‘Tsunami Aceh’ Jadi Trending Topic di Indonesia

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh satu dekade silam, membuat mata dunia terbuka pada daerah paling barat di Indonesia ini. Peringatan bencana gempa dan tsunami tersebut akan berlangsung, Jum’at (26/12/2014) pagi di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Dari pantauan @iloveaceh, Kamis (25/12/2014) malam, linimasa Twitter ramai membicarakan  tentang tsunami Aceh hingga menembus trending topic Indonesia lewat pencarian kata “Tsunami Aceh”.

Di Indonesia, perbincangan dilinimasi Twitter tentang Aceh baru kali ini bisa menembus trending topic. Hal itu berlangsung sampai pukul 23.20 WIB. Selain itu beberapa tagar tentang 10 tahun stunami Aceh juga ikut meramaikan linimasa Twitter. Semisal tagar #10thnTsunami dan juga #2612CareDay.

Peringatan musibah gempa dan tsunami Aceh dihadiri oleh wakil Presiden Jusuf Kalla. Tamu-tamu dari berbagai negara yang dulu pernah membantu Aceh juga akan ikut serta dalam peringatan tersebut. (alf)

36 Negara Pastikan Hadir Diperingatan #10thnTsunami

Monumen Aceh Thanks The World yang terletak di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. (Foto by: @ILACrew)

Monumen Aceh Thanks The World yang terletak di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. (Foto by: @ILACrew)

Sebanyak 36 utusan negara sahabat, yakni setingkat duta besar dan sebanyak 34 lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional dipastikan menghadiri refleksi 10 tahun bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh, 26 Desember 2004 silam.

“Kehadiran para tamu dari mancanegara itu sebagai bentuk “terima kasih Aceh” kepada mereka yang pernah membantu Aceh pasca-tsunami hingga masa rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi, Rabu (17/12/2014).

Rangkaian kegiatan utama peringatan 10 tahun tsunami akan dimulai di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada Kamis (25/12/2014) malam dengan kegiatan ‘Aceh Berzikir’ yang dipimpin langsung oleh Imam Masjid Nabawi, Syeikh Ali Jaber.

Sementara itu pada 26 Desember, puncak peringatan tsunami akan digelar upacara di lapangan Blangpadang. Selain itu, kegiatan pendukung lainnya juga akan ada Expo Kebencanaan, Karya Kreatif Aceh, dan pameran fotografi yang berlangsung 26-28 Desember di Blangpadang dan Museum Tsunami.

“Ekspo kebencanaan itu untuk menyampaikan pesan kepada generasi mendatang agar mereka bias mengingat kembali peristiwa memilukan itu. Ini penting agar generasi muda mengetahui dan dapat melakukan langkah-langkah meminimalisir jika terjadi bencana,” jelas Reza.

Selain itu, pada 26 dan 27 Desember 2014 dilaksanakan Malam Kesenian dan Malam Apresiasi Aceh untuk Dunia. Sedangkan Tsunami 10K bertema “Lari untuk Berbagi” dilaksanakan pada 28 Desember 2014 pagi. (alf)

Sejumlah Negara Akan Hadiri Peringatan #10thnTsunami

SebanyPersiapan 10 tahun tsunamiak 34 negara akan hadiri puncak peringatan 10 tahun tsunami Aceh pada 26 Desember 2014, bertempat di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

“Kamis kemarin, sudah ada 34 negara yang akan mengirimkan perwakilannya dalam peringatan ini. Panitia juga masih terus mempersiapkan sejumlah agenda peringatan 10 tahun bencana gempa dan tsunami ini,” ungkap Tomi Mulia Hasan selaku panitia peringatan 10 tahun tsunami.

Tomi juga menambahkan bahwa acara puncak untuk mengenang bencana gempa dan tsunami ini terpusat di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

“Upacara peringatan 10 tahun tsunami kita pusatkan di Blang Padang, mulai dari pagi yang bisa disaksikan secara live juga di televisi,” sebutnya.

