan markas basis perjuangan ke Buket Bruek Ja.

Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Penyerangan Cut Meutia dan Pang Nanggroe dimulai dari hulu Kreueng Jambo Ayee, sebuah tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang sangat banyak tempat persembunyian. Pasukan muslimin melakukan penyerangan ke bivak-bivak Belanda dimana banyak pejuang muslim yang ditahan.

Pada tanggal 6 Mei 1907, pasukan Pang Nanggroe melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak yang mengawal para pekerja kereta api.

Dari hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka. Bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi.

Pada tanggal 15 Juni 1907, pasukan Pang Nanggroe menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan dan 8 orang luka-luka.

Taktik penyerangan Cut Meutia yang lain pula adalah jebakan yang dirancang dengan penyebaran kabar bahwa adanya acara kenduri di sebuah rumah dengan mengundang pasukan Belanda.

Rumah tersebut telah diberikan jebakan berupa makanan yang lezat, padahal pondasi rumah itu telah diakali dengan potongan bambu sehingga mudah diruntuhkan.

Pada saat pasukan Belanda berada di dalam rumah tersebut, rumah diruntuhkan dan pasukan Cut Meutia menyerang secara membabibuta.

Penyerangan pasukan Cut Meutia juga terjadi pada rel kereta api sebagai usaha untuk memutuskan jalur distribusi logistik dan jalur kereta apinya.

Di pertengahan tahun 1909 sampai Agustus 1910 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan telah mengetahui pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe dan Cut Nyak Meutia.

Beberapa penyerangan dilakukan, namun pasukan Cut Meutia yang selalu berpindah tempat membuat Belanda susah untuk menangkapnya. Beberapa penyerangan dilakukan di daerah Jambo aye, Peutoe, Bukit Hague, Paya Surien dan Matang Raya.

Namun pada tanggal 25 September 1910, saat terjadi penyerangan di daerah Paya Cicem, Pang Nanggroe terkena tembakan Belanda sehingga meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada anaknya Teuku Raja Sabi untuk mengambil rencong dan pengikat kepala ayahnya dan menjaga ibundanya Cut Nyak Meutia. Makam Pang Nanggroe terletak di samping Mesjid Lhoksukon.

Kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata.

Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat.

Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belantaraa yang sangat banyak.

Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh.

Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga.

Cut Meutia dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.

¹Dikutip dari Biografi Cut Meutia, LPPKS Kemdikbud

Mantan Sekneg Aceh Merdeka Luncurkan Buku “Dari Rimba Aceh ke Stockholm”

Batavia Publishing buku Dari Rimba Aceh ke StockholmBuku yang berjudul “Dari Rimba Aceh ke Stockholm” dijadwalkan Kamis (29/1/2015) malam ini akan diluncurkan dalam acara launching di Hotel Borobudur, Jakarta.

Buku yang ditulis oleh Dr. Husaini M. Hasan Sp.OG merupakan pengalaman penulis selama bergerilya bersama deklarator Aceh Merdeka Tengku Hasan Tiro di rimba Aceh hingga ke Stockholm.

CEO Batavia Publishing, Buchari Yahya menyebutkan bahwa, Batavia Publishing mendapat kehormatan menerbitkan buku setebal 536 halaman yang ditulis oleh mantan Sekretaris Negara dan Menteri Pendidikan Aceh Merdeka. Buku yang telah lama ditulis oleh dokter spesialis kandungan ini, mengungkapkan hal-hal yang selama ini tersimpan rapi di guci sejarah dan belum pernah dipublikasikan.

“Abu [Husaini Hasan] masih menyimpan surat yang ditulis tangan oleh Tengku Hasan Tiro ketika di Gunung Halimon yang ditujukan kepada istrinya Dora di Amerika. Ini dokumen yang sangat berharga,” puji Buchari dalam rilisnya kepada @iloveaceh.

Sementara itu, CTO Batavia Publishing Aida, M.A juga menambahkan, setelah buku ini diluncurkan di Jakarta akan berlanjut bedah buku di beberapa universitas, termasuk di Aceh dan Medan.

Aida menyebutkan, buku yang memaparkan perjalanan Abu sejak hijrah dari Medan Sumatera Utara ke rimba Aceh yang ditulis secara detil berdasarkan tanggal dan bulan. Menurutnya, di usia Abu sekitar 70-an, ingatannya masih kuat dalam menguraikan perjalanan dari Aceh, berlayar ke Malaysia lalu mendapat suaka politik di Eropa.

