Abu Panton, Ulama Kharismatik Aceh Wafat Jelang Maghrib

Abu PantonTgk. H Ibrahim Bardan yang biasa disapa Abu Panton telah meninggal dunia, Senin (29/4) dalam usianya 70 tahun. Abu meninggal sekitar pukul 18.30 WIB di Rumah Sakit Materna Medan, setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif karena penyakit yang diderita oleh Abu selama ini, yaitu tekanan darah tinggi.

Sebelumnya Abu juga sempat dirujuk ke Rumah Sakit di Penang, Malaysia. Almarhum Abu Panton akan dikebumikan di Panton Labu, Aceh Utara Selasa (30/4) di komplek Dayah Malikussaleh tempatnya selama ini memimpin.

Karya Abu Pantun

Seperti dikutip dari acehinstitute.org, Abu Panton pada masa kecilnya tidak sempat menyelesaikan Sekolah Rakyat karena rumah sekolahnya dibakar. Untung saja Abu Panton masih sempat diantarkan ke dayah sehingga telah menjadi seorang ulama dan sekaligus penulis buku “Resolusi Konflik”. Tetapi teman-teman Abu Panton, menurut keterangannya, banyak yang tidak tahu tulis baca sampai sekarang. Bayangkan bagaimana nasib bangsa kita ini jika semua penduduknya seperti teman-teman Abu Panton yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Meminjam istilah Abu Panton kita akan menjadi “bangsa jahil”.

Pesan Abu

Dalam salah satu pengajian di Dayah Malikussaleh, Abu Panton sempat mengatakan bahwa seseorang akan kehilangan agamanya disebabkan oleh empat faktor. antara lain: tidak mengamalkan apa yang diketahui, mengamalkan apa yang tidak diketahuinya, tidak mencari tahu apa yang tidak diketahui, dan menolak seseorang yang hendak mengajari sesuatu yang tidak diketahui.

Hal ini dikarenakan manusia tidak bisa bersandar kepada diri sendiri atau pun kepada mahluk lainya, untuk mendorong hal itu manusia harus mengetahui jalan syariat serta berpegang teguh padanya, jalan syariat yang kami maksudkan disini adalah jalan yang dituntun sumbernya dari wahyu Ilahi dan sunnah Rasul. (Sulaiman Hasyim, Tgk Ibrahim Berdan (Abu Panton) Jalan Menuju Zuhud)

ILATeam Management dan seluruh keluarga besar Komunitas @iloveaceh turut berduka cita dan berbelasungkawa bagi keluarga yang ditinggalkan. Selamat jalan Abu, dan semoga mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT.***

Perpustakaan Kuno Tanoh Abee

Dayah Tanoh AbeePerpustakaan Tanoh Abee yang terdapat di Desa Tanoh Abee, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. Menurut hasil penelitian Arkeologi Islam Indonesia, perpustakaan tersebut merupakan satu-satunya perpustakaan Islam tertua di Nusantara, bahkan termasuk perpustakaan Islam yang paling tua di Asia Tenggara.

Keberadaan perpustakaan Tanoh Abee ini tak terlepas dari sejarah pendirian sebuah pesantren (dayah) yang dibangun oleh ulama asal negeri Baghdad, bernama Fairus Al-Baghdady yang datang ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).

Fairus hijrah ke Aceh waktu itu bersama 7 saudaranya. Empat orang, termasuk Fairus menetap di wilayah Aceh Besar. Tiga saudara lainnya menyebar ke Pidie dan Aceh Utara.

Diperkirakan Fairus Al-Baghdady inilah sebagai ulama yang mula-mula membangun pesantren (dayah) tersebut, yang kemudian dikenal dengan pesantren Tanoh Aceh sebagai cikal-bakal dari perpustakaan kuno Tanoh Abee sekarang ini.

Karena di dalam pesantren tersebut tersimpan ribuan kitab tulisan tangan karya para ulama Aceh terdahulu.