Sementara itu, sekitar 115 undangan telah disebarkan oleh Gubernur Aceh kepada seluruh kedutaan besar negara sahabat dan organisasi dunia untuk berpartisipasi dalam seluruh rangkaian acara peringatan satu dekade tsunami ini melalui Kementrian Luar Negeri. (che)

Berkah Peringatan Tsunami Bagi Penjaja Kue Khas Aceh

Kak Pina sedang menunggu pelanggan untuk membeli dagangan jajanan khas Aceh miliknya dilintasan jalan Meulaboh-Banda Aceh.

Kak Peni sedang menunggu pelanggan untuk membeli dagangan jajanan khas Aceh miliknya dilintasan jalan Meulaboh-Banda Aceh, Sabtu (6/12/2014). (Foto: Alfath Asmunda/ iloveaceh.org)

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh 10 tahun silam menyimpan banyak kenangan dan keberkahan tersendiri bagi penjaja kue tradisional khas Aceh.

Para penjual jajanan khas tradisional yang berlokasi di pinggiran jalan lintas Meulaboh – Banda Aceh, tepatnya di Desa Lampisang, Peukan Bada, Aceh Besar mendapat berkah dari momen peringatan tsunami yang selalu diperingati oleh segenap lapisan masyarakat di Aceh.

Sebut saja kak Peni, seorang perempuan penjaja kue tradisional khas Aceh,  mengaku saat memasuki bulan Desember, kue jajanannya laku keras. Hal tersebut dikarenakan bertepatan dengan peringatan tsunami yang selalu menarik banyak pengunjung untuk berhadir dibumi Serambi Mekkah.

Tak hanya dari lokal, pengunjung dari mancanegara pun cukup ramai berdatangan ke Aceh saat peringatan Tsunami tiba. Hal ini seperti dituturkan kak Peni kepada iloveaceh.org, Sabtu (6/12/2014).

“Kalau sudah bulan Desember, biasanya dagangan kami banyak dibeli oleh turis. Apalagi kalau mau dekat-dekat tanggal terjadinya gempa dan tsunami, alhamdulillah dagangan kami banyak laku,” katanya.

Ia menambahkan, jajanan khas Aceh yang dijualnya banyak dibeli oleh pelancong lokal maupun mancanegara, seperti dari Amerika, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Prancis, dan banyak negara lainnya.

“Peringatan tsunami tahun lalu, kue-kue yang saya jual ini banyak dibeli oleh turis. Mereka banyak membeli kue semacam keukarah, kue seupet, dodoi (dodol). Kalau turis dari Malaysia, Singapura, dan Brunei, mereka suka sekali dengan kue meusekat,” tambahnya.

Musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 silam, tinggal hitungan hari untuk genap satu dekade. Sementara banyak harapan untuk hidup lebih memadai bagi sebagaian masyarakat Aceh masih belum terpenuhi akibat terhimpit beban ekonomi.

Kak Pina berharap, dengan usahanya menjaja kue tradisional Aceh, kehidupannya bisa semakin terus membaik. Ia pun tak patah semangat untuk terus mencari rezeki.

“Mencari rezeki itu bisa dimana saja. Yang paling penting dengan niat yang baik. Masyarakat Aceh harus bangkit, jangan hanya tergantung dengan bantuan orang lain. Kita harus mandiri dengan mencari rezeki yang halal,” tutup perempuan yang mengaku sudah berjualan kue tradisional Aceh selama tiga tahun tersebut. (alf)

Intip Persiapan Peringatan 1 Dekade Tsunami Aceh

10Memperingati 1 (satu) dekade bencana Tsunami di Aceh dengan berbagai kegiatan, pemerintah Aceh hampir merampungkan segala bentuk persiapan jelang hari H pada tanggal 25-28 Desember 2014 bertempat dibeberapa lokasi, seperti di Museum Tsunami, Masjid Raya Baiturrahman, serta Lapangan Blang Padang Banda Aceh.

