Tanabata, Coffee Shop in Speciality Hadir di Banda Aceh

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Terkenal dengan destinasi wisata kopi, penikmat kopi dan penggemar tempat nongkrong terbaru di Banda Aceh perlu berbahagia dengan hadirnya coffee shop in speciality, Tanabata.

Nama Tanabata diangkat dari sebuah festival Jepang dengan harapan bahwa coffee shop ini dapat menjadi tempat bertemunya orang-orang, yang merupakan tujuan dari festival itu sendiri.

Dengan latar belakang pendiri yang merupakan penikmat kopi, Tanabata menawarkan rasa kopi dengan cita rasa yang berkarakter. Variasi biji kopi Arabika yang digunakan tidak hanya berasal dari Gayo, namun beragam dari penjuru daerah Indonesia. Kualitas kopinya yang terjaga, menjadikan rasa kopi yang dihasilkan Tanabata mempunyai signature yang berbeda dari tempat ngopi lainnya.

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Tidak hanya kualitas minumannya yang memukau, Tanabata mengadirkan pesona industrial style pada interiornya. Coffee shop ini terdiri dari dua ruang utama, non-smoking dan smoking. Selain mengutamakan kenyamanan bagi Anda, pemisahan ini juga dilakukan untuk menjaga kualitas biji kopi agar tidak terkontaminasi oleh asap rokok. Indoor area dapat menampung sekitar 32 orang dan mempunyai meja bar bagi pengunjung yang datang sendirian, juga meja-meja bagi yang datang berkelompok.

Pendekatan yang dilakukan pada Tanabata berupa interaksi sosial antar pengunjung dan pekerja, yang ditandai dengan adanya meja bar yang berhadapan langsung dengan para barista!

Tempat ini sangat cocok bagi Anda yang ingin mencari teman-teman baru. Jangan khawatir jika Anda tidak ingin diganggu, terdapat beberapa spot yang bisa Anda isi untuk mengerjakan kesibukan yang Anda minati. Tanabata mampu menyesuaikan kedua tempat tersebut bagi pengunjungnya. Selain itu, tujuan lain dari Tanabata adalah sebagai tempat mengedukasi anak- anak muda Aceh tentang kopi, selain sebagai minuman yang dikenal hanya dengan rasa pahitnya.

Nuansa kehangatan sebagai penunjang keakraban didukung oleh pencahayaannya. Pendant lamp mendominasi jenis lampu pada Tanabata yang menciptakan ruang-ruang itim dengan kesan hangat yang dipancarkan dari kuning lampunya. Dengan paduan tema warna merah dan hitam, Tanabata menciptakan kesan ruang yang calm dan hangat. Pada satu dindingnya, terdapat infografis edukatif mengenai kopi yang bisa Anda pelajari dengan mudah.

Pesona industrialis hadir dari jenis paparan yang beragam. Mulai dari ekspos bata, paduan besi dan kabel yang tampak rapi, dan karakter kayu yang muncul pada meja, kursi, dan rak-raknya.

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Whirling door pemisah ruang dalam dan luar memberikan pengalaman ruang yang menarik. Dengan seluruh pintu yang bisa berputar, memungkinan pengunjung untuk masuk dari mana pun tanpa mengganggu ruang gerak yang lain.

Tanabata juga menawarkan loyalty card bagi pengunjung setianya yang akan mendapatkan satu minuman gratis setiap pengumpulan sembilan stempel pada kartu. Hidangan spesial yang dihadirkan berupa ragam variasi kopi dengan espresso based dan non-coffee. Selain itu, sajian minuman spesial khas Aceh, kopi sanger, juga menjadi minuman spesial di Tanabata. Makanan yang bisa Anda cicipi berupa panganan teman mengopi, cakes, kue tradisional, dan makanan berat berupa makanan jepang, nasi, mie, dan pasta.