Pewaris

Perpustakaan yang terletak di kaki gunung Seulawah yang berjarak sekitar 42 km ke arah Timur Kota Banda Aceh, atau sekitar 7 km ke pedalaman sebelah Utara ibukota Kecamatan Seulimum ini, dikelola secara turun temurun sejak 600 tahun lalu.

Mulai dari pendirinya Syeh Fairus Al-Baghdady pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, diteruskan oleh seorang anaknya bernama Syeh Nayan. Kemudian Syeh Nayan ini mewariskan kembali perpustakaan tersebut sekaligus pesantrennya bernama Syeh Abdul Hafidh.

Selanjutnya beralih ke tangan Syeh Abdurrahim, yang menurut catatan sejarah, Syeh Abdurrahim termasuk pewaris pesantren Tanoh Abee yang sangat banyak mengumpulkan naskah-naskah kuno untuk menjadi koleksi perpustakaan.

Dari Syeh Abdurrahim perpustakaan dan pesantren ini diwarisi oleh Syeh Muhammad Saleh. Diteruskan oleh anaknya Syeh Abdul Wahab. Kemudian Syeh Muhammad Sa’id.

Dari Muhammad Sa’id pesantren ini diurus oleh Teungku Muhammad Ali, hingga kemudian jatuh kepada pewaris terakhir sekarang ini, yaitu Al-Fairusy, sebagai pewaris urutan ke-9.

Disalin

Dari pewaris terakhir inilah penulis memperoleh sejumlah keterangan tentang sejarah dan keberadaan perpustakaan kuno Tanoh Abee.

Dari 9 orang keturunan yang mewariskan perpustakaan ini, yang menonjol kemajuannya adalah pada masa kepemimpinan Syeh Abdul Wahab (pewaris ke-6).

Syeh Abdul Wahab inilah yang kemudian dikenal sebagai ulama besar yang berpengaruh di Aceh dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee.

Ketika pesantren Tanoh Abee berada di bawah kepemimpinannya, hampir seluruh perhatian Syeh Abdul Wahab dicurahkan untuk memajukan perpustakaan. Ia sangat berminat agar perpustakaan pesantren Tanoh Abee menjadi sebuah perpustakaan Islam terbesar di Nusantara, dan bahkan dapat menjadi perpustakaan Islam terbesar di Asia Tenggara.

Untuk mengujudkan cita-cita itu, Syeh Abdul Wahab menyalin ribuan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawi dari berbagai ilmu pengetahuan untuk menjadi perbendaharaan perpustakaan Tanoh Abee.

Hal yang menyedihkan ketika ulama Nuruddin Ar-Raniry memusnahkan kitab-kitab karya ulama Sufi terbesar di Aceh, yaitu Syeh Hamzah Fansuri, karena ajarannya dianggap “sesat” oleh Nuruddin Ar-Raniry.

Orang memperkirakan dengan kejadian itu semua kitab Hamzah Fansuri telah habis dibakar saat itu. Ternyata sebahagian besar kitab-kitab dari karya Hamzah Fansuri yang ditulis tangan masih sempat diselamatkan di perpustakaan Tanoh Abee hingga sekarang ini.

Sejumlah naskah kuno, kitab hasil karangan para ulama Aceh terdahulu, hingga akhir abad ke-18 diperkirakan sekitar 10.000 buah naskah (tulis tangan) tersimpan di perpustakaan ini. Namun dalam perjalanan waktu naskah-naskah tersebut banyak yang lapuk dan rusak akibat tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya.

Selain itu, naskah-naskah tersebut juga banyak yang dimusnahkan dan dicuri oleh Belanda ketika mereka masuk ke Tanoh Abee waktu itu.

Kini menurut cerita Tgk. M. Dahlan Al Fairusy selaku pimpinan pesantren sekaligus pengelola perpustakaan kuno Tanoh Abee ini, jumlah kitab yang masih tersisa di perpustakaan ini sekitar 3.000 naskah lagi. Sebagian disimpan di pesantren dan sebagian lagi tersimpan di rumah Tgk. Dahlan agar tidak sampai hilang.***

Catatan dari Tgk H Harun Keuchik Leumiek, pernah dimuat pada Harian Analisa, 22 Juli (Julai) 2002.