“Abu dan Shaiman Abdullah adalah orang Aceh Merdeka pertama yang mendapat suaka politik di Swedia. Suka duka Abu semua ditulis di buku ini,: ungkap Aida yang juga seorang writing coach dan trainer therapy menulis.

Tan Sri Dato’ Seri Sanusi bin Junid dalam sambutan buku bersampul biru itu mengucap tahniah atas penerbitan buku ‘Dari Rimba Aceh ke Stockholm’ dengan gaya penulisan yang mudah dan jelas untuk dibaca oleh segenap lapisan masyarakat di Aceh dan Indonesia. Ianya boleh menjadi sumber pengajaran dan inspirasi untuk generasi akan datang.

“Lebih banyak buku sedemikian patut ditulis oleh pejuang-pejuang untuk kemerdekaan Aceh di period sebelum Tsunami. Saya dapati, di antara kandungan buku ini ialah fakta-fakta yang jelas mengenai perkara-perkara penting yang masih kabur di waktu saya berbincang dengan Yahcik Wali Teungku Hasan Di Tiro seperti rencana menubuhkan Universiti Aceh,” ucap cucu Cut Manyak binti Teungku Sulaiman Tiro Di Lambada.

Tan Sri mengutip pembicaraan dengan Yahcik Teungku Hasan yang selalu mengingatkan dirinya bahwa pemimpin dan rakyat Aceh hendaklah bersatu pada setiap masa untuk membolehkan pengisian yang bermakna sebagai hasil perjuangan, dan mewarnakan wajah Aceh sebagai bumi yang boleh dicontohi ummat.

Pendek kata, kita bolehlah mewarnai tempayan yang berharga dengan apa saja warna yang kita kehendaki, dan mengisikan tempayan itu dengan apa saja yang diperlukan, asalkan tempayan itu tidak pecah,’ pinta Tan Sri yang berdarah Aceh kelahiran Malaysia. (ed)

CISAH Hadirkan Media Daring Kebudayaan

cisah-misykahCentral Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) atau “Pusat Informasi Warisan Budaya Samudra Pasai” ini meluncurkan media daring beralamat di www.misykah.com yang bertepatan dengan jatuhnya 1 Muharram 1345 H, Selasa (5/11/2013).

Dengan mengusung tagline “Dari Samudra Pasai menuju Kebudayaan Islam Asia Tenggara”, diharapkan hadirnya situs tersebut dapat membagikan beragam informasi peninggalan sejarah dan kebudayaan yang ada di kerajaan Samudra Pasai. Hal ini disampaikan oleh Redaktus Misykah, Syafar Suhada.

“Hadirnya situs ini sebagai bentuk dapat penyebaran informasi kepada masyarakat luas tentang hasil penelitian yang berhubungan dengan peninggalan Kerajaan Samudra Pasai serta kebudayaan Islam di Asia Tenggara,” sebutnya.

CISAH sendiri bergerak dibawah binaan Ustadz Taqiyuddin Muhammad, Lc yang telah melakukan sejumlah penelitian dan eksplorasi peninggalan kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara serta pelestarian nilai-nilai sejarah bagi masyarakat Aceh pada khususnya dan kepada masyarakat luar lainnya. (ed)

Jelajah Budaya: Mengenal Raja dan Aceh Masa Lalu

Batu-batu nisan di komplek makam di Kandang / @AtinRYOleh Uzlifatil Jannah

Masih dalam kesempatan yang sama, kegiatan Jelajah Budaya Aceh (JBA) 2013 juga mengajak peserta untuk mengunjungi beberapa makam raja-raja yang berada di komplek Makam Tuan di Kandang yang berada tidak jauh dari titik nol gampong Pande, Banda Aceh.

Disini pun peserta bisa melihat dan menemukan beberapa jenis batu nisan peninggalan beberapa ratus tahun lalu, seperti bentuk nisan yang berjenis plang pleng, jenis pipih, pipih bersayap, dan balok persegi delapan yang semuanya itu mempunyai makna dan arti tersendiri serta mempunyai nilai sejarah.