Sejumlah agenda telah dipersiapkan, mulai dari persiapan Zikir, do’a serta tausyiah yang dipandu oleh Syekh Ali Jaber hingga malam apresiasi dan seni kepada para relawan dan dunia yang telah banyak membantu pembangunan di Aceh pasca Tsunami.

“Kegiatan tambahan yang menjadi agenda ialah galeri foto bencana gempa dan tsunami, malam kesenian dan budaya hingga lomba lari maraton 10K,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi.

Sebagai wujud terima kasih kepada dunia, Aceh juga akan menghadirkan sejumlah perwakilan negara bantuan bencana gempa dan tsunami untuk memberikan mereka apresiasi di Malam Apresiasi 10 Tahun Tsunami Aceh.(che)

Kearifan Lokal Simeulue: Smong Bukan Sekedar Tsunami

Smong menjadi penelitian oleh sejumlah ilmuwan dan pihak UNESCOSuatu gejala alam memiliki hubungan kausalitas dengan dengan masalah-masalah lain yang muncul dalam kehidupan manusia sebagai penghuni alam.

Begitulah sebuah kalimat yang kami kutip dari tulisan lawas dalam mengenal gejala Smong dari kepulauan Simeulue, salah satu kabupaten yang berada di Aceh.

Hubungan kausalitas itu sendiri berupa makna tertentu bagi manusia. Dimana masyarakat adat memiliki pengetahuan tentang gejala-gejala alam. Masyarakat Aceh, misalnya, memiliki pengetahuan tentang gejala alam yang khas dan tidak sama dengan masyarakat lain. Sekadar contoh, dalam jagat pengetahuan masyarakat Aceh, bila terlihat pelangi melingkari bulan menandakan musim kemarau akan menjelang. Sebaliknya, bila pelangi melingkari matahari itu berarti musim hujan akan tiba.

26 Desember memang sudah dekat, setiap hari itu sejak 2004 silam di Aceh kerap menjadi sebuah peringatan –#9thnTsunami, tagar resmi di Twitter– sebagai bentuk mengenang atas terjadi musibah gempa dan tsunami yang menyapu sebagian besar pesisir Aceh. Tsunami inilah yang juga dikenal dengan istilah Smong, salah satu kearifan lokal yang sudah ada sejak lama terkenal di Simeulue.

Kearifan lokal dari Simeulue ini memang telah menjadi kajian internasional, dimana Smong juga mendapatkan Sasakawa Award dari International Strategy for Disaster Reduction, sebuah lembaga yang berada di bawah badan Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun, uniknya Smong yang diambil dari bahasa Devayan (Simeulue) tersebut bukan saja identik dengan bencana tsunami, melainkan juga dengan bencana alam. Hal ini yang diungkapkan oleh rakan Safrianto kepada @iloveaceh beberapa waktu lalu.

“Banyak yang mengatakan kata Semonga adalah terjemahan dari kata tsunami dalam Bahasa Devayan, Simeulue. Sebenarnya kata Smong mempunyai makna yang lebih luas,” sebut pemilik akun @SafriantoSML.

Safrianto juga menjelaskan bahwa, Smong bermakna kekacauan yang terjadi jika ada bencana alam semisal ombak besar di pantai, ada guntur, angin kencang, badai dan sebagainya juga disebut Smong. “Jadi Smong bukan sekedar tsunami, tapi juga kekacuan yang terjadi saat bencana alam,” sebut pria asli Simeulue ini.

Selain itu, mahasiswa Unsyiah ini juga memberikan contoh ucapan yang sering diucapkan oleh para orang tua sana untuk memperingati anaknya agar terhindar dari Smong. “Jangan main hujan, apalagi ke pantai. Nanti ada Smong,” ujarnya sembari meniru peringatan dari orang tua di Simeulue Ate Fulawan tersebut.

Intinya, saat hujan lebat dan menyebabkan banjir juga disebut dengan istilah Smong di Simeulue. Bagaimana sudah tahukan rakan apa itu Smong dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh Simeulue? (ed)