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)Berlokasi di jalan Teuku Iskandar No. 304, Ulee Kareng, Tanabata menjadi tempat yang cocok untuk berkumpul bersama teman-teman dan keluarga Anda. Informasi lebih lanjut bisa kunjungi Instagram @tanabatacoffee, Twitter @tanabata_coffee, atau Facebook Tanabata Coffee. (Muhammad Farhan Barona)

Tanabata Coffee (Foto Muhammad Farhan Barona)

Coffee Shop dengan Konsep Espresso Bar Hadir di Aceh

Tanabata_Coffeeshop_1Kabar gembira buat rakan-rakan pecinta kopi, ya apalagi kalau bukan tempat nongkrong baru berkonsep unik dan menarik yang dikembangkan oleh anak muda Aceh sendiri.

“Mulai dari beberapa hari lalu kami sudah buka untuk pecinta kopi, namun hanya terbatas bagi mereka yang ingin menikmati kopi langsung dari barista,” sebut Ika Ismiati, co-founder dari Tanabata.

Ika juga memaparkan soal konsep yang ditawarkan beberapa hari lalu kepada pecinta kopi di open bar Tanabata.

“Beberapa hari lalu kita sudah open bar, tapi memang belum buka secara resmi. Kita sudah mulai layani minuman-minuman kita untuk pengunjung, dimana barista langsung yang layani,” jelasnya.

Menariknya, selama open bar ini, Tanabata tidak mengambil bayaran untuk minuman yang diminta oleh pengunjung.

“Kita sengaja tidak mengambil bayaran, karena ekpektasi dari kami untuk dapat banyak masukan dan komentar dari penikmati kopi, namun jika ada yang mau apresiasi kopi kita bisa langsung berikan seikhlasnya lewat “apreciation jar” yang kita sediakan,” jelas alumni UI tersebut. (ed)

Sore Ini, Film “A Visit to Ali Farka Toure” Tayang di Episentrum UK

Pemutaran Film Tikar PandanKomunitas Tikar Pandan bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI) dalam rangkaian seri Cang-pilem!–pemutaran dan diskusi film–bulan September ini akan memutarkan film “A Visit to Ali Farka Toure” yang akan digelar Rabu (24/9/2014), pukul 16.00 WIB di Episentrum Ulee Kareng.

Selain penayang film yang berjudul asli “Ali Farka Touré-Le miel n’est jamais bon dans une seule bouche” ini juga akan diisi dengan diskusi oleh pemateri.

“Pembicara diskusi adalah Moritza Thaher, pendiri dan Kepala Sekolah Musik Moritza,” sebut Komunitas Tikar Pandar dalam rilisnya.

Pemutaran film ini kategori remaja bebas karcis, tepatnya berada di Jl. Tgk. Menara VIII, No. 8, Garot, Aceh Besar (depan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh).

Acara ini merupakan kerja sama antara Komunitas Tikar Pandan, Institut Français Indonesia, Polyglot Indonesia-Chapter Aceh, ruangrupa, Liberty Language Center, Aneuk Mulieng Publishing, Episentrum Ulee Kareng, Sekolah Menulis Dokarim, Kedai Buku Dokarim, Metamorfosa Institute, Epicentrum Entertainment, LPM Perspektif Unsyiah, Aliansi Jurnalis Independen Kota Banda Aceh, Muharram Journalism College, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsyiah, IloveAceh, Banda Aceh Info, Infoscreening.

Sinopsis

Film dokumenter ini mengikuti perjalanan penyanyi dan gitaris legendaris dari Afrika, Ali Farka Touré (yang meninggal pada 2006 silam) saat dia kembali ke rumahnya dan akar musiknya di Niafunké, Mali. Dia lahir dengan nama lahir Ali Ibrahim Touré. Ali pernah memenangkan Grammy Award dua kali. Ali melihat sosoknya sekarang sebagai petani dan pecinta keluarga, yang mencoba meningkatkan kondisi agrikultur dan sosial di Timbuktu.

Tempat ini sangat berkekurangan. Ali dikenal sebagai legenda terutama dalam menghubungkan musik blues Amerika dan musik gitar asli di Mali. Dia akhirnya memopulerkan aliran yang dikenal sebagai Blues Mali.Martin Scorsese, salah seorang sutradara film Amerika Serikat menyebut gaya musik Ali sebagai “DNA-nya musik blues”. (ed)

Informasi Ramol (085260034932)