Komplek makam Tuan di Kandang / @AtinRYLalu peserta kembali diajak untuk mengunjungi situs budaya lainnya, yaitu makam raja-raja di Gampong Pande, yang tidak begitu jauh dengan  makam Putroe (Putri) Ijo dan makam Sultan Firmansyah yang masih berada di kawasan yang sama.

Nisan-nisan para ulama di Gampong Pande / @AtinRY

Nisan-nisan para ulama di Gampong Pande / @AtinRY

Perjalanan dilanjutkan kembali, peserta diajak menyisiri pesisir pantai dimana makam para ulama berada. Kami menemukan batu nisan bersegi delapan yang menandakan bahwa yang terkubur disana adalah jasad para ulama. Kami masih bisa melihat beberapa batu nisan diantara genangan air. Daerah ini sudah mengalami abrasi besar-besaran. Disini juga kami menemukan pecahan-pecahan keramik.

Matahari pun kian terik, kami pun juga istirahat sejenak, tak lama berselang peserta Jelajah Budaya diajak menyusuri jejak pusat perekonomian masa lampau, dimulai dengan Peunayong. Daerah ini merupakan daerah persinggahan dulunya bagi orang-orang pendatang yang hendak melakukan bisnis dengan Aceh.

Lampu hias di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue yang menjadi saksi tsunami tahun 2004 silam / @AtinRY

Lampu hias di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue yang menjadi saksi tsunami tahun 2004 silam / @AtinRY

Melanjutkan perjalanan peserta diajak mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman, walau hanya sempat singgah sebentar namun di dalam bus, pemandu kami Ibu Laila dari Disbudpar terus menjelaskan asal muasal, sejarah, juga filosofi dari mesjid Raya Baiturrahman ini.

Kemudian di Mesjid Baiturrahim, Ibu Laila menjelaskan tentang bangunan mesjid yang masih bisa dilihat sisa-sisa bentuk bangunan masa lalu, juga ada lampu hias yang masih asli yang bisa di jumpai disini.

Dari sini peserta menuju ke makam Poteumeuruhom yang berada di daerah Pango, letaknya agak sulit untuk ditemukan atau diketahui dikarenakan sudah dikelilingi oleh perumahan penduduk.

Komplek makam Poteumeureuhom / @AtinRYDari sini peserta kembali menuju mesjid tuha Ulee Kareng, peninggalan para ulama yang telah berdiri sejak abad ke-18. Keadaannya sangat memprihatinkan dimana mesjid yang masih terjaga keasliannya ini tidak dipugar secara khusus namun dibiarkan terlantar tanpa ada perhatian yang begitu berarti.

De Javache Bank atau kini dikenal dengan gedung Bank Indonesia / @AtinRYKunjungan pertama pada hari ke 3 adalah gedung Bank Indonesia, disini Pak Johansyah menjelaskan bahwa BI yang merupakan bangunan Belanda ini dulunya disebut dengan nama de javache bank. Yang dibangun seputaran Krueng Aceh sekitar tahun 1981.

Masyarakat Lubuk Sukon memperlihatkan cara bemain rapai / @AtinRY

Setelah ini peserta JBA menuju desa wisata Lubuk Sukon di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Disinilah kami melihat bagaimana masyarakat yang masih begitu kental dengan nilai-nilai tradisional, semisal  rumah-rumah yang masih didominasi dengan bentuk rumoh Aceh, mempertahankan pagar rumah dari pohon tehnya. dan beragam keunikan lainnya. Disini kami sempat mempelajari bagaimana memainkan rapai, sebagai salah satu kesenian Aceh yang telah lama terkenal dan masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. (selesai)

*Salah satu anggota Jelajah Budaya Aceh perwakilan dari Komunitas @iloveaceh

Jelajah Budaya: Buat Kita Mengenal Lebih Dekat Sejarah

Aksi penanaman pohon di Hutan Kota Tibang / @disbudparacehOleh Uzlifatil Jannah

Dalam rangka Visit Aceh 2013, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengajak perwakilan dari beberapa komunitas untuk mengikuti acara Jelajah Budaya Aceh (JBA) yang mengusung tema ‘Kenali Budaya sebagai Identitasmu’. Kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 28-31 Mei 2013 tersebut bertujuan untuk mengenalkan sejarah dan budaya kepada anak muda Aceh agar lebih bangga juga peduli terhadap nilai-nilai dari sejarah dan budaya bangsanya sendiri.

Kegiatan pertama dari JBA ini dipusatkan di Taman Kota BNI yang berada di desa Tibang, Banda Aceh. Diawali dengan pembukaan dan pelepasan dari perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh lalu diikuti dengan aksi penanaman pohon. Selanjutnya para peserta diajak untuk akrab dan mengenal satu sama lain dengan serangkaian kuis pada outbound yang dipandu oleh bang Gugun dari team Spider Outbound Indonesia. Hari yang melelahkan ditengah gempuran terik matahari yang begitu panas, namun terbayar oleh keseruan outbound tadi.

Monumen kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande / @AtinRY

Monumen kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande / @AtinRY

Gampong Pande

Peserta memulai hari kedua dari Jelajah Budaya di gampong (desa) Pande Kecamatan Kutaraja Banda Aceh. Desa yang terletak tidak begitu berjauhan dengan pusat kota ini, mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi. Dilihat dari letak geografisnya yang berada diseputaran Krueng Aceh dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka yang diyakini sudah dipakai untuk melakukan perjalanan timur – barat dari berabad-abad silam lalu. Maka tidak diragukan lagi bahwa disinilah asal muasal kota Banda Aceh. Tempat awal mula kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 601 H atau bertepatan 22 April 1205 M.

Disebut Gampong pande dikarenakan dahulunya orang-orang yang menempati wilayah ini adalah orang-orang yang pandai dan terampil. Daerah ini dulunya juga tempat pembuatan batu nisan selain yang berada di Dayah Geuleumpang dan juga di Keutapang.

Sebelum Bandar Aceh Darusalam (cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam) didirikan, disini berdiri kerajaan Lamuri dengan ibukota Bandar Darussalam.

Keberadaan Lamuri juga merupakan salah satu kerajaan Islam yang ada di Aceh, hal ini bisa dibuktikan dengan penemuan batu nisan di bukit Lamreh yang berornamenkan Islam, suatu kerajaan bisa dikatakan kerajaan Islam apabila memenuhi 3 syarat yaitu; raja dan pejabat istana beragama Islam, masyarakatnya yang beragama Islam dan sistem kepemimpinannya yang bisa dilihat dari bangunan peninggalan.

Peta daerah Lamreh di Aceh Besar (Ist)

Jika kita ingin menyusurinya, bisa dimulai dari titik nol perjalanan melalui sungai yang melewati Gampong Pande ke  arah pantai Ulee Lheue atau Indra Purwa, kemudian jika melewati Selat Malaka maka akan menuju ke bekas benteng Indra Purwa.  Dan inilah yang kemudian dinamakan dengan Aceh Lhee Sagoe atau tiga segi.

Komplek makam raja di Gampong Pande / @AtinRYPada masa kepemimpinan Sultan Johansyah, tatanan pemerintahan dan seluruh pengurusan tata ruang kota Banda Aceh dibuat berdasarkan Al-Quran dan Hadist, dari   sinilah kita bisa bisa melihat betapa kuatnya peraturan yang telah dibangun oleh para pendahulu dulu. (bersambung)

*Salah satu anggota Jelajah Budaya Aceh perwakilan dari Komunitas @iloveaceh

Perpustakaan Kuno Tanoh Abee

Dayah Tanoh AbeePerpustakaan Tanoh Abee yang terdapat di Desa Tanoh Abee, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. Menurut hasil penelitian Arkeologi Islam Indonesia, perpustakaan tersebut merupakan satu-satunya perpustakaan Islam tertua di Nusantara, bahkan termasuk perpustakaan Islam yang paling tua di Asia Tenggara.

Keberadaan perpustakaan Tanoh Abee ini tak terlepas dari sejarah pendirian sebuah pesantren (dayah) yang dibangun oleh ulama asal negeri Baghdad, bernama Fairus Al-Baghdady yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).

Fairus hijrah ke Aceh waktu itu bersama 7 saudaranya. Empat orang, termasuk Fairus menetap di wilayah Aceh Besar. Tiga saudara lainnya menyebar ke Pidie dan Aceh Utara.

Diperkirakan Fairus Al-Baghdady inilah sebagai ulama yang mula-mula membangun pesantren (dayah) tersebut, yang kemudian dikenal dengan pesantren Tanoh Aceh sebagai cikal-bakal dari perpustakaan kuno Tanoh Abee sekarang ini.

Karena di dalam pesantren tersebut tersimpan ribuan kitab tulisan tangan karya para ulama Aceh terdahulu.

Pewaris

Perpustakaan yang terletak di kaki gunung Seulawah yang berjarak sekitar 42 km ke arah Timur Kota Banda Aceh, atau sekitar 7 km ke pedalaman sebelah Utara ibukota Kecamatan Seulimum ini, dikelola secara turun temurun sejak 600 tahun lalu.

Mulai dari pendirinya Syeh Fairus Al-Baghdady pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, diteruskan oleh seorang anaknya bernama Syeh Nayan. Kemudian Syeh Nayan ini mewariskan kembali perpustakaan tersebut sekaligus pesantrennya bernama Syeh Abdul Hafidh.

Selanjutnya beralih ke tangan Syeh Abdurrahim, yang menurut catatan sejarah, Syeh Abdurrahim termasuk pewaris pesantren Tanoh Abee yang sangat banyak mengumpulkan naskah-naskah kuno untuk menjadi koleksi perpustakaan.

Dari Syeh Abdurrahim perpustakaan dan pesantren ini diwarisi oleh Syeh Muhammad Saleh. Diteruskan oleh anaknya Syeh Abdul Wahab. Kemudian Syeh Muhammad Sa’id.

Dari Muhammad Sa’id pesantren ini diurus oleh Teungku Muhammad Ali, hingga kemudian jatuh kepada pewaris terakhir sekarang ini, yaitu Al-Fairusy, sebagai pewaris urutan ke-9.

Disalin

Dari pewaris terakhir inilah penulis memperoleh sejumlah keterangan tentang sejarah dan keberadaan perpustakaan kuno Tanoh Abee.

Dari 9 orang keturunan yang mewariskan perpustakaan ini, yang menonjol kemajuannya adalah pada masa kepemimpinan Syeh Abdul Wahab (pewaris ke-6).

Syeh Abdul Wahab inilah yang kemudian dikenal sebagai ulama besar yang berpengaruh di Aceh dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee.

Ketika pesantren Tanoh Abee berada di bawah kepemimpinannya, hampir seluruh perhatian Syeh Abdul Wahab dicurahkan untuk memajukan perpustakaan. Ia sangat berminat agar perpustakaan pesantren Tanoh Abee menjadi sebuah perpustakaan Islam terbesar di Nusantara, dan bahkan dapat menjadi perpustakaan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Untuk mengujudkan cita-cita itu, Syeh Abdul Wahab menyalin ribuan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawi dari berbagai ilmu pengetahuan untuk menjadi perbendaharaan perpustakaan Tanoh Abee.

Hal yang menyedihkan ketika ulama Nuruddin Ar-Raniry memusnahkan kitab-kitab karya ulama Sufi terbesar di Aceh, yaitu Syeh Hamzah Fansuri, karena ajarannya dianggap “sesat” oleh Nuruddin Ar-Raniry.

Orang memperkirakan dengan kejadian itu semua kitab Hamzah Fansuri telah habis dibakar saat itu. Ternyata sebahagian besar kitab-kitab dari karya Hamzah Fansuri yang ditulis tangan masih sempat diselamatkan di perpustakaan Tanoh Abee hingga sekarang ini.

Sejumlah naskah kuno, kitab hasil karangan para ulama Aceh terdahulu, hingga akhir abad ke-18 diperkirakan sekitar 10.000 buah naskah (tulis tangan) tersimpan di perpustakaan ini. Namun dalam perjalanan waktu naskah-naskah tersebut banyak yang lapuk dan rusak akibat tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya.

Selain itu, naskah-naskah tersebut juga banyak yang dimusnahkan dan dicuri oleh Belanda ketika mereka masuk ke Tanoh Abee waktu itu.

Kini menurut cerita Tgk. M. Dahlan Al Fairusy selaku pimpinan pesantren sekaligus pengelola perpustakaan kuno Tanoh Abee ini, jumlah kitab yang masih tersisa di perpustakaan ini sekitar 3.000 naskah lagi. Sebagian disimpan di pesantren dan sebagian lagi tersimpan di rumah Tgk. Dahlan agar tidak sampai hilang.***

Catatan dari Tgk H Harun Keuchik Leumiek, pernah dimuat pada Harian Analisa, 22 Juli (Julai) 2002.